REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 73



“Untukmu.” Ujar Vano singkat, seolah hal tersebut menjelaskan segalanya. Pria itu menyodorkan buket bunga tersebut ke depan, menunggu tangan mungil Kiara untuk mengambilnya.


Kiara kehilangan kata-kata. Ini tidak biasa, pikirnya. Ini tidak normal. Kendati otaknya terus memberikan seribu satu alasan mengapa sikap Vano kali ini terlihat sangat ganjil, tubuhnya seolah memiliki kuasanya sendiri.


Organnya menolak memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi pada Vano sehingga merubah seorang pria dingin menjadi pria yang romantis dan memilih menerima apa yang tersaji di depan mata. Hatinya menghangat. Dan meskipun aneh, namun Kiara menyukai perasaan ini. Ia tak ingin perasaan seperti ini berakhir.


Vano lantas mengulurkan tangannya lagi, masih menyunggingkan senyum. “Ayo, kita berangkat,” katanya.


Kiara sekali lagi terdiam. Ia akhirnya menyambut uluran tangan Vano yang kini terasa hangat, menjalari tangannya dan merangsek naik ke dada dan pipinya, membuatnya merona.


“Kita harus segera pergi kalau tidak ingin terlambat,” ujar Vano lagi.


Kiara lagi-lagi tak menjawab. Bahkan hingga dirinya berada di dalam mobil mewah milik Vano pun, ia masih terdiam. Otaknya merasa bingung, namun hatinya merasa lega. Seolah-olah hatinya telah lebih dulu mengenali sosok Vano yang seperti ini. Seolah-olah hatinya tahu bahwa Vano yang dulu, yang sempat hilang setelah sembilan tahun lamanya, kini telah kembali.


“Ada apa? Kenapa kau jadi pendiam malam ini?” tanya Vano di balik kemudi, memecahkan keheningan di antara keduanya.


“A-apa? Oh… tidak, aku hanya sedang berpikir…,” ujar Kiara.


“Apa yang kau pikirkan?”


Kiara terdiam sesaat. Tiba-tiba saja merasa ragu apakah ia harus mengungkapkan pikirannya atau tidak. Tapi pada akhirnya gadis itu tetap berkata,


“Aku merasa aku telah ‘pulang’”


Hening kembali menyelimuti dalam beberapa sekon berikutnya. Vano memanfaatkan hening tersebut sebagai ajang curi pandang kepada lawan jenis di sampingnya yang kini tengah menerawang sembari melihat ke depan. Diam-diam, pria itu tersenyum. Lega.


 ____


Pesta yang diadakan desainer Bang Himsoo diadakan di sebuah klub mewah di daerah Itaewon yang disewa khusus untuk acara tersebut. Acara itu juga dijaga oleh beberapa pengawal pribadi dan juga beberapa polisi karena beberapa tamu penting dan tokoh selebriti yang juga turut hadir ke pesta tersebut.


Seperti halnya para selebriti, ketika Kiara dan Vano sampai di depan klub, mereka langsung disambut oleh barisan pengawal yang langsung meminta undangan pada mereka berdua. Begitu undangan diperlihatkan, mereka dikawal masuk ke dalam klub sementara mobil Vano dititipkan pada valet.


Begitu masuk, alih-alih suara perpaduan musik dubstep dan elektronik yang keras, klub itu malah memperdengarkan alunan musik klasik yang sangat berbanding terbalik dengan suasana di dalam klub yang bermandikan gemerlap lampu.


Kiara yang menyampirkan salah satu lengannya pada siku Vano, mengeratkan pegangannya. Ia sedikit gugup begitu melihat banyak selebriti dan tokoh dari kalangan para pengusaha di sana. Tampaknya Vano pun sama. Ia tak terbiasa dengan acara pesta seperti ini karena dulu, ia akan menolak acara pesta seperti ini. Ia tak pernah merasa nyaman berada di tengah banyak orang. Apalagi orang-orang yang ada di sini rata-rata adalah kalangan borjuis yang tak pernah disukainya pun dikenalnya.


“Kalian menghalangi pintu masuk.”


Keduanya lantas menoleh dan melihat Windy berdiri tepat di belakang mereka berdua. Gadis itu mengenakan gaun hitam yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna sebatas paha sementara rambut gadis itu dibiarkan tergerai begitu saja. Seperti biasa, Windy terlihat menakjubkan tak peduli bagaimana cueknya ia berdandan.


“Ah, maafkan kami.” Ujar Vano yang segera mengajak Kiara bergeser sedikit untuk memberi ruang bagi Windy.


Windy maju selangkah kemudian menoleh menatap Kiara. Ia kemudian berdeham dan tersenyum.


Kiara tak dapat membalas apapun dan hanya bisa melihat punggung ramping Windy menghilang di balik keramaian pesta. Baru saja Windy pergi, seseorang kembali memasuki pintu sambil menggerutu,


“Windy, kau melupakan tasmu—ah, Vano dan Kiara!” Brian berhenti tepat di sebelah Vano dan mengumbar senyum lebarnya.


“Kalian juga datang?” tanyanya kemudian.


“Kau juga?” balas Vano singkat sambil tak lupa mengulas senyum.


“Hm. Ah, kau lihat Windy? Gadis itu melupakan tasnya di dalam mobil, dasar!” gerutu Brian.


“Kau datang dengan Windy?!” tanya Kiara tiba-tiba, seolah hanya itu yang tertangkap indera pendengarannya.


Mendengar pertanyaan Kiara, Brian hanya tersenyum misterius. Sejurus kemudian, pria itu pamit pada keduanya untuk mencari Windy. Ia juga tak lupa meminta Kiara dan Vano untuk segera bergabung dengan yang lainnya di dalam yang hanya dibalas dengan anggukan.


“Bukankah itu bagus jika pada akhirnya hubungan mereka meningkat menuju tingkat yang berikutnya, Van? Ah… Maksudku tentang Brian dan Windy…,” ujar Kiara tiba-tiba untuk memecah keheningan yang menyelimuti mereka.


“Hm… sepertinya itu bagus,” balas Vano. Ia kemudian menoleh menatap Kiara. “Apa kau sudah tidak gugup lagi? Mau mencoba masuk ke dalam? Jika kau merasa tidak nyaman, kita tidak perlu berada lama-lama di sini. Kita bisa langsung menyusul ke Incheon setelah kita menyapa Bang Himsoo.”


“A-ah, tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit gugup. Kita nikmati saja pestanya sampai akhir, ya?”


Vano tak langsung menjawab pertanyaan Kiara. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk dan menggiringnya ke keramaian pesta.


Kedatangan Kiara dan Vano langsung disambut oleh beberapa tamu pesta tersebut, terlebih Vano. Pria itu dalam waktu singkat dikelilingi oleh beberapa orang yang tidak Kiara kenal. Karena hal itulah gadis itu harus melepaskan pegangannya pada Vano dan membiarkan pria itu berbaur sedikit bersama para tamu. Kiara setidaknya sedikit mencuri dengar pembicaraan Vano dan para tamu yang mengelilinginya, dan kebanyakan para tamu itu mengatakan bahwa mereka menyukai karya Vano dan menginginkan pria itu mengikuti beberapa proyek milik mereka. Kiara tersenyum senang mendengar komentar-komentar positif tersebut. Ia tahu suatu saat nanti Vano pasti akan menuai suksesnya sendiri. Dan mungkin ini adalah awalnya.


“Oh, kau Kiara Kusuma, bukan?”


Kiara menoleh di saat ia tengah sibuk memperhatikan punggung Vano di kejauhan. Ia mendapati seorang wanita paruh baya yang mengenakan mantel bulu bermotif leopard dengan dandanan yang ‘nyentrik’ berdiri di sampingnya, tersenyum ke arahnya.


Dengan segera, Kiara membungkukkan punggungnya, begitu gugup menghadapi wanita yang satu ini.


“Ah, Bang Himsoo-ssi, senang bertemu denganmu, aku adalah penggemar beratmu,” ujar Kiara diiringi senyum yang lebar.


“Terima kasih… Dan kau cantik sekali malam ini, nona,” puji desainer Bang Himsoo seraya diiringi oleh kekehan kecil sementara Kiara hanya bisa tersenyum membalasnya.


“Terima kasih, anda juga sangat memukau malam ini, Himsoo-ssi.”


Bang Himsoo tersenyum. Ia lantas melayangkan pandangannya pada panggung yang kelak akan dipakai sebagai panggung fashion show dalam beberapa jam lagi. “Kau memiliki bakat, nona Kiara Kusuma. Aku mengakui itu.”


“A-ah, terima ka—“


...****************...