
Kiara akhirnya membantu Vano membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam rumah lalu membagikannya kepada setiap anak dan pada setiap orangtua. Kemudian mereka pun mulai berbincang ria sembari menyantap hidangan seadanya yang telah di sediakan.
Baru kali ini mereka merayakan natal bersama anak-anak ini. Natal yang sungguh menyenangkan meskipun hanya ditemani oleh kue seadanya dan tawa riang para anak-anak. Tapi itu sudah cukup. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada ini.
“Sepertinya hubungan kalian telah bertambah baik, ya? Aku melihat banyak perubahan terjadi sejak terakhir kali ia ke sini bersamamu,” ujar Bibi Rini yang tiba-tiba saja telah berada di sebelah Kiara yang kala itu sedang duduk-duduk di teras sembari memperhatikan Vano yang tengah asyik bermain dengan anak-anak.
Kiara tersenyum. “Ya, aku juga merasakannya. Rasanya semakin lama ia semakin menjadi Vano yang kukenal.”
Bibi Rini sempat menatapnya sangsi karena tak mengerti apa yang gadis tersebut ucapkan, namun ia tak mengatakan apa pun tentang hal itu. Alih-alih, ia malah berkata,
“Semoga hubungan kalian selalu dilindungi oleh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang baik,”
Kiara hanya bisa tersenyum sekali lagi mendengar pernyataan itu dan dalam hati mengamini setiap perkataan Bibi Rini Maniknya kembali menangkap sosok Vano yang kini sedang menggendong seorang anak di punggungnya sembari mengejar anak-anak yang lain.
Sesungguhnya, Kiara sangat penasaran dengan apa yang menyebabkan Vano berubah drastis seperti ini sehingga dirinya berubah menjadi seseorang yang ia kenal dulu. Namun apa pun yang terjadi, ia hanya bisa berharap bahwa perubahan ini adalah perubahan yang baik.
____
Sisa dari hari natal itu, Vano habiskan dengan keluarga Kusuma. Pria itu hampir tidak pulang sama sekali hari itu dan baru pulang ketika malam telah larut.
Namun di keesokan harinya, Kiara kembali bangun dan
mendapati Vano kembali berada di sana, tengah bercengkerama dengan keluarganya. Ayah dan ibunya libur hingga satu hari setelah natal sehingga mereka bisa menjauh dari urusan pekerjaan mereka dan menikmati liburan ini sebagai keluarga seutuhnya sebelum pada malam tahun baru nanti mereka mengurus pesta penandatanganan kontrak dengan perusahaan keluarga Alexander.
Keluarga Kusuma yang memang terkenal hangat, tidak dapat menolak kehadiran Vano sama sekali sehingga mereka membiarkan Vano berada bersama mereka sepanjang hari. Namun Kiara bahkan tak keberatan. Ia tak tahu apa yang menyebabkan Vano seolah melarikan diri dari villa keluarganya—karena ketika ditanya, pria itu hanya menjawab bahwa ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.—tapi yang jelas ia tak bisa menolak kehadiran pria itu.
Mereka banyak berbincang mengenai banyak hal hari itu, dan hubungan Vano dan keluarganya pun seolah menjadi lebih dekat.
____
Keesokan harinya, Vano kembali menyambangi villa keluarga Kusuma dan mengajak Kiara untuk jalan-jalan keluar. Seolah mengajak gadis itu saja belum cukup, pria itu bahkan menautkan jemari mereka dan tak kunjung melepaskannya. Vano mengajaknya melihat matahari terbit, lalu berhenti di sebuah restoran untuk sarapan, kemudian kembali menautkan jemari mereka untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Cuaca masih beku, namun sejak tangan mereka bertaut, Sooji tak lagi merasa dingin.
Setidaknya perasaan itu masih berlangsung hingga ketika mereka duduk bersisian di atas pasir dengan tangan masih bertaut, lalu Vano mengajukan suatu pertanyaan,
“Kia, jika aku menyakitimu lagi, apa yang akan kau lakukan?”
Kiara terdiam. Sedikit terkejut menerima pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba. Ia bahkan tak bisa memikirkan satu jawaban pun di benaknya.
“Apa kau akan memaafkanku walau sedikit saja?”
Kiara menarik napas dan menghembuskannya bersamaan dengan uap putih dari dalam mulutnya, lalu menjawab,
“Itu tergantung dari seberapa besar kesalahanmu itu, Van.”
Vano bergeming seraya menahan atensinya pada Kiara yang tengah menatap luasnya laut atau langit—entahlah.
“Kau sudah terlalu banyak menyakitiku sebenarnya. Baik secara sadar atau pun tidak. Dan sudah setiap kali pula aku mencoba membencimu, mencoba untuk tidak lagi dan lagi memaafkanmu,” Kiara kemudian mendaratkan maniknya pada manik Vano. “Namun aku tak bisa.”
Kiara mengakhiri jawabannya dengan kekehan. Lalu tanpa diduga, Vano memajukan tubuhnya dan mengecup kening Kiara lama, membuat detak jantung gadis itu nyaris berhenti.
Sementara itu, Vano nyaris menangis dalam diamnya. Menyembunyikan pilu itu dengan mengecup kening Kiara, membuktikan bahwa ia memang benar mengasihi gadis itu. Ia amat terharu mendengar uraian gadis itu tadi, namun ia masih merasa tak yakin.
Karena apa pun yang akan ia lakukan sekarang barangkali akan sangat menyakiti gadis itu, dan ia tak tahu apakah ia pantas mendapatkan maaf darinya.
____
Keesokan harinya, Vano tidak datang ke villa keluarga Bae. Orang tuanya sudah mulai kembali bekerja dan mereka tampak sibuk mempersiapkan acara penandatanganan merger antara perusahaan keluarga mereka dan keluarga Alexander yang sekaligus menandakan bahwa pernikahan Kiara dan Vano benar-benar akan terjadi sehingga mereka berdualah yang akan menandatangani surat perjanjian tersebut.
Keabsenan Vano kali ini tak begitu Kiara ambil pusing. Dalam pesannya, lelaki itu berkata bahwa ada sesuatu yang harus ia urus sehingga ia tak bisa datang hari itu. Kiara memakluminya, dan alhasil ia menghabiskan sepanjang hari dengan mendesain atau mengobrol dengan Nino.
Kendati begitu, keesokan harinya Vano kembali datang. Kiara hampir saja melonjak kaget ketika ia bangun dari tidur siangnya dan mendapati wajah Vano berada dekat dengan wajahnya. Ketika ia menarik diri karena kaget, Windy malah terlihat senang sambil tertawa.
“Ya! Kenapa kau bisa ada di dalam kamarku?!” Kiara berteriak.
Vano berdiri lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kau tidak bisa menemukan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada tidur siang?”
“Tidur siang juga bermanfaat asal kau tahu,” Kiara berdecih lalu beringsut bangkit dari tempat tidurnya.
“Ada apa kau ke sini?”
“Memangnya aku tidak boleh ke sini?”
“Bukan begitu…,”
Vano tertawa melihat Kiara tampak gelagapan. Ia pun berkata, “Ayo siap-siap dan gunakan pakaian yang layak. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
“Suatu tempat?” ulang Kiara.
Vano mengangguk. Ia kemudian berjalan ke pintu kamar Kiara, hendak keluar. Namun sebelum keluar, pria itu sempat-sempatnya mengedipkan sebelah matanya pada Kiara yang membuat gadis itu membelalakkan mata.
Ada apa dengannya? Batin Kiara.
_____
Hari sudah menjelang malam ketika Kiara keluar dari kamarnya dalam balutan dress hitam sebatas lutut yang pas membalut tubuhnya sehingga memperlihat kan lekuk-lekuk tubuhnya.
Tak lupa dengan stiletto merah setinggi tujuh senti meter. Gadis itu terlihat menawan dan Vano bahkan tak dapat menyembunyikan senyumnya tatkala maniknya jatuh pada bayang Kiara.
“Kau terlihat cantik,” ujar Vano.
“Kita pergi sekarang?”
Kiara mengangguk dan menerima uluran tangan Vano lantas segera menautkan jemari mereka bersama. Ia baru saja mendengar pujian pertama Vano setelah berbulan-bulan mereka bertemu lagi dan hal tersebut mampu membuatnya terbang hingga ke langit ke tujuh.
...****************...