
Kiara merasa buruk karena tak dapat melakukan apapun di rumahnya. Sepeninggal Daren dan Marsha—yang mati-matian berusaha membawa suasana kembali seperti biasa setelah pernyataannya yang tiba-tiba dan seolah menganggap tak pernah terjadi apa-apa, namun tentu saja gagal—Kiara baru merasakan kesepian yang kentara di setiap helaan napasnya.
Rumahnya terlalu besar, dan terlalu sedikit orang yang berada di dalamnya. Orangtuanya sangat jarang pulang ke rumah, dan hanya pulang jika ada sesuatu yang penting atau jika urusan bisnis mereka sudah selesai. Adiknya, Nino, selalu pulang larut malam akibat aktivitas kuliahnya yang menyita hampir seluruh waktunya hingga hal yang dilakukan laki-laki itu ketika pulang hanyalah tidur untuk dapat beraktivitas di esok paginya. Jadi, selain mengajak ngobrol beberapa pembantu rumah tangga yang disewa keluarganya, Kiara hampir tak memiliki kegiatan lain. Ditambah lagi dengan aturan bahwa ia tak boleh menggunakan tubuhnya secara berlebihan.
Namun hari ini, para pembantu pun bahkan tak dapat diajak mengobrol. Mereka terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kiara sebelumnya sudah berusaha mendesain sesuatu di kamarnya, di buku note miliknya yang selalu ia bawa ke mana pun, namun hal tersebut rupanya tak begitu berguna. Rasa bosan itu kembali menghantuinya.
Alhasil, Kiara dengan nekat berniat menyusul rombongan timnya ke Gyeryongsan seorang diri.
Namun rupanya niatnya tersebut diketahui oleh Daren yang pagi itu mampir ke rumahnya terlebih dahulu tepat di kala ia baru saja keluar dari rumah. Dan seperti yang gadis itu duga, Daren melarangnya mati-matian. Pria itu memintanya untuk memikirkan keputusannya sekali lagi, dan memikirkan kesehatannya, juga orang-orang yang mengkhawatirkannya. Perdebatan antara Kiara dan Daren berlangsung cukup lama hingga akhirnya Daren menyerah. Ia membiarkan Kiara pergi dengan syarat dirinya yang harus mengantarkan gadis itu hingga sampai di tempat dengan selamat.
Dan dengan begitulah Kiara dan Daren berangkat ke Gyeryongsan siang itu.
Gyeryongsan yang letaknya tak begitu jauh menyebabkan perjalanan mereka terasa singkat. Hanya butuh waktu dua jam dan mereka telah sampai di lokasi. Kiara dan Daren berpisah di pintu masuk—setelah mewanti-wantinya untuk tidak lupa minum obat dan menjaga kondisi tubuh—gadis itu pun masuk sendirian ke lokasi pemotretan.
Jalan setapak yang sedikit menanjak, hampir membuat Kiara kewalahan meskipun jaraknya tak seberapa. Untunglah ia berhasil mengatur napasnya dan meminimalisir terjadinya hal-hal tak menyenangkan di hari pertamanya kembali bekerja.
Orang pertama yang menyadari kehadirannya adalah Brian yang kebetulan tengah makan seraya berbicara dengan penata riasnya di lokasi pemotretan. Mata besar Brian langsung membulat, lalu pria itu meletakkan piring makanannya di atas meja dan berlari menyongsong Kiara sambil berkata,
“Kiara?!”
Seruan Brian yang cukup keras tentunya menarik perhatian kru dan staff yang lain, sehingga dalam waktu singkat, Kiara sudah menjadi pusat perhatian setiap orang yang ada di sana. Respon mereka sangat baik, terlebih ketika kru desainer menghampirinya dan menyatakan betapa mereka bersyukur Kiara kembali.
“Oh, tunggu, aku akan memanggil .Vano. Dia harus tahu bahwa kau ada di sini. Apa kau memberitahunya?” Kiara menggeleng menjawab pertanyaan Brian. “Kalau begitu kau tunggu di sini.”
Selanjutnya, yang terdengar adalah teriakan Brian sembari berlari ke sana ke mari mencari sosok Vano sementara Kiara masih dikerubungi oleh Brian staff dan kru yang menanyakan apa alasan keabsenannya, lalu menawarkannya tempat duduk dan makanan. Beberapa menit kemudian, saat ia tengah duduk di atas kursi sambil meminum air putih, Vano datang menghampirinya dengan napas yang tersengal-sengal. Pria itu bahkan harus menopang tubuhnya dengan sebelah tangan bertumpu di atas meja di hadapan Kiara agar dapat berdiri tegak.
“Ya… kau… seharusnya… memberitahuku…” ujar Vano patah-patah. “Apa yang menyebabkan kedatanganmu ke sini?”
Kiara tersenyum lalu menggeleng. “Entahlah, sepertinya aku merindukan pekerjaan ini lebih cepat dari yang kukira.”
Kiara tersenyum. Setelah deru napasnya beralih normal, pria itu kemudian menarik sebuah kursi ke dekat Kiara dan duduk di sana.
“Jadi urusan apa yang kau katakan itu hingga kau harus meninggalkan pemotretan terakhir ini? Dan jika urusan itu sangat penting hingga kau harus meninggalkan pemotretan hingga tiga hari, lalu kenapa kau berada di sini sekarang? Apa kau selesai dengan urusanmu?”
“Yah… bagaimanapun, untunglah kau kembali, Kiara kusuma" Ujar Vano lagi disertai senyum lebar hingga matanya menyipit dan membentuk sebuah eye smile. Senyum kesukaan Kiara. Senyum yang sudah lama sekali tidak ia lihat.
Lamat-lamat, di saat Kiara tengah menikmati senyum Vano, gadis itu mendengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua. Lalu kemudian seseorang yang berdiri beberapa meter dari mereka angkat bicara.
“Siapa kau?”
Kiara menoleh, ia melihat seorang wanita tinggi dengan badan kurus bak model tengah menatapnya seolah kedatangannya ke sana adalah kesalahan besar. Terlihat jelas bahwa wanita di hadapannya ini tidak menyangka ia akan berada di sini—meskipun Kiara sendiri tak tahu siapa dia meskipun wajahnya terlihat familiar.
Namun ketika diamati, Kiara juga melihat ekspresi lain dalam manik itu. Seperti ekspresi… cemburu?
Tapi kenapa?
Siapa gadis ini?
____
Windy tercengang begitu menyaksikan Vano yang tiba-tiba berlari pergi meninggalkannya begitu Brian memberitahunya bahwa seseorang bernama Kiara berada di sini. Windy tidak tahu siapa itu Kiara, pun tak pernah mendengar namanya. Gadis itu pun kemudian menghampiri Brian yang berdiri diam sambil menatapnya dengan sebuah piring kosong di tangannya.
“Siapa itu Kiara?”
Brian mengangkat sebelah alisnya. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada sepiring makanan yang hampir masih utuh di tangan Windy.
“Kenapa kau ada di sini? Kau makan bersama Vano?!” tanya Brian sedikit terkejut. Entah kenapa, dalam hatinya, pria itu merasa terluka begitu mengetahui kenyataan ini. “Jadi karena itu kau menolak makan siang denganku?”
“Siapa Kiara?” tanya Windy setengah memaksa. Gadis itu menggunakan jurus merajuknya yang membuat Brian mau tak mau mendesah pasrah.
“Dia adalah ketua tim desainer yang sekarang kau pimpin itu—ah, mungkin tak lagi mengingat ia sudah kembali.” Ujar Brian. Lalu pria itu maju mendekati Windy, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “dan lagi, dia adalah tunangan Vano.”
Mata Windy membulat sempurna. Tunangan? Jadi pria itu serius? Batin Windy. Lambat laun, amarah dan rasa penasaran mulai merambati akal sehatnya. Ia penasaran. Sangat penasaran pada sosok seorang wanita yang berhasil merebut Vano nya secara pria itu sadari atau tidak.
...****************...