
Seisi pegawai kantor tampaknya tahu satu hal berarti ketika melihat seseorang Vano Alexander sang fotografer profesional yang diimpor dari Amerika, yang berlaku dingin, perfeksionis dan ambisius. Tengah tertawa bersama Kiara Kusuma sang designer berbakat dari London yang ceria , ramah dan selalu menampakan senyum manisnya . Mereka layaknya teman lama yang baru bertemu kembali. Semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah teman dekat berkat insiden foto beberapa minggu ke belakang, tapi kali ini Vano dan Kiara lebih tampak seperti seorang teman .
Tidak ada yang tahu ada kejadian apa yang bisa menyatukan mereka karena semua orang pun tahu kedua orang itu sebelumnya tidak memiliki hubungan yang bagus . Mereka seringkali menatap satu sama lain dengan tatapan dingin , Vano sering mengeluhkan kinerja Kiara yang sebenarnya baik-baik saja dan Kiara pun sering mengeluhkan sikap Vano pada kru desainernya. melihat mereka berdua bersama-sama sambil bersenda gurau tampak merupakan pemandangan menarik di pagi hari ini . Tampaknya , hati seorang Vano Alexander telah meleleh oleh sifat cerah seorang Kiara Kusuma .
Brian Wijaya yang kali ini kembali menjalani pemotretan dan datang lebih awal dari pada biasanya, ia pun merasakan keadaan ganjil namun melegakan tersebut . Ketika ia telah meletakkan tas punggungnya di sofa di dekat lokasi pemotretan , ia bergegas menghampiri Kiara.
"Kiara.." panggilnya .
Kiara yang saat itu tengah sibuk mendiskusikan sesuati dengan kru designer nya menoleh. Manik matanya jatuh pada sosok Brian Wijaya tepat di belakangnya. Tanpa memberi waktu untuknya membuka mulut, pria itu sudah menyeretnya ke pojokan ruangan.
" Ada apa ?" tanya Kiara dengan nada jengkel.
"Aku sedang sedikit sibuk! Kamu kan tahu sendiri sebentar lagi akan tahun baru. Aku akan mempersiapkan pakaian - pakaian selanjutnya! Apa kau tahu untuk sekali pemotretan saja kamu akan ganti baju 5 - 6 kali. Coba kau fikirkan berapa banyak pakaian yang harus ku kubuat dan ku rancang untukmu selama empat setengah bulan ini?l
"Aish... Aku mengerti Kia, tapi aku akan pensaran jika tidak menanyakan pada mu tentang ini"kaTa Brian.
"Apa? katakan dengan cepat agar aku bosa kembali bekerja."
"Apakah, ingatan Vano sudah kembali dan apa dia sudah mengingatmu?" tanya Brian.
Kelopak mata Kiara bergerak membuka mata dan menutupnya beberapa kali. Lalu gadis itu tersenyum sambil menggeleng." Belum"
"Lalu kenapa kalian bisa sedekat itu? Mustahil kalian bisa dekat, dengan sifat Vano yang seperti itu!"kata Brian.
"Dekat bagaimana?aku tadi hanya menceritakannya beberapa hal, dan apa kau tahu hal yang bagus dengan itu semua. Sepertinya Vano sudah mulai menerima masa lalunya. Ia mulai menerima kehadiranku"
"Benarkah?"
Kiara mengangguk. "ia sendiri yang mengatakannya padaku bahwa ia ingin aku membantunya."jelas Kiara.
"mungkin , ia juga akan menerimaku."
Brian terpaku, tampak berfikir. Tapi kemudiam sebuah senyum lebar mengembang di bibirnya. "Iya mungkin" ujarnya
Kiara mengangguk. “Ia sendiri yang mengatakan padaku bahwa ia ingin aku membantunya,” jelasnya.
“Mungkin… Ia juga akan menerimamu?”
Brian terpaku, tampak berpikir. Tapi kemudian sebuah senyum lebar mengembang di bibirnya.
“Ya, mungkin,” ujarnya sambil mengedikkan bahu lalu kemudian mengacak-acak rambut Kiara.
“Tc. Kenapa pria suka sekali mengacak-acak rambutku, sih?” protesnya setengah mendesis.
Brian hanya tertawa melihat tingkah Kiara.
Brian mengangguk sambil mengacungkan sebelah tangannya dengan telapak tangan mengepal ke atas, sejajar dengan bahunya lalu memperhatikan Kiara yang kembali berjalan ke arah kru designer-nya.
____
Ketika Vano sampai di mejanya, keningnya langsung berkerut tipis seolah-olah ada yang aneh di sana.
"Tidak ada sandwich. " Batin Vano.
Ia mengubrak-abrik mejanya, mencarinya di dalam laci, di bawah tumpukan file, di belakang layar komputer, di bawah meja, tapi tidak ditemukannya satu-satunya alasan mengapa ia bisa bertahan sampai siang. Sepotong sandwich.
Perut Vano mulai berbunyi, meminta untuk diisi, membuat Vano menggigit bibir bawahnya. Ia terlalu terbiasa memakan sandwich itu sebagai menu makan paginya, ia terlalu terbiasa mendapati sandwich itu ada di mejanya sedari pagi, dan tak pernah terlintas di benaknya bahwa sandwich yang selama 3 minggu ini ia makan akan tiba-tiba menghilang dan tak kembali. Apakah sandwich itu tak akan pernah dikirim padanya lagi? Vano tidak tahu. Tapi ia lapar, ia butuh asupan makanan, dan ia malas berjalan ke lantai dasar untuk menuju ke restoran. Lagipula, beberapa menit lagi, pemotretan akan dimulai.
"Sial! "rutuk Vano.
Dengan terpaksa, ia pun berjalan menjauhi meja kerjanya lalu mendekati kru kamera, membicarakan sesuatu tentang tata cahaya dan penyesuaian gambar dengan latar yang kali itu adalah sebuah kamar.
Setelah selesai berdiskusi dengan kru kamera, ia pun berjalan menuju sang model Brian Wijaya. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Vano berhenti. Ia teringat pada beberapa saat yang lalu, ketika ia menanyakan pada Kiara apakah ia benar-benar mengenal Brian Wijaya, pria yang melabraknya kemarin dan apakah ia benar-benar dekat dengan pria itu? Lalu Kiara menjawab.
“Kau memang sangat dekat dengannya. Kau memiliki banyak teman, tapi satu-satunya teman yang selalu menemanimu ke mana pun hanyalah Brian. Karena itulah Brian pun dekat denganku, itu karena kau yang memperkenalkannya sebagai sahabatmu di sekolah. Kita juga pernah foto bersama. Nanti akan kuperlihatkan jika kau tak percaya.”
Dan karena Kiara adalah satu-satunya orang pertama yang diakui kenangan masa lalunya oleh Vano, jadi ia percaya pada gadis itu. Ia pun melanjutkan langkahnya. Ketika sudah berada dekat dengan Brian, dan ketika bibirnya telah terbuka hendak mengatakan sesuatu, ia teringat,
“Oh ya, lebih baik jangan gunakan kata-kata formal lagi padanya. Ia merasa canggung, kalian terbiasa berbicara informal dari dulu meskipun Brian lebih tua darimu.”
"Aku tahu itu", batin Vano.
“Brija” panggil Vano.
Mendengar sebuah suara yang familiar memanggilnya, kepala Brian dengan cepat menoleh ke sumber suara. Mendengar suara itu berasal dari Vano, keningnya berkerut.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kita harus membicarakan sesuatu tentang pemotretan sekarang! Kemari kau, Brian Wijaya !” ulang Myungsoo lagi.
“Hei!” Brian berjalan menghampirinya. “Kau kembali, huh? Ada apa denganmu?! Berminggu- minggu bertingkah seperti orang dingin yang tak punya hati. Kemarin pun masih seperti itu, kau bahkan memaki—hmmpf—Ya!!! Jadi kau sudah menerimaku? Kau ini menyebalkan, kau tahu?” keluh Vano sembari merangkul pria itu dengan sebelah tangannya dan memukuli perut pria itu main-main.
“Hei... Hei... Hentikan!” pinta Vano sambil tertawa.
“Wah… Tampaknya kau kembali menjadi Vano yang kukenal, huh? Ada apa ini?”
Vano menghentikan tawanya. Ia lalu berdeham. “Sepertinya aku ingin berhubungan dengan masa laluku lagi.”
...****************...