
Kiara melepas jaket wol yang membalut tubuhnya sepulang dari rumah sakit di kamarnya. Ia tengah duduk di atas tempat tidur sembari menatap lurus ke sebuah cermin besar di sudut kamar.
Menatap kondisi dirinya sendiri yang tak dapat dikatakan baik. Sekarang, setelah penyakitnya telah benar-benar terungkap, Kiara seolah dibangunkan dari tidur panjangnya. Dibangunkan dari mimpi yang indah dan harus kembali menghadapi kenyataan yang pahit. Bahwa ia sakit, tidak sehat.
Gadis itu pun kini seolah dapat melihat dirinya lebih jelas. Kulitnya bertambah pucat, cahaya rambutnya memudar, pipinya menirus, dan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya.
Tubuhnya juga nampaknya semakin ringan dari hari ke hari. Kiara masih menatap cermin lekat-lekat. Ia tak mengerti mengapa ia baru menyadari kondisi tubuhnya seperti ini sekarang? Kenapa dulu ia terlihat baik-baik saja?
Apakah ini efek dari penyakitnya ataukah efek dari rasa putus asanya?
Ya, bahkan ketika gadis itu baru saja keluar dari ruangan dokter, ia bahkan sudah merasa putus asa. Dokter mengatakan bahwa penyakitnya telah berkembang. Lagi dan lagi-lagi, beliau menyarankan nya untuk melakukan operasi jika setidaknya ia ingin merasakan bagaimana rasanya hidup normal. Tapi sekali lagi, hanya ada kemungkinan sekitar 60% bagi keberhasilan operasinya dan 40% gagal.
Mendengar itu, tentu saja Kiara takut. 60 persen jelas masih termasuk angka yang besar, namun 40 persen juga merupakan angka yang besar bagi sebuah kegagalan.
Bagaimana jika tiba-tiba operasi itu tidak berjalan sesuai yang diharapkan dan 40 persen itu menjadi 100 persen? Dokter pun mengatakannya sendiri, jika operasi tersebut tidak berhasil, maka kemungkinannya ia akan terus seperti ini atau bahkan harus menggunakan alat penyangga agar tetap bernapas. Hal yang paling buruknya, ia tidak akan bisa bernapas lagi. Dalam artian lain, mati.
Kiara tidak ingin mengambil resiko. Karena itu, ia sedang merasa sangat bingung saat ini. Gadis itu termasuk tipe seseorang yang kerap kali berpikiran negatif jika sudah dihadapkan dalam dua pilihan. Dan karena kebiasaan buruknya itulah, ia mengalami hari yang berat.
Selain itu, keabsenannya dalam pekerjaan membuatnya tak dapat mengalihkan pikirannya pada sesuatu yang lain. Dan hal itu buruk. Sangat buruk.
Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Kiara kembali dari alam bawah sadarnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum beringsut bangkit dari tempat tidurnya sembari melipat jaketnya kemudian berseru,
“Masuklah!”
Pintu kamar pun terbuka dan sosok mungil seorang gadis berambut panjang muncul dari baliknya. Tersenyum cerah menatap Kiara.
“Kiara!”
Kiara menoleh lalu matanya berbinar. Gadis itu tersenyum—senyum pertamanya hari ini, lalu merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari gadis yang baru memasuki kamarnya.
“Marsha, aku merindukanmu!” ujar Kiara dalam pelukannya.
"aku juga sangat merindukanmu, Kia….” balas Marsha seraya melepaskan pelukannya. Gadis itu tersenyum dan menatap Kiara lekat-lekat. Tangannya bergerak menyentuh pipi Kiara dan membelainya lembut.
“Bagaimana kabarmu? Kenapa kau terlihat pucat? Apa kau sakit?”tanya Marsha khawatir.
Kiara tersenyum kemudian menggeleng, menolak mengatakan sepatah kata pun. Ia memang belum memberitahukan perihal penyakitnya pada Marsha dan Daren, dua orang terdekatnya. Dan gadis itu juga berpesan pada orangtuanya agar merahasiakan hal tersebut karena Kiara berniat memberitahukannya dengan mulutnya sendiri.
Seseorang kemudian berdeham dari arah pintu. Kiara mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat Daren berada di sana, bersandar pada kayu penyangga pintu sambil bersidekap.
“Apakah kau tidak merindukanku, Kiara?” godanya, seperti biasa.
“Aish… Apa kau begitu ingin dirindukan?” cibir Marsha yang dibalas pelototan oleh Daren. Pria itu kemudian kembali menatap Kiara, menunggu jawaban gadis itu.
Daren tersenyum puas. Ia kemudian berjalan mendekati Kiara dan Marsha kemudian mengacak rambut Kiara sambil menggumamkan beberapa kata pujian yang membuat gadis itu tertawa.
Dalam sekejap, mereka sudah kembali terlibat dalam perbincangan panjang di kamar Kiara. Ketiganya duduk di karpet yang terdapat di sana sambil mendengarkan cerita masing-masing. Daren berkata bahwa di universitas mereka, Marsha adalah yang terbaik dan belakangan gadis itu ditawari beasiswa ke luar negeri namun dia menolaknya.
“Aku tidak mengerti mengapa kau menolak kesempatan langka seperti itu.” ujar Daren sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jika aku berada di posisimu, aku pasti akan menerimanya dengan suka hati.”
Marsha mendelik ke arah Daren tajam. “Hei, itu bukan karena aku tidak ingin pergi, kau tahu. Tapi karena ada seseorang yang memohon-mohon padaku untuk tidak pergi, karena itulah aku tidak pergi.” Balasnya.
Daren berdecih kesal karena kehabisan kata-kata. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Kiara yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdebat. Ia akui, Kiara agak sedikit berbeda sekarang.
Gadis itu hanya menanggapi perdebatan mereka beberapa kali dan bahkan tak mencoba melerai mereka seperti biasanya. Hal tersebut tentunya bukan kebiasaan gadis itu. Kiara yang ia kenal adalah Kiara yang selalu tak bisa berhenti bicara dan hobi mengganggu ketenangan orang lain.
“Kia, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kudengar kau cuti hari ini. Kenapa?” tanya Daren, penasaran dengan kehidupan Kiara.
Kiara terdiam beberapa saat seolah sedang memikir kan jawaban yang tepat. Gadis itu pun kemudian menjawab, “Aku mendapatkan tawaran bekerja sama dengan Kris Choi di Paris Fashion Week 6 bulan lagi.”
Baik Daren maupun Marsha yang mendengar hal tersebut membulatkan kedua mata mereka. Kiara memang sengaja mengalihkan pembicaraan, dan nampaknya hal tersebut berhasil.
“Benarkah?! Waaah!!! Itu hebat sekali!” ujar Marsha bersemangat.
“Ya! Ya! Jika kau bertemu Candice Swanepoel*, tolong minta tanda tangannya untukku, oke?” ujar Daren.
Marsha sekali lagi mendelik ke arah Daren kemudian memukul kepalanya cukup keras hingga membuat pria itu mengaduh dan berteriak ke arahnya, menanyakan alasan Marsha memukulnya.
“Kau pikir model impianmu itu akan berada di sana? Fashion show itu berbeda dengan fashion show pakaian dalam yang sering kau lihat itu! Demi Tuhan, kapan kau akan mengenyahkan pikiran-pikiran kotor itu dari kepalamu, sih?” cecar Marsha dengan volume tinggi.
“Hei, apa salahnya mengidolakan seseorang?! Aku juga tak pernah protes ketika kau mengelu-elukan nama Jimin BTS saat ia muncul di tv atau saat kau menonton konsernya dan menyeretku untuk ikut bersamamu. Kau pikir itu menyenangkan bagiku?” balas Daren tak mau kalah.
“Tapi tetap saja, fantasimu itu tentang—“
“Bisakah kalian berdua berhenti?” Kiara memotong perkataan Marsha sambil tertawa kecil.
Entah mengapa, Kiara merasa geli melihat dua sahabatnya ini. Ia tahu mereka berdua memang sangat hobi berdebat, namun gadis itu juga menyadari ada sesuatu yang berubah dalam perdebatan mereka.
Tepatnya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling merasa cemburu karena pasangannya mengidolakan orang lain selain dirinya.
...****************...