REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 76



Kiara tak dapat lagi memperkirakan sudah berapa lama ia berada di sini. Dengan gaun terbuka seperti ini adalah ajaib baginya jika penyakitnya itu belum menyerangnya hingga kini.


Buku-buku jarinya telah memutih, dan ia sudah mulai mati rasa di ujung-ujung jarinya akibat kedinginan. Tapi ia tak peduli. Hal pertama yang tadi dipikirnya setelah dari toilet adalah menuju tempat terbuka. Entah teras, loteng, apa pun. Hingga ia menemukan tempat ini. Letaknya di lantai dua, seperti sebuah loteng meskipun tidak berada di tempat tertinggi gedung itu, tapi yang jelas ini adalah tempat terbuka. Kiara sebenarnya hanya ingin menenangkan dirinya sekaligus mengeringkan air matanya yang keluar di kamar mandi tadi.


Gadis itu kembali mendesah keras. Uap putih keluar begitu saja dari mulutnya. Ia tidak tahu. Jika saja ia tidak mendatangi pesta tersebut, ia tidak akan pernah tahu pandangan orang lain terhadapnya. Ia tidak tahu bahwa hal-hal yang sering ia lihat di drama-drama yang selalu ia tonton—seperti fitnah, iri, dengki—akan terjadi padanya pula. Ia tak pernah tahu bagaimana menyeramkan dan menyakitkannya hal tersebut hingga ia merasakannya sendiri tadi.


Kepala gadis itu merendah, ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang tertelungkup di atas pagar besi. Gadis itu menatap ke depan, ke arah pemandangan perkotaan di malam natal ini. Tiba-tiba saja ia memikirkan Vano, dan mengingatnya membuat ia ingat tentang Windy pula. Tiba-tiba saja, air mata mengalir ke pipinya dan ia kembali terisak pelan.


Gadis itu tak lagi peduli. Make up-nya telah hancur tadi, ketika ia membasuhnya hingga habis di kamar mandi. Dan kini, ia akan membuat matanya kembali bengkak dengan menangis di sini. Payah. Kiara benar-benar payah dalam mengatur perasaannya sendiri.


“Kiara Kusuma!”


Kiara berhenti terisak. Itu adalah suara orang yang paling tidak ingin ditemuinya nomor dua—nomor satunya adalah Bang Himsoo—suara itu milik Kim Vano. Kiara mendengar derap langkah mendekat. Namun sebelum pria itu benar-benar mencapainya, Kiara berteriak,


“Jangan mendekat!”


Suara derap langkah itu berhenti. Kiara berusaha menghapus air matanya yang masih mengalir dengan kedua tangan, tapi sia-sia. Air matanya turun deras bak riak sungai. Tidak mau berhenti. Derap langkah itu kembali terdengar dan Kiara kembali berteriak,


“Aku bilang jangan mendekat!” serunya, ia kembali terisak. Ia tak tahu harus bagaimana menatap wajah Vano nanti. Ia juga tak ingin pria itu melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini. Dalam perasaannya yang kalut seperti itu, tiba-tiba Kiara merasakan sesuatu menutupi punggungnya. Sesuatu yang hangat.


“Bodoh, mana mungkin aku tidak mendekat! Ini sudah hampir jam 12 malam dan kau ada di luar dengan pakaian minim seperti itu. Setidaknya kau harus memakai sesuatu sebelum kau terkena hipotermia!” Kiara merasakan tangan Vano di pundaknya. Dan mendadak tubuhnya melemah hingga ia menurut saja ketika Vano membalikkan tubuhnya agar mereka dapat saling bertatapan satu sama lain. Kiara melihat Vano yang kini melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja putih. Ternyata benda hangat yang menyelimuti punggungnya tadi adalah jas pria itu.


“Kau terluka Kiara Kusuma, karena mereka. Aku seharusnya tak pernah membawamu ke sini—“


“Van,” Kiara memotong perkataan Vano. Air mata masih mengalir deras di wajahnya, membuat dua buah jejak air mata di pipinya. “Aku ingin menanyakan sesuatu.”


“Kiara…,”


“Apa kau dan Windy… Pernah menjalin suatu hubungan?”


Vano terdiam. Ia tak menyangka pertanyaan semacam inilah yang keluar dari mulut Kiara. Apakah Kiara terluka karena mengetahui hubungannya dengan Windy dulu? Tidak. Ia juga terluka akibat pembicaraan Bang Himsoo dan yang lainnya. Tapi dari mana gadis itu tahu tentang hubungannya dengan Windy?


“Apa maksudmu, Kiara?”


“Kau dengar sendiri, Van. Mereka tidak menginginkanku! Aku tidak pantas berada di sini, aku tidak pantas menjadi desainer, dan melihatmu bersama Windy tadi, mengetahui hubungan kalian, aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi… tapi… aku… aku merasa tidak pantas menjadi pendam—“


Dan kala itu, waktu seakan berhenti bagi Kiara.


Kala ketika Vano Alexander menghapus jarak di antara keduanya dan menghentikan ocehannya dengan bibirnya. Membuat Kiara yang terlambat menyadari keadaan, melebarkan kedua matanya begitu sadar bahwa Vano Alexander menciumnya.


Untuk beberapa detik saat bibir Kiara masih menempel di bibirnya, Vano tak bisa bernapas. Ia terkejut bukan main. Bukan ini reaksi yang ia harapkan dari seorang Vano Alexander.


Vano menjauhkan dirinya secara perlahan dari Kiara, membiarkan Kiara bernapas. Pria itu kemudian menatap mata Kiara tajam. Kedua telapak tangannya menangkup kedua sisi wajah gadis itu, membuatnya tak bisa berpaling ke mana pun.


“Kau salah, Kiara,” ujarnya pelan, seolah ia hanya ingin mereka berdua yang mendengar ucapannya. “Mereka semua iri padamu, itu yang sebenarnya. Jangan pernah sekali-kali merendahkan dirimu sendiri, aku tidak menyukainya.”


Kiara tertegun. Setetes air mata kembali turun ke pipinya yang segera dihapus oleh ibu jari Vano.


“Dan ingat ini, Tak peduli seberapa tidak pantasnya kau untukku, aku akan tetap memilihmu, Kiara Kusuma.” Ujar Vano lagi. Kali ini, sambil tersenyum.


Ajaib. Kata-kata pria itu, senyum pria itu, semua berhasil menghentikan semua rasa sakit dalam hatinya. Air matanya pun berhenti. Dan ia akhirnya bisa tersenyum kembali.


Vano kembali memajukan wajahnya, hendak menghapus jarak antara mereka lagi. Dan kali ini, Kiara lebih siap menerimanya. Ia memejamkan mata begitu bibir Vano bertemu dengan bibirnya lagi. Waktu seakan terhenti kembali. Terdengar sorakan ‘selamat natal’ dari dalam, namun hal tersebut tak menghentikan keduanya.


Kiara menghabiskan detik pertama natalnya bersama Vano, dalam hangatnya cinta. Dan ia tak tahu lagi hadiah apa yang sebanding dengan ini.


Bahkan santa claus pun tak akan bisa memberikan hadiah lain yang menandingi Vano Alexander untuknya.


...****************...