
Kiara hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat ketika Vano mengajakbnya kencan beberapa jam yang lalu. Saat itu ia tak bisa berpikir banyak, sehingga ketika Vano menanya kan kesediaannya, gadis itu langsung mengiyakannya. Ketika pria itu pergi dan ia menutup pintu kamarnya, Kiara sempat terdiam di belakang pintu untuk sekedar menenangkan diri agar tidak berteriak saat itu juga.Karena sungguh, rasanya sangat, sangat, sangat menyenangkan menerima sebuah ajakan kencan dari orang yang telah lama kau sukai—ya, Kiara pasti berbohong jika ia berkata ia tidak menyukai Vano lagi. Apa lagi, beberapa hari yang lalu, selalu dirinya yang berinisiatif dan bergerak agresif terhadap Vano sementara pria itu malah bersikap apatis.
Apakah pada akhir nya kerja keras dan pengharapan nya akan benar-benar terwujud sekarang?
Kiara hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat ketika Vano mengajaknya kencan beberapa jam yang lalu. Saat itu ia tak bisa berpikir banyak, sehingga ketika Vano menanya kan ke sediaannya, gadis itu langsung mengiyakannya. Ketika pria itu pergi dan ia menutup pintu kamarnya, Kiara sempat terdiam di belakang pintu untuk sekedar menenangkan diri agar tidak berteriak saat itu juga. Karena sungguh, rasanya sangat, sangat, sangat menyenangkan menerima sebuah ajakan kencan dari orang yang telah lama kau sukai—ya, Kiara pasti berbohong jika ia berkata ia tidak menyukai Vano lagi. Apa lagi, beberapa hari yang lalu, selalu diri nya yang berinisiatif dan bergerak agresif terhadap Vano sementara pria itu malah bersikap apatis.
Apakah pada akhir nya kerja keras dan pengharapan nya akan benar-benar terwujud sekarang?
Kiara menggenggam cappucino panas di gelas kertasnya dengan kedua tangan untuk menghangatkan diri. Ia dan Vano baru saja dari kafe terdekat untuk membeli sesuatu yang hangat karena Marvel berkata ia tak akan mampu bertahan tanpa sesuatu yang hangat di tangannya. Kiara dapat memaklumi hal tersebut, karena saat pria itu kecil dulu, ia pun selalu seperti ini.
“Ah… Akhir nya ada sesuatu yang hangat,” ujar Vano setelah meneguk cappucino-nya.
Kiara ikut meneguk cappucino-nya dan merasa kan cairan kecoklatan itu menuruni tenggorokan nya dan menghangat kan perut nya. Benar-benar minuman yang cocok di minum di musim dingin.
“Kata nya pulau Nami terlihat paling indah saat musim dingin karena salju-salju akan menutupi pepohonan di sepanjang jalanan ini dan membuat nya berwarna putih. Sayang sekali salju belum turun.” Komentar Vano sambil menatap sekeliling nya. Suasana remang-remang yang berasal dari lampu-lampu taman di sekitar jalan setapak tersebut tak menghalangi mereka menikmati pepohonan gundul—yang tampak eksotis berkat penerangan lampu-lampu taman—yang mengelilingi mereka. Hanya saja, memang sangat disayangkan salju belum turun hingga saat ini. Karena bisa dipastikan, putihnya salju yang menutupi jalan setapak ini pasti akan menambah efek eksotis yang sudah tercipta.
“Tapi seharusnya salju pertama sudah turun beberapa hari yang lalu,” ujar Kiara.
“Benarkah? Mungkin salju pertama akan turun sedikit lebih terlambat sekarang. Kau tahu, global warming.”
Kiara mengangguk setuju. Ia mengedarkan pandangannya lalu beberapa saat kemudian ia menoleh menatap Vano yang berjalan di sampingnya. “Vano, aku selalu penasaran. Bagaimana kehidupanmu di Amerika?”
Vano melirik Kiara di sampingnya lalu kembali meminum cappucino-nya sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya kau lupa, bahwa aku hanya ingat 6 tahun kehidupanku di sana. Aku mengalami kecelakaan saat umurku 19, kau ingat?”
“Ara, aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupanmu setelah tiba-tiba kau tidak lagi menghubungiku. Aku ingin tahu apa yang kulewatkan selama itu.”
“Apakah dulu aku sering menghubungimu?” tanya Vano.
“A-ah…,” Vano mengangguk-anggukan kepalanya lalu ia mengangkat sebelah tangannya untuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Well, kau tahu, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sempat berpikir, ‘jika aku bertemu denganmu lebih awal, pasti aku sudah jatuh cinta padamu.’ Karena kuakui kau itu… ehm… menarik. Tapi kemudian, ketika kau mulai bersikap seolah-olah mengenalku dan memaksaku untuk mengenalmu, aku merasa kau sangat menyebalkan.”
“Aku tahu. Terima kasih, kau menunjukkannya dengan sangat jelas waktu itu,” ujar Kiara setengah mencibir.
“Baiklah, maafkan aku. Itu karena dulu, aku benci sekali jika seseorang memintaku mengingat sesuatu yang tak bisa aku ingat. Aku juga mempunyai seorang teman di Amerika yang sangat berambisi membuatku mengingat masa laluku, dan aku tidak pernah mengerti apa motifnya.” Marvel terdiam sesaat. Tiba-tiba ia teringat Windy. Ah, ia lupa. Sudah dua minggu ia tidak menghubunginya. Dan sudah dua minggu pula gadis itu tak lagi menghubungi nya. Ia tak tahu apakah Windy marah padanya di Amerika sana, namun, mau tak mau ia juga merasa bersalah. Ia hanya berharap Windy tidak marah pada nya. Karena jika gadis itu marah, ia bisa saja melakukan sebuah hal nekat, contohnya: menyusulnya ke sini.
“Yah… Kalau ku pikir-pikir, tak ada salahnya bersikap seperti itu. Jika aku jadi kau, aku juga pasti akan bersikap seperti itu.” Kiara berkomentar.
Vano tersadar dari lamunan nya kemudian berdeham. “Sebenar nya aku selalu mengikuti terapi di Amerika sana, namun itu tak pernah berhasil. Terapi malah membuat ku trauma karena aku hanya mengingat kenangan-kenangan buruk dan rasa sakit yang tak terkira. Karena itu aku membenci nya. Aku memutus kan untuk menyerah karena aku berpikir aku tak akan bertemu dengan masa laluku lagi, tapi aku salah.” Vano menghenti kan langkah nya, lalu bergerak menghadap Kiara.
Menyadari Vano menghenti kan langkah nya, Kiara pun ikut menghentikan langkah nya dan menghadap Vano. Kepala Kiara sedikit menengadah menatap Vano yang lebih tinggi darinya tersebut dan menyadari pandangan Vano terhadap nya melembut. Ada sesuatu pada tatapan Vano yang tak bisa ia artikan.
“Lalu aku bertemu denganmu.” Lanjut Vano dengan suara pelan dan dalam, seolah ia hanya ingin mereka berdua yang mendengar nya. Kiara bisa merasakan jantungnya kembali berdegup kencang mendengar nya. “Meskipun awal nya aku merasa kau sedikit menyebalkan, namun akhir-akhir ini ada sebuah perasaan baru yang muncul. Perasaan yang mendorong ku untuk mengingat masa laluku. Mengingatmu. Seperti nya aku ingin mengenalmu lebih jauh.”
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜