REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 58



Kiara menurunkan ponsel dari telinganya begitu melihat Vano menutup telepon dan tersenyum padanya dari kejauhan. Pria itu kemudian mengisyaratkan padanya untuk segera masuk ke dalam karena cuaca yang semakin membeku. Kiara mengangguk lalu melambaikan tangannya sebelum melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Hatinya terasa sedikit ringan begitu berbicara dengan Vano. Sekarang, jika orangtuanya sudah kembali ke rumah, ia tinggal memberitahu mereka tentang tawaran baik ini.


Sebelum masuk ke dalam rumah, gadis itu sempat melirik jam tangannya untuk memastikan apakah ia harus membunyikan bel atau tidak agar tidak mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang tidur.


Dan ketika mengetahui bahwa jamnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam, ia pun memilih untuk memasukkan kode sendiri dan tidak menekan bel. Pintu pun akhirnya terbuka dan keadaan gelap segera menyambutnya begitu ia masuk ke dalam rumah. Dengan perlahan, Kiara menutup pintu di belakangnya dan baru hendak berbalik untuk berjalan menuju kamarnya, ketika lampu ruang tamu tiba-tiba menyala.


Gadis itu terkejut karena nyatanya masih ada orang yang bangun atau lebih tepatnya, ia khawatir ke hadirannya mengganggu tidur orang tersebut. Kiara mengangkat kepalanya dan kemudian terdiam begitu melihat orang tuanya sedang duduk di sofa ruang tamu. Menatapnya. Sementara adiknya tengah berada tepat di samping saklar, bersandar pada dinding seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Ada apa ini? Pikir Kiara. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan keluarganya padanya.


Tapi gadis itu tak sempat berpikiran buruk. Ia terlanjur tenggelam dalam kebahagiaannya sendiri sehingga ia bahkan tak menyadari di tangan ibunya terdapat sebungkus obat-obatan yang ia sembunyikan jauh di dalam laci kamarnya, di antara tumpukan buku-bukunya.


“Eomma, aku mendapat—“


“Jelaskan pada kami tentang ini.” Potong ibunya sambil mengangkat bungkus obat-obatan tersebut sebatas kepalanya.


Kiara terdiam. Matanya membesar dan bulu kuduknya meremang. Ia menghentikan niatnya untuk mendekati kedua orangtuanya dan membeku di depan pintu. Sekarang ia tahu alasan kenapa semua anggota keluarganya berkumpul begini untuk menunggunya.


Mereka telah mengetahuinya.


“Bibi Ahn menemukannya di laci kamarmu saat ia tengah membereskan kamar. Jelaskan pada kami apa ini?!” seru ibunya. Terdengar nada marah dan frustasi dalam suaranya. Beliau bahkan mulai menangis.


Kiara terdiam. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan semua penjelasan yang telah ia latih sejak lama jika suatu saat rahasianya ini terbongkar. Namun tidak ada suara yang keluar. Ia seolah bisu.


“ka, penyakit itu… Tidak kembali, bukan?” kali ini suara Nino yang menyapa gendang telinganya.


Sekali lagi, Kiara terdiam. Lidahnya terasa begitu kelu untuk digerakkan bahkan sesekon pun. Tanpa sadar air mata mulai bergumul di pelupuk matanya, membuat penglihatan gadis itu buram. Lantas kakinya kehilangan kekuatannya, membuat lututnya lemas dan sekonyong-konyong tubuhnya jatuh hingga lututnya menyentuh lantai.


“KAKAK!!” Nino segera berlari menyusul Kiara begitu melihat gadis itu jatuh.


“Maafkan aku….” suara itu bagai sebuah bisikan yang mungkin tak dapat didengar siapapun kecuali dirinya sendiri. Namun Kiara merasa energinya habis hanya untuk mengucapkan dua kata itu.


“Maafkan aku…Maafkan aku…” ada banyak yang ingin Kiara katakan, namun ia seolah tak bisa menjelaskan semuanya. Kata-kata yang keluar hanyalah kata maaf yang tak banyak berarti. Tapi ia tak bisa mengatakan kata lain.


Sang ibu kemudian hanya bisa mendesah dan memeluk tubuh Kiara erat-erat. Kiara membalas pelukan ibunya sama erat. Gadis itu kini mulai merasa takut—entah kenapa.


“Kosongkan jadwalmu besok. Kita akan ke rumah sakit.” Ujar ayahnya yang akhirnya angkat bicara.


Sekali lagi Kiara tak berani menjawab. Alih-alih gadis itu malah terisak semakin keras di pelukan ibunya.


Ada banyak hal yang ia khawatirkan saat ini. Kenyataan bahwa keluarganya mengetahui penyakitnya adalah salah satunya. Ia juga khawatir yang lain akan tahu. Daren, Marsha, Brian, dan… Vano. Ia masih tidak ingin mereka tahu, namun secara sadar Kiara tahu bahwa mereka akan segera tahu. Tetapi selain dari kekhawatirannya akan menyebarnya info tentang kembalinya penyakit yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun lalu itu, ia memiliki satu ketakutan besar lainnya.


Ia takut bahwa ia akan meninggalkan mereka semua.


____


Bulan Desember diumumkan sebagai bulan terdingin untuk tahun ini di Korea. Salju semakin tebal dan menumpuk di setiap sisi jalan sementara suhu semakin menurun setiap harinya. Namun Vano Alexander tetap tak bisa membiarkan proyek yang sedang dijalaninya berhenti begitu saja. Hari ini ia dan timnya akan menuju ke taman nasional Gyeryongsan, tempat yang menyimpan segudang pesona alam. Seharusnya mereka pergi ke puncak gunung hari ini, namun melihat cuaca yang tak kunjung membaik selama beberapa hari belakangan, Vano membatalkan rencananya untuk mengambil gambar di puncak gunung dan memilih mengambilnya di kaki gunung yang tak kalah kaya akan pemandangan alam.


Ia dan timnya berencana berkumpul di kantor mereka di Seoul sebelum berangkat bersama-sama menuju Daejeon. Seharusnya Vano berangkat dengan Kiara ke kantor, namun kali ini pria itu harus berangkat sendiri.


Pagi-pagi sekali, Vano mendapat telepon dari Kiara bahwa gadis itu tidak akan bisa ikut ke Daejeon hari ini karena ada sesuatu yang harus gadis itu kerjakan dan ia tak bisa membatalkannya. Semula, Vano terus mendesak Kiara agar menunda keperluannya tersebut karena dirinya yakin, mereka akan kerepotan tanpa gadis itu bukan hanya karena urusan pribadinya semata. Namun begitu Kiara sekali lagi meyakinkan bahwa dirinya benar-benar tak bisa, barulah Vano percaya dan terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa kali ini ia harus bekerja sendirian tanpa Kiara di sekitarnya.


Kenyataan bahwa Kiara mulai berpengaruh besar terhadap kehidupannya baru Vano rasakan setelah ia berada di atas aspal bersama kendaraan besinya sendirian. Pria itu terlalu terbiasa dengan keberadaan Sooji di sampingnya, mengoceh hal ini-itu atau barangkali membicarakan masa lalu mereka, atau membicarakan rencananya dan mimpi-mimpinya. Namun kali ini, ia hanya ditemani alunan lagu-lagu lawas dari CD yang ia punya. Tanpa komentar dan tanpa sanggahan di tiap lagu—biasanya Kiara yang selalu melakukannya karena gadis itu mengomentari hampir apapun yang ia lihat dan dengar. Dan mendadak satu perasaan asing kembali menelusup ke dalam hati Vano.


Ia merasa… hampa?


...****************...


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜