
Kehampaan itu bahkan terus berlanjut hingga ia tiba di Seoul dan sampai di gedung kantornya. Kehampaan itu bahkan masih terasa saat ia berada di basement, saat ia menaiki lift dan saat ia sampai di kantornya dan menyapa beberapa orang krunya.
“Vano, di mana Kia?”
Dan kehampaan itu berlanjut setiap kali ada seseorang yang menyebutkan nama itu.
“Ia tidak akan hadir hari ini. Mungkin ia akan menyusul di hari kedua atau ketiga atau tidak sama sekali. Ia memiliki suatu urusan mendadak yang tak dapat ditundanya. Jadi, untuk para staff desainer, aku harap kalian tahu apa yang kalian lakukan karena ketua bagian kalian tidak ada. Selain itu, semuanya berjalan lancar dan 10 menit lagi kita bisa berangkat.” Ujar Vano, membagikan sebuah pengumuman pada semua telinga yang ada di sana.
Para staff dan kru mengangguk-angguk mengerti dan mulai sibuk bergerak ke sana kemari untuk mempersiapkan perjalanan mereka ke Daejeon. Sementara itu, para staff desainer mulai bergerak lebih sibuk dari biasanya. Mungkin mereka harus membicarakan strategi mereka atau bahkan menentukan siapa ketua sementara di tim mereka yang biasa menjadi salah satu jalan keluar—dan melihat itu, Vano tidak ingin tahu apa yang terjadi. Ia hanya berharap semuanya bisa sempurna.
“Oh ya, di mana Brian wiajaya?” tanya Vano yang tak kunjung menemukan sosok tinggi sahabatnya di masa lampau itu di mana pun.
Beberapa kru menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala dan yang lainnya mengedikkan bahu.
“Aku di sini!” seru sebuah suara dari arah pintu masuk.
Mendengar suara Brian, Vano merasa sedikit lega karena setidaknya pria itu telah berada di sini. Namun, saat ia berbalik matanya seketika membulat begitu melihat sosok lain di belakang pria itu. sosok seorang wanita yang tak seharusnya berada di sini karena ia bukanlah anggota dari timnya. Sesosok wanita yang malam tadi merajai mimpi buruknya, padahal biasanya ia merajai mimpi indahnya Windy.
Tampaknya semua kru juga menyadari kehadiran Windy karena tak lama setelah suara Brian, terdengar ribut-ribut di belakang Vano. Pria itu kemudian menunjuk lurus ke arah wajah Windy, lalu menanyakan hal yang semua orang di ruangan itu pikirkan,
“Untuk… apa dia di sini?”
Brian berencana akan datang lebih awal ke kantor pagi ini ketika tiba-tiba ia menerima sebuah telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Dengan sedikit terburu-buru karena ia sedang memakai sepatu, lelaki itu menaruh ponselnya di atas meja, menjawab telepon yang masuk tersebut sembari memasang mode speaker phone.
“Halo?” sapa Brian seraya mengikat tali sepatunya.
“Halooo!”
Brian menghentikan gerakan tubuhnya dan tertegun sejenak. Tangan lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan mengarahkannya lebih dekat ke wajahnya seolah hal itu akan membantu meyakinkan dirinya bahwa yang tengah menelepon adalah seseorang yang sedang ia pikirkan.
“Wi.... Windy?”
“Hm. Ini aku.”
Pria itu menelan ludahnya, merasa tiba-tiba gugup tanpa alasan. “Ada apa?”
“Apakah hari ini kau sibuk?”
“Yah… Sampai dua hari ke depan, aku memang sedikit sibuk karena jadwal pemotretan yang padat. Memangnya ada apa?”
“Begini… aku… bosan. Bolehkah aku ikut?”
“Ikut ke mana? Ke lokasi pemotretan, maksudmu?”
“Hm! Aku… aku akan melakukan apapun yang bisa membantu kalian di sana! Aku tidak akan merepotkan, aku janji!”
“Tapi aku belum meminta izin Vano untuk membawa orang luar ke lokasi. Dan lokasinya cukup ekstrim. Kau tahu Gyeryongsan Daejeon? Dengan suhu seperti ini, tempat itu pasti dipenuhi salju dan alam liar terlalu berbahaya untukmu. Kami juga akan menginap di sana hingga dua hari ke depan. Apa kau tetap ingin ikut?” tanya Brian, berusaha meyakinkan. Bukannya ia menakut-nakuti Windy atau menolak keinginan gadis itu, namun ia hanya khawatir. Terlebih lagi, ia tak tahu bagaimana tanggapan Vano jika ia membawa gadis itu ke lokasi.
“Untuk Vano, aku bisa mengatasinya. Oh Gyeryongsan? Gunung yang terkenal itu? Aku sudah lama ingin ke sana! Biarkan aku ikut, ya ya ya? Untuk hotel atau penginapan, aku akan mengurusnya sendiri, kau tidak usah khawatir! Biarkan aku ikut ”
Brian terdiam sesaat, memikirkan keputusannya untuk mengizinkan atau menolak kedatangan Windy bersamanya. Jika gadis itu sudah bicara seperti itu, apa lagi alasan yang bisa ia buat? Untuk urusan izin Vano, ia yakin dirinya dan Windy bisa mengatasinya karena nyatanya Windy pun mengenal Windy. Lagipula, mungkin timnya juga membutuhkan pengalaman Windy yang sudah lebih profesional.
____
Windy mengerti bahwa Vano tak bermaksud kasar padanya dengan menanyakan pertanyaan itu, ia hanya menanyakan pertanyaan umum yang selayaknya ditanyakan padanya sebagai orang luar yang tiba-tiba datang.
Tapi gadis itu merasa tidak merasa nyaman pada tatapan Vano. Entah sejak kapan, namun gadis itu sadar bahwa tatapan Vano padanya tak lagi sama. Pria itu bukanlah pria yang sama yang ia temui di Amerika.
Dan sejujurnya, Vano memang merasa kurang nyaman dengan kedatangan Windy. Apalagi di saat tidak ada Kiara di sekitarnya. Kata-kata gadis itu tadi malam cukup membuatnya memasang peringatan waspada di kepalanya.
“Apa aku masih memiliki kesempatan?”
“Jika kau diam saja, aku akan menganggapnya sebagai ‘iya’, Vano Alexander.”
“Aku tak peduli siapa tunanganmu nanti. Selama kau tidak menyukainya namun tak bisa lepas darinya, aku juga tidak akan melepaskanmu.”
Mau tak mau, mendengar perkataan seperti itu, siapa yang tidak merasa takut? Vano sudah mengenal Windy selama bertahun-tahun. Pria itu tahu sifat baik dan buruknya gadis itu. Dan ia juga tahu, bahwa terkadang, Windy bisa bertindak nekat. Dan kedatangan gadis itu kali ini mau tak mau membuatnya berprasangka. Mungkin Windy sedang merencanakan sesuatu.
“Dia—“
“Aku datang atas keinginanku sendiri.” Windy memotong perkataan Brian yang berusaha membelanya.
“Aku meminta Brian agar aku bisa datang karena aku merasa bosan berada di rumah seharian, terlebih lagi waktuku masih tersisa cukup banyak di sini. Dan kurasa, aku bisa sedikit membantu kalian di sana. Mungkin di bagian design atau stylist?”
“Maaf Windy, tapi tim kami sudah lengkap.” Ujar Vano.
Mendengar kata ‘lengkap’, nampaknya anggota timnya yang lain mulai sensitif. Ya, mereka memang tidak lengkap karena tak ada kehadiran Kiara di sana.
Dan tampaknya anggota timnya memiliki perbedaan pendapat dengan Vano tentang kehadiran Windy.
Sementara Vano berusaha menolak kehadiran gadis itu dan secara tak langsung menyuruhnya untuk kembali pulang ke rumah, anggota timnya yang lain berpikir bahwa kehadiran Windy tampaknya bagus untuk mereka.
Selain karena pengalaman bermodel Windy yang tentunya sudah sangat senior, Windy juga mereka pikir dapat membantu mereka terutama para anggota tim desainer.
“Hm? Kudengar anggota timmu membantahmu.” Ujar Windy. Gadis itu menarik salah satu ujung bibirnya ke atas.
“O-oh… meskipun begitu, kau tetap tidak bisa berada di sini. Kau bukan salah satu anggota tim kami—“
“Tapi kurasa kedatangannya cukup bagus, Vano " Tiba-tiba sosok manajer Yang muncul dan berjalan mendekati Vano.
“Windy bisa membantu kalian di tim desainer. Kudengar Kiara tidak dapat hadir selama pemotretan di sana. Kau yakin pemotretan akan berjalan lancar tanpa kehadiran ketua salah satu tim?”
Vano melirik manajer Yang sekilas. “Tapi aku yakin tim desainer sudah mengantisipasi hal ini. Mereka sudah pasti memiliki pemimpin cadangan, bukan?”
“Sebenarnya… kami belum memutuskannya, Vano " Sahut salah satu anggota tim desainer.
Vano terdiam. Ketika ia beralih menatap Windy, gadis itu telah tersenyum penuh kemenangan begitu mengetahui bahwa tak ada lagi alasan bagi Vano untuk menolaknya. Pada akhirnya Vano menyerah. Pria itu kemudian bergerak menyisi, memberi jalan bagi Brian dan Windy.
“Baiklah, hanya untuk kali ini.” Ujarnya pasrah.
...****************...