
Setelah aktivitas terakhir di dalam gedung perusahaan berakhir tepat pada pukul setengah 6 sore, para staff memilih langsung pulang untuk beristirahat sejanak sebelum berangkat menuju pulau Nami pukul 9 malam nanti. Vano dan Kiara pun memiliki pemikiran yang sama. Hanya saja, sang pria saat ini masih tidak berani menyapa Kiara yang masih mendiamkannya. Kiara terlihat tengah menelepon seseorang di ruang tunggu, sementara Vano berada di kantornya, memperhatikan setiap gerak-gerik Vano.
Mereka harusnya pulang bersama, Vano tahu itu. Barang-barang gadis itu pun ada padanya. Namun, ia tidak bisa pulang bersama dengan gadis itu sekarang. Ada sesuatu yang harus ia lakukan dan gadis itu tidak boleh tahu. Namun, jika ia mengatakan hal itu pada gadis itu sekarang, ia tidak tahu reaksi apa yang akan gadis itu tampilkan. Apakah gadis itu akan semakin marah padanya karena menudingnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab? Oh tidak, sudah cukup Kiara marah padanya hari ini. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.
Sudah cukup Kiara mencibirnya, menatapnya sinis dan tajam di sepanjang hari ini. Sudah cukup pula ia tidak menerima sebuah roti sandwich pengganti sarapannya yang harusnya disimpan Kiara di mejanya pagi ini atau siang ini. Sudah cukup ia menerima itu semua. Ia tidak ingin hubungannya dengan Kiara yang berangsur- angsur membaik, kini kembali hancur karena ulahnya sendiri.
Tunggu dulu, kenapa ia ingin mempertahankan hubungannya dengan Kiara seperti ini?
Vano menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat. Dalam benaknya, ia sudah berjanji akan tetap mengatakan pada gadis itu bahwa hari ini mereka tidak bisa pulang bersama. Yang harus ia lakukan hanyalah menunggu gadis itu selesai menelepon.
Kira-kira sudah 9 menit berlalu dan Vano sudah mengetukkan jarinya ke atas meja kerjanya sebanyak kurang lebih 500 kali dan ketika matanya melirik Kiara, gadis itu masih sibuk dengan ponselnya yang menempel di telinga.
Sampai kapan gadis itu akan terus menelepon? Batin Vano kesal. Ingin rasanya ia berjalan ke sana dan langsung mengatakan maksudnya agar tidak membuang-buang waktunya yang sangat berharga, namun kembali ia urungkan. Tidak, itu akan memperkeruh masalahnya.
2 menit setelahnya, barulah Kiara menurunkan ponselnya dari telinganya. Gadis itu pun melengos pergi entah kemana yang membuat Vano membelalakkan mata. Pria itu dengan cepat beranjak dari kursinya dan berlari mengejar Kiara agar gadis itu tidak pergi sebelum ia menyatakan maksudnya.
“Kiara!" panggil Vano terburu-buru.
Kiara yang sedang berjalan menuju lift berbalik dan menatap Vano datar. “Ada apa?”
“Begini… aku ada urusan sebentar, sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu sekarang,” ujar Vano.
mengangkat sebelah alisnya. Dan ekspresi itu membuat Vano menyipitkan matanya bingung.
“Baguslah, lagipula aku juga sudah janji akan pulang dengan Daren,” ujar Kiara.
“Ah, tadi aku berniat mencarimu karena ingin mengambil barang-barangku di bagasi. Karena kau sekarang ada di sini, sepertinya aku bisa mengambil barang-barangku sekarang. Daren akan segera sampai.”
Vano diam-diam menggertakkan giginya kesal. Ia tak pernah menyangka berhadapan dengan seorang gadis yang sedang marah akan semenyulitkan ini. Ia pun ikut menunggu lift dengan berdiri di samping Kiara. Ketika lift terbuka, mereka pun masuk ke dalam untuk turun ke basement. Di dalam, suasananya benar-benar hening. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Aura aneh terasa sangat kentara di dalam lift yang sempit tersebut.
Ketika mereka sampai di basement, mereka segera berjalan menuju mobil Vano dan pria itu segera membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan koper merah milik Kiara.
“Hanya itu saja, kan?” tanya Vano. Kiara mengangguk.
“Thank you,” ujar Kiara setengah hati sambil berlalu ke halaman depan kantor. Sementara itu, Vano hanya bisa mendesah guna meluapkan emosinya___
Sudah 5 menit sejak mobil Vano lewat di hadapannya dan meninggalkannya sendirian di depan kantor. Kiara mendesah. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, menanti datangnya sebuah Tucson putih datang ke arahnya. Bagai mimpi jadi kenyataan, mobil itu ternyata benar-benar datang dari arah barat dan dalam sekejap sudah berhenti di depan tempat Kiara berdiri. Seseorang keluar dari bangku kemudi dan menghampiri Kiara dengan sedikit berlari-lari kecil.
“Maafkan aku, Kia kau sudah lama menunggu?” tanya Daren sambil tersenyum lebar.
Kiara menggeleng. “Tidak, aku baru saja keluar,” jawabnya.
Daren segera mengambil alih koper merah Kiara dari tangan gadis itu dan memasukkannya ke bangku belakang mobilnya. “Bagaimana liburan di Bali kemarin? Apa pria itu melakukan sesuatu yang menyakitimu?” tanya Daren.
“Apa?” tanya Daren setelah menutup pintu belakang mobilnya. Ia berbalik menatap Kiara dengan pandangan setengah curiga dan bingung.
“Tidak,” elak Kiara. “Tidak terjadi apa-apa, dan aku baik-baik saja.”
“Ya sudah, itu bagus,” ujar Daren sembari menghembuskan napas. Ia membukakan bangku penumpang di sebelah bangku pengemudi. “Kalau begitu, silahkan masuk, nona Kiara kusuma,”
Kiara terkikik kecil melihat tingkah laku Daren. Ia kemudian masuk ke dalam mobil sementara Daren harus memutari mobilnya dulu setelah menutup pintu mobilnya untuk masuk ke dalam kursi pengemudi.
Setelah mobil berjalan, Daren kembali membuka pembicaraan. “Omong-omong, kenapa tiba-tiba kau memintaku menjemputmu? Kau tidak pulang bersama tunangan barumu itu?” tanya Daren setengah menggoda, setengah mengejek.
“Tidak,” ujar Kiara.
“Hei-hei, aku tahu ada yang aneh di sini. Biasanya kau selalu bersamanya, bukan? Ada apa kali ini? Apa kalian bertengkar? Katakan apa salahnya agar aku punya alasan untuk memukulnya!”
“Tidak, tidak seperti itu,” elak Kiara.
“Lalu apa?”
“Entahlah, mungkin ini perasaanku saja, tapi aku hanya… sedang merindukan dirinya yang dulu,” ujar Kiara dengan pandangan menerawang.
Sudah berapa lama Vano tidak mengunjungi tempat ini? Terakhir kali ia ke tempat seperti ini adalah ketika umurnya 19 tahun dan datang untuk terapi ingatan rutin. Ya, ia kembali berada di rumah sakit. Sebuah gedung besar, dengan lorong-lorong putih dan bau antibiotik di mana-mana, tempat yang paling ingin Vano hindari—sebenarnya. Ia bukannya benci rumah sakit, hanya saja rumah sakit memberinya kenangan buruk. Sekelebatan memori itu terkadang kembali menari-nari di kepalanya dalam urutan yang sama sekali tidak menyambung satu dengan yang lainnya dan membuatnya pusing sendiri. Karena itulah ia membenci rumah sakit.
Seperti sekarang, ia hampir menjadi orang linglung di antara banyaknya pasien yang sedang antri untuk memasuki ruangan dokter yang dituju. Setelah diam beberapa menit di pintu masuk, Vano pun akhirnya bergerak ke meja resepsionis setelah petugas keamanan memberitahunya bahwa ia menghalangi pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, ia segera mengeluarkan kartu nama yang tadi pagi diberikan Brian padanya.
“Saya ingin bertemu dengan Dr. Mike, spesialis syaraf,” ujar Vano.
“Apakah anda telah membuat janji dengan beliau?”
Vano mengangguk. Dan resepsionis itu pun mengangkat teleponnya dan menekan beberapa tombol. Setelah berbicara singkat dengan seseorang di seberang telepon, ia kemudian menutup teleponnya dan kembali menatap Vano.
“Ruangan Dr. Mike ada di lantai dua,” ujar resepsionis tersebut sembari mengulas senyum.
“Terima kasih,” balas Vano yang segera pergi untuk menaiki tangga ke lantai dua.
Setelah sampai dan mencari-cari ruangannya, ia akhirnya menemukannya. Vano sempat diam di depan pintu beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah ketukan ketiga, terdengar jawaban dari dalam. Vano pun segera menggunakan jemarinya untuk membuka pintu tersebut. Ketika pintu terbuka, ia disambut dengan wajah hangat sang dokter.
“Silahkan duduk, Vano Alexander” ujar dokter tersebut ramah.
...****************...