REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 63



 “Karena itu, kau sebaiknya menjauhinya, Windy. Entah kau mengajaknya makan berdua sebagai teman atau hal lain, tapi kau lebih baik tidak membuatnya berpisah dari Kiara, karena aku tidak akan mengizinkannya—hei!” Brian berseru begitu melihat Windy yang tampak tak mendengarkan perkataannya dan melengos pergi begitu saja dengan langkah seribu setelah meletakkan piringnya yang penuh di atas piring Vano yang kosong di tangan Brian. Melihat hal itu, Brian sekali lagi mendesah kesal dan mengikuti kepergian gadis itu dari belakang.


Windy tak tahu apa yang merasukinya hingga ia berbuat demikian. Namun, amarahnya seolah terbakar habis dan ia tak bisa diam saja begitu melihat sosok Vano yang tengah duduk di sebuah kursi yang berada dekat sekali dengan seorang wanita yang juga tengah duduk di kursi yang lain. Semula, Windy hendak meluapkan amarahnya pada siapapun orang yang telah merebut Vanonya itu. Namun, ketika melihat Vano tersenyum dari kejauhan, gadis itu terdiam.


Senyum itu…


Seumur hidupnya, meskipun Windy mengenal Vano selama bertahun-tahun lamanya, namun Windy tidak pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Lebih tepatnya, Vano tidak pernah tersenyum padanya seperti itu meskipun pria itu berkata bahwa pria itu menyukainya.


Apakah perasaan Vano benar-benar telah berubah kini? Apakah sudah benar-benar tak ada ruang lagi untuknya di hati pria itu? Apa Vano benar-benar telah menghapus segala kenangan tentang dirinya?


Windy maju selangkah. Dua langkah. Dengan raut tercengang, gadis itu pun mengatakan satu kata yang membuat keduanya menoleh.


“Siapa kau?”


Windy menatap Kiara dengan kening berkerut. Ia mengamati wajah gadis itu dengan teliti. Mengingat- ingat dalam hati bagaimana rupa orang yang telah merebut hati Vano yang seharusnya menjadi miliknya. Windy menatap Vano seolah gadis itu adalah pencuri yang tertangkap basah meskipun Kiara tidak merasa demikian.


Kiara kemudian menatap Vano yang kemudian berkata,


“Kiara, dia adalah Windy, , model dari Amerika. Dia adalah temanku di sana dulu.” Ujar Vano.


“Dan dia berada di sini sekarang untuk membantu tim kami karena kepergianmu.”


Kiara membulatkan mulutnya dan menyuarakan ‘o’ pelan. Ia kemudian tersenyum pada Windy lalu berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya ke depan. “Namaku Kiara Kusuma. Maaf… Aku pasti sudah banyak merepotkanmu karena ketidakhadiranku, ya? Aku benar-benar minta maaf…”


“Aku tidak merasa kerepotan.” Ujar Windy.


“Aku menyukainya. Sangat menyukainya.” Sambungnya kemudian disusul dengan sebuah tatapan angkuh.


Brian yang tiba di tempat beberapa saat sebelumnya dan berdiri di sebelah Windy, sempat menyikutnya, memperingatinya bahwa kata-kata itu sangat tidak baik digunakan dalam perkenalan pertama, namun nampaknya Windy tak peduli. Gadis itu terbakar cemburu hingga habis tak tersisa. Dan sepertinya, gadis itu tak pernah belajar bagaimana caranya menguasai api tersebut.


Dengan canggung, Kiara menarik kembali tangannya yang terulur. Gadis itu kemudian tertawa canggung. “A-ah… begitu…,” ujarnya.


Vano mendelik tajam menatap Windy, namun gadis itu tak peduli. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Kiara sedikit pun. Mengamati penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Hal yang selanjutnya ia lihat adalah Vano yang tiba-tiba berdiri lalu memegang kedua bahu Kiara untuk kemudian memutar tubuh gadis itu.


“Kia, kau pasti lelah. Biar kuantar kau ke kamarmu.” Ujar lelaki itu seraya mendorong tubuh Kiara untuk maju ke arah yang ia inginkan. Meninggalkan Windy dan Brian di tempat.


Melihat kepergian Kiara dan Vano membuat Windy menggigit bibir kesal. Gadis itu kesal setengah mati hingga hatinya terasa sakit dan rasanya ia ingin menangis. Diam-diam, ia mengepalkan kedua telapak tangannya yang berada di kedua sisi tubuhnya.


____


Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya mengamati seisi ruangan sementara Vano yang membawakan tas ransel berisi barang-barang Kiara sejak tadi, memindahkan benda tersebut ke pojok ruangan lalu berjalan kembali ke arah sang gadis. Untuk beberapa saat, mereka bertukar tatap.


“Vano, ada apa?” tanya Kiara.


Vano sedikit terkejut begitu menerima pertanyaan semacam itu dari Kiara yang tak ia perkirakan sebelumnya. Matanya sedikit bergetar dan hal itu membuat kecurigaan Kiara meningkat. Pria itu tak ingin Kiara tahu tentang apa yang ia pikirkan. Gadis ini tak seharusnya tahu.


“Tidak ada apa-apa. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Vano berbohong sambil sedikit tersenyum.


Kiara menyipitkan matanya, tak percaya dengan ucapan pria di hadapannya. “Apa ada sesuatu tentang Windy yang mengganggumu?” tanya Kiara lagi.


Vano terdiam. Tak menyangka tebakan Kiara bisa sejitu itu. Namun pria itu pun rupanya tak lelah berbohong. Ia menggeleng, lalu meletakkan tangan kanannya di pundak kiri gadis itu seraya meremasnya lembut.


“Tidak ada apa-apa, beristirahatlah sebentar, setelah itu kau boleh menyusul kami kembali. Oke? Aku akan menunggumu di lokasi.” Ujar Vano dengan seulas senyum lalu pria itu pun pergi setelah melepaskan tangannya dari bahu Kiara dan menerima anggukan samar dari gadis itu.


Namun, meski pintu telah ditutup dan suara langkah kaki Vano yang berjalan menjauh telah hilang, perasaan janggal itu tak mudah hilang dari benak Kiara. Gadis itu masih terdiam, berpikir keras. Karena ia yakin ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak mengetahuinya.


____


Ketika Kiara kembali bekerja, ia kembali menjadi pemimpin tim desainer dan hal itu membuat Windy mau tak mau merasa tersingkirkan.


Gadis itu dalam sekejap kehilangan pekerjaannya sehingga ia lebih banyak menganggur di lokasi. Meskipun Windy termasuk gadis yang lahir dan tumbuh dalam keluarga berada, gadis itu tak bisa diam.


Ia tak tahan ingin melakukan sesuatu, sehingga akhirnya ia bersedia melakukan apapun yang ia bisa di sana—meskipun kebanyakan para staff mengabaikan nya atau bahkan melarangnya melakukan hal-hal tersebut. Brian pun sempat melarangnya melakukan pekerjaan sembarangan seperti itu, namun Windy mengabaikannya.


Hari pun berganti, dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali, pemotretan sudah dimulai demi menuntaskan pekerjaan mereka lebih awal. Dan di hari itu, Windy kembali menjadi satu-satunya orang tanpa pekerjaan di sana.


Brian menyuruhnya untuk pulang kemarin malam, namun Windy menolak dan berkata bahwa dirinya tidak akan pulang sebelum mereka pulang. Lagipula, nampaknya Vano pun tak peduli—yah, omong-omong pria itu memang terus mengabaikannya sepanjang hari kemarin, setelah Kiara kembali. Di pagi itu, Windy bahkan melihat pemandangan romantis yang tidak diinginkannya.


Ketika mereka baru berkumpul di lokasi pemotretan, Windy melihat Kiara menghampiri Vano dengan sebuah sandwich di tangannya.


Dan Vano menerimanya dengan wajah sumringah seolah sandwich itu adalah hadiah paling berharga di dunia. Kala itu, Windy hanya bisa berdecak kesal.


Barangkali ia cemburu.


...****************...