
Ponsel Kiara berbunyi nyaring, mengganggu sang empunya yang masih bergelung di dalam selimutnya dengan pikiran di atas awan. Kiara mengerang sebentar sambil menarik selimutnya menutupi kepala. Tapi kemudian suara nyaring itu semakin menjadi-jadi. Dengan kesal, gadis itu mengambil ponselnya lalu memeriksa apa yang terjadi di sana sehingga ponsel itu terus berbunyi karena seingatnya, ia tak pernah memasang alarm di ponselnya.
Oh, ternyata ada pesan masuk. Kening Kiara berkerut. Dari siapa?
Tanpa membaca dengan jelas nama si pengirim, Kiara membuka pesan yang mengganggu jam tidurnya itu.
Bangun, tukang tidur! Jangan biarkan aku menunggu di antara cuaca dingin itu lagi jika kau tahu aku tidak tahan dingin. Sekarang kita akan berangkat pukul 6.30 tepat. Tanpa kecuali.
Kiara mendengus membaca pesan itu lalu kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Setelah lima menit, gadis itu mendadak bangun dari posisi tidurnya dan melihat jam dengan waspada.
Astaga, sudah jam 6 tepat! Jika ia tidak siap-siap sekarang, ia akan melewatkan sarapan dan ia juga tidak akan sempat membuat roti isi itu! Ah, sial! Pada akhirnya orang itu berhasil membuatnya beranjak juga. Tunggu sebentar, apakah yang mengirim pesan itu adalah Vano Alexander?
Setelah melirik jam di kamarnya dan mendesis kesal, ia langsung melompat berdiri dan buru-buru memasuki kamar mandi.
____
Ketika kaki Vano melangkah keluar dari pintu rumahnya esok paginya, angin dingin yang berhembus membuatnya benar-benar menggigil. Ia merapatkan mantel hitam tebalnya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya demi mendapatkan kehangatan, namun nihil. Ia tak bisa mendapatkan kehangatan itu. Padahal, musim dingin jelas belum mencapai puncaknya. Tapi jika terus sedingin ini, Vano yakin dirinya akan memilih mengurung diri di dalam rumah daripada harus keluar dalam keadaan kedinginan, layaknya yang terjadi di Amerika sana.
Setelah mengeluarkan mobil dan memarkirnya di depan rumah Kiara, pria itu keluar dari mobilnya dan menunggu gadis itu di samping mobil. Mungkin bagi orang-orang yang melihatnya, Vano layaknya pria bodoh yang sok kuat yang ingin memberi kesan seorang gentleman dengan menunggu seseorang di luar mobilnya padahal dia sendiri tidak tahan dingin. Tapi menunggu seperti ini sudah seperti kebiasaan bagi pria itu. Bukan hanya sekedar formalitas atau terkesan sok, tapi ia memang sudah terbiasa menunggu seseorang yang akan bepergian bersamanya di luar kendaraan. Terlebih kalau mereka hanya bepergian berdua.
Kali ini, tak seperti hari kemarin, Ketika Vano baru berdiri satu menit di samping mobilnya, gadis itu sudah keluar dari rumahnya. Ia tersenyum cerah ketika melihat wajah Vano. Vano hanya membalas senyuman gadis itu dengan senyum singkat karena wajahnya terasa beku. Tanpa menunggu lama, pria itu segera kembali berjalan mengelilingi mobilnya untuk masuk ke bangku pengemudi.
“Vano, tunggu!” seru Kiara yang sukses menghentikan langkah Vano.
Pria itu berbalik, tanpa sempat berkata apa pun, tiba-tiba sebuah kain tebal dipasang Kiara pada lehernya. Vano hanya bisa tertegun ketika Kiara memasang syal berwarna abu-abu itu ke lehernya.
“Setidaknya kau harus memakai sesuatu seperti ini saat musim dingin, apalagi kau tidak tahan dingin, Vano Alexander” ujar Kiara sambil tersenyum manis ketika merapikan syal yang melingkar sempurna di leher Myungsoo. Kiara terkekeh. “Sudah kukira warnanya akan cocok. Kau penyuka warna hitam, tapi warna itu terlalu monoton. Jadi kuberi warna abu. Bagaimana?”
Vano tidak menjawab, lebih tepatnya tidak ada niatan menjawabnya. Ia terlampau kaget dengan segala yang terjadi. Terutama ketika ia menatap wajah Kiara sedekat tadi. Ia bisa mencium wangi shampoo Kiara, dan ia bisa menatap manik coklat gadis itu yang sekali lagi, entah mengapa terasa familiar, meruakkan rasa rindu yang aneh karena ia bertemu gadis itu hampir setiap hari. Jadi kenapa ia merasa rindu?
Vano dengan cepat tersadar dari lamunannya dan ikut memasuki mobil dan memasang sabuk pengamannya. Sebelum menyalakan mesin, ia teringat sesuatu dan menoleh menatap Kiara. Yang ditatap malah tersenyum sambil menunjukkan posisi sabuk pengamannya yang sudah terpasang di tubuhnya.
“Aku tidak mungkin membuatmu mengingatkanku terus, bukan?” ujar gadis itu ringan.
Vano mengangguk salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai melajukan mobilnya.
___
Kiara masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada seorang Vano Alexander yang tiba-tiba membuatnya berbuat baik padanya sepanjang hari. Sejak berada di dalam mobil tadi pagi, hingga saat mereka pulang bersama sorenya. Sungguh, ketika mereka berada di dalam mobil, Vano terus bertanya padanya, membuatnya menceritakan kisah masa lalu mereka yang ditanggapi pria itu dengan baik, padahal sebelumnya mereka jarang sekali mengobrol di dalam mobil. Setelah itu, aksi ‘baik’ Vano masih berlanjut. Pria itu bahkan menunggu Kiara keluar dari mobil agar mereka masuk ke dalam gedung bersama-sama. Di kantor, aksi pria itu malah lebih parah. Ia beberapa kali memuji hasil kerjanya yang demi Tuhan! Kiara tahu Vano bahkan tak pernah memuji hasil spektakuler seorang designer ternama manapun! Saat pulang kerja pun, pria itu masih saja berbuat baik. Ia mengajaknya bicara banyak sekali, bahkan melontarkan beberapa lelucon.
Sungguh, Kiara senang—sangat! Namun, perbuatan baik pria itu cukup mencurigakan. Meskipun pria itu masih berbeda dengan Vano Alexander yang dikenalnya 11 tahun yang lalu, tapi perbuatan pria itu membuatnya berharap… Apakah Vano sudah mengingat sedikit saja masa lalunya?
“Tidak,” jawab Vano singkat saat Kiara menanyakan hal yang mengganggunya sejak kemarin pada hari Jum’at siang di kantor mereka. Vano membenarkan letak syal yang diberi oleh Kiara kemarin yang masih bertengger manis di lehernya, menggantikan kehangatan dari mantel tebalnya yang diletakkan di kantornya. “Aku masih belum mengingat masa laluku. Aku hanya ingin berbuat baik padamu karena aku mulai mempercayaimu sebagai seseorang yang berasal dari masa laluku. Itu saja,”
“Tapi Van, apa kau benar-benar tidak ingin mengingat masa lalumu? Kenapa?” tanya Kiara
Vano hampir saja tersedak coklat panasnya sendiri mendengar pertanyaan Kiara. Ia segera bangkit dari duduknya diikuti Kiara.
“Kau boleh menanyakan apa saja, Kia. Kecuali pertanyaan satu itu. Aku pergi dulu,” ujar Vano sambil berlalu menuju lift dan memasukinya begitu pintu besi itu terbuka.
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜