REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 57



Kiara duduk di sebuah meja yang telah direservasi sebelumnya atas nama Kris Choi. Ia tak menyangka pria itu memang benar-benar telah menyiapkan segalanya.


Restoran mewah serta meja yang terletak di dekat jendela, sehingga mereka bisa menyaksikan keindahan sungai Han yang telah direservasi. Bahkan katanya biaya makannya juga telah dibiayai oleh pria itu sehingga ia tidak perlu mengeluarkan uang. 


Designer yang pemurah, begitulah pikir Kiara. Bagaimana pun, ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan designer terkenal dan mendapat perlakuan seperti ini, mau tak mau membuatnya merasa spesial.


Gadis itu menunggu di mejanya selama 10 menit hingga akhirnya seorang pria tinggi berambut pirang datang menghampirinya.


Karena postur tubuhnya yang tinggi menjulang, Kiara harus menengadahkan kepalanya sedikit untuk bisa menatap wajah pria itu sebelum akhirnya tersenyum sambil menunduk. Kris Choi sudah datang. Dan ia terlihat lebih tampan dari apa yang ia lihat di majalah dan televisi.


Kris duduk di depan Kiara sambil tersenyum. “Maaf membuatmu menunggu lama, Kiara”


Kiara menggeleng keras. “Tidak, tidak, tidak lama sama sekali. Aku terbiasa menunggu. Hal seperti ini bukan masalah.” Ujarnya sambil terkekeh.


Kris mengangguk lalu kemudian memanggil seorang pelayan dan mengatakan sesuatu pada pelayan tersebut hingga pelayan tersebut mengangguk dan pergi kembali. Kiara hanya bisa menatap perilaku tersebut dengan tanda tanya besar di matanya.


“Aku menyuruh mereka menyiapkan hidangan pembukanya sebelum kita menuju ke menu utama.” Ujar Kris seolah menjawab apa yang sedari tadi berputar di benak Kiara.


Kiara hanya bisa membulatkan mulutnya dan menyuarakan huruf ‘o’ tanpa suara lalu mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.


Tak lama setelah itu, hidangan pembuka mereka datang dan Kris mempersilahkan Kiara untuk memakan makanannya sebelum mereka membicarakan masalah inti.


Setelah mereka selesai memakan makanan pembuka dan makanan utama, datanglah makanan penutup berupa puding dan es krim yang harus Kiara akui adalah salah satu favoritnya. Well, jika boleh jujur, semua makanan yang disajikan padanya malam ini adalah favoritnya.


“Jadi Kiara, bagaimana kalau kita mulai bicarakan sekarang?” Kris membuka pembicaraan.


Kiara yang tengah menikmati makanan penutupnya mendongak menatap pria di hadapannya dan buru-buru mengelap mulutnya dengan serbet dan meneguk air putih sebelum duduk tegak menatap Kris.


“Makan malamnya sangat lezat, Kris-ssi, terima kasih banyak. Maaf aku telah merepotkanmu.” Ujar Kiara.


Kris tertawa. “Tidak apa, justru aku yang merasa terhormat bisa makan malam denganmu.”


“Terhormat? Jangan berlebihan, aku bukan siapa-siapa.”


“Tapi aku rasa kau akan menjadi the next big thing, miss Kiara K.”


Pipi Kiara memanas mendengar pujian dari Kris. Dan entah mengapa ia suka bagaimana Kris memanggil namanya seperti itu dengan aksen Inggrisnya. Kiara K. Ya, Kiara suka bagaimana namanya terdengar seperti itu.


“Jadi, alasanku mengajakmu makan malam hari ini adalah keinginanku untuk mengajakmu ikut serta dalam proyek Paris fashion week-ku tahun ini yang akan diadakan 6 bulan lagi sebagai salah satu designer newbie, dan hal itu akan menjadi kesempatan bagus bagimu untuk memulai debutmu. Aku tahu hal seperti ini seharusnya tidak diperbolehkan, tapi aku tertarik untuk memuat karya-karyamu setelah melihat hasil rancanganmu di majalah. Apakah kau bersedia?”


Ketika Kris berhenti bicara, Kiara baru menarik napas. Ia bahkan tak sadar bahwa ketika Kris bicara tadi, dirinya menahan napas. Gadis itu tak bisa melukiskan apa yang ia rasakan kali ini. Ada rasa yang meletup-letup dalam dadanya dan rasanya ia ingin sekali berteriak. Namun ia menahannya. Dan hal tersebut mengembangkan sebuah senyum manis dan lebar di wajahnya. Dengan segera, ia mengangguk-anggukan kepalanya keras.


“Aku bersedia. Oh my god! Tentu saja aku bersedia!”


____


Larut malam, saat Vano baru saja mandi air hangat dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia terbiasa mandi di malam hari sejak memulai pekerjaannya yang selalu menuntutnya untuk tidur di atas jam 12 malam, ketika ponselnya berbunyi.


Vano sempat melirik jam di kamarnya dan mengerutkan kening menyadari ada seseorang yang meneleponnya pukul 11 malam. Dan ia lebih kaget lagi ketika mengetahui orang yang meneleponnya adalah Kiara.


Laki-laki itu segera mengangkat telepon dari Kiara dan menempelkan ponselnya ke telinga kanannya. Seingatnya, terakhir kali ia melihat Kiara adalah beberapa jam lalu, saat ia mengantarnya makan malam.


Vano semula menawarkan diri untuk menjemputnya, namun gadis itu menolak. Sekarang Vano penasaran, jam berapa gadis itu pulang? Gadis itu meneleponnya pasti karena sudah pulang ke rumahnya, bukan?


^^^“Halo?”^^^


“Vano,”


^^^“Kia, kau sudah pulang? Jam berapa kau pulang tadi?”^^^


“Bisakah kau keluar dari kamarmu dan berdiri di balkonmu sambil menghadap ke halaman rumahku sebentar?”


Kening Vano berkerut. Namun ia tak bertanya dan memilih menuruti permintaan Kiara. Setelah memakai jaketnya, ia keluar dari kamarnya menuju balkon dan menatap halaman rumah Kiara yang berada tepat di sebelah kanan rumahnya. Dan matanya membesar begitu melihat Kiara berada di sana masih dengan penampilan yang sama seperti yang ia lihat terakhir kali.


^^^“Kiara, kau baru pulang?!”^^^


Vano melihat sosok Kiara melambai ceria di bawah seraya menengadah menatapnya. Gadis itu jelas sedang mengalihkan perhatian Vano dan menghindari pertanyaannya. Namun, hal tersebut tak semudah itu.


^^^“Kia, jawab pertanyaanku.” Tuntut Vano dengan nada yang lebih tegas.^^^


Kiara terkekeh di seberang telepon. “Ya… Begitulah.”


^^^“Ya, apa yang kau lakukan dengan pria itu hingga larut malam begini?!”^^^


“Aku tidak melakukan apa-apa! Dia sangat baik, Van, kau tidak boleh menyalahkannya.”


“Aku ingin melihatmu.”


Vano terdiam sesaat. Matanya bertemu dengan mata Kiara yang entah bagaimana bisa ia lihat sejelas mereka berhadapan dibalik jauhnya jarak, rimbunnya salju dan gelapnya malam hari ini.


^^^“Sekarang kau sudah melihatku. Ada apa lagi?”^^^


Kiara mendesis di seberang telepon. “Aish… Kau benar-benar tidak romantis, !”


^^^Kini giliran Vano yang tertawa. “Ayolah, ada apa?”^^^


“Aku tiba-tiba berfirasat buruk…” Kiara kembali menatap Vano tepat di manik matanya.


 “Kau… Tidak akan membatalkan pertunangan kita, bukan?”


Vano tertegun. Diam-diam, ia menelan ludahnya sendiri dan merasakan bagaimana jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan menyakitkan. Mungkinkah… bagaimana mungkin…


“Sepertinya firasat burukku benar terjadi. Benar, bukan?”


Vano masih tak menjawab.


“Bagaimana sikapmu jika tiba-tiba aku pergi?”


^^^“Pergi? Pergi ke mana?” dengan cepat Vano bertanya. Diam-diam dirinya merasa tenang karena hal yang ia khawatirkan tak terjadi.^^^


“Kau tahu, aku bertemu Kris Choi hari ini. Dan kau bilang sendiri dia tertarik pada karyaku. Dia merekrutku untuk ikut dengannya dalam Paris Fashion Week yang akan diadakan 6 bulan lagi di Paris. Untuk memudahkan kerja sama kami, ia mengajakku ke Paris.”


Vano menahan napas mendengar penjelasan Kiara. Ia bisa melihat bahwa Kiara sangat bersemangat dengan tawaran tersebut. Jika ia berada di posisi Kiara, ia juga pasti akan merasa sangat bersemangat dan tanpa pikir panjang, ia pasti akan langsung pergi. Tak peduli pada pendapat dan perasaan orang lain.


Namun, kini Kiara ada di hadapannya, tidak benar-benar di hadapannya dan bicara padanya, meminta pendapatnya. Hal tersebut membuktikan bahwa gadis itu peduli padanya. Ia peduli pada seorang Vano yang beberapa bulan lalu mengabaikannya setengah mati dan mencacinya habis-habisan.


Ia peduli pada perasaan seorang Vano yang mengatakan akan membuka hatinya beberapa hari lalu sementara gadis itu selalu memiliki perasaan yang sama terhadapnya selama bertahun-tahun. Kiara peduli padanya. Entah kenapa, menyadari hal ini saja, mampu membuat hatinya kembali tenang dan menghangat.


“Bagaimana menurutmu? Aku akan pergi setelah proyekku di sini selesai jika kau mengizinkanku. Tapi aku akan tetap tinggal jika kau menginginkanku begitu.”


Vano terdiam selama beberapa saat, memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Kiara. Jika Kiara menanyakan hal ini sebulan lalu, ia dengan pasti akan menyuruh gadis itu pergi sejauh-jauhnya dari hidupnya. Tapi sekarang berbeda. Perasaannya telah berubah.


^^^“Tidak bisakah kau… Tinggal?” akhirnya itu yang diucapkan Vano.^^^


Pria itu mengucapkannya dengan suara yang pelan seolah nyaris tercekik. Ini adalah keputusan yang berat, tentu saja. Jika Kiara pergi, gadis itu bisa menggapai mimpinya meskipun hal itu akan berat bagi Vano. Dan meminta gadis itu tinggal adalah hal paling egois sepanjang masa.


Tapi toh itulah yang dilakukannya. Meminta gadis itu untuk tinggal.


^^^“Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu. Waktuku selama 11 tahun itu… Aku ingin melunasinya dan menggantinya dengan kenangan baru bersamamu. Aku juga belum bisa mengingat masa laluku. Aku ingin mengingatmu… Jika aku telah mengingatmu sepenuhnya… aAku akan membiarkan mu pergi. Karena dengan itu, tak ada penyesalan dalam diriku.” Jelas Vano.^^^


“Aku mengerti. Aku akan tinggal.” Jawab Kiara setelah beberapa saat diselingi senyum di bibirnya.


^^^“Maafkan aku.”^^^


“Tak perlu minta maaf Van, aku mengerti. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisimu.”


Vano kembali terdiam. Kenapa Tuhan bisa menciptakan gadis yang sangat baik sepertinya?


^^^“Terima kasih.”^^^


Kiara mengangguk. Gadis itu kemudian melambaikan tangannya. “Kalau begitu lebih baik kau tidur. Bukankah besok pagi kita akan berangkat? Setelahnya kita akan mendaki gunung, bukan? Persiapkan dirimu!”


^^^“Ya, seharusnya pria yang mengatakan itu!”^^^


Kiara tertawa. “Berarti dalam hubungan kita, aku adalah prianya?”


^^^“Ya!”^^^


“Hahahaha baiklah, baiklah, aku bercanda!”


^^^Vano mendengus sebal. “Sudahlah, sana masuk! Kau bisa kedinginan jika terus di luar dengan baju seperti itu.”^^^


“Bukankah seharusnya kau yang masuk lebih dulu? Kau ‘kan tidak tahan dingin , ah! Baiklah, baiklah, aku masuk!” ujar Kiara sambil tertawa begitu melihat ekspresi Vano.


^^^“Selamat malam.”^^^


“Selamat malam.”


...****************...