
Kiara tahu ia berlebihan hanya karena seorang desiner ternama tertarik pada karyanya dan mengajaknya makan malam, ia jadi tersenyum seperti orang gila di sepanjang perjalanan pulang yang hampir membuat Vano jengkel.
Tapi hei, ini adalah Kris Choi! Putra sulung dari Choi Bok Ho, designer yang selalu menjadi panutannya. Dan terlebih, ia pernah mendengar isu bahwa putranya tersebut selain jenius karena sifat ayahnya turun padanya, ia juga dianugerahi oleh wajah tampan dan tubuh tinggi semampai yang membuatnya terkadang menjadi model karyanya sendiri. Dan oh satu lagi, Kiara tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu.
“Apakah kau sebegitu senangnya?” Tanya Vano suatu ketika saat mereka memasuki kawasan jembatan Banpo untuk kembali ke Gangnam.
Kiara mengangguk. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sungai Han di sampingnya, menikmati keindahannya dimana airnya yang jernih bersinar memantulkan cahaya dari gedung-gedung di sekitarnya. Kiara selalu menyukai sungai Han, karena menurutnya sungai tersebut memiliki pesona tersendiri, bukan hanya karena terletak di dekat kawasan perkotaan.
“Bagaimana jika ia tidak seperti yang kau bayangkan?” Tanya Vano lagi.
Kiara berbalik untuk m enatap Vano yang matanya masih tertancap pada jalanan di hadapannya. Keningnya berkerut samar, “Tidak seperti yang kubayangkan?” ulang Kiara.
Vano mengangguk. “Bagaimana kalau ia tidak tampan? Aku tahu banyak rumor yang mengatakan bahwa ia sangat tampan, tapi hei, kurasa ia tidak bisa mengalahkan ketampananku.”
Oke, Kiara rasa ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Vano cemburu, dan itu membuatnya tersenyum.
“Kurasa ia seperti apa yang orang-orang bicarakan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kalau ternyata ia lebih tampan darimu dan mungkin saja ia tiba-tiba tertarik bukan hanya pada karyaku, tapi juga padaku?” Tanya Kiara yang memang sengaja memperpanas suasana.
Vano memutar bola matanya. “Jangan bermimpi yang tidak-tidak, Kiara.”
“Tapi benar, kan? Bisa saja ia benar-benar tertarik padaku. Jika seperti itu, apa yang akan kau lakukan?”
Vano terdiam untuk beberapa saat. “Jika kau bertanya padaku beberapa minggu yang lalu, kau pasti akan mendapat jawaban seperti ‘tentu saja aku akan melepasmu dengan suka hati’.”
Pandangan mata Kiara terfokus pada pria di sampingnya sementara pria itu masih sibuk mengemudi. Vano menahan lanjutan perkataannya cukup lama, hingga mereka berada di perempatan lampu merah dan mobil berhenti, barulah Vano kembali menatap Kiara lalu melanjutkan kata-katanya yang mampu membuat Kiara—lagi-lagi—tertegun,
“Jika kau bertanya padaku sekarang, aku akan menjawab ‘aku tidak akan melepaskanmu.’ Tak peduli meskipun kau memohon kepadaku.”
___
Vano turun dari mobilnya yang telah terparkir manis di garasi dengan setengah membanting pintu mobilnya sehingga menghasilkan suara bedebum keras. Ia menggumamkan beberapa perkataan yang hanya dimengerti dirinya sendiri ketika ia melangkah memasuki rumahnya.
Dan hal itu dilihat oleh adiknya. Sean mengernyit menatap kakak laki-lakinya yang tak biasanya menggerutu tersebut dari sofa ruang tengah ketika Vano hendak berjalan menuju kamarnya.
Vano berhenti lalu menatap Sean sekilas sembari mengibaskan tangannya, tanda bahwa ia menolak menjawab lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
Sean menatap kakaknya itu aneh, kemudian ia perfi keruang Tv. Dia sangat menikmati waktunya berlinur di Korea bersama sang kakak. Awalnya Vano tidak ingin membawa adiknya itu, tapi setelah di pikir pikir, dari pada adik nya itu tinggal sendiri di Indonesia, lebih baik dia membawanya saja.
Kebetulan mereka juga memiliki rumah di Korea, jadi mereka tidak perlu lagi repot - repot untuk tinggal di hotel atau pun penginapan lainnya. Dan hebatnya, rumah mereka yang di Korea juga bersebelaham dengan rumahnya Kiara.
Entah di sengaja atau tidak, tapi itulah yang baru di ketahui oleh Vano.
Sesekali Sean menatap kearah pintu kamar kakaknya, dia masih penasaran dengan apa yang membuat kakaknya terlihat begitu kesal. Apa ini berhubungan dengan tunangannya itu?
Tapi entalah, Sean bodoh amat.
____
Sesampainya di sana, Vano langsung meletakkan tasnya di atas tempat tidur sementara dirinya sendiri langsung berjalan menuju cermin yang berada di pintu lemarinya seraya memperhatikan wajahnya sendiri.
Vano memang bukan orang yang narsis, ia bahkan terbiasa tidak peduli pada wajahnya. Ajaibnya, wajahnya tetap baik-baik saja sampai sekarang, bahkan setelah kecelakaan itu pun, wajahnya—untungnya—tidak ikut hancur. Namun meskipun ia tak peduli, pria itu tetap saja menyadari bahwa ia memiliki satu kelebihan pada wajahnya yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut hanya karena ia menatap mata mereka dengan intens atau hanya dengan ia tersenyum pada mereka sekalipun. Hal itu terbukti pada betapa populernya ia dulu, saat ia kuliah. Namun, selama ini, ada dua orang gadis yang belum pernah memuji penampilannya sejak mereka pertama kali bertemu. Orang itu adalah Windy dan Kiara
Lelaki itu memperhatikan wajahnya dengan seksama, memutarnya 45 derajat, menoleh ke kanan, ke kiri, memperhatikan keningnya, dagunya, matanya, bibirnya, lalu kembali menjauhkan wajahnya dari cermin dan mengernyit kan kening. Tidak ada yang salah dengan diri nya. Adalah hal yang pertama kali digumamkan nya dalam hati.
Tapi sungguh! Ia memiliki kening yang tidak terlalu lebar, rambut tertata sempurna, mata dengan sorot tajam, pipi tirus, bibir tipis, dagu lancip, rahang tegas, leher jenjang. Dan sekarang coba jelas kan, kekurangan apa yang di miliki wajah seorang Vano Alexander ?Lalu bagaimana bisa gadis itu berkata bahwa ia akan berpaling pada pria designer itu jika pria itu lebih tampan darinya—oh, Kiara jelas tidak mengatakan hal itu secara gamblang, namun ia mengerti bahwa itulah yang dimaksud gadis itu dalam obrolan nya tadi—dan Vano tidak percaya ada orang yang bisa mengalahkan ketampanan nya.
Vano mungkin terdengar seperti seorang yang pencemburu, tapi bukan itu letak masalah nya. Gadis itu adalah tunangan nya! Dan ketika ia baru saja membuka hati nya pada gadis itu beberapa hari yang lalu,gadis itu tiba-tiba saja mengata kan bahwa ia akan berpindah ke lain hati. Mungkin kah kepala gadis itu butuh diketuk dengan palu sembari di ingat kan sekali lagi bahwa ia memiliki seorang tunangan di sini, seseorang yang suatu hari akan ia nikahi dan akan menjadi pemimpin keluarga nya. Harus kah?
Vano mendesah, ia menyerah dan memutus kan untuk keluar dari kamar nya. Sebelum ia keluar, iPad-nya sempat berbunyi, menanda kan ada nya email baru yang masuk. Namun Vano mengabaikan nya karena berpikir itu adalah junk mail yang belakangan sering ia dapat kan lalu melengos meninggal kan kamar nya.
...****************...