REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 10



" Permisi " sapa sebuah suara .


Vano berbalik dan mendapati seorang staf perempuan tengah berdiri di belakangnya sambil memegang bungkusan sandwich.


" Ini untukmu," staff itu mengeluarkan bungkusan sandwich itu pada panu yang diterima Vano dengan sedikit bingung . " seseorang mengatakan Kau pasti sedang kelaparan , Jadi ia memintaku untuk menyerahkan ini ."


Kening Vano berkerut." dari siapa?" tanyanya


Staf perempuan itu terlihat ragu . Iya sesekali menatap ke belakang , seolah ada seseorang di sana . " Aku ... Aku tidak bisa memberitahumu, katanya kalau aku memberitahumu , kau tidak akan mau memakan sandwich ini . Kalau begitu aku permisi ." Staff itu buru-buru menundukkan badannya dan pergi dari hadapan Vano .


Vano Sebenarnya masih tidak mengerti siapa yang dimaksud staff tadi, tapi karena perutnya menuntut untuk diisi sesuatu , Ia pun mulai membuka bungkusan sandwich itu lalu memakannya.


Ketika tinggal potongan sandwich terakhir yang tersisa, dan ketika Vano hendak memasukkan sandwich itu ke dalam mulutnya , tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya sambil berteriak dan membuatnya tersedak hebat karena Sandwich yang tiba-tiba masuk ke kerongkongannya tanpa sempat dikunyah.


Dengan susah payah , ia bergegas menyambar teh hangat yang ada di atas meja dan meminumnya sampai habis .


" Hahaha ...Kamu masih seperti dulu , Vano Alexander ." Saut sebuah suara pria di belakangnya.


Kesal , Vano segera berbalik dan memarahi siapapun yang dengan sengaja mengagetkannya itu . " hei! itu sama sekali tidak lucu !" serunya . Menatap seorang pria berambut agak panjang dan pirang , tinggi dengan wajah jenaka ,Tengah tersenyum riang padanya seolah tidak punya salah sama sekali. Dilihat dari pakaiannya yang rata-rata bermerek, bisa dipastikan inilah artis yang akan bekerja sama dengan mereka kali ini .


" Lama tak bertemu ,Vano Alexander ." hujannya lagi


Vano menyipitkan matanya sambil menelisik penampilan pria yang dihadapannya ini, dari ujung kaki hingga ujung kepala, " sorry?"


"Ini aku Bryan, Bryan Wijaya . Apa kau tidak mengingatku ? pria itu menunjuk dirinya sendiri sambil membulatkan matanya tak percaya .


" Apakah kita saling mengenal ?" tanya Vano .


"Apa? Jangan bercanda seperti itu! Kau tidak akan bisa membohongiku! Hatimu sedari dulu tidak berubah , tetap buruk Vano ." seru Bryan Sambil tertawa .


Vano tidak menimpalinya , melainkan menatap pria bernama Brian Wijaya itu dalam diam . membuat Brian menggantikan tawanya dan menatap Vano lekak-lekat . Ini jelas-jelas Vano yang dikenalnya, lalu Kenapa ia bertindak seperti benar-benar tidak mengingatnya?


"Kau benar-benar tidak mengingatku ?" tanya Brian lagi , kali ini dengan suara yang lebih pelan.


"Yang aku tahu , kamu adalah model kami untuk musim ini , Brian Wijaya . Apa ada lagi yang perlu kita ketahui ?" tanya Vano dengan bahasa formal yang benar-benar membuat Brian bingung bukan kepalang


" What? Apa-apaan ini , apa yang terjadi padamu huh? Aku adalah sahabatmu dari SMP sampai SMA !"


Vano mendesah keras , ini bertambah satu orang lagi yang akan memaksanya mengingat masa lalunya. " Maaf tapi aku ...."


" Apa kau sakit ?" potong Brian sambil membulatkan matanya.


Vano segera berdehamdan bangkit dari kursinya, " Maafkan Aku, Bryan . tapi kita tidak punya waktu untuk mengobrol . Karena kamu sudah datang ,aku harus berdiskusi sebentar dengan para kru .dan kamu sebaiknya menyiapkan dirimu. permisi ." ujar Vano sambil berjalan meninggalkan Brian yang terkenal di tempatnya.


" Hei Ada apa dengannya ? seharusnya dia senang melihatku sekarang , bukankah dulu dia bilang ingin bertemu denganku ? Apa-apaan ini ?...." selalu Brian sambil mengacak-acak rambutnya .


___


Kiara Tengah menyusuri rak-rak baju yang telah dipersiapkan sambil melakukan Mix and match baju yang satu dengan yang baju yang lain ketika ia mendengar teriakan sebuah suara berat namun cempreng dan bersemangat yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Ketika ia berbalik , ia mendapati sesosok Brian Wijaya ,telah berada di hadapannya .


" Bryan ..." teriak Kiara terlampau bersemangat.


" Aduh syukurlah kau masih mengingatku ternyata!" ujar Brian setelah melepaskan pelukannya .


Tiara menatapnya heran, karena tak biasanya berair sebahagia ini . Melihat tatapan bingung Kiara, Bryan menuju Vano yang ada di kejauhan .


" Kukira kau akan sepertinya , dia benar-benar kacang yang lupa pada kulitnya !" rutuk Brian .


Kiara hanya bisa tertawa walau dalam hati , Ia mengamini juga perkataan Bryan .


"Lupakan sajalah dia !" seru Brayan sambil mengibaskan sebelah tangannya .


"Jadi, kamu yang akan menjadi desainer ku?baiklah , sekarang apa yang harus aku pakai terlebih dahulu,Miss Kusuma .?"


Sekali lagi Kiara tertawa , teman smp-nya ini benar-benar mampu membuat suasana menjadi hangat kembali. Brian bisa awet berteman dengan Vano yang terkadang sedingin es . karena hanya dengan Brian lah, es Vano bisa mencair .


" Kamu akan mengenakan ini untuk sesi pertama , lalu ini untuk kedua, ketiga , dan seterusnya . semuanya sudah aku atur sesuai dengan urutan ." Papar Kiara sambil menunjukkan beberapa baju di rak baju di sebelahnya .


" Ngomong-ngomong Apa kau sudah tahu sebelumnya , Kalau aku yang akan menjadi modelnya ?" tanya Brian.


Kiara menggeleng ,"I have no idea , karena mereka hanya menyebut aktor terkenal, dan aku tidak tahu kau adalah aktor terkenal itu ."


"Aktor terkenal ? Wah ...Ternyata aku aktor terkenal ya?" Gumam Brian sambil membenarkan dasi.


Kiara segera mengikuti pinggang Brian ." dasar ..."


Bryan hanya bisa tertawa melihat wajah protes Kiara . Ia pun mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut panjang Kiara,membuat Kiara sekali lagi mengeluh.


"Ngomong-ngomong, selamat di atas keberhasilanmu! kudengar kau memang benar-benar terkenal di sini, kau telah meraih mimpimu."Seru Kiara sambilmemukul pundak Bryan.


"Terima kasih , kamu pun telah menjadi desainer sekarang . kan kamu pun sekarang bertambah cantik " goda Bryan .


" Aish... berhenti menggodaku seperti dulu!" seru Kiara kesal sementara Brian hanya menjulurkan lidahnya pada Kiara .


___


Pemotretan benar-benar berjalan lancar sampai akhir nya mereka sampai ke Sesi kelima dan tiba-tiba Vano mulai naik darah . Ketika Brian Kembali ke tempat pemotretan , Vano mendesah keras sambil meletakkan kameranya di atas meja , terlihat putus asa dan marah di saat yang bersamaan.


"Apa ku ingin membuat persahaan ini bangkrut ?"tanya Vano. matanya memicing tajam pada acara yang berdiri tak jauh dari latar pemotretan dan tengah berdiskusi dengan desainer lainnya .


Kiara yang merasa dipandangi ,segera berbalik dan menatap Vano dengan pandangan bertanya . Setelah Vano mengisyaratkan cara untuk mendekat ,ia pun menghampiri Vano.


"Ada apa ? tanya Kiara , berusaha se-profesional mungkin .


"Lihat orang yang ada di depanmu !"pinta Vano tanpa menoleh .


Kiara beralih menatap Brian yang berdiri di hadapan mereka . Kiara meneliti penampilan Brian , Tak mengerti di mana letak salahnya , sementara Brian sendiri menatap Kiara dan Vano tidak mengerti . seketika Kiara menepuk keningnya, ia segera menyeret Brian kembali ke ruang ganti tanpa memperdulikan pria itu yang terus bertanya kenapa.


...****************...