REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 52



Esok hari ternyata datang lebih cepat dari yang Kiara bayangkan. Satu hal yang ia sadari adalah pagi harinya, ia telah berada di dalam mobil Vano, mengenakan pakaian terbaik yang ia punya dan berdandan secantik yang ia bisa. Kiara sempat bercerita pada ibunya yang kebetulan berada di rumah kemarin tentang pertemuannya ini dan hal tersebut membuat ibunya ikut senang. Wanita paruh baya itu bahkan sempat ingin membelikan baju baru yang lebih berkelas untuk Kiara sebelum gadis itu menolaknya. Ia ingin tampil apa adanya dirinya, bukan menjadi orang lain.


Namun tetap saja, bagi Vano, persiapan gadis itu kali ini berlebihan. Ia memang menyuruh gadis itu berpakaian dan berdandan yang terbaik yang bisa ia lakukan, ia memang berkata bahwa gadis itu harus mempersiapkan segalanya dan jangan sampai membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia, namun jika melihat dandanan gadis itu sekarang, jangan salahkan dirinya jika ia tiba-tiba merasa marah.


Karena sekarang, Kiara terlihat ribuan kali lebih cantik dari biasanya.


Vano tidak pernah menyangkal kecantikan yang dimiliki gadis itu, namun ia baru benar-benar menyadarinya lagi sekarang—tentunya setelah pesta pertunangan tempo hari—bahwa gadis itu memang benar-benar cantik. Kiara memakai make up tipis berupa eyeliner dan eye shadow berwarna pink tipis, lipstik berwarna pink dan pemoles pipi berwarna peach. 


Ia juga mengenakandress berwarna putih gading selutut yang dilapisi oleh coat panjang berwarna coklat, ditambah syal berwarna merah terang. Kakinya dibalut dengan stocking hitam dan heels pendek berwarna hitam. Gadis itu juga sengaja membawa tas tangan bermerknya yang semakin memperkukuh penampilan gadis itu. Meskipun terkesan sederhana dan modern, jika diperhatikan, gadis itu memang berdandan cukup berlebihan untuk ukuran seseorang yang hanya akan makan malam bersama.


“Ini bukan makan malam biasa,” gadis itu berujar dan diselingi oleh senyum lebar. Mendengarnya, Vano hanya bisa mendesah berat.


Ada dua hal yang ia khawatirkan; pertama, ia takut pria tampan bernama Kris Choi itu benar-benar akan jatuh hati pada Kiara dan yang kedua, ia tak tahu kenapa ia merasa takut.


Ketika sampai di puncak menara Namsan, sudah bisa dipastikan bahwa semua mata tertuju ke arah mereka—tepatnya Kiara—dengan polos dan percaya diri, gadis itu tersenyum dan menyapa semua kru sebelum akhirnya bergabung dengan staffdesigner-nya. Vano pun kembali ke tempatnya yang telah disediakan para kru lalu membuka laptopnya dan membuka beberapa file foto untuk diedit selagi menunggu para stylist mempersiapkan model mereka.


Pemotretan kali itu berjalan lancar. Untungnya, cuacanya cukup terang sehingga cukup bersahabat bagi mereka. Jam 1 siang, mereka sudah bisa menyelesaikan hampir semua sesi pemotretan di menara Namsan, dan kali ini mereka hendak melakukan sesi pemotretan terakhir.


Sementara para model bersiap, Kiara yang memperhatikan dari belakang layar, pada akhirnya merasa bosan dan ia pun mulai berjalan-jalan ke dalam untuk melihat gembok-gembok yang dijual di sana. Kiara sempat terpana melihat berbagai gembok lucu dan unik dijual berpasangan di sana. Ada yang menurutnya sangat lucu tetapi harganya sangat murah, ada yang menurutnya biasa saja tapi ketika dilihat harganya selangit. Dan pilihan Kiara pun jatuh pada sepasang gembok berwarna hijau tosca dengan motif ukiran hati di tengahnya dan kunci yang memiliki ujung hati dengan warna tosca pula. Hati Kiara tergerak untuk membeli gembok tersebut setelah mengetahui harganya yang terjangkau.


Ia tak tahu mau diapakannya gembok tersebut, tapi ia hanya ingin membelinya. Siapa tahu ia bisa memasangnya nanti bersama pasangannya dan membuang kuncinya ke bawah menara Namsan selagi berharap cinta mereka akan abadi selamanya. Bukankah itu romantis?


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Kiara terperanjat. Suara itu seolah mengusiknya dari dunia mimpi dan menginterupsi ketenangannya. Kiara berbalik dan matanya menyipit menatap Vano yang berdiri di belakangnya.


“Memangnya kenapa? Aku tidak boleh melihat-lihat?” Tanya Kiara.


“Kenapa kau tidak mempersiapkan diri melakukan sesi terakhir? Setelah ini kita bisa cepat pergi ke Banpo, bukan?”


Vano bersikap seolah tidak mendengarkan seraya mengarahkan matanya pada jejeran gembok yang ada di dalam etalase kaca. Dan matanya menatap gembok berwarna hijau tosca yang disukai Kiara.


“Ah, itu bagus.” Vano pun memanggil penjaga toko dan memintanya mengeluarkan gembok tersebut dari etalase tersebut dan memberikannya pada Vano. Ketika melihat gembok incarannya diambil dari etalase dan diberikan pada Vano, kerutan di kening Kiara semakin dalam.


“Ya, itu milikku! Aku sudah mengincarnya dari tadi!” seru Kiara kesal, seperti seorang anak kecil yang baru saja direbut mainannya.


“Tapi aku yang mendapatkannya terlebih dulu,” ujar Vano santai sembari membayar gembok tersebut. Pria itu juga meminjam spidol lalu membuka kemasan gembok tersebut dan menuliskan sesuatu di atasnya. Dan hal itu membuat Kiara semakin kesal.


“Pilih yang lain saja,”


“Tidak mau!”


Vano tidak mendengarkan dan tiba-tiba melenggang pergi menuju salah satu sudut pagar yang dipadati oleh berbagai jenis gembok pasangan. Kiara masih tak mau menyerah dan mengikuti kepergian Vano.


Gadis itu berbicara di sepanjang perjalanan mereka tentang betapa ia telah menyukai gembok itu sejak pertama kali melihatnya dan betapa tidak sopannya Vano merebut benda itu darinya di saat ia hampir saja membelinya, gadis itu juga berbicara tentang betapa seharusnya pria itu mengalah padanya. Mulut gadis itu baru benar-benar terkunci ketika Vano mulai memasang gembok tersebut pada salah satu pagar besi, namun bukan itu yang membuat Kiara tertegun. Ia melihat sebuah tulisan familiar di gembok tersebut.


“Oh… Itu namaku…,” ujarnya sembari menunjuk gembok tersebut.


Vano sempat melirik Kiara lalu diam-diam tersenyum. Ia kemudian selesai memasangkan gembok tersebut lalu menyimpan kuncinya di telapak tangannya yang terbuka dan menyodorkannya ke hadapan Kiara.


“Itu… Namaku dan namamu… Kenapa… Apa ini?” kebingungan Kiara bertambah ketika melihat Vano menyodorkan kunci kedua gembok tersebut padanya. Melihat reaksi tersebut, Vano mengedikkan kepalanya seolah meyakinkan Kiara untuk mengambil kuncinya. Gadis itu tidak mengerti, tapi ia tetap mengambil kunci tersebut lalu lengannya bergerak cepat dan melemparkan kunci tersebut ke luar pagar diikuti oleh teriakan Vano yang segera menahan lengannya. Namun terlambat. Kunci tersebut sudah terlanjur meluncur dan jatuh entah ke mana.


“Ya!” gerutu Vano kesal.


“K-Kenapa? Apa yang salah?” Tanya Kiara tak mengerti.


Vano pun melepaskan tangannya dari lengan Kiara lalu mengacak rambutnya frustasi. “Tadinya aku ingin kau menyimpannya, agar suatu hari jika kau merasa kecewa padaku kau bisa melepaskan gembok ini dan memutuskan hubungan formal ini. Aku takut suatu hari akan mengecewakanmu. Karena itulah…,” Vano menarik napas sejenak. “Tapi kau membuangnya!”


Kiara mengerjap beberapa kali lalu mengangkat bahu. “Yah… Kunci itu memang sudah seharusnya dibuang, bukan?”


“Tapi…”


“Sudahlah, kau sudah terlanjur memasang gembok itu untuk kita. Sepertinya pada akhirnya kita akan tetap bersama juga. Dan apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?” kali ini giliran Kiara yang terlihat jengkel.


“Apa dengan hitungan tahun itu kau masih berpikir bahwa kau bisa mengecewakanku lebih dari apa yang selama ini kau lakukan? Kurasa tidak. Jadi jangan khawatir.” Lanjutnya sambil diakhiri dengan senyum manis.


Vano terdiam menatapnya dan mereka pun dikelilingi oleh keheningan, tanpa melepaskan kontak mata. Keheningan itu barulah terusik ketika terdengar suara Brian di belakang mereka.


“Permisi, dua orang yang sedang kasmaran! Kita sedang syuting di sini, kapan kita akan mulai lagi?”


 


...****************...