REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 43



Sudah berapa lama Vano tidak mengunjungi tempat ini? Terakhir kali ia ke tempat seperti ini adalah ketika umurnya 19 tahun dan datang untuk terapi ingatan rutin. Ya, ia kembali berada di rumah sakit. Sebuah gedung besar, dengan lorong-lorong putih dan bau antibiotik di mana-mana, tempat yang paling ingin Vano hindari—sebenarnya. Ia bukannya benci rumah sakit, hanya saja rumah sakit memberinya kenangan buruk. Sekelebatan memori itu terkadang kembali menari-nari di kepalanya dalam urutan yang sama sekali tidak menyambung satu dengan yang lainnya dan membuatnya pusing sendiri. Karena itulah ia membenci rumah sakit.


Seperti sekarang, ia hampir menjadi orang linglung di antara banyaknya pasien yang sedang antri untuk memasuki ruangan dokter yang dituju. Setelah diam beberapa menit di pintu masuk, Vano pun akhirnya bergerak ke meja resepsionis setelah petugas keamanan memberitahunya bahwa ia menghalangi pintu masuk. Ketika sampai di meja resepsionis, ia segera mengeluarkan kartu nama yang tadi pagi diberikan Brian padanya.


“Saya ingin bertemu dengan Dr. Mike, spesialis syaraf,” ujar Vano.


“Apakah anda telah membuat janji dengan beliau?”


Vano mengangguk. Dan resepsionis itu pun mengangkat teleponnya dan menekan beberapa tombol. Setelah berbicara singkat dengan seseorang di seberang telepon, ia kemudian menutup teleponnya dan kembali menatap Vano.


“Ruangan Dr. Mike ada di lantai dua,” ujar resepsionis tersebut sembari mengulas senyum.


“Terima kasih,” balas Vano yang segera pergi untuk menaiki tangga ke lantai dua.


Setelah sampai dan mencari-cari ruangannya, ia akhirnya menemukannya. Vano sempat diam di depan pintu beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Setelah ketukan ketiga, terdengar jawaban dari dalam. Vano pun segera menggunakan jemarinya untuk membuka pintu tersebut. Ketika pintu terbuka, ia disambut dengan wajah hangat sang dokter.


“Silahkan duduk, Vano Alexander” ujar dokter tersebut ramah.


___


 


Jam 9 malam. Kiara sudah bersiap di ruang tamu, menanti seseorang yang akan mengantarnya ke bandara dengan tujuan ke korea lebih tepatnya ke pulau Nami. Ia tahu, seharusnya ia datang bersama Vano, namun sejak tadi sore, pria itu tak kunjung menghubunginya pun berusaha meminta maaf padanya. Dan hal tersebut mengikis habis rasa sabarnya. Terserah saja, ia tidak peduli.


Kiara mengeluarkan ponselnya dan menulis sebuah pesan singkat pada Daren yang berjanji akan mengantarnya.


Daren, kau di mana?


Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan masuk. Kiara segera membacanya dengan antusias.


Sebentar lagi sampai, Kia. Lebih baik kau menunggu di depan rumah.


Tanpa membalas pesan tersebut, Kiara pun memikul tas punggungnya, karena ia hanya akan berada di pulau Nami selama dua hari, ia tidak membawa banyak barang, lalu bergerak ke depan rumahnya.


Ketika ia sampai di depan rumah, gadis itu bersandar pada pagar rumahnya sembari menunggu kemunculan mobil Tucson putih itu di jalan. Baru saja ia menunggu selama 5 menit, pagar rumah Vano yang berada tepat di sebelah rumahnya terbuka dan sebuah mobil pun keluar dari sana. Setelah keluar, mobil tersebut parkir di depan rumah Kiara sementara sang pengemudi membukakan kaca mobilnya untuk melihat Kiara.


“Hei, kenapa kau tidak menjawab teleponku?” tanya Vano kesal. Memang benar, sekitar satu jam yang lalu pria itu meneleponnya dan ketika ia mengangkatnya, ia malah dijatuhi oleh beberapa teriakan yang membuatnya memutus sambungan telepon. Karena itulah, ketika pria itu meneleponnya sekali lagi, ia mengabaikannya.


Kiara diam sambil memalingkan wajah. Ia melirik jam tangannya sembari menghentak-hentakkan kakinya pelan ke tanah.


“Kau tidak akan masuk?” tanya Vano sembari mengedikkan kepala pada mobilnya.


“Aku sedang menunggu seseorang,” balas Kiara.


“Kau tidak akan pergi bersamaku?”


“Tidak,”


“Kenapa?”


Kiara tidak menjawab. Ia memilih diam sembari menghembuskan napas yang menghasilkan uap putih di udara. Ia mendekap dirinya sendiri yang sebenarnya telah berbalut dengan mantel yang lebih tebal dari sebelumnya sambil memalingkan wajahnya dari Vano.


Kini, telapak tangan Vank yang besar sudah berlabuh pada lengan kirinya. Tanpa banyak bicara, pria itu segera menarik Kiara dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Kiara tentu saja berontak, namun dirinya tidak sanggup melawan Vano yang otomatis lebih kuat darinya. Tanpa memberikan celah untuk Kiara kabur, Vano segera duduk di kursi kemudi dan mengemudikan mobilnya yang segera melesat membelah malam.


“Hei, aku sudah janji akan diantar oleh orang lain!” protes Kiara.


“Pasang sabuk pengamanmu,” ujar Vano, tak mengindahkan protes dari Kiara


“Bagaimana jika orang itu menungguku?”


“Pasang sabuk pengamanmu, Kiara Kusuma,”


“Turunkan aku, aku sudah berjanji—“


“Kiara!” bentak Vano. “Berhentilah bersikap seperti anak kecil dan menurutlah!”


Kiara terdiam. Ini pertama kali dalam hidupnya ia melihat Vano marah dan terlihat kesal. Pria itu mendesah kesal dan mengumpat pelan.


“Orang yang kau tunggu itu Daren, bukan? Aku yang akan bicara dengannya. Kau cukup memberiku nomornya,” ujar Vano lagi, kali ini dengan nada yang lebih tenang.


Kiara masih tidak menjawab.


Vano menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Dengar, aku minta maaf jika aku melakukan sesuatu yang menyakitimu hingga kau marah padaku seperti ini, secara sadar atau tidak sadar, tapi tolong maafkan aku jika itu menyangkut dengan sesuatu yang seharusnya kuingat karena sungguh, aku tidak ingat apa pun dan kau tahu hal itu, bukan?”


Kiara terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Merasa malu pada tingkahnya yang kekanakan hanya karena Vano menyinggungnya dan membuatnya kecewa dengan apa yang tidak ia ingat. Seharusnya ia bisa lebih maklum, seharusnya ia tidak egois…


“Jadi sekarang, tolong, pasang sabuk pengamanmu.”


Perintah yang diucapkan dengan nada rendah dan tegas itu tak perlu diucapkan dua kali hingga Kiara mengerti dan dengan sendirinya memasang sabuk pengamannya. Mereka pun kembali dilingkupi hening, kecuali dari melodi lembut yang mengalun dari pemutar musik di dalam mobil, di sepanjang perjalanan. 20 menit kemudian, barulah Vano angkat bicara.


“Kiara apa kau memiliki sesuatu yang bisa membantuku mengingat masa laluku?” tanya Vano.


Kiara menoleh menatap Vano dengan raut wajah bingung. “Memangnya kenapa?”


“Well, kau bilang kau akan membantuku mengingat masa laluku, jadi—“ Vano tak melanjutkan kalimatnya karena ia tahu Kiara mengerti. Gadis itu diam-diam menyunggingkan seulas senyum tipis.


“Jika maksudmu album foto, aku mempunyainya,” jawab Kiara.


“Aku ingin melihatnya,” ujar Vano.


“Akan kutunjukkan padamu nanti,”


“Terima kasih,”


“Tidak perlu berterima kasih,” ujar Kiara. “Kau pasti tidak akan pernah tahu sebahagia apa aku sekarang karena kali ini kau benar-benar meminta bantuanku untuk mengingat sesuatu.”


Vano hanya menanggapinya dengan senyum.


Dan mereka pun kembali hanyut dalam hening yang nyaman di dalam mobil mewah berwarna hitam milik Vano, diiringi oleh melodi lembut dari pemutar musik di dalam mobil, dan hati yang ringan. Sepertinya kali ini mereka siap dengan tantangan apa pun yang akan menanti mereka di pulau Nami nanti.


...****************...