
Mereka kembali duduk di pantai yang sama dengan posisi yang sama. semburt kemerahan terpatri jelas di ujung cakrawala yang terhampar di depan mata mereka. Beriak air laut yang terlihat tenang kali ini merupakan pemandangan yang langkah karena biasanya laut tak pernah terlihat setenang ini, atau Vano saja yang tidak pernah menyadarinya.
batu karang yang tepo hari menjadi awal mula dari semua yang mereka lalui ini terlihat kokoh berdiri di pengujung pantai, tetap bertahan melawan gelombang laut walaupun kali ini tak cukup kuat hingga tidak mengeluarkan suara keras ketika gelombang itu menamparnya kerasnya batu karang.
Kiara duduk di sampingnya, sesekali kembali memakan permen kapasnya yang tinggal setengah. Vano pun melakukan hal yang sama. Ia turut memakan permen kapasnya sambil sesekali melirik gadis itu. Tanpa alasan yang jelas, Vano hanya ingin memperhatikan Kiara saat itu.
Lalu Kiara kembali terbatuk beberapa kali dan kembali diiringi oleh helaan yang terdengar berat. Vano menoleh dan menatap Kiara dengan raut wajah kawatir.
"Sebaikna kita masuk ke dalam hotel saja, kita bisa melihat dari balkon hotel. " usul Vano ketika menyadari bahwa wajah Kiara sudah seputih kapas.
"Tidak mau, aku ingin melihatnya di sini." ujar Kiara keras kepala.
"Tapi ku terlihat sedang tidak sehat."
"Jangan khawatir, aku baik - baik saja."
Vano masih memperhatikan gadis yang mulai kembali mengomsumsi permen kapas itu dengan raut khawatir. Ia bisa melihat buku - buku jari gadis it memutih, dan gadis itu terus batuk setiap 15 menit sekali, tapi gadis itu tetap memakan permen kapasnya itu. Dengan epat Vano merebut permen kapas yang tengah di makan Kiara, membuat gadis itu menleh ke arahnya dengan pandangan kesal.
" Ada apa? kembalikan permen kapasku!" seru gadis itu.
"Tidak bisa, kau sedang batuk, ku tidak bisa terus makan permen seperti ini." Kemudian Vano memasukkan kembali permen kapas tersebut kedalam plastik, yang untungnya tidak ia buang tadi saat permen kapas miliknya habis di makan nya. ia kemudian melepaskan syalnya dan menyampirkannya di leher gadis itu.
"Tunggu di sini, aku akan membelikanmu minuman yang hangat di kafe terdekat."setelah itu, Vano pun pergi menuju ke kafe untuk membeli menuman hangat untuk mereka berdua.
___
Kiara menyentuh syal ang baru saja Vano sampirkan ke lehernya dan membenamkan wajahnya di sana, merasakan kehangatan yang menyebar dari sana ke dalam tubuhnya. Diam - diam, ia tersenyum. lalu ia kembali tebatuk dan setelahnya a akan merasakan kesulitan mengambil napas kembali.
Ya penyakitnya mulai kambuh kembali namun Kiara tengah menahannya sekuat tenaga agar tidak begitu mencurigakan. sebenarnya, jika ia tidak benar-benar menahannya , bisa saja Kiara pingsan saat ini juga . tapi gadis itu tidak ingin hal itu terjadi. Iya tidak ingin mengakhiri momen bersama dengan Vano ini secepat itu . Karena itulah ya tak ingin buru-buru kembali ke hotel. karena bisa saja ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk berlibur bersama ... siapa tahu ya kan ?
sayangnya, Kiara tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menahan penyakitnya ini. Ia lupa ya tidak membawa obatnya bersamanya .
Tak lama kemudian , Vano kembali menghampirinya sambil membawa segelas penuh berisi coklat panas dan memberikannya pada Kiara . Kiara pun menerimanya dengan senang hati.
" thank you " ucapnya .
Vano hanya mengganggu sambil kembali duduk di samping Kiara. semburat kemerahan itu lambat daun mulai digantikan oleh kelamnya langit. semburat itu kemudian berkumpul di ujung Cakrawala, berpusat pada sang surya yang hendak kembali ke peraduannya. warna orange , Ungu , Jingga , merah , merah muda, menyatu menjadi satu , membuat sebuah gradien warna yang menakjubkan . dan tentu saja, Vano tak akan membuang pemandangan indah itu begitu saja . ia memotretnya beberapa kali dengan senyum merekah di bibirnya .
" apa Ini pertama kalinya kau melihat matahari terbenam denganku ?" tanya Vano, entah kenapa Ia ingin menanyakan hal ini.
" iya, ini.. pertama kalinya ." jawab Tiara susah payah terdengar biasa Padahal dia merasa sakit setiap kali ya menghela nafas.
" baguslah"Gumam Vano pelan .entah kenapa , kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.dan anehnya ,ia merasa sangat senang . karena ia tak mungkin melupakan Kejadian ini , karena Kejadian ini bukanlah hal yang ia lupakan.
" Terima kasih untuk hari ini..." ujar gadis itu .kedua tangannya menggenggam gelas coklat panas yang ia berikan tadi yang kini telah kosong .
Vano menelan ludah dengan susah payah , ia kemudian menggumamkan ." iya " dengan pelan .
untuk beberapa saat , mereka diam dalam keadaan seperti itu . Tanpa suara, hanya hati mereka masing-masing yang meletup-letup yang menjadi satu-satunya sumber suara yang tentunya Hanya mereka sendirilah yang mendengarkan nya .sehingga akhirnya , ketika malam tiba vano pun angkat suara.
" Kia , Bagaimana jika kita berselfie ?tawarnya dengan sedikit kikuk .
"..."
Vano kemudian menyalakan kameranya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sementara ia mengarahkannya pada mereka berdua. baterai kameranya hampir habis , jadi ya sangat berharap dia bisa sekali saja mengabadikan hal seperti ini jika suatu saat nanti ia tidak bisa mengingatnya . setidaknya untuk sekali saja , ia ingin dirinya di masa depan nanti mengingat Kejadian ini . dalam hati ,ia mengutuk dirinya di masa lalu yang tidak melakukan hal yang sama seperti saat ini . Bagaimana mungkin dirinya yang dulu tidak meninggalkan satupun memori tentang gadis itu untuk nya.
Klik.
dan lampu yang berasal dari blitz kamera pun menyilaukan keduanya.
ketika Vano memeriksa hasilnya , ia tersenyum kemudian menoleh ke samping . ternyata benar ,Gadis itu Tengah tertidur , setidaknya Ia berpikir begitu .
" Dasar tukang tidur " gumamnya di tengah-tengah senyumnya
____
Ketika Vano memasuki lobi hotel, semua pandangan seakan terarah padanya. Semua aktivitas yang terjadi di lobi hotel itu seakan terhenti dan semua orang seakan menyempatkan diri untuk menoleh ke arahnya. Tapi ia maklum, siapa yang tidak akan tertarik melihat seorang pria tengah menggendong seorang wanita di tangannya dengan beberapa barang bawaan. Dan anehnya, pria itu tidak terlihat keberatan sama sekali seperti dalam adegan di drama-drama picisan yang sering ditayangkan di televisi.
Untungnya, hampir semua staff di hotel itu mengetahui hubungan mereka dan merasa maklum melihat mereka. Seorang staff hotel menghampiri Vano dan menawarkan bantuan.
“Ada yang bisa kubantu, tuan?” tawar staff tersebut.
Vano tersenyum sambil menunjukkan kantung berisi boneka dan permen kapas di sela-sela sikunya. “Tolong bawakan ini, dan… tolong bukakan pintu kamar gadis ini untukku.”
___
Vano sampai di kamar gadis itu. Setelah staff tadi membukakan pintu kamar Kiara yang tentu saja tak bisa Vano lakukan sendiri mengingat ia tengah menggendong Kiara. Setelah meletakkan kantung berisi boneka dan permen kapas yang tadi dibawa staff tadi, staff itu pun pamit untuk memberikan privasi pada mereka berdua.
Vano menghampiri tempat tidur dan dengan hati-hati meletakkan gadis itu di atasnya. Setelah meletakkan Kiara, ia terdiam di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan Kiara. Gadis itu masih pucat, tapi Vano kira itu karena gadis itu kelelahan. Perlahan, ia mendekati wajah gadis itu lalu merapikan rambutnya yang menghalangi wajah cantik gadis itu. Ia tersenyum.
“Terima kasih untuk hari ini, Kiara kusuma,” bisiknya.
...****************...