REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 74



“Tapi kuharap kau tidak salah sangka.” Himsoo memotong ucapan Kiara, membuat kening Kiara berkerut samar.


Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya pada Kiara dan Kiara berani bersumpah bahwa tatapan wanita itu terlihat jauh berbeda dari saat mereka pertama berjumpa beberapa menit yang lalu. Apa yang menyebabkan pandangan wanita ini berubah dalam satuan menit seperti ini?


“A-apa maksud anda?” Kiara bertanya tak mengerti.


Bang Himsoo menghela napas. “Dalam dunia kami, desain sama halnya dengan bisnis. Dan tidak ada yang memulai bisnis ini dengan koneksi mereka sejauh yang kukenal. Semua membangunnya dari nol. Sebut saja siapa desainer favoritmu lagi dan aku bisa menjamin mereka semua membangun karir mereka dari nol.”


Kerutan di kening Kiara semakin dalam. Ia tak mengerti arah pembicaraan desainer seniornya ini.


“Kudengar kau masih baru dalam bisnis ini, Kiara?” tanya Himsoo lagi.


“Berhati-hatilah, tak ada desainer yang berhasil selamat hanya mengandalkan koneksi.”


Kiara terdiam. Pernyataan tersebut jelas menohok hatinya dan membuatnya mati rasa dalam seketika. Ia melihat punggung Bang Himsoo yang menjauh dan hatinya terasa perih. Ia tidak mengerti.


Ia tahu pernyataan Bang Himsoo tadi ditujukan padanya. Tapi maksud dari ‘koneksi’? Apa beliau berpikir bahwa terjunnya ia ke dalam dunia desain ini hanya mengandalkan koneksinya belaka? Hanya karena ia memang berasal dari kalangan pengusaha?


“Kiara, kau menunggu lama? Maafkan aku. Kau sudah minum? Ingin makan sesuatu?” Vano kembali kepadanya dengan senyum menghiasi wajahnya, menampilkan lesung pipinya yang terlihat manis.


Kiara diam, tak menjawab Vano. Alih-alih, dirinya malah berpikir, Apakah mereka juga memikirkan hal yang sama tentang Vano?


“Kia?”


Kiara mengerjap. Ia kemudian menatap Vano di hadapannya lalu tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Aku tidak lapar.”


“Kalau begitu kau harus minum,” Vano segera mengambil dua gelas dari pelayan yang lewat sambil membawa nampan berisi minuman lalu menyerahkan satu gelasnya pada Kiara. “Nikmati pestanya, jangan tegang begitu.”


Kiara mengangguk dan meminum minuman yang diberikan Vano tadi sedikit. Bagaimana ia bisa menikmati pesta sementara ia masih memikirkan perihal yang dikatakan Bang Himsoo tadi?


___


Kali ini, suasana klub sudah benar-benar berubah. Acara fashion show telah dimulai menampilkan karya - karya terbaru Bang Himsoo dan musik pun telah berganti menjadi tema dubstep yang menghentak- hentak. Lampu berwarna-warni berkerlap-kerlip menghiasi panggung, menambah  kesan menawan pada setiap model yang berlenggak-lenggok di sana.


Namun, di antara semua orang yang menikmati pesta tersebut, Kiara mungkin termasuk salah atau—atau mungkin satu-satunya—yang tidak menikmati pesta tersebut. Kata-kata Bang Himsoo tadi masih terngiang di benaknya. Begitu dangkalnya-kah pemikiran desainer senior tersebut hingga mengatakan hal seperti itu?


Kiara mengetuk-ngetukkan kukunya pada gelas yang ia pegang. Gelas itu masih gelas yang sama yang Vano berikan padanya satu jam yang lalu. Dan ia masih belum melepasnya pun menghabiskannya hingga sekarang. Ia benar-benar telah kehilangan selera.


“Hei, kau menikmati pestanya?” seseorang berujar di sebelah kanan Kiara. Kiara kenal betul suara ini. Ini adalah suara Brian.


Lelaki itu meminum minuman berwarna biru yang tengah dipegangnya hingga habis dalam satu teguk. “Ini adalah pertama kalinya aku hadir dalam premiere fashion show sekaligus pesta natal ini. Dan tidak buruk juga.”


“Kau tahu, kudengar akan diadakan acara semacam award ceremony selepas acara fashion show ini,” ujar Brian.


Sebelah alis Kiara terangkat. “Oh ya?”


Brian mengangguk antusias dan kembali membicarakan hal lainnya. Sementara Brian kembali mengoceh, Kiara terdiam, tampak memikirkan sesuatu.


Acara fashion show itu pun berakhir dengan diiringnya Bang Himsoo ke atas panggung dengan diberi buket bunga dan taburan confetti. Panggung itu terlihat sangat gemerlap, sangat bersinar. Sayangnya, dipenuhi dengan kedengkian di mata Kiara.


“Kali ini, kita sampai ke acara spesial kita! Award ceremony! Ajang pernghargaan ini dibuat khusus pada hari ini untuk mengapresiasi karya-karya menakjubkan untuk fashion dunia! Kita mulai saja membacakan nominasi dan pemenangnya, oke? Untuk kategori pertama, kategori model wanita!” Kiara mengamati sang MC mulai membuka sebuah amplop di tangannya, lalu membacakan nominasi pada kategori tersebut. “….dan pemenangnya adalah… Windy!”


Suara tepuk tangan meriah mengiringi kepergian Windy ke atas panggung. Gadis itu tampak terkejut. Matanya membesar dan ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Brian bersorak heboh di sebelah Kiara, menikmati euforia tersebut. Vano bertepuk tangan di sebelah kirinya. Hanya Kiara yang diam dan tak melakukan apa pun.


Kiara melihat Bang Himsoo menyerahkan sebuket bunga mawar pada Windy serta sebuah trofi kaca. Mereka terlihat akrab. Oh tentu saja, Windy sangat terkenal dalam industri ini.


“Kiara, apa kau baik-baik saja?” tanya Vano yang terlihat khawatir karena ekspresi aneh Kiara sejak tadi.


“Mm-hm… aku baik-baik saja,” balas Kiara singkat, tanpa menoleh. Gadis itu mendesah pelan. Ia tak ingin Vano tahu. Ia tak ingin menyakiti perasaan pria itu dengan perkataan orang lain.


“Jika kau merasa tak nyaman, kita bisa pulang—“


“…Vano Alexander!” suara MC yang nyaring memotong pembicaraan Vano dan Kiara. Keduanya menoleh ke atas panggung. Rupanya, sang MC telah mengumumkan pemenang baru dalam kategori photographer dan Vano memenangkan penghargaan di kategori tersebut.


Vano sempat menatap Kiara sesaat. Ia masih khawatir pada gadis itu, namun Vano tersenyum dan mengedikkan dagunya ke atas panggung, menyuruh pria itu untuk mengambil trofinya. Vano masih menatap Kiara sekali lagi, meminta persetujuan. Dan begitu Kiara mengangguk, Vano akhirnya mengangguk pula. Pria itu membuka mulutnya, mengatakan ‘tunggu aku’ tanpa suara yang dibalas oleh senyuman Kiara.


Sekali lagi, sorakan Brian di sebelahnya terdengar. “Wah… kalian hebat! Aku berani bertaruh, Kiara, saat kategori desainer, namamu pasti muncul dalam nominasi dan kau pasti akan menang!”


Kiara terkekeh mendengar pernyataan Brian. Percaya tidak percaya. Ia agaknya percaya namanya akan ada dalam nominasi, namun untuk menjadi pemenang? Ia sedikit sangsi. Bang Himsoo jelas membencinya. Ia tak mungkin menyerahkan trofi itu padanya.


“Sekarang, untuk kategori desainer! Nominasinya adalah… Rhytme, Khwan Yui, Moon Habyul, Kiara Kusuma, Goo Wonhee! Dan pemenangnya adalah…… Moon Habyul!”


Lihat, dugaan Kiara tidak meleset.


Kali ini, sorakan Brian tidak terdengar. Alih-alih, pria itu merasa aneh sendiri. Sebagai seorang entertainer yang berarti merangkap menjadi model pula, ia pernah bekerja sama dengan para desainer dalam nominasi tersebut, namun ia bisa menjamin tak ada desainer sebaik Kiara dan karya-karyanya.


“Kiara Kusuma ada dalam daftar? Apa mereka bercanda?”


...****************...