
“Selama empat hari ini kita akan melakukan pemotretan di sekitar menara Namsan dan jembatan Banpo. Meskipun letak keduanya berdekatan, namun kalian harus tetap mempersiapkan diri kalian. Kita bisa saja selesai larut malam dan harus kembali pagi-pagi sekali di keesokan harinya. Aku tidak ingin ada yang sakit, terlebih salju sudah mulai turun sekarang. Jaga kondisi kalian, dan fighting!” Vano berpidato sebelum semua memulai aktifitasnya masing-masing ketika mereka sampai di kawasan menara Namsan. Semua orang bertepuk tangan dan saling menyemangati lalu mulai kembali ke tempat masing-masing.
Pemotretan berlangsung lancar seperti biasa. Hanya saja, kali ini ada penambahan model perempuan sebagai pendamping Brian. Model tersebut adalah model ternama yang sudah terkenal di dunia modeling, bernama Choi Sohyun—dan Brian senang bukan kepalang setelah mengetahui sosok cantik pasangannya.
Setelah pemotretan di bawah menara Namsan selesai, mereka berpindah ke atas menara, ke puncaknya di mana banyak gembok-gembok yang dipasang di pagar pembatas bagi orang-orang yang mempercayai mitos yang beredar di Seoul tentang gembok pasangan tersebut. Ketika Vano melihatnya untuk pertama kali—ia yakin itu memang pertama kalinya ia melihat jejeran gembok-gembok tersebut—Vano bahkan tak perlu repot-repot menyembunyikan rasa kagumnya karena bahkan Kiara pun melakukan hal yang sama; terkagum-kagum melihat jejeran gembok tersebut.
Selain hal itu, yang lebih membuatnya kaget adalah suhu yang lebih rendah daripada di bawah, ditambah angin yang bertiup cukup kencang ke arah mereka. Vano berkali-kali memperingatkan para kru agar menjaga kondisi tubuh masing-masing dan agar segera menghentikan pemotretan jika cuaca semakin memburuk.
Dan benar saja, cuaca semakin memburuk sehingga tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan pemotretan. Pemotretan pun dengan terpaksa harus diakhiri demi kesehatan para kru dan model.
Tak berapa lama setelah semua properti pemotretan dibereskan, Vano, Kiara dan Brian akhirnya memilih berdiam diri di sebuah kafe yang berada di dekat menara Namsan untuk sekedar beristirahat dan menghangatkan diri dari dunia luar yang terasa beku. Hari sudah gelap saat mereka berada di sana, dan di luar sedang terjadi badai salju. Mereka tentu saja tidak bisa pulang dengan cuaca seperti itu, bukan?
Mereka bertiga berpisah dengan para kru dan memilih menikmati waktu pribadi mereka sendiri saat itu. Berada di kafe bernuansa Eropa, mereka duduk di sebuah meja yang terletak di tengah-tengah kafe—asalnya Kiara ingin duduk di dekat jendela, namun kafe yang penuh membuat mereka terpaksa duduk di tengah ruangan—dengan Kiara dan Vano yang duduk bersebelahan sementara Brian duduk di hadapan Kiara. Vano memesan kopi Americano panas sementara Brian dan Kiara memesan cappuccinohangat. Tak perlu waktu lama hingga minuman mereka datang, dan tak perlu waktu lama pula bagi mereka untuk menyerbu minumannya masing-masing.
Sebelum meminum kopinya, Vano menggenggam gelas kopinya dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang merasukinya, mengusir rasa beku di ujung-ujung jarinya. Dan ia mendesah lega. Melihat itu, Brian terkekeh setelah meminum cappuccino-nya.
“Kau masih lemah terhadap dingin, Vano?” tanyanya.
Vano sedang meminum kopinya saat mendengar pertanyaan tersebut, sehingga ia mendesah lega terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Brian yang nampaknya merupakan sebuah pertanyaan retoris yang tidak perlu ditanyakan lagi karena sudah terlihat secara nyata bahwa ia masih tidak kuat terhadap dingin.
“Sepertinya begitu. Apa dulu aku juga seperti ini?” Tanya Vano.
“Tentu saja! Mungkin dulu malah lebih parah. Kau pasti terkena flu berat saat cuaca dingin sedang sangat ekstrim seperti sekarang, dan kami pun pada akhirnya menghabiskan liburan musim dingin kami di rumahmu, menemanimu yang sedang sakit.”
Vano mengangkat sebelah alisnya sambil membuka mulutnya membentuk huruf ‘o’ sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara itu diam-diam Kiara yang duduk di sampingnya tersenyum melihat Vano tak lagi menyangkal atau menyanggah tentang sesuatu yang terjadi pada dirinya di masa lalu seperti dulu.
“Oh, Kiara, kau juga. Apa kau masih mengalami alergi itu?” Tanya Brian yang pandangannya kini mengarah pada Kiara.
Kiara menoleh menatap Brian sambil mengerutkan kening, tak mengerti arah pertanyaan pria itu sekaligus menyatakan agar Brian mengulang pertanyaannya.
Brian mendesah lalu kembali bertanya, “Apa kau masih memiliki alergi itu?”
Kiara terdiam beberapa saat. Ia bisa merasakan mata Vano yang juga menoleh ke arahnya, dan entah mengapa ia bisa merasakan tangannya mengepal di bawah meja. “Oh… itu… kau tidak tahu alergiku sudah sembuh sejak lama? Ibuku menemukan obat mujarab yang mampu menyembuhkan alergi itu!”
Mata Brian membesar. “Oh ya? Baguslah kalau begitu,” ujarnya. “Sepertinya kau harus memberikan obat itu pada Vano juga agar ia tidak menggigil berlebihan di musim dingin lagi,” tambah pria itu sambil mengedikkan bahu pada Vano yang melotot kepadanya.
Kiara hanya tertawa menanggapi pernyataan Brian. “Obat itu untuk alergi. Dan Vano tidak memiliki alergi itu. Ia hanya… lemah,”
Setelah puas bernostalgia dan gelas mereka telah kosong, badai juga nampaknya sudah reda, mereka memutuskan untuk pulang, menyiapkan tenaga untuk esok hari karena ada kemungkinan esok hari juga mereka akan menghadapi cuaca ekstrim seperti ini namun mereka harus tetap berada di lokasi karena pemotretan mau tak mau harus diselesaikan. Sebelum pergi, Vano sekali lagi mengingatkan,
“Besok persiapkan tenaga dan daya tubuh kalian. Pemotretan di sekitar Namsan harus selesai besok pukul 2 siang dan setelah itu kita akan pergi ke jembatan Banpo dan melakukan pemotretan pada malam hari. Jika ada beberapa kendala besok yang membuat kita tidak bisa melakukan pemotretan di jembatan Banpo, kita akan melakukannya lusa. Jadi persiapkan dirimu, Brian, karena aku yakin kau akan menjadi yang paling merasa lelah dalam pemotretan ini.”
Brian mengacungkan sebelah jempolnya. “Tenang saja, kau lupa aku memiliki tenaga sebesar kuda?—ah ya, kau pasti lupa—pokoknya jangan khawatir!”
Vano mengangguk. Ia pun menoleh menatap Kiara di sampingnya.
“Dan Kiara, ada seorang designer ternama yang tertarik dengan karyamu. Kebetulan saat majalah kita terbit sebulan yang lalu, dia sedang berada di Seoul dan membeli majalah kita. Ia tertarik dengan karyamu dan langsung menghubungi manajer . Ia ingin berbincang denganmu dalam acara makan malam besok,” ujarnya.
Kiara mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Melihat hal itu, Vano kembali berbicara, “Designer itu adalah Kris Choi, anak dari designer legendaris Choi Bok Ho. Tidak mungkin kau tidak pernah mendengar namanya, bukan?”
Kiara membelalakkan matanya dan ia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Vano bisa melihat raut bahagia di mata jernih gadis itu, dan mau tak mau itu membuatnya tersenyum juga.
“Benarkah? Benarkah?!” Tanya Kiara histeris.
Vano mengangguk. “Selamat, Kiara, kau selangkah lebih dekat dengan mimpimu. Karena itu, tampil baguslah besok, jangan sampai membuatnya meremehkanmu saat melihatmu. Buat kesan pertama yang menyenangkan. Aku yakin kau ahli dalam hal itu,”
Kiara mengangguk-anggukan kepalanya riang. Vano bisa melihat gadis itu tersenyum meskipun ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, karena saat itu, mata Kiara juga ikut menyipit, membentuk sebuah eye smile yang manis. Setelah pengumuman itu, mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Mereka sempat kehilangan Brian yang sibuk melayani fans yang mengenalinya dan mengajaknya berfoto bersama, namun pada akhirnya mereka berhasil pulang bersama, berjalan ke mobil masing-masing, dan berkendara ke rumah masing-masing. Namun sebelum mengendarai mobilnya, Brian sempat memanggil Vano.
“Oh, Vano besok aku minta izin keluar di jam 1. Ada seseorang yang harus kujemput di bandara,” ujarnya.
Vano hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Tapi kau hanya punya waktu paling lambat 2 jam.”
“Aku mengerti. Tidak apa, kan, jika aku mengajak orang itu ke lokasi? Untuk jaga-jaga jika aku tak bisa mengantarnya dulu ke rumahnya karena telah melewati batas dua jam yang kau berikan itu.”
“Tentu. Bawa saja ke sini.”
Brian pun mengangguk-anggukan kepala dan masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Vano.
...****************...