REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 49



Setelah menyebrangi lautan dan tiba di pelabuhan lalu diantar Vano, Kiara barulah sampai di rumahnya. Ia tak melihat jam tangannya, namun ia bisa memastikan bahwa ia sampai tepat tengah malam—atau mungkin lebih. Ketika memasuki rumahnya,  ia hanya disambut oleh pelayan rumah tangganya yang membantunya membawa tasnya sementara ia sendiri beranjak menuju kamarnya.


Jujur, Kiara merasa sangat lelah saat itu. Terlebih lagi ia tak sempat beristirahat setelah bekerja dan setelah kencannya dengan Vano. Sekarang, disaat dirinya sadar betul ia harus menidurkan dirinya, ia malah tak bisa tidur akibat ulah Vano tadi. Kiara menggenggam tangan kanannya sendiri dengan tangan kirinya lalu tersenyum lebar seperti orang bodoh. Ia masih bisa merasakan tangan Vano di sana. Betapa jemari lelaki itu yang kurus sangat pas di sela-sela jemarinya, betapa hangat dan protektifnya genggaman pria itu padanya, ia bisa merasakan semuanya.


“Biarkan begini saja. Sampai kita kembali ke penginapan.”


Kiara bahkan masih sering merona ketika memutar memori beberapa jam yang lalu di kepalanya. Kadang, ia sering mencoba mencubit dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang barusan ia alami bukan sebatas mimpi belaka. Dan ternyata memang bukan. Hal tersebut memang benar-benar terjadi.


Oh, mungkin ini juga yang menyebabkannya enggan menutup mata dan digiring ke dunia mimpi. Karena pada akhirnya, dunia nyatanya lebih indah daripada dunia mimpinya.


 


____


 


Pagi harinya, sekitar jam 6, ponsel Kiara yang ia letakkan di atas tempat tidur, tepat di sebelah bantal tidurnya, berbunyi nyaring. Membangunkan dirinya yang masih terlelap. Tentu saja, ia baru saja tidur pukul 3 pagi! Itu berarti, total waktu tidurnya hanya 3 jam. Dan itu masih jauh dari jam tidur rata-ratanya. Karena itu, dengan mata masih terpejam, lengan gadis itu bergerak mencari ponselnya lalu mengangkat teleponnya dan menempelkannya di telinga.


“Hm?” gumamnya.


“Kau masih tidur?!” pekik seseorang di sebrang telepon. Sepertinya orang tersebut tampak terkejut setelah mendengar suara setengah sadarnya Kiara. Dan Kiara mengenali suara ini sebagai milik Vano Alecander.


“Hm…,” sekali lagi, Kiara menjawab dengan gumaman samar.


“Ya! Jam berapa ini? Kita harus sampai di Namsan Tower jam 7!”


“Aku tahu,” balas Kiara singkat. “5 menit lagi…,” tambahnya.


“Kau tidak bisa menunggu 5 menit lagi! Kita akan terlambat jika seperti itu…,”Vano terdiam di sebrang telepon, menggantung kalimatnya yang belum selesai sementara Kiara masih mendengarkan dengan mata terpejam dan keadaan setengah sadar.“Jika kau masih belum mau bangun, aku akan ke sana dan kau tidak mau tahu bagaimana caraku membangunkanmu nanti, bukan?”


Mata Kiara yang semula terpejam rapat tiba-tiba terbuka lebar. Ia melotot dengan kening berkerut mendengar apa yang baru saja dikatakan pria itu. Seketika, kesadarannya pulih. “Apa katamu?” tanya Sooji, takut ia salah dengar.


“Cepat keluar sekarang atau aku akan menyusulmu ke sana, Kiara kusuma—“


“B-baiklah, baiklah, aku bangun sekarang! Tunggu aku di sana!” seru Kiara cepat-cepat. Ia segera bangkit dari posisi berbaringnya dan mendesah keras. Ia bisa membayangkan Vano tersenyum di sebrang telepon. Tapi kemudian Kiara memikirkan sebuah hal gila,“Oh, atau kau ingin masuk ke rumahku dan menunggu di ruang tamu bersama ibuku? Kebetulan beliau sedang di rumah. Bukankah ini cara yang baik untuk mengenal calon mertuamu? Setidaknya kau tidak begitu mengingatnya, bukan?” tantang Kiara.


Kiara mengernyitkan keningnya. “Kau serius?”


“Tawaran itu tidak buruk, kau tahu? Lagipula itu lebih baik daripada membeku di luar sini. Kau tahu, salju sudah turun dan jalanan ditutupi salju. Meskipun indah, tapi salju tetap saja memperburuk keadaan. Sepertinya aku akan masuk sebentar.”


“Ya! Jangan coba-coba melakukannya, kau mengerti? Aku hanya bercanda… jadi jangan coba-coba melakukannya!”


“Terlambat, aku sudah di depan rumahmu. Karena itu, lebih cepat kau turun, lebih baik.”


Kiara mendecakkan lidahnya dan segera memutus sambungan telepon lalu segera pergi ke kamar mandi. 20 menit kemudian, gadis itu sudah siap lengkap dengan mantel panjang berwarna coklat, sepatu boots, dan syal berwarna putih. Dengan tergesa, ia berjalan keluar dari kamarnya. Dan begitu ia mencapai ruang tamu, ia mendesah lega mendapati tak ada siapa pun di sana.


Bukannya ia tak ingin Vano bertemu hanya berdua dengan ibunya, bukan berarti juga ia tak ingin ibunya mengenal Vano lebih jauh—lagipula ibunya sudah mengenalnya sejak dulu. Tapi Kiara hanya takut pria itu akan ditanyai macam-macam oleh ibunya dan diingatkan pada sesuatu yang tidak pria itu ingat. Pria itu sudah bilang padanya ia benci hal seperti itu, bukan? Ya, dan ia tak ingin hal itu terjadi. Karena Kiara percaya, jika Vano dan ibunya ditinggalkan berdua, ibunya pasti akan menanyai hal semacam itu. Ibunya termasuk orang yang penasaran dan hati-hati juga detil jika berhubungan dengan orang lain—mungkin itu pengaruh pekerjaannya?—entahlah, yang penting, Kiara lega Vano tak bertemu dengan ibunya dan ia lega ibunya ternyata sudah tak berada di rumah pagi itu.


Begitu Kiara keluar dari rumahnya, ia melihat mobil Vano yang berada di depan rumahnya. Dengan segera ia menghampiri mobil tersebut dan melihat Vano berada di dalam dan tak menyadari kedatangannya, Kiara segera masuk ke bangku penumpang di samping pengemudi. Barulah setelah ia masuk, Vano menyadari keberadaannya.


Pria itu melirik jam tangannya dan mendesah. “24 menit.” Ujar pria itu seolah memberitahu letak kesalahan Kiara.


“Kau tidak masuk ke rumahku!” tuding Kiara tiba-tiba pada Vano setelah mengetahui pria itu berbohong—meskipun ia sendiri merasa lega.


“Untuk apa aku masuk? Tunggu dulu, bukan berarti aku pengecut dan tidak mau bertemu dengan ibumu, tapi aku yakin seratus persen wanita karir seperti ibumu itu pasti tidak mau diganggu di pagi buta seperti ini sebelum berangkat kerja. Jadi aku memutuskan untuk tidak memberikan kesan buruk pada ibumu.”


Vano mengantisipasi Kiara akan cemberut, merasa kesal, atau mengadu argumennya dengan mengatakan hal tersebut sebagai alasan agar pria itu tak bertemu ibunya. Tapi yang ia lihat sangat jauh dari ekspektasinya.


Kara tersenyum, ya, tersenyum. Vano bahkan tak mengerti mengapa gadis itu tersenyum.


“Kenapa kau tersenyum?” tanya Vano pada akhirnya.


Kiara mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah mencoba menyadarkan dirinya sendiri. “Eo-eoh? Tidak, tidak apa-apa. Cepat nyalakan mobilnya! Katanya kau tidak mau kita terlambat?” seru Kiara untuk mengalihkan percakapan mereka. Jujur, ia sendiri merasa malu tertangkap basah sedang tersenyum sambil memperhatikan Vano berbicara.


“Hei, kau semakin mahir mengalihkan pembicaraan, huh?”komentar Vano sambil menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah smirk yang tak dimengerti artinya oleh Kiara sebelum akhirnya pria itu menyalakan mesin mobilnya. “Oh, jangan lupa pasang sabuk pengamanmu.” Ujar Vano.


 


...****************...