
Jakarta, Indonesia, kediaman keluarga Alexander, 2000
Sebuah mobil pengangkut barang berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terletak di samping rumah keluarga Alexander. Ayahnya berkata pada Vano, bahwa rumah di sebelah mereka akhirnya dibeli oleh seorang kenalannya, dan keluarganya akhirnya akan mendapatkan tetangga baru. Saat orang-orang mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil pengangkut, keluarga Alexander tengah berada di luar rumah, bersiap menyambut tetangga baru mereka. Vano yang baru berumur 9 tahun pun berada di sana, ikut menjadi saksi kedatangan tetangga baru mereka.
Kemudian sebuah mobil hitam datang dan parkir tepat di belakang truk pengangkut tadi. Beberapa orang pun keluar dari sana. Dan selanjutnya yang Vano ingat adalah ia bertemu dengan tetangga baru mereka.
Seorang pria yang berumur sama dengan ayahnya, dan seorang istrinya yang terlihat lebih muda dari ibunya. Kemudian, seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua muncul dan berdiri di hadapan Vano. Kata-kata gadis kecil itu selanjutnya yang membuatnya membesarkan mata.
“Kau pasti Vano Alexander, bukan?”
Vano terdiam sementara gadis kecil berpipi tembam itu tersenyum lebar.
“Aku Kiara Kusuma. Kiara. Kau boleh memanggilku itu.” ujar gadis itu lagi.
“Oh ya, ayahku bilang, aku akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu! Tolong bantu aku, ya!” tambahnya dilanjut dengan sebuah tundukan sopan.
Dan begitulah ia mengenal Kiara Kusuma.
Pantai Bali, 2001
Ini adalah pertama kalinya keluarga Alexander dan Keluarga Kusuma berlibur bersama. Mereka memilih berlibur ke Bali karena di sana keluarga Alexander memiliki sebuah villa besar yang dapat mereka tinggali bersama. Hubungan Vano dan Kiara sudah cukup dekat saat itu. dan kemana pun Kiara pergi, pasti ada Vano di sana. Entah mengapa, ada sesuatu yang membuat Vano merasa bertanggung jawab akan keselamatan Kiara. Gadis itu terlalu bebas—itu yang Vano pikir. Terlalu bebas untuk seorang pewaris yang agaknya terlalu aneh. Dan menakutkan.
Begitu sampai di Bali, satu hal yang langsung Kiara teriakkan padanya adalah,
“Pantai!!!”
Dan gadis itu pun berlari menuju pantai terdekat begitu mereka sampai di villa. Saat itu, Vano bahkan harus bersusah payah menyusul gadis itu karena larinya yang sangat kencang.
Setibanya di pantai, seolah itu belum cukup, ketika mata Kiara menemukan sebuah batu karang terbesar di dekat pantai, gadis itu langsung berlari ke sana dan memanjatnya, membuat Vano kepayahan.
Matahari yang bersinar tepat di atas matanya, membuat Vano harus menyipitkan mata untuk menatap ke depan. Ia menatap Kiara yang memanjat dengan bersemangat di depannya.
“Hati-hati! Nanti kau jatuh!”
“Tenang saja, aku tidak akan jatuh!” balas Kiara.
Vano masih berusaha menaiki batu karang tersebut, selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di puncak batu karang.
“Kau lama sekali, Vano Alexander!” protes Kiara yang tengah berdiri di ujung batu karang tersebut, menatap ombak-ombak kecil yang menghantam batu karang yang ia pijak. “Lihat ke sini, waaah… Indah sekali! Kalau aku terjun ke bawah, bagaimana rasanya, ya?” ujar anak perempuan itu tanpa sadar.
Vano membelalakkan mata mendengar perkataan tersebut. Anak laki-laki itu segera bergerak cepat dan memegangi Kiara. Rasa takut yang teramat sangat tiba-tiba menghantuinya hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Takut jika sewaktu-waktu Kiara benar-benar melompat. Ternyata tepat seperti apa yang ia duga; ada yang aneh dengan Kiara.
“Kau tidak boleh melompat!” seru Vano.
Mendengar itu, Vano terdiam. perlahan, genggaman tangannya mengendur tanpa ia sadari.
“Ah ya, mulai bulan depan, aku akan mulai sekolah di sekolahmu.” Ujar Kiara lagi.
“Haaah… Segar sekali! Ayo, kita kembali dan ambil banyak foto bersama! Sepertinya aku akan betah berada di dekatmu, jadi kau jangan bosan-bosan padaku, ya!” lanjutnya seraya menarik tangan Vano dan membawanya menuruni karang, lalu menyeretnya kembali ke villa.
Jakarta, 6 bulan berikutnya (2001)
Kiara benar-benar memasuki sekolahnya 1 bulan kemudian. Gadis itu berada dua tingkat di bawah Vano, sehingga pria itu tak selalu bisa memantau keadaannya. Namun seperti kali ini, ia mendapati dirinya kembali berlari ke daerah tingkat satu untuk mencari Kiara. Vano tidak mengerti mengapa, namun sejak ia masuk sekolah, teman-temannya nampak tak begitu menyukainya. Beberapa kali, gadis itu sempat mendapat masalah dengan teman-temannya yang membuat Vano harus turun tangan. Teman-temannya mengatakan bahwa mereka tidak menyukai sifat Kiara. Kiara yang sedikit tomboi dan cerewet, juga terus terang.
Tapi bukankah tidak adil namanya jika membenci seseorang karena sifat mereka? Terlebih karena mereka tidak berpura-pura menjadi orang lain dan menjadi diri mereka sendiri? Sampai sekarang, Vano tidak mengerti akan hal itu.
Kali ini, ia kembali berlari ke daerah tingkat satu karena salah seorang guru bertanya padanya mengenai keberadaan Kiara karena ternyata, setelah pelajaran olahraga, gadis itu tak kembali ke kelas.
Kiara memang pernah sesekali membolos kelas ketika teman-temannya baru saja membuat masalah dengannya atau ketika ia tidak sedang dalam keadaan yang cukup fit untuk menerima pelajaran. Dan sedikit banyak, Vano tahu di mana saja tempat Kiara membolos.
Namun Vano telah mengunjungi setiap tempat itu, dan tak menemukannya pula. Itulah yang membuat anak laki-laki itu khawatir. Ia terus berlari menyusuri setiap ruangan yang ada lalu beralih keluar.
Setelah mengelilingi taman hampir 10 menit, ia akhirnya mendengar suara itu,
“Vano!”
Vano berhenti. Kepalanya tak henti mencari sang sumber suara. Ketika ia melihat ke atas, ia mendapati seorang gadis kecil dengan rambut pendek sebahu—rambut panjangnya dipotong ketika ia masuk sekolah—tengah berada di atas dahan pohon yang cukup tinggi seraya menggendong seekor anak kucing.
Anak laki-laki itu melebarkan matanya. “Ya! Apa yang kau lakukan di sana! Cepat turun!”
“Hehe… aku hanya ingin menolong anak kucing ini… tapi… aku tidak tahu bagaimana caranya turun…”
Vano mendesah keras. Ia kemudian mendekati pohon itu dan memanjatnya—meskipun sebenarnya ia tak bisa memanjat dan takut ketinggian. Ketika ia telah sampai di dekat Kiara, Vano mengulurkan sebelah tangannya yang segera disambut Kiara. Mereka berdua pun dengan perlahan turun dari pohon. Namun ketika kaki Vano hampir menginjak tanah, anak kucing yang digendong Kiara tiba-tiba saja berontak dan melompat dari dekapan gadis itu, membuat Kiara terkejut, hingga akhirnya Vano terpeleset dan mengakibatkan mereka berdua jatuh ke atas rerumputan dengan suara yang cukup keras.
Vano dan Kiara hanya bisa meringis beberapa saat sebelum akhirnya keduanya tertawa.
“Ya! Kau tidak dapat menolong dirimu sendiri dari teman-temanmu tapi kau menolong seekor kucing tanpa bisa turun. Kau itu benar-benar sesuatu, kau tahu?” ujar Vano.
“Tapi bukankah itu tidak masalah? Aku memilikimu yang akan menjagaku. Jadi aku tidak perlu menjaga diriku sendiri!” balas Kiara.
Vano berdecak. “Bagaimana jika suatu saat aku pergi?”
Kiara balas berdecak. “Tidak mungkin. Kau tidak akan tahan sehari tanpaku.”
Dan mendengar itu, mereka kembali tertawa.
...****************...