
Vano dan Kiara hanya bisa meringis beberapa saat sebelum akhirnya keduanya tertawa.
“Ya! Kau tidak dapat menolong dirimu sendiri dari teman-temanmu tapi kau menolong seekor kucing tanpa bisa turun. Kau itu benar-benar sesuatu, kau tahu?” ujar Vano.
“Tapi bukankah itu tidak masalah? Aku memilikimu yang akan menjagaku. Jadi aku tidak perlu menjaga diriku sendiri!” balas Kiara.
Vano berdecak. “Bagaimana jika suatu saat aku pergi?”
Kiara balas berdecak. “Tidak mungkin. Kau tidak akan tahan sehari tanpaku.”
Dan mendengar itu, mereka kembali tertawa.
Jakarta, 2006
Vano dan Kiara kembali memasuki sekolah menengah yang sama. Mungkin lebih tepatnya Kiara yang kembali memasuki sekolah yang sama dengan Vano karena Vano tentunya telah lebih dulu memasuki sekolah tersebut. Di sekolah menengah, sosok Kiara sudah sedikit lebih dewasa. Gadis itu tak lagi diam jika seseorang bermasalah dengannya, dan ia mulai mandiri.
Di sekolah menengah pula, Kiara dikenalkan oleh Brian, yang merupakan teman dekat Vano sejak tingkat pertama. Dan dalam pertemuan singkat tersebut, ketiganya bisa langsung berteman akrab.
Seoul, 2007
Ketika Kiara memasuki tingkat dua, Vano dan Brian beranjak memasuki sekolah menengah atas. Untungnya, sekolah mereka berada di kawasan yang sama sehingga mereka masih sering bertemu. Untuk tahun ini, Vano merasa ada sebuah perubahan pada diri Kiara. Gadis kecil yang dikenalnya dulu adalah gadis kecil dengan sifat tomboi dengan rambut pendek atau rambut yang diikat satu ke belakang. Namun kali ini, Kiara tampak berbeda.
Ketika bertemu dengannya pertama kali, saat upacara kelulusannya saat sekolah menengah pertama, Vano pertama kalinya melihat rambut Kiara yang panjang digerai dengan gadis itu memakai bando yang sewarna dengan bajunya. Saat itu tengah musim semi, dan melihat perubahan Kiara di bawah guguran bunga sakura ternyata tak membuat keadaan lebih baik.
Karena pada saat itulah Vano menyadari bahwa ia menyukai Kiara.
Jakarta, 2008
Vano berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Rasanya seperti dejavu. Semua tampak sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat ia berlari di sekolah dasar hanya untuk mencari Kiara. Sekarang pun kejadiannya hampir sama. Hanya saja, perbedaannya adalah gadis itu tak lagi menjadi korban bully dan Vano tak tahu pasti apa yang terjadi. Karena itulah ia lebih khawatir kali ini.
Ia mendapat kabar saat ia sedang berada di kamarnya, bahwa adiknya menanyakan keberadaan Kiara padanya yang belum pulang dan tak dapat dihubungi. Berbekal insting, Vano pun nekat berlari menyongsong Kiara di mana pun ia berada.
Beberapa belas menit berlari, ia pun sampai di lokasi sekolah Kiara. Ia bermaksud memasuki gerbangnya yang—untungnya—masih terbuka ketika ia melihat seseorang tengah duduk di halte bus yang tak jauh dari sana. Vano menghampirinya, dan benar saja. Itu adalah Kiara.
Namun pemandangan yang ia lihat tidaklah mengenakkan.
Tubuh gadis itu penuh memar. Ia babak belur. Ada bekas biru di ujung bibirnya hingga bibirnya bengkak, rambutnya berantakan, bahkan seragamnya pun penuh dengan tanah.
“Kiara!”
Gadis itu menoleh dan hanya meringis melihat keberadaan Vano di sana.
“Ya, apa lagi yang terjadi padamu?!” Vano panik sembari duduk di samping Kiara. Ia menarik wajah gadis itu, mengamatinya dengan seksama, kemudian menarik lengan Kiara dan mengamati luka-luka lainnya pada tubuh gadis itu.
“Tadi ada seorang adik kelas yang kesulitan, jadi kubantu. Tapi aku malah terkena beberapa pukulan… hehehe…”
“Lalu bagaimana keadaannya?”
“Anak itu terluka banyak sekali! Bahkan lebih parah dariku, ternyata bully itu menyeramkan, ya! Aku tak habis pikir—“
“Bagaimana keadaanmu? Di mana lagi luka yang kau dapatkan? Di mana lagi yang terasa sakit?!”
Kiara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Aku… baik-baik saja. Ini tidak seberapa.” Ujarnya sambil tersenyum.
Vano mendesah. “Lalu kenapa kau tidak langsung pulang? Dengan begitu luka-lukamu akan dapat terobati, bukan? Seharusnya—“
“Aku menunggumu.” Potong Kiara.
Vano terdiam.
“Baterai ponselku mati, jadi aku tak bisa menghubungimu. Aku malu pulang sendirian seperti ini. Tapi aku percaya kau pasti akan datang mencariku. Jadi aku menunggumu.” Lanjut gadis itu.
Vano melepaskan pegangannya pada pundak Kiara sekaligus mendesah. “Kiara, dengarkan aku.” Kiara mengangkat sebelah alisnya, bersiap mendengarkan. “Bagaimana jika aku tidak datang? Apa kau tidak akan pulang?”
“Tapi kau datang—“
“Bukan itu maksudku.” Potong Vano. “Kau harus belajar mandiri, Kiara. Aku tak akan selamanya ada di sini untuk membantumu, untuk mencarimu, untuk menemanimu, kau tahu? Kau harus belajar mengatasi rasa malu dan rasa takut itu sendiri. Bayangkan betapa sulitnya kau jika kau terus seperti ini beberapa tahun lagi. Aku akan segera memasuki universitas, dan tak bisa terus berada di sisimu.”
Kiara terdiam. Kepalanya tertunduk dalam.
Vano mendesah sekali lagi. Ia pun berbalik dan membelakangi gadis itu. “Naik ke punggungku. Apa kau bisa berjalan? Untuk kali ini saja, aku akan menolerir kemandirianmu. Ayo!”
Kediaman Rumah Kiara, 2008
Beberapa minggu sejak kejadian itu, Vano kembali mendapat kabar buruk tentang Kiara. Gadis itu rupanya mencoba menyembunyikan kabar ini sejak satu tahun yang lalu, namun sayangnya ibunya terlanjur memberitahu ibu Vano hingga akhirnya sampai ke telinga Vano.
Kiara sakit. Dan itu bukanlah sakit biasa. Ada gen istimewa pada diri Kiara yang membuat gadis itu menderita emfisema paru-paru.
Vano telah mencarinya di internet, dan dari hasil pencariannya, penyakit itu tidaklah baik. Umumnya, penyakit itu adalah untuk para perokok, yang membuat sekat di antara paru-paru mereka menipis sehingga mereka akan sulit bernapas dan satu-satunya cara mengatasinya adalah rutin meminum obat atau jika sudah parah, maka operasi adalah satu-satunya jalan keluar.
Ibunya bilang emfisema yang diderita Kiara masih dalam tahap awal, sehingga yang diperlukan gadis itu hanyalah pengobatan dengan obat-obatan biasa.
Tapi tetap saja, hal itu membuat Vano lagi-lagi khawatir sehingga pria itu segera menuju rumah Kiara dan menghampiri gadis itu yang tengah berada di taman belakang rumahnya, menggambar sesuatu.
“Oh, Vano! Lihat apa yang kugambar? Aku menggambarmu! Apakah gambarku bagus?” ujar Kiara sembari memperlihatkan hasil gambarannya.
Vano menghiraukan pertanyaan gadis itu dan berdiri tepat di hadapan Kiara. “Kau… sakit?” ia merasa tercekat ketika mengatakan kata terakhir.
Kiara tersenyum lalu mengangguk. “Aku… ternyata sangat lemah, bukan?”
Vano tak menjawab. Ia kemudian duduk di salah satu kursi di sana, tepat di hadapan Kiara, hanya saja dihalangi oleh meja kayu bundar yang terletak di tengah. Pria itu kemudian mengambil gambar Kiara dan tersenyum.
“Gambarmu sangat bagus, Kiara.” Pujinya. “Dan tidak… kau tidak lemah Kiara Kusuma, kau istimewa.”
...****************...