
Sejak kejadian di basement itu , setiap pagi di meja kerja Vano , selalu terdapat roti sandwich seolah-olah si pengirim tahu bahwa ia tidak pernah bisa sarapan sejak bekerja menjadi fotografer . Jelas saja , siapa yang bisa sarapan sebelum bekerja ketika jam masuk kerjanya adalah jam 07.00 pagi sementara jarak rumahnya dan tempat kerjanya memakan waktu 30 menit ? Itu pun jika tidak terjebak macet . Apalagi Vano termasuk orang yang tidak pernah bisa bangun pagi , sempurna bukan ?
Sebenarnya karena sedikit bersyukur dengan adanya sandwich itu setiap pagi . namun , siapa yang membuatnya? ia segera tahu sandwich itu buatan sendiri ketika ia memakannya .Rasa Sandwich yang baru dengan yang kemarin diberikan staf perempuan itu sangat berbeda ,yang ini terasa lebih tulus .
Penasaran, walaupun mendatangi staf perempuan yang dulu memberikannya sandwich sambil mengacungkanke plastik sandwich di tangannya .
" Ini , apa kamu tahu siapa yang memberikanku ini setiap harinya ?" tanya Vano .
Staff itu menatap sandwich di tangan Vano bingung lalu berbalik, seperti mencari seseorang. Tapi kemudian berbalik lagi menghadap Vano sambil mengedipkan bahu.
" Aku tidak tahu, kurasa bukan orang yang sama dengan orang yang memberi sandwich kemarin." Ucapnya.
Sepeninggalan Vano, tap perempuan tadi segera memasuki wardrobe dan menemui seseorang di sana. Orang itu sepertinya tengah melakukan mix and match terhadap pakaian yang akan mereka gunakan untuk pemotretan lusa.
Rambut panjangnya ia Ikat ke belakang dengan asal sementara keningnya berkerut samar di antara wajah cantiknya.
" Kiara" panggil staff tadi.
" iya." saut Kiara sambil menoleh menghadap stop perempuan yang kini berdiri beberapa meter di sampingnya.
"Apa kamu tahu, sandwich... Sandwich yang ada pada panu pagi ini? Apa kau juga yang memberikannya?" Tanya staf itu sambil sedikit berbisik setelah posisinya sedikit lebih dekat dengan Kiara.
" Sandwich?" ulang Kiara. Keningnya berkerut bingung.
Lama tak dapat jawaban, tapi itu pun menghela nafas." Sudah aku duga itu bukan kau " ujar staf itu.
" Maaf ya mengganggumu ." Pamit staf itu.
Sepeninggalan staf perempuan itu , Kiara tersenyum sambil kembali membereskan baju-baju di hadapannya .
___
Vano menggigit sandwich terakhirnya sambil menyeleksi dan mengedit gambar dalam komputer di hadapannya . Dengan sandwich memenuhi perutnya, rasanya energinya kembali terisi untuk sesi pengeditan dan pencetakan gambar selanjutnya .
Tapi ada yang aneh .
Diam-diam , mata tajam Fano mengerling ke arah wardrop yang berada beberapa belas meter di depannya. Ia melihat beberapa desainer perempuan berjalan bolak-balik ke dalam wardrobe sambil menenteng beberapa pasang pakaian . Tapi dia tidak melihat gadis itu , Siapa lagi kalau bukan Kiara Kusuma.
Beberapa hari terakhir, Gadis itu mulai berlaku aneh . sejak kejadian di basement itu , nggak di situ jadi tidak pernah mengusiknya lagi . Ia tak pernah mendapati pandangan gadis itu terhadapnya lagi , ia tak pernah melihat gadis itu berusaha berbicara dengannya lagi . Bahkan ,ketika bertemu di rumahnya pun , Gadis itu hanya menunduk sambil berlalu. Sama sekali berbeda dengan saat mereka bertemu pertama kali .
Sebenarnya tidak seburuk itu , setidaknya perilaku Gadis itu hanya membuatnya khawatir, khawatir jika Gadis itu akan mendesaknya setiap hari dengan ceramahnya tentang betapa pentingnya masa lalunya yang tidak Gadis itu lakukan . Tidak seperti Windy di Amerika dulu yang selalu mengusiknya tentang masa lalunya . Lantas , kenapa ya berpikir sebelum itu terhadap Kiara Kusuma .
Apa sekarang waktunya merubah sifatnya ? Itu apa di situ sepertinya tidak lagi peduli dengan ingatannya. Baguslah, sepertinya ia bisa berubah sifatnya terhadap Kiara Kusuma sekarang.
___
Pagi ini, bagian pemotretan di perusahaan majalah fashion ternama di Jakarta dibuat heboh karena sebuah foto. parahnya , foto tersebut bukanlah foto yang patut dibanggakan .
" Foto siapa ini ? Kiara ? Vano ? Hmppp... Hahaha..." staf itu bahkan langsung tertawa begitu melihatnya.
Dan kini ,Seluruh orang yang bekerja di bagian pemotretan telah mengetahuinya. Kiara , yang selalu datang pagi pun diintrogasi oleh rekan-rekan kerjanya sementara Vano sendiri belum datang .
" Kiara, Benarkah ini fotomu? Dengan Vano ? Wah ... Aku baru tahu kalau kalian adalah teman masa kecil! lucu sekali ..."
" Itu... Apa yang terjadi pada Vano ?Hmppff.... Maaf , fotonya sangat lucu , aku tidak bisa menghentikan tawaku ."
" Apa itu benar-benar kalian berdua ? Kenapa Vano tampak kecil sekali dibandingkan denganmu ?"
"A-a.. begini..." Kiara mencoba menjawab , namun ia tak diberi kesempatan karena pertanyaan-pertanyaan lainnya dari kru kamera , kru pengeditan dan lainnya .
Saat itulah Vano datang, awalnya Ia hanya menatap bingung pada staf yang berkumpul di satu sudut ,tapi dengan cuek pria itu terus berjalan ke mejanya dan langsung menyalakan komputer . Tanpa sadar , beberapa kru kamera turut mengikutinya .
" Hai Vano Alexander, Aku tidak menyangka ternyata dulu kau baik sekali." ujar salah satu seorang kru yang berusia lebih tua darinya .
" Vano, Aku bahkan tidak tahu kamu bisa sebaik itu." Sahut kru satunya lagi yang seumuran dengan Vano sambil menepuk pelan pundak Vano .
Dua grup itu kembali ke tempat mereka masing-masing sementara Vano masih merasa bingung dengan apa yang terjadi ?
Akhirnya ia berbalik , dan menghadap seorang kru yang seumuran dengannya.
" Haikal , Apa yang sedang kau bicarakan tadi ?"
"Oh, tadi ada yang menemukan foto masa kecilmu dengan Kiara Kusuma , desainer baru itu. Foto itu sangat lucu! Kau belepotan tepung dan telur mentah! Tapi Kiara berkata bahwa foto itu diambil setelah kau menyelamatkannya dari Bully - an teman-teman sekelasnya. Wah ... Aku terharu sekali."
" Kiara Kusuma ?"pulang Vano dengan kening berkerut,seolah-olah hanya itu yang sedari tadi didengarnya .
Haikal mengangguk polos.
Tanpa menunggu waktu lama, Vano segera beranjak dari tempatnya dan bergegas mencari Kiara Kusuma.
Tidak sulit menemukan gadis itu . Tentu saja , karena gadis itu masih dikelilingi oleh beberapa staf perempuan sambil bercerita dengan wajah berseri-seri . Di tangannya terdapat sebuah foto , mungkin foto itu yang tengah menjadi pembicaraan
Vano sudah berdiri di hadapan gadis itu, namun gadis itu masih belum menyadarinya dan malah mengobrol ria dengan staf lainnya .Ketika Vano akhirnya berdeham , barulah seluruh perhatian terarah padanya, termasuk Kiara .
Para staf yang mengerti langsung membubarkan diri meninggalkan Vano dan Kiara berdua. Setelah semua sudah pergi , Vano merebut foto yang ada di tangan Kiara .
Foto itu adalah foto dua orang anak kecil mungkin masih kelas 3 sekolah dasar . Anak perempuan yang katanya Kiara tampak lebih tinggi dari pada anak laki-laki yang katanya dirinya itu.
Tapi tunggu , itu memang dirinya , ia sering melihat fotonya saat anak-anak di rumahnya di Amerika . Dan itu memang dirinya ! Berarti anak perempuan ini adalah Kiara? Tak aneh, dengan senyum dan mata seperti itu , anak perempuan itu memang terlihat mirip Kiara. Tapi ada apa dengan pakaian dan rambutnya yang belepotan terigu dan telur mentah itu ? Dan Kenapa mata Kiara di foto itu terlihat seperti ke baru saja menangis .
...****************...