
Kiara membuka matanya dan mendapati Kepalanya pusing setengah mati dengan nafas yang tersendat-sendat. Dan dalam keadaan setengah sadar itu , Kiara menyadari bahwa dirinya telah dipindahkan ke kamarnya entah oleh siapa , meskipun ia cukup yakin Ia memiliki satu kandidat kuat tentang orang yang memindahkan nya ke sini , tapi ia tak ingin terlalu berharap . Dengan satu gerakan , ia mencari obatnya di dalam laci dan segera meminumnya dengan bantuan segelas air minum yang selalu tersedia di atas meja hotel .setelah itu , Ia baru bisa mendesah lega .
Ia menatap jam digital di atas meja yang sama tempat ia meletakkan minumnya . Pukul 10.00 , ia kemudian menghela nafas. Itu berarti ya sudah pingsan lebih dari 2 jam dan itu termasuk langkah karena dalam keadaan seperti ini, biasanya paling lama ya hanya pingsan selama 1 jam.
Aneh.
Mengabaikan pikiran buruk tentang tubuhnya, Gadis itu menoleh pada sebuah kantong yang berisi penuh berbagai macam boneka dan sebungkus permen kapas yang tak sempat dihabiskannya yang diletakkan begitu saja di pinggir tempat tidur , tepat di sebelah kakinya yang berada di bawah tempat tidur sementara dirinya masih duduk manis di ujung tempat tidur.
Kiara mengulas sebuah senyum lemah .
Bisakah ia berharap hari seperti ini tidak akan berakhir selamanya ?
___
Ketika ia keluar dari kamarnya bersamaan dengan Vano , ia sudah merasakan tatapan aneh dari stavotel yang bertugas membawakan koper dan barang-barangnya. Tapi itu tersenyum ketika Kiara bertemu dengan Vano dan turun ke lobi bersamaan . staff itu masih terus tersenyum selama di lift sembari menatapnya, aneh? penasaran ? terhadap mereka berdua . Tapi anehnya , ketika ia menoleh menatap Vano, pria itu tetap memasang wajah datarnya seolah tak merasakan apa-apa dan itu membuatnya semakin curiga .
Mereka berjalan cepat menuju ke depan hotel , ke tempat valet di mana telah tersedia mobil Vano yang siap untuk dipakai mereka kembali ke Jakarta .
Saat itu masih jam 06.00 pagi dan suhu yang dingin telah terasa menusuk di kulitnya. Jarak saat itu hanya mengenakan sebuah mantel panjang berwarna coklat dengan celana jeans dan sepatu boots berwarna coklat muda sementara Fano menggunakan pakaian yang lebih tebal lagi darinya .
Pria itu sempat melirik Kiara dengan raut khawatir mengingat kondisi gadis itu kemarin malam yang tidak terlihat begitu sehat .
" Kau tidak ingin mengganti pakaianmu ? Bukankah kau seharusnya menggunakan sesuatu yang lebih hangat?"tanya Vano sebelum mereka masuk ke dalam mobil , ketika mereka Tengah menunggu barang-barang mereka dinaikkan terlebih dahulu ke dalam mobil .
Tiara yang tengah menggosok-gosokkan Kedua telapak tangannya menoleh menatap Vano. Ia memang merasa dingin, tapi ia sudah terbiasa . Ia tak masalah dengan dingin sama sekali, selama ini , pria itu tidak pernah begitu peduli terhadap cara berpakaiannya .
Kenapa sekarang ya begitu peduli ? Apa Vano tahu Ia kemarin pingsan? ah, tidak mungkin .ia telah bosan di waras sedemikian rupa agar kejadian itu terasa seperti tidur di mata .
"Aku baik-baik saja dengan baju ini , emangnya kenapa?" tanya Kiara balik .
Vano menatap Gadis itu dengan pandangan aneh yang sulit dimengerti lalu kemudian mendesah," tidak apa-apa" jawabnya.
Setelah semua barang-barang mereka telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil . Vano duduk di kursi pengemudi , sementara Kiara duduk di sebelahnya . setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan sejumlah tips pada staff yang membantu mereka,karena pun memacu mobilnya menuju ke Jakarta. Awalnya Vano ingin pulang dengan menggunakan pesawat, tapi Kiara bersikeras ingin menggunakan mobil . Karena tidak ingin berdebat karena pun menuruti permintaan Kiara . Walaupun jarak tempuh dari Bali ke Jakarta lumayan jauh , tapi Vano merasa senang karena bisa menuruti permintaan gadis itu .walaupun besoknya mereka harus bangun pagi-pagi kalau tidak ingin terlambat bekerja
"Apa tidur nyenyak?" tanya Vano tiba-tiba
Kiara yang tengah memandang keluar jendela dengan takjub akhirnya tersadar dari imajinasinya dan menoleh menghadap Vano dengan salah satu alisnya terangkat . " apa?" Tanyanya.
Vano tampak menghela nafas dan menghembus kan nya perlahan sebelum meyakin kan dirinya untuk mengulang pertanyaannya. " apa kamu tidur nyenyak semalam ?" tanyanya lagi .
Kiara terdiam, berpikir Apakah ia harus memberitahu yang sebenarnya atau tidak . Karena sebenarnya ,ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak malam itu . Kenangan indah yang baru saja mereka buat, dan kekhawatirannya terhadap dirinya sendiri terus menghantuinya dan memberi nya perasaan takut namun bahagia dalam waktu yang bersamaan . Dan Kalau boleh mengaku ia baru bisa tidur ketika jam telah menunjukkan pukul 01.00 malam .
" Cukup nyenyak ,emangnya kenapa ?" jawab Kiara berbohong
" Tidak apa-apa. apa kamu sudah minum obat ?" tanya Vano lagi
Nah, Kiara benar-benar merasa ada yang aneh dengan Vano. Pria itu biasanya tidak pernah peduli padanya. Ia sakit pun , pria itu ... Dalam keadaan sekarang , bisa dipastikan tidak akan menanyakan penyakitnya pun peduli terhadapnya . tapi kenapa sekarang ?....
" Memangnya aku harus minum obat ?" Kiara balik bertanya .
Vano mendesis kesal, "tentu saja ! kau terlihat tidak begitu sehat kemarin , kamu jelas-jelas harus minum obat , apa kamu sedang flu ?"
"Ada apa ini? kenapa kau mendadak perhatian begini padaku, Vano Alexander?" Goda Kiara sambil tersenyum jahil.
"Aish.. jawab saja pertanyaanku !"
Kiara terkekeh sejenak sebelum akhirnya menjawab ," biasanya jika aku sakit , aku hanya butuh tidur selama beberapa jam dan aku akan sembuh seperti sedia kala . Jadi kau tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu ."
Vano hanya diam dengan wajah datarnya sambil terus menghadap jalan ketika ia menerima jawaban itu.tiba-tiba jemarinya dengan gelisah bergerak ke arah pemanas . Merasakan kehangatannya mengalir keluar dari pemanas tersebut . Pemanas sudah diset penuh,tapi kenapa merasakan jemarinya kedinginan.
"Aish... Kenapa Dingin sekali di sini ? Bukankah biasanya Bali terkenal dengan panas ? Lalu kenapa ini bisa dingin , bahkan dinginnya mengalahkan saat kita berada di Puncak" erang nya sambil mengotak-atik pemanas dengan gelisah
"Ini sudah cukup hangat , Vano . Mungkin kau saja yang merasakan kedinginan ,ada apa Dengan mu ? Apa kamu sakit ?" ujar Kiara sembari menatap Vano aneh dan mencoba meraih kening pria itu namun pria itu mengelak dengan cepat .
"Tidak." ucap Vano