REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 12



Memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya lalu terdiam, pandangannya kosong .


" Kiara!"


Mendengar namanya dipanggil,Kiara menoleh . Ia baru sadar bahwa ia masih berada di restoran, bersama Bryan Wijaya .


" Iya ,ada apa ?" tanya Kiara linglung .


"Ini makananmu ." tunjuk Brian pada nampan di atas counter. Brian sendiri sudah memegang nampannya miliknya , sehinggaTidak memungkin kan baginya untuk memegang dua nampan sekaligus .


" Iya belum aku bayar ya ."


" Sudah aku bayar .


Kiara beralih menatap Bryan ,ia tersenyum "


Terima kasih" ujarnya pelan.


Kiara pun merahi nampannya lalu berjalan mengikuti Brian menuju meja yang kosong . Ketika mereka mulai makan makanannya , Brian menempati Kiara berkali-kali termenung ,seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Kiara , ada apa ?" tanya Brian


"Ah... Tidak apa-apa." jawab cara sambil mengibaskan tangannya . Namun , rasanya ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu . Bryan tidak mau membuat jarak tidak nyaman dengan memaksanya untuk bercerita . Ini adalah kali pertama mereka kembali bertemu , ia tidak ingin pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya menjadi canggung, karena itu Brian hanya mengangguk .


Setelah berapa lama , setelah cara memikirkan matang-matang perbuatannya , ya kemudian menatap Brian " Bryan" panggilnya


"Hmm?" Bryan menoleh menatap Tiara


"Menurutmu , apakah masuk akal Kalau Vano melupakan kita ?" tanya Kiara.


"Vano melupakan kita , maksudmu? kamu juga dilupakan olehnya ?ah... Benar-benar dia itu! katanya Ya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kita saat ulang tahunnya yang ke-18, terutama denganmu , tapi sekarang dia .. Ahh..Sudahlah ! Entah apa yang terjadi sama anak itu ?"


"Tapi menurutku itu masuk akal ya " kata Kiara


" Masuk akal bagaimana? Mana ada yang seperti itu masuk akal, aku masih ingat sekali katanya ..."


" Dia terkena amnesia ,Bray." potong Kiara


Bryan terdiam , keningnya berkerut samar , sepertinya ia salah dengar tadi , apa ? Vano Amnesia?


" Retrograde Amnesia , dia tidak bisa mengingat masa lalunya ." lanjut Kiara, matanya mulai berkaca-kaca.


Brian masih terdiam menatap gadis di hadapannya itu . Ia Mengerti bagaimana perasaan Kiara sekarang . Karena ia pun mampir menangis mendengarnya .


" Apa yang harus kulakukan?.." tanya Kiara . air matanya mulai jatuh satu persatu meskipun gadis itu berusaha keras untuk menahannya dan mengelap setiap air mata yang menetes Itu pipinya , namun air matanya terus saja mengalir tidak mau berhenti .


" Kiara .." Bryan berusaha menenangkan gadis itu . ia tidak ingin orang-orang berpikir yang macam-macam .meskipun Ia juga kaget sekaligus sedih, namun Ia tetap harus menjaga citranya sebagai public figure .


" Apa yang harus kulakukan ?apa yang harus kulakukan ?" ucap Kiara terisak.


___


Setelah pekerjaan berakhir , Vano tanpa menunggu lebih lama Langsung berjalan menuju basement untuk mengambil motornya dan segera pulang . Sementara itu, Kiara yang melihat Vano pulang , membuntutinya dari belakang .


Tadi siang , Iya memang sangat kebingungan. Sedih dan kebingungan sehingga ia masih sama sekali tidak bisa berpikir jernih . Namun setelah menerima dukungan dari Brian untuk mengembalikan ingatan Vano , Iya jadi kembali bersemangat.


Bukan hanya Brian ,namun kedua sahabatnya pun , Daren dan Marshaikut mendukungnya lewat telepon. Kata mereka hanya Ia yang mungkin bisa mencairkan hati Vano yang kini sekeras es .


Vano turun dari lift tepat di depan basement. Ia berjalan cepat menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana lalu segera memakai helm hitamnya dan menaiki motornya. Ia memundur kan motor nya, lalu menyalakan mesin motornya . Ketika ia baru saja akan melaju , sebuah suara menghentikannya . Ketika ia menoleh ke arah suara , terlihat cara dengan berlari dengan susah payah ke arahnya .


" Vano , Tunggu Aku !" teriak Kiara.


"Ada apa ?" tanya Vano dingin.


Kiara menghela nafas sebelum berbicara "aku ... aku tahu apa yang terjadi padamu ," ujarnya " Kamu terkena retrograde amnes ..."


"Lalu apa maumu ?" potong Vano , ketara sekali ia tidak ingin mendengar kelanjutan kata-kata dari Kiara.


" Aku bisa membantumu !" kata Kiara sambil menepuk sebelah telapak tangannya di dadanya .


" Aku bisa membantumu untuk mengingat kembali masa lalumu !" kata Kiara


Vano mendengus melihat tingkah Kiara , tiba-tiba ia memajukan wajahnya dan menatap Kiara tajam, membuat Kiara hampir saja merona .


" Apa kau masih belum mengerti juga ?" Tanya Vano , suaranya terdengar tajam .


"Aku tidak ingin mengingat masa laluku , dan aku tidak ingin mengingatmu " tegas Vano . Setelah mengatakan itu ,ia pun menarik kembali wajahnya lalu kembali memasang helmnya dan melesat meninggalkan Kiara dengan motornya.


Saat itu Kiara merasa bahwa hatinya sedang diremas-remas sekali lagi


___


Kiara mengempaskan diri di kursi penumpang sebuah bus yang baru saja dinaikinya. Ia memindah kan ponsel yang sadar tadi menempel di telinga kanannya ke telinga kirinya.


"Tidak mau dijemput?"


Kiara tersenyum sambil memegang ponselnya yang ditempelkannya di telinga sebelah kiri. Ia menyandarkan diri pada kursi bus yang didudukinya


"Tidak perlu , lagi pula aku takut mengganggumu , bukankah kamu sedang berada di tokonya Marsha?"


" Ya begitulah , tapi aku tidak ada kerjaan di sini. Dari pada aku menganggur, lebih baik aku menjemputmu kan ?" Daren terdengar berkilah di sana karena tak lama terdengar teriakan seseorang perempuan.


" Hei Berhentilah menelepon dan bantu aku .."


" Baiklah baiklah Nana cerewet !" sahut Daren kesel .


Kiara terkikik geli mendengarkan tingkah keduanya ." Sudahlah , sana kembali bekerja ." kata Kiara terdengar seperti memerintah, namun Daren tahu kalau teman itu sedang bercanda .


"Haish... Kau juga ya Kiara , baiklah baiklah ,Kau baik-baik saja kan ? Apa yang pria itu katakan setelah itu ? Kau harus menceritakannya ! Aku dan Marsha akan ke rumahmu nanti."


"Hm... Sampai jumpa nanti ." tutup Kiara . Setelah memutuskan sambungan telepon, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu menggenggamnya dengan dua tangan di pahannya. Matanya terus terarah keluar.


Kejadian di basement tadi cukup membuatnya Shock . Iya tak tahu apa yang ia ingin katakan , iya tak tahu lagi apa yang seharusnya ia lakukan . Ketika beberapa kata itu terucap keluar dari mulut seseorang Vano Alexander. Rasanya Kiara tak bisa lagi bernapas dengan normal .


"Aku tidak ingin mengingat masa laluku dan aku tidak ingin mengingatmu !"


Aku tidak ingin mengingatmu !


Aku tidak ingin mengingatmu!


Aku tidak ingin mengingatmu !


Bak sebuah kaset rusak , kalimat itu terus saja berputar dalam otaknya tak peduli seberapa besar ia ingin melupakannya . Ia berharap ia tidak pernah mendengar kalimat itu, ia sangat berharap. Sekarang ia merasa marah sekaligus sedih .


Kiara menarik nafas panjang lalu membuangnya . Ia tidak boleh merasa begini , ia harus tetap semangat , jika Vano tidak mau mengingatnya , tidak apa tapi ia yang akan memaksanya untuk mengingat dirinya kembali .


"Optimis itu perlu! " Batinnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali .


Pokoknya, ia tidak akan membiarkan Vano melupakan masa lalunya .


...****************...