
Kini mata Kiara bertemu dengan mata Vano yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat ia berbaring dan kemudian langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Brian.
Tanpa bicara maupun bertanya, pria itu menatapnya. Namun Kiara tahu pria itu bertanya dari tatapannya; apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu? Bagaimana keadaanmu sekarang?
“Aku sudah baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir.” Ujar Kiara seolah menjawab pertanyaan Vano yang tak ia katakan.
Kening pria itu mengerut. Tampak tak puas dengan jawaban sang gadis. “Kau tahu, saat aku bertemu denganmu lagi seperti pertama kalinya, karena aku… yah… Kehilangan ingatanku ada kalanya kau membuatku hampir saja merasa ingin mati. Dan itu sudah terjadi selama dua kali. Kau tahu kapan saja itu?”
Kiara menggeleng. Vano tersenyum.
“Yang pertama adalah saat di pesta pertunangan kita dulu, saat kau hampir terjatuh dari batu karang.” Ujar lelaki itu sembari meraih sebelah lengan Kiara dan menangkupnya dengan kedua tangan. “Dan yang kedua adalah ini.”
Kiara terdiam—tepatnya membeku. Seketika saja, bulu kuduknya berdiri setelah ia menyadari sesuatu. Tatapan pria itu, caranya berbicara, caranya menggenggamnya, semuanya kembali.
Ia kembali menjadi Vano yang gadis itu kenal beberapa belas tahun yang lalu. Menjadi Vano yang hangat dan penuh perhatian terhadapnya. Tapi kenapa? Apakah ingatan Vano telah kembali?
“Kumohon, jangan pernah lakukan hal ini lagi padaku.”
Kiara menelan ludah. Ia tertegun. Sedetik, dua detik, tiga detik, seiring detak jarum jam yang mengalun lembut mengisi keheningan mereka, seiring dengan itu pula jantung gadis itu berpicu lebih cepat secara berurutan. Ketika gadis itu merasa jantungnya akan pecah saking kerasnya ia berdetak, dan ketika ia merasa wajahnya semerah udang rebus, ia menarik paksa tangannya dari genggaman Vano.
“Aku hanya terlambat sarapan, Van, tidak usah khawatir.” Ujarnya diiringi seulas senyum.
Tapi melihat wajah Vano yang tak kunjung menarik kerutan di dahinya dan rasa khawatir di matanya, gadis itu kemudian tertawa. “Ayolah, aku hanya pingsan sebentar! Bukan masalah besar!”
Namun Vano tetap bergeming. Bukan. Bukan itu yang ia maksudkan. Rasa bersalah yang tiba-tiba datang itulah yang membuatnya tak dapat mengalihkan pandangannya dari Kiara.
Pria itu baru sadar bahwa gadis ini ternyata lebih lemah dari yang ia duga, dan hal itu kembali menamparnya, mengingatkannya bahwa ia baru saja melakukan hal yang buruk yang jika saja Kiara tahu, mungkin akan membuatnya sakit dan sangat terpukul.
Dan ia ingin melakukan apapun untuk mencegahnya terjadi.
“Kiara, aku janji tidak akan meninggalkanmu. Ingat itu, oke?” ujar Vano tiba-tiba.
Kiara mengangkat alisnya tak mengerti, namun beberapa detik kemudian gadis itu tertawa lalu mengangguk. “Tentu saja kau tidak akan meninggalkanku, kita telah membuat pemesanan dengan keluarga, ingat?” ujarnya seraya mengangkat tangan kirinya, di mana sebuah cincin perak tersemat di jari manisnya.
Vano tersenyum. Dirinya ikut mengangguk. Meskipun dalam hatinya, ia masih tak dapat menghilangkan rasa bersalah di dadanya.
___
Setelah menenangkan diri dari emosinya yang tiba-tiba berkat ulah Kiara, Brian menatap pintu di hadapannya untuk kemudian membukanya. Pintu itu adalah pintu kamar rawat Windy.
Pria itu hanya ingin melihat keadaan gadis itu sebelum kembali pada managernya yang telah menunggunya untuk membawanya ke jadwal berikutnya begitu kru dibubarkan secara tidak resmi oleh Vano.
Namun hal yang dilihat Brian ternyata berada di luar dugaannya.
Ia melihat Windy duduk di pinggir tempat tidur dengan bibir mengerut, alis bertaut, mata memerah, dan kepala yang tertunduk. Rambutnya bahkan masih terlihat tak tertata rapi. Tangannya menggenggam satu sama lain dan jempolnya bergerak gelisah.
Melihat itu, Brian tak bisa hanya diam. Ia pun berjalan mendekati Windy dan duduk di sampingnya. Bahkan dengan pergerakannya itu, Windy masih tak menoleh seolah tak menyadari keberadaannya di sana.
“Tidak.”
Windy menoleh, menatap Brian dengan mata merahnya. Ada genangan air di pelupuk matanya dan sudah siap tumpah. Pria itu tak pernah melihat gadis ini serapuh ini sebelumnya. Di matanya, Windy adalah gadis penuh percaya diri dan dingin meskipun sedikit kekanakan.
“Kak, apa yang kulakukan itu salah?”
Brian terdiam. Kondisi ini setidaknya hampir tepat seperti yang telah ia duga. Ia dapat membaca keadaan. Dari bagaimana kondisi Vano ketika ia keluar dari kamar Windy yang tidak begitu baik.
Brian bukanlah orang bodoh. Orang-orang boleh saja menduganya sebagai orang yang polos, banyak bicara, humoris, ceria, tapi tidak bodoh. Instingnya telah ia pertajam sekian rupa sehingga ia bahkan dapat membaca suasana.
Dan ia cukup dapat menduga hal seperti ini akan terjadi pada Windy dan Vano. Hanya saja ia tak menyangka bahwa Windy akan menangis.
“Ia mencampakkanmu, bukan?” ujar Brian.
Windy tertawa miris. Setetes air mata jatuh ke pipi Windy. “Cinta satu pihak itu… menyakitkan, bukan?”
Brian mendesah. Hatinya teriris mendengar pertanyaan Windy. Ya, ia mengerti. Ia sangat mengerti tentang hal itu. Pria itu pun merubah posisi duduknya dan menghadap Windy. Ia memiringkan tubuh gadis itu sedikit agar mereka dapat saling berhadapan, kemudian mengangkat tangan kanannya. Dengan perlahan, pria itu menghapus air mata yang jatuh di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
“Ya, tentu saja.” Ujar Brian. Ia kemudian meletakkan kedua telapak tangan besarnya di pipi Windy seraya menarik bibir gadis itu dengan dua ibu jarinya untuk membentuk sebuah senyuman.
“Tapi jika kau tersenyum dan melihat dunia dengan lebih jelas lagi, kau akan menemukan pria yang tepat untukmu. Jadi tersenyumlah, oke?”
Brian mengakhiri perkataannya dengan senyuman lebar di wajahnya sementara tak ada respon dari Windy yang hanya mampu menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
____
Seminggu sudah berlalu sejak pemotretan mereka untuk musim dingin berakhir. Kontrak perusahaan dengan Brian pun otomatis berakhir. Cuaca semakin dingin setiap harinya, dan hari natal serta tahun baru semakin dekat.
Vano tak lagi dapat bertemu dengan Brian dikarenakan jadwalnya yang padat mendekati tahun baru. Ia hanya dapat menghubungi pria itu melalui akun media sosialnya. Sementara itu, ia juga tak lagi mendapat kabar dari Windy.
Bahkan sejak hari terakhir mereka syuting, ketika Vano keluar dari kamar Kiara, Windy sudah tak berada lagi di lokasi. Para kru yang melihatnya mengatakan bahwa ia pulang bersama Brian. Mendengar itu, setidaknya membuat Vano tak perlu merasa khawatir.
Sementara itu, hubungannya dengan Kiara tetap baik seperti biasanya. Vano yang kini lebih sering tinggal di rumah untuk mengedit beberapa foto dan mencetaknya, terkadang menghabiskan waktu dengan Kiara yang tengah mendesain. Ia berusaha menebus rasa bersalahnya dengan lebih sering menghabiskan waktu dengan Kiara.
Mereka bertemu di mana saja. Di taman depan rumah Kiara yang kini dipenuhi salju, di rumahnya atau rumah Kiara, atau di mana saja yang dapat membuat mereka nyaman. Belakangan, mereka sering sekali bertemu di sebuah kafe yang letaknya di sekitar xxx.
Kafe dengan nuansa Eropa dan Amerika yang kental diiringi dengan musik jazz yang mengalun hampir setiap hari. Dan kini, kafe itu mereka labeli sebagai favorit mereka.
Sering menghabiskan waktu dengan Kiara ternyata membuat Vano lebih mengenal gadis itu. Ia pikir setelah dua bulan mereka bersama, ia telah mengetahui segala hal tentang gadis itu.
Namun nyatanya belum. Dan untungnya Kiara dengan murah hati memberitahunya beberapa hal yang seharusnya dulu ia ketahui. Melihat betapa jujurnya Kiara padanya seperti ini, membuat Vano mau tak mau kembali tenggelam dalam pesona gadis itu. Dan kali ini, ia tak dapat berenang keluar dari sana.
Vano berusaha sebaik mungkn menikmati, kehidupan akhir tahun mereka bersama, ia ingin mengukir momen - momen ndah bersama dengan Kiara. Menurutnya tidak salah keputusannya untuk menetap sementara di Korea, toh mereka juga tetap bisa bekerja di sini. Karena di korea juga memiliki kantor cabang dari perusahannya.
...****************...