REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 23



Kaiara meletakkan sandwich buatannya yang hanya dibungkus plastik putih dengan hati-hati di atas meja Vano. Ia tersenyum.


“Makanlah yang banyak, Vano alexander. Aku senang kau masih menyukai sandwich-ku,” ujarnya pelan.


Setelah itu, gadis itu kembali mengamati keadaan dan keluar dari kantor Vano lalu segera menghampiri Brian yang tengah duduk di ruang tunggu sambil bercanda dengan managernya.


“Hei, Kiara kusuma, dari mana saja kau? Kenapa tiba-tiba menghilang?” tanya Brian.


Kiata tersenyum. “Ada sesuatu yang harus kulakukan,” ujar gadis itu. “Ah, tadi sampai mana pembicaraan kita?”


____


 


Vano menimang-nimang sandwich yang masih tertutup rapat itu di tangannya. Matanya menatap deretan foto-foto di hadapannya yang baru saja selesai dicetak, namun pikirannya tidak di sana. Berkali-kali ia mendesah, menghela napas, hanya karena sepotong sandwich.


Tapi tidak, bukan makanan itu yang ia pikirkan, melainkan seseorang yang mengirimnya. Seseorang bernama Kiara kusuma yang selama ini ia kira sedikit menjengkelkan dan keras kepala, ternyata memiliki sisi lembut pada dirinya. Dan gadis itu tampaknya mengenalnya lebih daripada dirinya sendiri.


“Ah… Ntalah!” geram Vano yang pada akhirnya membuka plastik sandwich tersebut dan memasukkan roti isi tersebut ke dalam mulutnya. Semakin ia mengunyahnya, semakin rasanya terkecap, semakin ia merasa familiar. Apakah dulu ia juga sering memakan sandwich ini?


Vano menatap ke depan, ke sebuah kaca yang ada di hadapannya, kaca yang memberinya pandangan tepat ke lokasi pemotretan, tempat Kiara berada.


"Haruskah aku benar-benar mengubah sikapku padamu, Kiara?" Batin Vano dalam hati.


___


 


Hari sudah berganti sore. Waktu berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari. Dan pemotretan berakhir lebih cepat dari biasanya. Kebanyakan staff sudah pulang, mereka tak mau melewatkan makan malam bersama keluarga dan teman-teman mereka. Vano berjalan menghampiri Kiara yang masih berada di dalam wardrobe. Ini adalah kali pertama pria itu melangkahkan kaki ke sana.


Vano menyibakkan tirai yang menutupi wardrobe dan mencari sosok Kiara.


“Kiara, ayo kita pulang, hari sudah sore. Ayah dan ibumu akan pulang hari ini, sebaiknya kau ada di rumah sebelum mereka tiba,” ujar Vano matanya masih memperhatikan setiap sudut wardrobe sempit itu dengan teliti. Beberapa kali tangannya bergerak menyentuh kostum-kostum pemotretan hasil kreatifitas gadis itu. Ia menyunggingkan seulas senyum di bibirnya. Ternyata Kiara lebih pekerja keras dari yang ia kira.


“Hei, Kiara kusuma!” panggil Vano sekali lagi dengan suara lebih keras karena tidak mendapat jawaban dari gadis itu.


Tiba-tiba terdengar erangan halus dari deretan kostum di samping Vano. Segera pria itu bergerak cepat menjauhi sumber suara. Rasa kaget menjalari pria itu hingga bulu kuduknya meremang. Tentu saja, bagaimana mungkin deretan kostum bisa mengerang?


“Erhmmm…,”


Mata Vano membesar. Suara itu terdengar lagi dari asal yang sama. Pria itu menghela napas panjang lalu memberanikan diri mendekati deretan kostum yang menggantung di sampingnya. Dengan perlahan, ia menyibakkan kostum-kostum itu. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Bukan berarti ia takut dengan ‘hantu’, ia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Namun, mengingat sekarang keadaannya sangat nyata, tak ayal ia merasa takut juga.


Setelah menyibakkan beberapa kostum, pria itu mendesah lega. Bahunya yang tegang kembali mengendur dan detak jantungnya kembali normal. Pria itu bahkan tersenyum.


Sosok yang dicarinya sedari tadi, Kiara kusuma, terlihat tengah tertidur pulas di belakang deretan kostum- kostum itu dengan posisi setengah badannya bersandar pada tembok. Kedua kakinya terlipat ke atas dada dan kedua tangannya mendekap erat sebuah buku. Buku yang diduga Vano adalah buku coretan seorang designer. Seorang designer setidaknya memang harus mempunyai sebuah buku untuk menyalurkan ide mereka.


Vano berjongkok, menyamakan tingginya dengan Kiara. Ia menatap Sooji yang tengah tertidur pulas dan menatapnya dengan intens.


“Kau… Ternyata tidak seburuk yang kupikirkan. Haruskah aku mengubah sifatku padamu? Apa yang akan kau pikirkan ketika aku berubah, Kia?” tanya Vano lebih kepada dirinya sendiri.


Kiara hanya mengerang ringan namun matanya tak kunjung terbuka.


Beberapa puluh menit kemudian, Kiara akhirnya membuka matanya. Seketika ia merasakan rasa sakit di bagian lehernya akibat posisi tidurnya yang kurang nyaman. Awalnya, Kiara tidak berniat untuk tidur, tadi ia hanya duduk-duduk di belakang deretan kostum sambil memikirkan apa rancangannya berikutnya untuk edisi khusus tahun baru yang akan segera diadakan pemotretannya. Tapi, mungkin karena akhir-akhir ini pola tidurnya berantakan, terutama untuk mengurus design nya, ditambah ia harus selalu datang ke kantor lebih pagi dari siapa pun, rasa kantuk itu pun akhirnya datang dan mengalahkan segalanya. Hingga disinilah ia berakhir. Dan satu jam kemudian, barulah gadis itu bangun.


Kiara meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia pun menyibakkan deretan kostum yang menutupinya dan berdiri, namun, betapa kagetnya ia melihat Vano telah berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Ah… Kau mengagetkanku!” seru gadis itu sambil mengelus-elus dadanya dengan sebelah tangan.


Vano melirik jam tangannya. “Sudah jam setengah 6. Kau mau pulang atau tidak?” tanyanya.


“Oh? Astaga! Tunggu sebentar, aku segera kembali!” seru gadis itu sembari buru-buru keluar dari wardrobe diikuti oleh Vano.


Gadis itu bergerak ke ruang tunggu, tempat ia menyimpan tas, mantel, dan segala miliknya. Tapi barang-barangnya tak ada di sana. Lantas di mana?


“Kiara!” panggil Vano dari belakang.


“Sebentar, aku ambil barang-barangku dulu! Tadi aku menyimpannya di sekitar sini, tapi sekarang…,” balas Kiara sambil bergerak mencari barang-barangnya ke seluruh ruangan.


“Kiara,” panggil Vano lagi.


“Aish… Tunggu sebentar!”


“Kiara Kusuma!”


“Ada apa?” Kiara menghentikan aktivitasnya dan sontak menatap Vano kesal, merasa kegiatannya terganggu.


“Sudah kubilang, aku harus menemukan… Oh, bagaimana barang-barang itu bisa ada padamu?” Kiara memandang sebuah tas tangan dan mantel yang ada di tangan Kiara dan berjalan menuju pria itu.


“Aish… Pelupa dan ceroboh. Apakah ini sifatmu sejak dulu?” tanya Vano sambil menyerahkan tas dan mantel gadis itu.


Kiara terkekeh. “Sepertinya begitu,” ujarnya jujur.


“Ya, pantas saja. Pasti aku yang sering kerepotan dengan kecerobohan dan sifat pelupamu itu,”


“Benerkah! Dulu, sepertinya kau yang sering mengingat tempatku menyimpan sesuatu. Kau yang memperhatikan setiap gerak-gerikku dan mengingat-ingat jika aku meletakkan sesuatu lalu mengingatkanku atau mengambilnya sendiri dan memberikannya padaku jika aku melupakannya.” Tutur Kiara.


Vani hanya tersenyum menanggapi celotehan riang gadis itu yang sepertinya diceritakan dengan suka hati. Kaki Vano melangkah mendekati gadis itu lalu membantunya memasang mantel. Setelah selesai, ia tersenyum.


“Ayo, kita pulang.” Ujarnya.


Kiara tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti langkah Vano menuju basement.


...****************...