
Vano tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sosok Kiara yang tengah menyusun meja-meja kecil di suatu ruangan tempat anak-anak yang tadi disebutkan Kiara belajar.
Pria itu tak mengerti mengapa ia berada di sini, ia tak mengerti mengapa ia harus ikut mengajar, ia tak mengerti tentang kenangan mereka berdua di tempat ini dan terlebih, ia tak mengerti apa maksud Kiara yang tiba-tiba menyebutkan bahwa mereka telah bertunangan meskipun itu benar, tapi maksudnya, ayolah, tunangan itu bukanlah sesuatu yang ‘nyata’ baginya.
Karena menurutnya tunangan itu hanyalah sebagai formalitas hubungan kerja antara perusahaannya dengan perusahaan keluarga Kusuma. Ia tidak benar-benar menyukai gadis itu, bukan?
Meskipun begitu, ia pun tak mengerti mengapa ia tidak bisa membantah kata-kata gadis itu tadi.
“Dulu, kita berdua sering ke sini. Ketika kita masih kecil, tentunya. Setiap kita mengunjungi Bali, tempat ini adalah salah satu destinasi utama kita. Di sini adalah tempat bagi beberapa anak-anak tidak mampu untuk menimba ilmu. Wanita tadi adalah pendirinya sekaligus pengajarnya. Meskipun sekarang sudah banyak pengajar-pengajar muda lainnya. Karena kita masih kecil dan selalu tertarik dengan dunia rakyat kelas bawah yang tak pernah kita temui, kita pun sering ke sini untuk sekedar bermain atau belajar bersama.
Tiga tahun yang lalu, sebelum aku pergi ke Inggris, aku rutin menjadi pengajar di sini. Dan itu cukup menyenangkan, kau harus mencobanya!” jelas Kiara tanpa diminta.
Vano terdiam, mencoba mencerna informasi yang diberikan Kiara pelan-pelan untuk dimasukkan kedalam otaknya dan ditambahkan ke dalam memori kosong dalam otaknya yang menghilang 6 tahun yang lalu.
“Dan soal tadi, maaf, aku tak bermaksud menyebarkan status baru kita. Aku tahu kau tidak akan menyukainya karena kau bahkan belum mengingatku, jadi aku—“
“Tidak apa-apa,” potong Vano.
Kiara yang semula masih sibuk menyusun meja-meja kecil tempat anak-anak itu belajar, mendadak terdiam dan menatap pria itu dengan pandangan bingung dan kaget.
Vano masih terlihat santai, satu persatu, ia memunguti mainan-mainan yang masih tercecer di lantai lalu memasukkannya ke dalam box. Setelah itu, barulah ia mengalihkan pandangannya pada Kiara.
“Tidak apa-apa. Aku tidak peduli tentang hal itu,” lanjut Vano acuh.
Ketika Kiara hendak angkat bicara, tiba-tiba sebuah seruan ramah datang dari bagian dalam rumah. Seorang wanita paruh baya yang tadi mereka temui datang menghampiri mereka sembari menyajikan segelas teh manis hangat untuk mereka.
“Aigo, kalian baik sekali. Aku jadi merasa sangat terbantu. Kalian akan menjadi calon orangtua yang baik kelak,” ujar wanita paruh baya itu.
Kiara segera menanggapi ucapan wanita itu dengan senyum sementara Vano tetap tanpa ekspresi. Mereka berdua segera menyerbu segelas teh manis hangat tersebut dan meminumnya sampai habis untuk menghilangkan dahaga serta rasa dingin di tubuh mereka.
“Apa di musim hujan seperti ini anak-anak itu masih akan datang juga?” tanya Vano.
“Tentu saja, di sini tidak ada liburan musim dingin atau musim panas. Jika mereka merasa ingin belajar, mereka akan datang. Jika tidak, kami pun sebagai pengajar akan mengerti.”
Vano mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan wanita paruh baya tadi sementara dirinya mendudukkan diri di atas salah satu kursi kecil terdekat. Kiara sedikit tertawa melihat sikap Vano, namun tak berkomentar.
“Jika kalian sudah selesai, kalian boleh beristirahat atau berkeliling di sekitar sini untuk mengenang masa lalu—walaupun tak banyak yang bisa dikelilingi karena tamannya sangat sempit, tapi buatlah senyaman mungkin seperti di rumah sendiri sampai anak-anak tiba,” ujar wanita itu sembari membawa gelas-gelas kosong dari mereka dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua kembali.
Setelah terdiam beberapa lama, Vano akhirnya angkat bicara. “Jadi tujuanmu mengajakku jalan-jalan adalah ingin membantuku mengembalikan ingatanku?” tanya Vano.
“Seperti itulah,” gumam Kiara pelan.
Vano kembali terdiam. Bingung ingin berkata apa.
“Dulu, kita juga sering duduk-duduk di sini sambil melihat ayunan di bawah pohon itu atau sekedar menikmati udara bersih di sekitar sini,” jelas Kiara sambil menatap pada sebuah pohon besar di hadapan mereka.
Vano ikut menatap ke arah yang ditunjuk Kiara. Sebuah pohon akasia besar berdiri anggun di depan mereka. Pohon tersebut memang telah menggugurkan semua daunnya, menyisakan ranting-ranting beserta dahan-dahan kokohnya. Meskipun salju masih belum datang, tapi tetap saja ketika Vano menatap pohon itu, ada angin aneh yang berdesir kepada dirinya—atau dirinya saja yang merasakannya?
Tapi ada satu yang aneh. Tidak seperti kata Kiara, di pohon tersebut tidak terpasang sebuah ayunan.
“Ayunannya sudah dilepaskan beberapa tahun yang lalu,” terang Kiara seolah bisa membaca pikiran Vano.
Vano menarik napas sejenak lalu menatap pohon tersebut lekat-lekat. Siapa tahu saja ingatannya akan kembali, atau mungkin sebuah kilasan baru yang belum pernah muncul di benaknya selama ini.
Tawa anak kecil, decit ayunan dari tambang yang menggantung di dahan pohon, daun berguguran, aroma laut…
Vano mendesah. Hanya itu yang muncul di benaknya, dan jujur saja, itu tak banyak membantu. Pria itu pun kemudian mengangkat kamera digitalnya lalu memotret pohon besar itu sebaik dan sedetil mungkin.
Kiara tiba-tiba mendesah keras. “Ayo, sudah waktunya mengajar. Sebentar lagi jam 7 dan anak-anak pasti akan segera datang,” ujarnya lalu beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke dalam ruangan yang dikatakannya sebagai kelas.
Berbanding terbalik dengan gadis itu, Vano tak bergerak. Ia masih terpaku menatap pohon besar di hadapannya, seolah mencari sesuatu.
____
Benar saja, anak-anak itu tetap datang. Mereka datang dengan memakai mantel hujan kumal milik masing-masing yang Vano yakin tidak akan mampu melindungi mereka dari derasnya hujan seperti ini. Beberapa bahkan mengenakan mantel kebesaran yang sepertinya adalah milik kakak atau orangtua mereka dulu. Melihatnya, Vano sempat merasa prihatin, namun Kiara sudah mengingatkan padanya agar jangan mengasihani mereka, karena mereka tak suka perlakuan itu, gadis itu telah mencobanya ketika ia masih berada di tingkat Sekolah Menengah Atas.
Karena tak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi Vano hanya memperhatikan gerak-gerik Kiara dan wanita paruh baya, serta beberapa orang lainnya yang sibuk berada di dalam kelas, dari pojok kelas. Sesekali ia mengangkat kameranya dan mengabadikan momen-momen yang menurutnya menarik. Lalu ketika dirinya tengah membidik kameranya pada seorang anak yang terlihat asyik bermain sendirian di pojok ruangan, tiba-tiba dan tanpa diminta, sosok gadis itu turut masuk dalam bidikannya dan ikut terpotret, tepat ketika gadis itu tengah merunduk untuk berbicara dengan anak yang bermain sendirian itu. Vano mendecakkan lidahnya kesal. Ia segera membuka foto yang baru saja ia ambil tadi dan berniat menghapusnya ketika tiba-tiba dirinya terdiam.
Foto itu memang bukan merupakan salah satu foto terbaik darinya, terlebih karena objeknya yang sederhana dan kameranya yang apa adanya. Namun, entah mengapa, ketika Kiara berada di dalamnya, semuanya terlihat menarik. Postur dan gerak-gerik gadis itu sangat sesuai dengan bidikan kamera. Terlebih paras polos dan cantik gadis itu. Saat itu, Vano baru sadar bahwa ia tak pernah membidikkan kameranya pada Kiara. Ia tak mempunyai satu pun foto gadis itu. Dan ia baru sadar bahwa Kiara adalah salah satu objek yang bagus.
...****************...