REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 54



Vano menghentikan mobilnya tepat di depan restoran H&G, tempat di mana Kiara akan makan malam dengan designer ternama itu. Dan ia bisa melihat bahwa gadis itu tengah merasa sangat gugup saat ini.


“Ada apa?” Tanya Vano yang merasa tak nyaman dengan kegugupan Kiara yang tak biasanya. Karena selama Vano mengenal gadis itu beberapa bulan ini, ia selalu menampilkan sosok seorang yang sangat percaya diri dan bahkan tak peduli apa kata orang-orang. Tapi sekarang? Apa seperti inikah sosok seorang Kiara yang sedang gugup?


“Eoh? Tidak… aku tidak apa-apa…,” ujar Kiara sambil mencoba tersenyum semanis mungkin yang tetap saja terlihat kaku di mata Vano. Gadis itu mulai membuka sabuk pengamannya dan tersenyum sekali lagi pada Vano. “Aku pergi dulu, terima kasih mau mengantarku.” Gadis itu kemudian membuka pintu mobilnya lalu keluar dari mobil tersebut dan berjalan menjauh, memasuki restoran tersebut.


Sebelum Kiara sempat mencapai pintu, Vano memanggilnya kembali, membuatnya berbalik dan menatap lelaki itu bingung. Vano mengisyaratkan Kiara untuk mendekat yang diikuti gadis itu dengan patuh layaknya sebuah robot.


“Ada ap—”


“Semoga berhasil, Kiara,” ujar Vano sembari mengetukkan keempat jari tangannya di puncak kepala gadis itu, seolah sedang mentransfer keajaiban—atau apa pun—pada gadis itu.


Dan Kiara tertegun. Ia masih merasakan jemari Vano yang bergerak secara bergantian di puncak kepalanya dan hatinya terasa hangat. Bukan hanya karena Vano yang melakukan ini, namun karena pria itu jelas pernah—selalu—melakukan hal ini di masa lalu untuk menghiburnya, memberinya kekuatan, dan menenangkannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ada sebuah rasa yang menyeruak di dalam dada Kiara saat Vano melakukannya, yang membuatnya sesak dan ingin menangis. Membuatnya yakin bahwa suatu hari Vano akan mendapatkan ingatannya kembali.


Setelah beberapa saat, Kiara mengangguk dan tersenyum. Refleks, ia menarik wajah Vano keluar dari jendela mobil dan mengecup pipinya singkat sebelum melambai dan menjauh memasuki restoran. Membiarkan Vano yang tertegun karena gerak tiba-tiba Kiara.


Dan Vano bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.


 ____


 


Sepeninggal Kiara, karena ia masih belum bisa menetralkan hatinya, lelaki itu memutuskan untuk membuka ponselnya dan mengecek akun SNS miliknya yang telah lama dibiarkannya. Ia sudah lama tidak membuka akun SNS-nya sehingga rasanya agak aneh ketika ia kembali membuka akunnya. Ketika ia tengah memeriksa timeline-nya, sesuatu membuat matanya kembali membesar dua kali lipat.


Di sana, ia melihat update terbaru dari Windy. Gadis itu memang sering men-update akunnya, namun bukan hal itu yang mengejutkan.


Vano melihat gadis itu menyertai postingannya dengan sebuah selca-nya dengan sebuah boneka harimau yang dibelikannya saat gadis itu ulang tahun 2 tahun lalu di atas kepalanya. Gadis itu tampak baru saja berdandan dengan mengenakan sweater berwarna biru. Dari tempatnya, sepertinya gadis itu tidak berada di rumahnya saat foto itu diambil. Dan foto tersebut dilengkapi dengan tulisan;


‘Last day with Mogu-ya~ aku tidak akan pergi terlalu lama, aku janji! Seoul, aku datang~~~^^’


Mogu adalah nama yang ia berikan pada boneka singa tersebut. Dan apa maksudnya dengan Seoul?


Vano tiba-tiba merasa panik. Ia membuka akun milik Windy tersebut dan mencermati tanggal yang tertera. Kemarin. Gadis itu memposting tulisan itu kemarin. Yang artinya, jika ia memang benar-benar datang ke Korea, seharunya gadis itu telah tiba beberapa saat yang lalu. Dan satu lagi yang baru disadari Vano. Gadis itu menulis menggunakan bahasa Korea—biasanya ia menulis menggunakan bahasa Inggris karena sekarang ia tinggal di sana—dan itu bukanlah hal baik bagi pria itu.


Tiba-tiba saja Vano teringat dengan email yang didapatkannya beberapa jam yang lalu dan penasaran ingin membukanya. Ternyata benar saja, itu bukanlah junk mail seperti yang ia perkirakan. Itu adalah email dari Windy.


...Subject: Aku ke sana....


...Kau menyebalkan, Vano! Kenapa kau tidak membalas atau mengangkat pesan dan telepon dariku?! Aku mengirim lewat email karena berharap kau akan membukanya (karena kau tidak akan membalas pesanku). Aku tahu ini memang sedikit tiba-tiba, tapi dalam beberapa jam aku akan tiba di Jakarta. Jadi tunggu aku~...


...Aku tahu aku adalah orang yang paling bersemangat saat kau berkata kau akan kembali ke kampung halamanmu, tapi jika seperti ini keadaannya, aku jadi curiga kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kau tidak berpaling pada gadis lain di sana, bukan?...


...Jangan berpaling, karena ketika aku bertemu denganmu, aku ingin memberikan jawaban yang telah kau tunggu-tunggu itu! Kekekeke~~~...


 


 


-o0o-


Brian menghentikan mobilnya dan membuka sabuk pengamannya. Ia menatap Windy yang masih terlelap di sampingnya. Awalnya, ia berniat membiarkan gadis itu tertidur di dalam mobil selagi ia melakukan pemotretan, namun karena tak tega, ia pun menggoyang - goyangkan tubuh Windy hingga gadis itu bangun.


“Ah, ada apa? Apa kita sudah sampai?” erang Windy.


“Hm, kita sudah sampai. Tapi kita tidak berada di Gangnam.” Ujar Brian.


Windy melepas kacamata hitamnya dan memperhatikan langit gelap di hadapannya. Ia melepas sabuk pengamannya lalu kepalanya menoleh ke sana ke mari. “Lalu kita berada di mana?” tanyanya.


Brian mengedikkan dagu ke sebuah kerumunan orang di luar mobil, tepat beberapa meter dari tempat mereka. “Aku sedang mengadakan pemotretan, dan aku tidak bisa meninggalkannya. Jadi aku akan mengantarmu ke Hotel setelah aku selesai, oke?”


Windy mengangkat alisnya lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


____


“Ah, itu dia mobil Brian!”


Seruan seorang staff itu mau tak mau membuat semua orang menoleh ke arah sebuah mobil yang baru saja diparkir di dekat lokasi. Vano termasuk ke dalam salah satu orang yang mengamati mobil itu dari kejauhan sambil mengelap lensa kameranya. Ia mendesah sambil geleng-geleng kepala. Pria itu terlambat beberapa menit dari yang ia janjikan, dan Vano terlanjur malas menanggapinya karena ia yakin 100% bahwa Brian akan memberinya 1001 alasan mengapa ia terlambat. Mengapa ia bisa yakin? Karena itu adalah ciri khas Brian Wijaya.


Selagi para staff mengkhawatirkannya, Vano hanya diam sambil mempersiapkan diri sendiri. Ia memang sedang malas dan terlanjur tidak peduli—mungkin efek berita yang baru saja ia dapatkan—mungkin juga karena lelah seharian bekerja, ia tidak tahu.


Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu mobil dibuka dan ditutup. Dua kali. Dan para staff pun seketika ramai kembali. Mereka bukan hanya membicarakan Brian, tapi sosok lain. Vano tidak menyadarinya, hingga Brian datang menghampirinya dan tersenyum lebar. Membuat Vano mendongak malas.


“Kau terlambat.”


“Maaf, kau tidak tahu sekarang di Seoul banyak terjadi kemacetan? Aku adalah salah satu korbannya!” ujar Brian membela diri.


“Ya, ya, ya, lebih baik kau cepat persiapkan dirimu!” perintah Vano yang langsung disetujui Brian.


“Ah, Vano,” ujar Brian lagi sebelum berbalik. Vano kembali menatap sahabat lamanya tersebut dengan pandangan bertanya. “Aku membawanya ke lokasi seperti katamu, tidak apa, bukan? Aku tak sempat mengantarnya ke rumah, jadi aku membawanya ke sini.” Lanjutnya sambil mengedik ke belakang punggungnya.


“Tentu saja tak apa—” Vano menggantung kalimatnya begitu ia mengintip ke balik punggung Brian dan ia langsung terdiam. Jika saja ia ceroboh, mungkin lensa yang berada di tangannya sudah jatuh ke tanah karena badannya benar-benar terasa lemas kali ini. Matanya membesar dan ia menahan napasnya.


Seperti melihat hantu, ia melihat Windy berdiri di belakang sana. Gadis itu turut menatapnya dan membesarkan kedua matanya dengan mulut yang setengah membuka.


Seketika, Vano memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi padanya.


...****************...