REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 18



Ketika Vano hendak berjalan mendekati tembok renda yang membatasi rumahnya dengan rumah Kiara, pintu pagarnyatiba - tiba terbuka dan sosok pria masuk ke dalam dan berjalan mendekatinya .


"Maaf kedatanganku tiba-tiba ." ujar pria itu .


"Kau masih mengingatku bukan? Namaku Daren ,Teman sekaligus sepupunya Kiara"mengulurkan tangannya


Vano membalas uluran tangan pria itu dengan tatapan bingung.


" Bisa kita bicara sebentar?


___


Vano kini kembali berada di dalam rumahnya . Ia duduk di sofa hitam ruang tamunya bersama dengan seorang pria bermata sipit yang mengaku bernama Darren dan merupakan salah satu teman dari Kiara Kusuma. Ketika panoranda membuatkan minuman untuk pria itu, tidak ada menolak dengan alasan Ia hanya sebentar , jadi di sinilah mereka sekarang . Menatap mata masing-masing , berusaha mencari celah untuk memulai pembicaraan .


" Jadi begini, Vano Alexander ."


Daren memulai pembicaraannya ." aku sudah tahu apa yang terjadi denganmu dan apa yang terjadi di antara kau dan Kiara . Dan aku tidak ingin kau salah paham dan mengira gadis itu adalah gadis yang banyak bicara dan tidak bisa menyimpan aib orang lain .Karena sesungguhnya hal seperti ini bukanlah aib yang harus disembunyikan . Tapi karena dia butuh bicara . Aku tidak tahu apakah kau mengingatnya tapi kurasa ia sudah mengalaminya sejak kecil . Ia adalah tipe seseorang yang suka memendam apa yang ia rasakan sendiri sehingga ketika ia lalai, ia akan meledak . Karena itulah ia mempunyai banyak masalah di sekolah


" Dia pun bukan seseorang dengan badan sehat seperti orang kebanyakan . Ia mengalami penyakit turunan langka. Aku bukan mengatakan ini untuk membuatmu kasihan padanya, tapi aku ingin agar kau berhati-hati. Jangan sakit hatinya terlalu jauh, turuti saja kemauannya . Tidak ada yang rugi bagimu, bukan ? Siapa tahu Kiara benar-benar orang yang penting bagimu . Karena baginya Kau adalah orang yang paling penting."


Karena mendengus." Jadi intinya kau memintaku mengingatnya juga?"


" Iya" jawab Darren singkat .


Vano mendesah keras sembari mengacak-acak rambutnya . " Kau tidak tahu apa alasanku ...."


" Kalau gitu apa ? Apa yang membuatmu tidak ingin mengingatnya? Bukankah itu sangat dianjurkan dokter untuk mengingat masa lalumu sebelum kecelakaan berlangsung ? Apa kau tidak menerima terapi ataupun pengobatan semacamnya ?" tanya Daren


" Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan berespekulasi bahwa aku hanya mencari cari alasan untuk melupakannya karena sebenarnya tidak ! Tidak seperti itu!"


" Kalau begitu cobalah, terimalah bantuannya , mungkin kau tidak akan menyesal ..."


" Aku akan mencobanya ." potong Vano.


" Aku akan mencoba mengingatnya , karena itu kau bisa pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri , aku butuh waktu untuk berpikir !"


Darren menghelah nafas , ia pun bangkit dari duduknya."Kalau begitu aku pamit dulu ."ujar pria itu sambil melangkah keluar dari pintu . Meninggalkan Vano yang masih terduduk frustasi di atas sofa, iya kembali mengajak atap rambutnya .


"Ah... Aku bisa gila ! Kenapa semua orang mengatakan Aku akan menyesal karena tidak mengingatnya ?" gumam Vano


____


Rasanya baru saja tadi, ketika Kiara tengah duduk di teras rumahnya sambil membaca buku dan kini , ia tengah berada di dalam kamarnya bersama dengan Marsha . Seperti biasa gadis itu dan Daren akan mengunjunginya ketika akhir pekan . Tapi kali ini ia hanya melihat Marsha , ketika ditanya ke mana Daren , gadis itu menjawab bahwa pria itu ada urusan sebentar.


Jadi di sinilah mereka , Kiara menceritakan semua yang telah terjadi pada Marsha. Termasuk bagian di mana Vano membentaknya. Berbuat dingin padanya, namun Kiara masih tetap suka berada di dekat pria itu . Kiara menceritakan semua ini hanya pada Marsha karena ia tidak tahu kalau cerita pada Daren yang lebih protektif terhadapnya , terutama jika berurusan dengan pria .


" Jadi intinya ... Kau masih menyukainya , begitu kan ?" katanya Marsha setelah Kiara selesai bercerita .


" Entahlah , aku bingung. Di satu sisi Iya ,aku masih menyukainya karena sejak dulu hanya dialah pria yang selalu menemaniku. 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar '' ujar Kiara .


Marsha menghela nafas . " Jika kau masih menyukainya , itu berarti kau menyukainya, sesederhana itu tidak salah kau ingin melindungi perasaanmu sendiri , tapi ada baiknya pula kau jujur pada dirimu , sehingga kau bisa menerima perasaanmu itu ."


Kiara mendesah, ia memainkan kakinya yang berayun bebas di samping tempat tidurnya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok seorang Darren di sana.


" Kau dari mana saja? Apa urusannya sudah selesai ? "tanya Kiara


Daren hanya mengangguk.


Kiara tersenyum, "Kau membawa apa?" tanya Kiara.


"Makanan ke sukaanmu, Kia." ujar Daren santai.


"Woahh... Benarkah? Bakso?"tebak Kiara.


"Bingo!"


Kiara tersenyum cerah. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ke lantai 1, ke ruang makan. Sementara Marsha yang baru keluar dari kamar Kiara langsung di introgasi oleh Daren.


"Apa yang, tadi kalian bicarakan?"tanya pria itu curiga.


"Apa saja."jawab gadis itu asal, sambil terus berjalan menuju lantai dasar.


"Ku dengar tadi, kalian mengungkit - ungkit masalah suka..."


"Apa kau menguping?"tanya Marsha memotong perkataan Daren.


"Tidak, kalian tadi masih bicara saat aki sampai di depan pintu kamar." elak daren.


"Apa itu berarti Kiara masih menyukai pria itu? Cinta pertamanya?"


"Lantas kenapa kau masih mencemburuinya, Daren?"tanya Marsha ketus sambil tiba - tiba menghentikan langkahnya.


Daren ikut berhenti, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan keras . " entahlah , aku tidak mengerti perasaanku di tengah perasaanku sendiri saat ini, tapi aku tidak akan membiarkannya terluka."


Marsha mendesah." Sudahlah , ayo kita makan dan berhentilah berbicara" ujarnya pendek sambil menarik tangan Daren menuju ke ruang makan .


" Iya iya iya , aku bisa jalan sendiri !" protes Daren yang berusaha melepaskan genggaman tangan Marsha pada bajunya yang tentunya tidak di turuti oleh gadis itu .


"Marsha!"seru Daren


Tapi Marsha tidak berbalik , atau pun menyahuti seruan Daren. Gadis itu terlalu kacau , hatinya sakit jika melihat wajah pria itu . Pria yang hanya menatap seorang Kiara Kusuma dan tak pernah sedikit pun menatap nya.


...****************...


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜