
Vano dan keluarga nya akhir nya tiba di sebuah ruang meeting di sebuah hotel yang sudah di pesan khusus oleh warga Kusuma. Keluarga Kusuma pun membawa serta semua anggota, keluarganya termasuk anak bungsu mereka , Nino Kusuma yang seumuran dengan Sean Alexander dan bersekolah di universitas yang sama pula .
Ketika Vano memasuki ruangan hotel itu, ia merasa sangat Canggung . Terlebih ketika matanya bertemu dengan mata Kiara yang memandang nya , mungkin nggak di situ kaget , atau mungkin nggak di situ tidak tahu kalau pasangannya itu adalah dirinya .
Sejujur nya , Kiara tampak cantik malam ini . Ia mengenakan gaun peach pendek tanpa lengan yang cocok dengan warna kulitnya yang seperti susu. Ia tidak memakai banyak make up dan rambutnya pun tak didata berlebihan ,dan Vano baru sadar bahwa gadis itu memiliki kecantikan alami yang jarang dimiliki oleh gadis lain .
Kiara terlihat satu-satunya orang yang kebingungan dan salah tingkah di ruangan itu . Ketika keluarga Alexander masuk, ia malah terpaku menatap sosok Vano Alexander yang ada di belakang dengan pandangan heran sementara keluarga nya yang lain berdiri menyambut mereka . Akhirnya Tiara turun berdiri , ia tersenyum pada keluarga Alexander meskipun maniknya masih mengikuti setiap gerak-gerik Vano Alexander .
" Vano duduklah di sana !" tutur ibunya sambil menunjuk kursi di sebelah Kiara yang kosong .
Kiara menahan nafas , entah mengapa , ia merasa segugup ini berhadapan dengan penuh Alexander. Mungkin karena sebentar lagi ia akan menjadi pendamping hidupnya, atau mungkin karena pandangan dingin Vano terhadapnya , tapi ia sungguh-sungguh tidak tahu bahwa orang yang akan di jodohkan dengannya adalah Vano alexandernya ! Jadi pria itu tak pantas menatapnya seperti itu .
Vano menghela nafas lalu berjalan ke kursi di sebelah Kiara dan duduk di sana , Kiara pun ikut duduk dengan Canggung .
Sepanjang pertemuan keluarga itu berlangsung , Baik Vano ataupun Kiara , tak ada satu pun dari mereka yang bersuara . Mereka hanya menerima saja apa keputusan keluarga mereka tentang hari pertunangan mereka . Ada aura canggung yang getaran di antara mereka . Tak berani menatap mata satu sama lain atau bahkan menyapa satu sama lain
Akhirnya , ketika hari pertunangan mereka telah ditetapkan yaitu minggu depan , mereka pun mulai dihidangkan berbagai hidangan makan malam .
Namun alih-alih makan , karena malah meminta izin untuk ke belakang dan meninggalkan meja itu .
___
Vano menumpukan kedua tangannya pada besi penyangga balkon di hadapannya . Ia mendesak sambil melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekiknya. Ia menatap langit malam di atasnya, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi . Bahwa semua ini tidak mungkin terjadi, banyak pikiran berkecamuk dalam hendaknya sehingga ia tidak bisa bicara di pertemuan keluarga tadi . Tetapan tajam Sesn yang mengawasinya pun menjadi kendala .
"Aaarrrggghhh!!!"garam Vano frustasi sambil mengacak-acak rambutnya .
Iya begitu frustasi dan marah hingga ia merasa bisa saja memukul orang yang lewat di hadapannya saat itu. Tentu saja , siapa yang tidak berprestasi jika harus dipaksa menerima perjodohan yang tidak ku inginkan ? Terutama dengan orang yang paling tidak ingin kau temani seumur hidup
" Kau di sini ?"karena sebuah suara lembut itu berasal dari belakang punggung Vano.
Vano berbalik dan menemukan cara berdiri di pintu balkon Hotel itu sambil tersenyum kecil, lalu berjalan menghampiri Vano dan berdiri di samping pria itu .
" Kau tidak ke toilet ?" tanya Kiara, lebih seperti pernyataan dari pada pertanyaan .
" Langitnya bagus " pujinya sambil menengadahkan kepala .
Vano menatap gadis di sampingnya dengan pandangan aneh lalu mendesah .
" Kau tidak tahu aku yang menjadi pasanganmu kan?"Tiara menggeleng .
Lalu ia menunduk , menatap keramaian jauh di bawah sana.
"kau sepertinya tidak suka dengan pertunangan ini?"
" Tapi tidak bisa " lanjut Vano dengan pandangan kosong .
Hening kemudian menyapa mereka , hanya ada suara halus angin yang berhembus di antara mereka, menerbangkan anak-anak rambut panjang Tiara.
"Apa kau tahu" suara Kiara akhir nya membaca Kesunyian yang anehnya menenangkan di antara mereka, " kau...berubah banyak sekali " lanjut nggak di situ sambil menatap Vano.
Vano turut menatap Kiara setelah mendengar kata-kata gadis itu . Dan tetapan Kiara padanya ... Sulit diartikan, namun meskipun saat itu gadis itu tersenyum manis, tapi matanya menyinar kan kepedihan yang dalam . Dan seketika Vano merasa hatinya sakit . Kata-kata Brian Tadi siang terngiang-ngiang di benaknya .
" Apa kau tidak mengenalnya ? Maksudku... Apakah kau tidak merasakan sesuatu ketika bersamanya ?"
" Tatap matanya dan kau akan tahu bahwa semua dugaan kekanakanmu tentangnya adalah salah besar "
Vano baru menyadarinya sekarang , ketika hatinya berdesir aneh namun nyaman ketika ia menatap mata Kiara Kusuma. Dan rasa tidak suka ketika melihat tatapan sendu dari mata gadis itu . Ia tiba-tiba tidak suka dibilang berubah ,dan ini adalah pertama kalinya ia merasa harus mulai membuka diri .
Kiara mengalihkan pandangannya . " baiklah , sampai jumpa di kantor Senin . Atau Minggu depan " ujarnya sambil tersenyum dan kembali masuk ke dalam hotel
___
Hari Sabtu.
Tinggal 6 hari menuju hari pertunangannya , Jika kau bisa bilang begitu dan Vano tidak bisa merasa lebih buruk dari ini. Ponselnya dipenuhi dengan pesan singkat dan panggilan dari Windy, bahkan emailnya pun dipenuhi dengan pesan dari Windy . Tapi ia masih merasa bersalah , jadi ia Mengabaikan semua itu . Di saat yang bersamaan, benaknya pun dipenuhi dengan sosok seorang Kiara Kusuma . Entah mengapa ,ya terus terpikir bahwa mungkin gadis itu benar-benar berasal dari masa lalunya dan bukan gadis penipu ataupun gadis menyebalkan dan menjengkelkan . Seharusnya ia sudah benar-benar sadar ketika dipertemukan foto-foto masa kecil itu di kantornya. Lalu Kenapa ia bisa sebodoh ini? Kenapa kok begitu bodoh, Vano Alexander ?
Vano beranjak dari kamarnya , menggambar jaket dan berjalan menuju halaman rumahnya . Ia menetap melewati tembok rendah yang membatasi rumahnya dengan rumah Kiara dan mendapati sosok gadis itu tengah membaca sesuatu di kursi terasnya sambil mengenakan cardigan berwarna abu-abu.
Ketika Vano hendak berjalan mendekati tembok renda yang membatasi rumahnya dengan rumah Kiara, pintu pagarnyatiba - tiba terbuka dan sosok pria masuk ke dalam dan berjalan mendekatinya .
"Maaf kedatanganku tiba-tiba ." ujar pria itu .
"Kau masih mengingatku bukan? Namaku Daren ,Temannya Kiara "mengulurkan tangannya
Vano membalas uluran tangan pria itu dengan tatapan bingung.
" Bsa kita bicara sebentar?
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜