
Kediaman rumah Vano, awal 2009
Saat itu Vano tengah belajar untuk ujian kelulusannya bersama Kiara setelah mereka merayakan pesta tahun baru kemarin malam. Mereka tengah berada di ruang tengah rumah Kiara dengan Vano yang berkutat dengan buku-buku tebal dan Kiara yang mengamatinya sembari sesekali menonton televisi dan membaca- baca buku yang tengah dikerjakan Vano untuk kemudian berkomentar,
“Urgh… Aku tidak mau ikut ujian kelulusan SMA! Kenapa kau rajin sekali sih, belajar padahal belum tingkat akhir.”
Vano hanya tertawa mendengar komentar tersebut. “Tapi kau harus mengikutinya, Kiara. Hanya dengan begitu kau bisa melanjutkan ke universitas. Dan aku hanya sedang mempersiapkan diri. Ujian tidak semudah kedengarannya, kau tahu?”
“Iya, iya, aku tahu!” cibir Kiara.
“Hei, apa kau memakan obat-obatmu dengan benar?”
“Tentu saja! Jika tidak, aku mungkin sudah mati saat ini.”
Vano mendelik tajam mendengar kata-kata Kiara. “Jangan bermain-main dengan kematian, Kiara. Sejak awal aku tak suka sikapmu yang seperti itu.”
“Oke-oke, aku minta maaf.” Ujar Kiara sambil terkekeh. Gadis itu kemudian kembali sibuk dengan dirinya sendiri dan tak menyadari sepasang mata tengah mengawasinya.
“Oh ya, Van, aku penasaran. Apa kau belum pernah mempunyai kekasih?” tanya Kiara tiba-tiba.
“Kupikir dengan wajah dan sifat seperti itu, kau akan mudah menarik perhatian para gadis.”
“Memang belum.” Jawab Vano singkat. Pandangannya tak pernah lepas dari Kiara.
“Kenapa?”
“Karena aku menyukaimu.”
Bandara Soekarno Hatta, Februari 2009
“Apakah kau sangat harus belajar ke luar negeri?” tanya Kiara sembari cemberut saat ia tengah mengantar kepergian Vano ke Amerika di bandara Soekarno. Beberapa bulan lalu, Vano tiba-tiba saja memberitahunya bahwa pria itu akan pergi ke Amerika dan meneruskan sekolahnya di sana.
Vano mengangguk. Saat itu ia tengah memeriksakan tiketnya pada petugas. Keluarganya telah terlebih dahulu masuk ke dalam sementara ia dipaksa tinggal lebih lama oleh Kiara yang enggan melepaskan pegangan tangannya. Keluarga Kiara berada jauh di belakang, tak kuasa menahan putri mereka.
“Apa kau tidak penasaran dengan jawabanku? Aku belum menjawab pernyataan cintamu itu, kan?”
“Bukankah kau bilang kau akan menjawabnya saat kau telah beranjak dewasa? Kalau begitu jawablah sekarang.” Tantang Vano.
Kiara terdiam. Kepalanya menunduk dalam dan ia yakin pipinya memerah. Dalam sekejap, ia kehabisan kata-kata.
Vano terkekeh dan mengacak-acak rambut gadis itu. “Jawablah nanti, jika kau sudah siap. Aku akan menunggu.”
“Tapi aku tidak akan lagi berada di dekatmu—“
“Aku akan mengirimimu surat. E-mail. Aku juga akan sering-sering meneleponmu. Aku janji.”
Los Angeles, Amerika Serikat, September 2010
Vano tersenyum senang begitu menghampiri teman-temannya. Selama setahun awal kehidupannya di Amerika, sejauh ini tidak buruk. Komunikasinya dengan Kiara pun masih baik.
Mereka sepakat menggunakan surat untuk berkomunikasi. Kini, ia baru saja mendapat balasan terbaru dari Kiara. Namun karena pagi tadi ia terlambat ke sekolah, ia tak sempat membacanya dan malah membawanya ke sekolah.
Siangnya pun, sepulang sekolah, ia belum memiliki waktu untuk membaca surat balasan dari Kiara. Dan kini, teman-temannya mengajaknya merayakan pesta kejutan ulang tahun untuk salah seorang temannya; Mark.
Rencananya adalah teman-temannya akan pergi terlebih dahulu ke rumah Mark. Dan tugas Vano adalah menghalang-halangi Mark pulang hingga teman-temannya memberi kabar bahwa kejutannya telah siap, barulah mereka boleh menaiki bus untuk menuju ke rumah Mark.
Sejauh ini, keadaan berjalan sesuai rencana. Vano dan Mark baru memasuki bus saat Vano telah menerima sinyal dari teman-temannya yang lain. Mereka kini berdiri di tengah bus—karena tak ada kursi yang kosong.
“Jadi, kau baru saja menerima balasan dari Kiara?” tanya Mark begitu mereka berada di dalam bus.
Vano mengangguk. Senyum tak dapat sirna dari wajahnya ketika nama gadis itu disebut.
“Hei~ look at you~ you’re smiling like an idiot when you hear her name, now?” goda Mark.
Vano terkekeh. “Tapi aku belum membaca suratnya.”
“Kalau begitu bacalah!”
Vano pun mengeluarkan surat tersebut dari tasnya. Hanya beberapa baris, namun mampu membuat Vano melayang.
Van, kapan kau kembali ke sini? Jika kau tidak bisa kembali, telepon aku. Aku ingin memberi jawaban atas pernyataan cintamu itu. Kurasa aku sudah cukup dewasa kali ini. Segera telepon aku, oke?
“Ya! You should calling her!” seru Mark bersemangat.
“Should i?” tanya Vano sambil tersenyum lebar.
“Tentu saja, bodoh!”
“Baiklah, aku akan meneleponnya begitu sampai di rumah.” Putus Vano akhirnya sementara Mark hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Mark pun mulai bertanya tentang mengapa Vano ingin ke rumahnya, yang memaksa pria itu untuk menyusun serangkai kebohongan demi kebaikan Mark sendiri. Sama seperti teman-temannya yang lain, ia belum mengucapkan selamat ulang tahun pada pria itu karena menunggu teman-teman mereka mempersiapkan kejutan.
Saat tengah mengobrol seperti biasa, tiba-tiba saja sesuatu terjadi.
Rasanya seperti berada dalam mimpi.
Bus yang ia dan Mark tumpangi menabrak sesuatu sehingga menimbulkan suara super keras dan hal terakhir yang Vano tahu adalah ia tak lagi berdiri. Ia terjatuh, berguling, terlempar, tertindih hingga seluruh badannya sakit terutama punggung dan kepalanya. Ketika semua pergerakan tersebut berhenti, kesadarannya sudah hilang sebelum ia sempat mencari keberadaan Mark.
Pada akhirnya, ia tak pernah menelepon Kiara. Pesta kejutan itu pun tak pernah terjadi.
Ingatan Vano hilang, bersamaan dengan nyawa Mark.
____
Ketika rasa sakit di kepalanya hilang dan kenangan-kenangan itu kembali, hal terakhir yang Vano sadari adalah ia menangis. Ada air mata mengalir deras di pipinya. Ingatan-ingatan itu menyakitkan. Ia merasa bersalah. Bersalah karena tidak mengingat kematian Mark, karena tidak mengingat Kiara. Kini ia tahu bahwa gadis itu memiliki banyak kelemahan dibalik penampilannya yang selalu tak mau mengalah.
Mendadak, seluruh badannya lemas. Dengan susah payah, ia mengambil ponselnya di atas nakas lalu dengan jemari yang gemetar, ia memasukkan sebuah nomor telepon.
“Ha… lo… dokter… …” suaranya bahkan bergetar.
“Ini aku… Vano Alexander.”
Vano menggigit bibirnya dan memeluk dirinya sendiri yang mulai sesenggukan. “Apakah… Jika ingatanku kembali… Itu adalah pertanda bagus, dok?”
Vano terdiam mendengarkan penjelasan seseorang di seberang telepon. Namun tubuhnya tak berhenti gemetar. Album foto yang semula berada di pangkuannya kini telah berada di atas lantai, terbuka di halaman terakhir, pada fotonya ketika tengah berada di bandara.
“Tapi kupikir kau salah, dok…” ujar Vano.
“Kenapa aku merasa buruk setelah mengetahui semua hal itu?” lanjutnya lalu memutus sambungan telepon. Pria itu menjatuhkan ponselnya ke lantai lalu mengusap wajahnya yang basah. Dan tak lama, isakan tangis itu terdengar lagi. Bahkan kali ini lebih keras.
...****************...