
Vano Alexander masuk ke dalam kamar hotelnya dengan jalan yang terpincang-pincang meskipun ia sudah berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya. Ketika ia melepas sepatunya, darah telah membasahi telapak kaki kirinya. Namun, Vano terlihat tak merasa sakit. Pria itu pun segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci dan mengobati luka di kakinya.
Setelah kakinya telah terbalut perban, Ia menghempaskan dirinya di sofa diiringi ******* keras. Kepalanya pusing dan badannya terasa lemas. Vano melepas cincin perak di tangan kirinya dan meletakkannya di atas meja pendek di hadapannya. Ia mengamatinya lalu kembali mendesah keras sambil mengistirahatkan kepalanya ke sandaran sofa di belakangnya.
Ia tidak tahu apakah pilihannya tepat, karena tentu saja menurutnya, ini salah. Ia telah menyukai orang lain. Tapi di sisi lain, ia ingin kembali mengingat masa lalunya dan apa yang terjadi padanya hingga ia bisa sedekat itu dengan Kiara? Ia ingin tahu semua hal itu.
Tapi apakah ini adalah cara yang tepat?
-o0o-
Ketika pagi mulai datang di bumi Indonesia, ketika matahari bahkan belum muncul, ketika Vano bahkan belum kembali dari dunia mimpinya, bel pintu di kamarnya berbunyi nyaring. Vano mengerang. Ia menutup sebelah telinganya dengan bantal tidur, namun suara bel itu tidak mau berhenti. Ia berguling membelakangi pintu kamar dan menarik selimutnya sampai ke ujung kepala, mencoba untuk mengabaikan bunyi bel itu sekali lagi, namun suara itu tetap terdengar, dan tetap berbunyi nyaring.
Akhirnya Vano menyerah. Setelah mengerang dan mengumpat pelan pada siapapun yang telah mengganggu waktu tidurnya, ia pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan setengah sadar menuju pintu masuk kamar hotelnya. Ia membuka kunci pintunya dan pintunya pun menjeblak terbuka. Sebuah suara riang yang lembut namun dalam waktu yang bersamaan terdengar nyaring, segera memasuki indra pendengarannya dan membuatnya hampir terjengkang ke belakang akibat kaget dan kesadarannya yang belum pulih.
“Pagi, Vano Alexander! Kenapa kau lama sekali membukakannya! Kau baru bangun?!” Kiara memekik kaget melihat Vano di hadapannya seolah-olah sedang melihat hantu.
Vano dengan rambut acak-acakan, matanya yang enggan membuka, kaus oblong berwarna hitam dan celana training menggaruk - garuk tengkuknya sambil menguap dan menatap Kiara dengan mata mengantuk yang disipitkan.
“Ada perlu apa kau datang pagi-pagi sekali? Matahari bahkan belum terbi—“ tanpa memberikan Vano kesempatan untuk melanjutkan kata-katanya, gadis itu telah membalik tubuh Vano dan mendorong pria itu menuju kamar mandi.
“Yang kau perlukan sekarang adalah mandi! Kita memiliki jadwal yang padat hari ini!” seru Kiara sambil mendorong tubuh tinggi besar milik Vano.
“Ya, apa maksudmu? Kita kan tidak sedang be—“
BLAM!
Pintu kamar mandi tertutup tepat di belakang Vano. Pria itu segera mendapatkan kesadarannya kembali dan berbalik lalu memutar kenop pintu beberapa kali yang tak turut membuat pintu di hadapannya terbuka.
“Ya, Kiara Kususma!” seru Vano.
Kiara tersenyum jahil di luar kamar mandi. Sebelah tangannya melempar-lemparkan sebuah kunci yang merupakan kunci kamar mandi. “Pokoknya kau mandi saja dulu, aku punya ide bagus untuk memulihkan ingatanmu,” ujar gadis itu.
“Aku tidak akan membukakan pintu jika kau belum mandi. Jadi, mandilah dengan cepat, Vano Alexander,” sambungnya lagi sembari tersenyum senang.
Vano berhenti berteriak dan menghela napas. Ia akhirnya menyerah dan memilih menuruti keinginan gadis itu.
Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menggelayuti langit-langit kamar hotel tersebut. Terdengar suara shower dimatikan. Setelah Vano mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakai pakaian bekasnya terlebih dahulu karena tak mungkin, bukan, ia keluar tanpa pakaian? ia segera menghampiri daun pintu dan berteriak,
“Kia, bukakan pintu! Aku sudah selesai!” serunya.
“Sebentar!” balas Kiara dari luar.
Setelah beberapa menit, barulah terdengar suara kunci terbuka dan Vano pun akhirnya bisa keluar dari kamar mandi itu. Vano melihat Kiara tengah tersenyum ganjil padanya, dan ketika Vano menatap sekeliling kamar hotelnya, keningnya mulai berkerut samar. Sungguh, terakhir kali ia meninggalkan kamar hotelnya 10 menit yang lalu kamarnya masih seperti kapal pecah.
Tapi lihat apa yang sekarang tersaji di hadapannya? Sebuah kamar bersih layaknya belum pernah dipakai. Baju-bajunya yang tersebar di sofa kini telah terlipat rapi di atas tempat tidur yang juga telah dibereskan. Terdapat sepiring sarapan di atas meja rendah di dekat sofa lengkap dengan susu vanilla dan segelas teh manis hangat.
Kiara hanya tersenyum. Ia kemudian kembali mendorong punggung Vano hingga membuat pria itu berjalan menuju lemarinya.
“Sekarang, kau ganti dulu dan sarapanlah, aku akan menunggumu di restoran lantai dasar! Aku akan membawamu menuju ke tempat-tempat bersejarah selagi kita di sini. Kita bertemu lagi jam setengah 6, oke?!” seru Kiara bersemangat sambil mengacungkan jempolnya.
Vano hanya bisa menatapnya heran. Kiara mendesah dan akhirnya menarik sebelah tangan Vano kemudian mengaitkan kelingking tangan kanannya pada kelingking tangan kanan Vano.
“Kau sudah berjanji,” ujar gadis itu kemudian. Ia melepaskan tangan Vano lalu melambaikan tangannya sendiri.
“Sampai jumpa jam setengah enam!” serunya sambil keluar dari kamar hotel Vano.
Vano hanya bisa menatap pintu yang baru saja menutup dan telapak tangannya yang terasa aneh. Sentuhan itu terasa seperti mimpi yang seolah-olah hanya sekejap, seperti dejavu, seperti sesuatu yang dikenalnya. Dulu. Pria itu kemudian menggeleng samar sambil tersenyum tipis. Lalu mulai membuka lemari pakaiannya.
“Kiara Kusuma… Gadis macam apakah kau itu?” gumamnya pelan.
____
Kiara duduk di salah satu meja yang terletak di dekat pintu masuk restoran sembari menggenggam segelas coklat panas kesukaannya. Ia terlihat bersemangat—sangat bersemangat. Semalam, ia baru saja memikirkan ide ini. Ia akan membawa Vano ke tempat-tempat yang dulu biasa mereka kunjungi. Pria itu sendiri yang bilang ingin mengingat masa lalunya, jadi pria itu tak bisa menolak lagi saat ia mengajaknya.
Kiara menghirup coklat panasnya dan meminumnya hingga beberapa teguk. Ia kemudian mengedarkan pandangannya keluar restoran.
Ia duduk menghadap jendela hingga bisa melihat keadaan di luar. Bali adalah salah satu tempat yang dulu sering dikunjungi keluarganya dan keluarga Vano. Selain karena cabang perusahaan mereka banyak terdapat di Bali dan Jakarta. Sementara keluarga Vano di Amerika, di sini banyak pula tempat-tempat liburan yang sengaja dibuat keluarganya. Ada pula beberapa saudaranya yang tinggal di sini, tapi Kiara tak begitu ingat sebab sudah lama ia tak mengunjungi mereka.
Bali adalah satu dari beberapa tempat bagi mereka untuk menyimpan kenangan. Dan selagi mereka berada di sini, Kiara harus memanfaatkan hal ini untuk mengajak Vano menelusuri masa lalu mereka.
Saking tidak sadarnya, Kiara bahkan tak melihat bayangan seseorang di belakangnya melalui kaca bening di depannya. Ketika sebuah tangan menepuk halus pundaknya, barulah gadis itu berjengit dan berbalik lalu tersenyum mendapati seorang Vano Alexander berdiri di belakangnya. Pria itu telah mengenakan pakaian yang pantas.
Baju serba hitam yang Kiara tahu merupakan warna favourite pria itu serta syal abu-abu yang Kiara berikan padanya beberapa hari lalu serta sebuah kamera digital yang menggantung di lehernya. Kiara tersenyum melihat Vano lebih memilih memakai syal pemberiannya daripada membeli yang lain jika memang pria itu tidak memiliki syal lainnya. Namun Kiara sedikit menyesal tidak membuat syal itu sendiri.
“Kau sudah siap?” tanya Kiara.
Vano memasukkan kedua telapak tangannya ke saku mantelnya. “Hmm,” balas Vano singkat.
“Sudah sarapannya?” tanya Kiara.
Vano mengangguk. Ia mengingat kala ia memakan sarapan yang disiapkan Kiara di kamarnya tadi.
Kiara tersenyum lalu meneguk habis coklat panasnya dan keluar dari kursi yang ia duduki lalu berdiri di samping Vano. Ia menatap pria itu dengan pandangan berbinar-binar dan penuh harapan yang Vano takutkan tak bisa ia penuhi. Gadis itu lalu mengedikkan kepalanya ke arah pintu keluar.
“Ayo,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu keluar.
Tanpa menjawab, Vano mengikutinya dari belakang.
...****************...