REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
part 61



“Bisakah kalian berdua berhenti?” Kiara memotong perkataan Marsha sambil tertawa kecil. Entah mengapa, Kiara merasa geli melihat dua sahabatnya ini.


Ia tahu mereka berdua memang sangat hobi berdebat, namun gadis itu juga menyadari ada sesuatu yang berubah dalam perdebatan mereka. Tepatnya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling merasa cemburu karena pasangannya mengidolakan orang lain selain dirinya.


Mendengar perkataan Kiara, keduanya kemudian berhenti dan suasana di antara keduanya mendadak canggung. Melihat itu, senyum Kiara semakin mengembang. Ia tahu bahwa tebakannya benar.


“Jadi, haruskah aku mengucapkan selamat pada kalian berdua?” tanya Kiara.


Keduanya kemudian melongo menatap Kiara. Mereka pun berdeham secara bersamaan lalu Marsha tersenyum dengan rona merah di pipinya. Tampaknya baik Marsha maupun Daren juga tak berani mengelak. Sehingga keduanya hanya bisa menerima ucapan selamat tulus dari Kiara.


“Terima kasih,” ujar Marsha malu-malu.


“Hei, kau harus tahu betapa sulitnya menunggu jawaban darinya. Aigo… Gadis ini benar-benar!” ujar Daren yang membuat Kiara kembali tertawa sementara untuk kesekian kalinya, Marsha mendelik kesal ke arah Daren.


Hari ini, Kiara merasa masalahnya hampir pergi karena humor-humor yang dilemparkan Daren dan kebersamaan mereka bertiga membuatnya tak dapat berhenti tertawa. Namun, gadis itu juga sadar bahwa kebahagiaan itu tak seharusnya berlangsung selama ini.


Mengingat kembali masalahnya, membuat Kiara kembali terdiam. Lalu gadis itu mulai menangis, memunculkan tanda tanya besar di atas kepala Marsha dan Daren. Namun mereka belum berani bertanya dan menunggu tangis Kiara reda dalam pelukan Marsha.


“Hei, Kiara… kenapa kau menangis?” tanya Marsha lembut. Gadis itu membelai lembut rambut Kiara, berharap hal tersebut dapat menghentikan tangisnya.


Kemudian Kiara mengatakannya. Mengatakan bahwa penyakit itu kembali lagi dan kali ini bahkan lebih parah. Ia mungkin saja mati karena penyakit ini.


Sesaat kemudian, gadis itu merasakan pelukan Marsha makin erat padanya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di salah satu bahu Kiara, lalu ia bisa merasakan punggung Marsha bergetar. Kiara tak dapat melihat wajah Daren, namun gadis itu tahu Daren juga nampaknya tengah memikirkan sesuatu. Tak biasanya pria itu diam selama ini.


Kemudian setelah memangis bersama selama beberapa menit, Marsha mengangkat kepalanya sedikit lalu berbisik di dekat telinganya,


“Semua akan baik-baik saja, Kiara. Semua akan baik-baik saja.”


Dan kata-kata itu membuatnya kembali menangis.


Karena ia tahu bahwa tidak ada yang baik-baik saja di sini.


____


Vano sekali lagi tidak percaya pada kenyataan bahwa ia benar-benar bekerja bersama Windy lagi di tempat berbeda, dan dalam keadaan yang sangat berbeda pula.


Gadis itu rupanya benar-benar serius membantunya atau mengusiknya dengan membantu tim desainer dan sama sekali tak membiarkannya sendirian.


Ini adalah hari keduanya berada di gunung Gyeryongsan, dan Vano masih merasa bahwa keberadaan Windy di sini adalah kesalahan besar. Salah satu kesalahan terbesarnya. Yah, tapi mungkin itu hanya pikirannya saja. Karena nyatanya, kebanyakan kru dan staff tampak sangat menikmati waktu mereka dengan Windy.


Satu-satunya waktu yang dapat ia curi untuk menghindari Windy adalah saat makan siang. Di hari pertama, Vano sengaja mengambil jatah makan siangnya dan membawanya ke kamar hotelnya untuk memakannya di sana sekaligus menghindari kontak dengan Windy.


Karena jujur saja, Vano tak ingin lagi menyakiti Kiara. Dan ia mematri pemikiran itu di benaknya dalam-dalam.


Untuk makan siang kali ini pun sama. Vano berencana membawa makan siangnya sejauh mungkin dari lokasi pemotretan jika bisa, ia akan membawanya ke kamarnya lagi demi menghindari Windy. Namun sial baginya, ternyata Windy sudah terlebih dulu menyelesaikan tugasnya sehingga tiba-tiba saja gadis itu muncul di hadapannya dengan sepiring makan siang ekstra.


“Ini. Makananmu. Ayo kita makan bersama.”


Vano mengutuk dalam hati sebelum menerima piring berisi makan siangnya tersebut. Ia sudah tertangkap basah, dan mau tak mau harus mengikuti kemauan Windy.


Windy membawanya makan di atas sebuah bangku yang letaknya berada di bawah pohon mapel besar yang daunnya sudah sepenuhnya menghilang dan berganti dengan putihnya salju yang memenuhi seluruh dahan dan rantingnya. Gadis itu menepuk tempat kosong di sebelahnya begitu melihat Vano bergeming di tempatnya. Sesaat setelahnya, Vano pun berakhir duduk di sebelah Windy.


“Bagaimana pekerjaanku?” tanya Windy saat Vano baru menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


“Entahlah. Lumayan.” Ujarnya kemudian.


“Kau tahu, kukira seluruh anggota tim desainer menyukaiku. Mereka langsung mengangkatku menjadi ketua tim dan menuruti semua perintahku. Aku penasaran, apakah mereka begini juga pada ketua yang lama? Jika tidak, bukankah itu bagus untukku? Berarti mereka lebih menurutiku—“


“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Potong Vano.


“Mereka senang ketika kau datang karena kau adalah seorang model terkenal, sadarlah! Kau bahkan tidak bisa bekerja sebaik ketua tim yang sedang tidak hadir itu. Dan jangan katakan bahwa dia adalah ketua yang lama. Karena kau tidak akan menjadi ketua yang baru, Windy.”


Windy tertegun. Ini adalah kali pertamanya ia dimarahi atau dikritik oleh seseorang. Berkat keprofesionalannya dan sifat perfeksionisnya, ia sangat jarang menerima kritikan atau bahkan rasa tak puas di wajah orang-orang termasuk fotografer yang mengambil gambarnya. Dan sekarang, ia bahkan mendapatkan kritik pertamanya dari seseorang yang bahkan tak pernah marah atau berdebat dengannya sebelumnya, tentu saja ia terkejut.


“Hei… kenapa kau bicara seperti itu? Aku kan hanya—“


“Jangan pernah mengatakannya lagi kalau begitu. Tak peduli kau hanya bercanda atau apapun, jangan pernah mengatakannya lagi.” Potong Vano lagi. Pria itu menyelesaikan suapan terakhirnya setelah berhasil menyelesaikan hampir seluruh makanannya ekstra cepat, lalu kemudian berdiri.


“Aku selesai.” Ujarnya singkat lalu berbalik membelakangi Vano untuk melangkah menjauh.


Baru saja beberapa meter, Vano melihat Brian berlari ke arahnya seperti orang kesetanan. Ketika sampai di hadapannya, pria itu nampak tersengal-sengal dan uap putih bertebaran di sekitar hidung dan mulutnya.


“Ya! Ke mana saja kau ini? Aku… Mencarimu ke mana-mana, kau tahu?” ujar Brian. Ia menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas panjang.


“Kiara… dia ke sini. Dia ada di sini sekarang.”


“Apa?!” tanpa bertanya lebih lanjut, Vano kemudian memberikan piring kosongnya pada Sungyeol lalu berlari ke lokasi pemotretan.


...****************...