
“Vano!” Kiara melambaikan tangannya dari kejauhan. Vano hanya menatapnya sambil mengedikkan kepalanya sedikit, mengisyaratkan gadis itu untuk segera mendekatinya karena mereka akan pulang bersama.
Gadis itu mengerti. Dengan senyum mengembang di bibirnya, ia berjalan mendekati Vano. Matanya membesar dan tiba-tiba tangannya terulur membenarkan letak syal pemberiannya di leher Vano sambil tersenyum.
“Soal tadi, maaf. Aku tidak akan lagi menanyakan hal itu,” ujar Kiara.
“Selesai!” serunya setelah menepuk-nepukkan tangannya di syal Vano.
Vano terdiam. Tiba-tiba tangannya menggenggam pergelangan tangan Kiara yang masih berada pada syal di lehernya. Membuat gadis itu ikut terdiam dan menatap Vano.
“Kia… kau tahu? Berkali-kali aku menyebut namanya dan selama bertahun-tahun itu pula aku merasa ada yang kurang. Dan sekarang, aku baru menyadari apa yang kurang. Tidak lengkap menyebut nama Kiara jika tidak menyebut namamu. Itu seperti sebuah keharusan, kebiasaan. Dan sekarang, aku benar-benar berharap kau tidak meninggalkannya lagi,” ujar Brian saat mereka telah selesai minum kopi dan tengah berada di dalam lift untuk meneruskan pekerjaan mereka.
“Kenapa?” tanya Vano.
“Dia itu gadis yang sangat baik. Sulit mencari gadis sebaik dia di dunia ini. Kau seharusnya menjaganya dengan benar. Jika kau bukan sahabatku, sudah kurebut dia dari dulu,” canda Brian.
“Kenapa tidak kau ambil saja dulu? Kau bahkan tidak mengetahui keadaanku—“
“Aku tidak sepicik itu dengan menganggap persahabatan kita sedangkal itu, kau tahu? Aku menghargaimu, dan aku menghargai Kiara.” Ujar Brian.
“Seperti apa yang kubilang tadi, gadis itu masih mencintaimu. Ia adalah salah satu tipe gadis yang suka memperlihatkan perhatiannya pada orang yang ia cintai. Dan itu kau. Bahagiakan dia, jaga ia baik-baik jika tidak ingin direbut orang lain. Hanya kau yang bisa menjaga dan mencintainya, Vano.”
“A-ada apa?” tanya Kiar terbata. Tangannya gemetar sementara wajahnya merona merah. Ia berusaha melepaskan tangannya karena takut terlihat oleh staff lain, namun Vano tetap menahannya. Matanya yang tajam menatap manik mata coklat Kiara.
“Vano…,” desis Kiara.
“Maafkan aku,” gumam Vano.
“Apa?” tanya Kiara yang tidak mendengar suara pelan Vano.
“Tolong, bantu aku untuk mengingatmu,” lanjut Vano, kali ini dengan nada tegas dan suara yang jelas.
____
Di sebuah hotel bintang lima di dekat pantai, Bali.
Kiara tak bisa berhenti tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Ia melebarkan ujung gaun putihnya, berputar, sembari menatap cermin. Kiara tampak sempurna di hari pertunangannya itu. Dengan make-up yang tidak berlebihan, sedikit eyeliner dan maskara, blush-on, eye’s shadow, red lipstick, membuat penampilan Kiara terlihat lebih cantik alami dalam balutan dress putihnya. Ia terlihat anggun layaknya putri seorang CEO sebuah perusahaan.
Namun, ada satu hal lagi yang membuatnya senang bukan kepalang.
“Tolong, bantu aku untuk mengingatmu.”
Sekali lagi, Kiara tersenyum ketika mendengar kata-kata itu di benaknya.
Ia tak menyangka Vano akhirnya membuka diri padanya. Ia tak sabar ingin segera menceritakan semua kisah mereka pada Vano. Karena itulah senyum tak berhenti mengembang di ujung bibirnya.
Sebuah ketukan halus terdengar berasal dari pintu kamar yang tengah ditempatinya. Tanpa disuruh, seseorang membuka pintu lalu melirik ke dalam kamar dan tersenyum lebar.
“Kia, pestanya 5 menit lagi! Fighting!” ujar gadis berbadan mungil itu sambil mengacungkan sebelah tangannya ke atas.
"Iya, Cha,” balas Kiara.
" Oke, Kiara kusuma, sekarang kau harus menghadapi masa depanmu! Fighting! Batin Kiara dalam hati.
____
Tak ada yang bisa menggantikan senyum itu di mata Vano sekarang. Sungguh, entah sejak kapan, ia mulai menyukai senyum gadis itu Kiara kusuma. Deras suara ombak terdengar bersahut-sahutan di kejauhan, disusul dengan hembusan angin yang cukup kuat. Hembusan itu membuat rambut panjang dan gaun Sooji berkibar riang seolah menari bersama angin. Gadis itu masih mengulurkan tangan kirinya ke depan, dan menatap sebuah cincin perak bertahtakan berlian mungil bertengger dengan manis di jari manisnya. Tampak tak begitu sadar bahwa tunangannya berada tepat di sampingnya sedari tadi.
“Apa kau begitu menyukainya?” tanya Vano setengah mencibir. Ia meletakkan kedua tangannya di pegangan balkon hotel sambil menatap pantai yang terlihat gelap di bawah sana.
Kiara menoleh lalu mendesis. “Apa kau masih ingin menolak pertunangan ini?” Kiara balik bertanya.
“Bagaimana bisa aku menolaknya ketika aku bahkan sudah menyematkan cincin itu di jarimu?” ujar Vano.
Kiara tersenyum mendengar pernyataan Vano.
Mereka kembali terdiam menikmati hembusan angin laut di malam hari. Pesta sedang berlangsung di dalam, namun mereka lebih memilih melarikan diri dari keramaian. Entah apa yang bisa membuat mereka lolos dari pengawasan. Padahal mereka adalah raja dan ratu di acara ini. Sebenarnya, mereka tidak pergi bersama. Awalnya hanya Kiara, tapi kemudian Vano mengikutinya.
“Aaaah… Aku rindu tempat ini!” seru Kiara keras sambil menatap laut di bawah mereka. Ia kemudian menoleh cepat ke arah Vano. “Van, mau ke pantai?”
___
Ke pantai di musim hujan dengan pakaian berupa jas dan gaun tanpa lengan tanpa mantel merupakan pilihan yang buruk—sangat. Walaupun laut tak membeku, tapi tetap saja anginnya yang kencang membuat mereka membeku. Berbeda dengan Vano yang segera menggigil begitu mereka menginjakkan kaki di hamparan pasir putih, Kiara malah terlihat ceria. Ia berlari ke sana ke mari sambil mengangkat ujung gaunnya yang menjuntai panjang hingga ke tanah. Angin yang kencang telah membuat rambut Sooji yang semula tertata rapi, sekarang kacau tak beraturan. Namun anehnya, gadis itu masih terlihat cantik.
“Waaah… Sudah lama sekali!” seru Kiara kencang.
“Kia, apa yang sebenarnya akan kau lakukan di sini? Kau tidak kedinginan? Kita kembali ke hotel saja, ayo!” ajak Vano yang bahkan tak beranjak dari garis ujung pantai.
Kiara yang tak mendengar ajakan Vano, terus berjalan menjauhi Vano dan mendekati laut. Gadis itu dengan berani naik ke sebuah karang yang terletak di ujung pantai. Karang itu cukup tinggi, hingga Kiara yang telah bertelanjang kaki, heels nya ia simpan di ujung pantai, harus sedikit mendakinya.
Vano membelalakkan mata melihat ombak-ombak besar yang menghantam batu karang itu seolah-olah ingin merobohkannya.
"Kia, berbahaya, cepat turun!” seru Vano sambil berlari, setelah melepaskan sepatunya di ujung pantai mendekati Kiara..
Kiara masih tak mendengar seruan Vano. Ia berdiri di ujung karang dengan berani sambil merentangkan tangannya dan tersenyum, menikmati hembusan angin yang melewatinya.
“Hei, Kiara kusuma!!” panggil Vano. Ia kini telah berada di karang tersebut.
“Van, coba naik ke sini! Pemandangannya indah!” seru Kiara.
“ Bodoh! Jangan berdiri di ujung seperti itu! Kau bisa jatuh!” seru Vano lagi. Ia tengah berusaha mendaki batu karang yang cukup tinggi itu.
“Tenang saja, aku tidak akan ja—“ tiba-tiba deburan ombak yang cukup besar menghantam karang, tepat di bawah kaki Kiara, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan akibat getarannya ditambah dengan angin yang cukup kuat. Untuk pertama kalinya, Kiara merasa takut ketika badannya mulai condong ke laut.
Kiara memejamkan mata. Sedetik, dua detik, kenapa tidak terasa sakit? Kenapa tidak basah? Kenapa tidak ada ombak yang membuatnya terombang-ambing? Ketika Kiara membuka mata, ia telah berada di dalam pelukan Vano. Kedua tangan kekar Vano melingkari pinggangnya dan memeluknya dengan erat hingga tubuh bagian belakangnya menempel dengan dada bidang Vano. Terdengar deru napas Vano di telinga kanannya yang terdengar terengah-engah.
“Vano… Alexander?” ujar Kiara takut-takut, dadanya berdebar kencang dan napasnya pun memburu.
“Jangan…. pernah… lakukan hal… seperti ini… lagi,” ujar Vano tepat di telinga Kiara.
...****************...