
Perlahan-lahan, ia mulai mengeluarkan mobil Mercedes benz dan keluaran terbaru berwarna hitam miliknya. ketika ia melewati tembok rendah itu , dia melihat Kiara masih berdiri di sana, jadi ia segera menekan klakson dan membuat gadis itu menoleh lalu mensyaratkan bahwa ia akan menunggunya di luar . Gadis itu mengganggu dan segera berjalan keluar dari halaman rumahnya . Di sana , mobil Vano sudah menanti. Tanpa membuang waktu , gadis itu segera masuk ke dalam mobil .
Ketika Kiara sudah duduk di bangku penumpang tepat di sebelah Vano, keadaan canggung kembali menerpa mereka . Vano menatap Kiara yang terdiam sambil menatap lurus ke depan .
"Ehm... "dehem Vano, mencoba mengatakan sesuatu sebelum menyalakan mesin mobil .
Kiara menatapnya bingung dengan mengangkat sebelah alisnya .
"Sabuk..."
"Sabuk?" ulang Kiara terlihat linglung.
"Sa..." Vano pun terlihat bingung, ia menunjuk ke samping gadis itu , tapi gadis itu masih tampak tak mengerti .
Baru beberapa saat kemudian , gadis itu menoleh ke samping dan terkekeh malu.
" Oh sabuk pengaman ? Sorry ." ujarnya sembari menarik sabuk pengaman di sampingnya . Namun, entah karena kegugupan atau apa, tali sabuk pengaman tersebut tidak mau keluar meskipun sudah ia tarik . Kiara menggigit bibirnya malu , kenapa ya bisa sebodoh ini ?
Tiba-tiba sebuah tangan terulur ke sampingnya , bergerak ke atas tangannya dan menarik sabuk pengaman dengan benar hingga ke depan gadis itu . Kiara menoleh dan mendapati tangan panu yang tengah membantunya. Ketika pandangan mereka bertemu, mereka terdiam.
Vano mengerjakan matanya beberapa kali lalu berdeham dan melepaskan pegangannya pada sabuk pengaman Kiara .
" Lanjutkan sendiri " ujarnya sambil kembali memegang kemudi .
" Thank you"gumam Kiara pelan .
___
"Ah, aku lupa " ujar Vano saat mereka tengah berhenti di lampu merah sambil meronggo sakunya dan mengeluarkan beberapa foto berwarna hitam putih jelas sekali itu adalah foto lama . Ia menyerahkan foto-foto itu ke arah Kiara .
Kiara menatap tangan Vano yang memegang foto-foto itu dalam diam . "Aaaa...ini" tangannya kemudian menyambut foto-foto itu dan memperhatikannya sembari mengulum senyum.
" Aku ingin mengembalikannya padamu " jelas Vano
" Tidak perlu, ini memang untukmu ." tolak Kiara sambil mengembalikan foto-foto di tangannya ke tangan Vano.
" Karena katanya kau sama sekali tidak punya kenangan tentangku di rumahmu ,jadi ini kuberikan padamu " lanjut gadis itu .
" Untukku?" Vano mengerjap sambil menerima foto-foto itu .
Kiara tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. " itu adalah kenangan-kenangan yang bagus kok."
Ketika Vano hendak mempertanyakan pertanyaan Kiara , suara klakson di belakang mereka mengagetkan nya dan Ia pun segera menaruh foto-foto itu di dashboard mobil dan kembali melajukan mobilnya .
"Ehm... Apakah tawaranmu yang kemarin masih berlaku ?" tanyanya
" Apa?" tanya Kiara yang tak mengerti
" Tawaranmu ... Itu ..."
"Aaaa... Untuk membantumu mengembalikan ingatanmu dengan menceritakan kisah kita?" potong Kiara yang membuat Vano lega karena tidak harus menjelaskannya lebih jauh.
"Entahlah , jika aku ceritakan , mungkin tidak akan cukup satu hari , ah atau berbulan-bulan pun tidak akan cukup . "ujar Kiara.
" Kita masih punya banyak waktu" balas Vano
Kiara mengangguk-anggukkan kepalanya , "" Ah benar juga , jadi dari mana aku harus mulai ?"
"Kenangan-kenangan di foto itu , ceritakan mulai dari situ!" pinta Vano yang lebih tepatnya dikatakan sebagai perintah daripada permintaan.
Kiara kembali mengambil foto-foto itu lalu memperhatikannya satu-satu . Ia lalu menarik sebuah foto di mana ada seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang tengah menggendong seekor anak anjing . Anak perempuan itu terlihat habis menangis dan ketakutan berada di dekat anak anjing itu berbanding terbalik dengan anak laki-laki itu yang tersenyum lebar .
" Ini adalah hari dimana kita pertama kali bertemu " tutur Kiara .
" Waktu itu kau baru pindah ke rumahmu yang sekarang ,usiamu mungkin 7 tahun sementara aku 5 tahun . Saat aku sedang bermain di depan rumahku , kau tiba-tiba melompat mendekatiku sambil tersenyum lebar . Kau menggendong anak anjingmu dan langsung menyodorkannya padaku tanpa peringatan .
Tentu saja itu membuatku kaget dan ketakutan. Tapi kau tetap tertawa dan malah mengejar-ngejarku dengan anjingmu itu .Akhirnya orang tua kita menghentikanmu dan kau meminta maaf padaku . lalu kau mengajakku berfoto bersama "
Vano terdiam, ia tidak menyangka ia pernah sejahil itu sepanjang hidupnya. Tapi diam-diam ia tersenyum sembari mendengarkan cerita Kiara .
" Lanjutkan !" mintanya lagi .
___
Setelah selama 30 menit di perjalanan, mereka pun sampai di basement kantor. Ketika keluar dari mobil, Vano tampak mendebat sesuatu dengan Kiara. Sementara dari situ dibalas mendebatnya sambil sesekali tertawa sambil menunjuk-nunjuk selembar foto di hadapannya.
" Mana mungkin aku pernah mencukur Rambutku sampai habis begitu. Jangan bercanda!" Seru Vano tak terima
Kiara tertawa" kok masih tidak percaya? Di sini saja rambutmu masih sependek ini, aku punya fotomu saat rambutmu masih belum tumbuh. Kalau kau tidak percaya aku bisa memperlihatkannya padamu nanti."
" Aku tidak akan pernah memangkas habis rambutku!"
" Tapi kau melakukannya! Ayolah... Terima saja kebenarannya!" Tiara tertawa penuh kemenangan sambil mengembalikan foto di tangannya pada Vano lalu berjalan mendahului pria itu.
Vano pun berjalan menyusul di belakangnya, ia masih menatap foto di tangannya dengan kening berkerut.
___
Seisi pegawai kantor tampaknya tahu satu hal berarti ketika melihat seseorang Vano Alexander sang fotografer profesional yang diimpor dari Amerika, yang berlaku dingin, perfeksionis dan ambisius. Tengah tertawa bersama Kiara Kusuma sang designer berbakat dari London yang ceria , ramah dan selalu menampakan senyum manisnya . Mereka layaknya teman lama yang baru bertemu kembali. Semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah teman dekat berkat insiden foto beberapa minggu ke belakang, tapi kali ini Vano dan Kiara lebih tampak seperti seorang teman .
Tidak ada yang tahu ada kejadian apa yang bisa menyatukan mereka karena semua orang pun tahu kedua orang itu sebelumnya tidak memiliki hubungan yang bagus . Mereka seringkali menatap satu sama lain dengan tatapan dingin , Vano sering mengeluhkan kinerja Kiara yang sebenarnya baik-baik saja dan Kiara pun sering mengeluhkan sikap Vano pada kru desainernya. melihat mereka berdua bersama-sama sambil bersenda gurau tampak merupakan pemandangan menarik di pagi hari ini . Tampaknya , hati seorang Vano Alexander telah meleleh oleh sifat cerah seorang Kiara Kusuma .
Brian Wijaya yang kali ini kembali menjalani pemotretan dan datang lebih awal dari pada biasanya, ia pun merasakan keadaan ganjil namun melegakan tersebut . Ketika ia telah meletakkan tas punggungnya di sofa di dekat lokasi pemotretan , ia bergegas menghampiri Kiara.
"Kiara.." panggilnya .
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜