
Daren ikut berhenti, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan keras . " Entahlah , aku tidak mengerti perasaanku di tengah perasaanku sendiri saat ini, tapi aku tidak akan membiarkannya terluka."
Marsha mendesah." Sudahlah , ayo kita makan ." ujarnya pendek sambil menarik tangan Daren menuju ke ruang makan .
" Iya iya iya , aku bisa jalan sendiri !" protes Daren yang berusaha melepaskan genggaman tangan Marsha pada bajunya yang tentunya tidak dituruti oleh gadis itu .
"Marsha!"seru Daren
Tapi pada saat tidak berbalik , ataupun menyahuti seruan Daren Gadis itu terlalu kacau , hatinya sakit jika melihat wajah pria itu .pria yang hanya menatap seorang Kiara Kusuma dan tak pernah sedikitpun menatapnya.
___
Mata Marsha membesar, begitupun dengan darah yang ter batuk-batuk setelah tersedak dengan bakso yang tengah dimakannya. keduanya nampak kaget ketika Kiara baru saja menyelesaikan kalimatnya . keduanya pun menatap jarak tidak percaya .
"Apa kau- dijodohkan- dengannya ? Dengan Vano Alexander itu?" ulang Marsha terbata-bata
"Pria itu? Pria pikun yang tidak mengingatmu itu ?Kalian makan tidak sedekat Itu! Dan apa kau menerimanya ?!" seru Daren hampir histeris .
"Dia tidak pikun , dia amnesia dan kita dekat sekali, dulu." jelas Kiara
" Tidak, maksudku... Bukankah dia ketus sekali di tempat kerja kalian ? kau sendiri kan yang bicara seperti itu ?" tanya Daren .
"Kiia, kenapa kau tidak bilang padaku tadi ?" protes Marsha .
"Aku tidak tahu kalau akan disurumit ini ." teori menatap Marsha penuh selidik dengan kening yang berkerut seolah berkata " benarkan kalia membicarakan sesuatu tadi tentang Vano Alexander di kamar tadi"
Kiara hanya tersenyum lebar "tidak apa , tidak serumen itu kok . bagaimanapun , aku ingin tetap berusaha mengembalikan ingatannya .
"Kau mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang mudah saja , Kau tahu itu? itu tidak mudah ! Ada kemungkinan ia tidak bisa mengingatnya , Ada kemungkinan kemungkinan lainnya . bagaimana kalau dia telah mempunyai kekasih di Amerika sana? Huh ?"tanya Daren bertubi-tubi yang segera menerima sikutan keras dari Marsha.
Kiara terdiam, " Iya benar juga, dia tidak memikirkan sampai sejauh itu . Mungkin saja Vano Telah memiliki seseorang di Amerika sana hingga Iya tidak mau mengingatnya dan bahkan ingin menolak Perjodohan mereka . Mungkin saja ! Kenapa kau begitu bodoh Kiara Kusuma."
" Jangan pikirkan kata-kata pria bodoh ini , kau masih memiliki kesempatan ! dia tidak pernah menunjukkan kedekatannya dengan siapapun bukan ? selama Gadis itu belum muncul , kau masih memiliki kesempatan untuk mengubah hatinya ! Ya... Kalau iya sudah Memiliki seseorang di sana. tapi kalau belum ? Si Bodoh ini kan hanya berasumsi, ia terlalu cemburu pada pria itu ." ujar Marsha .
" Hei Kapan aku cemburu ?"
" Berhentilah mengelak Daren ."
Kiara menghilangkan nafas ." Aku tidak tahu apakah ia telah memiliki kekasihdi Amerika sana tapi ... Tujuanku hanyalah ingin membuatnya kembali mengingatku, bukan membuatnya menyukaiku jadi ....Kurasa tidak masalah aku akan tetap mencobanya ."
Marsha menatap Kiara prihatin yang dibalas dengan senyuman oleh gadis itu . Sementara itu Daren diam-diam berdeak kesal. Ia kembali memakan baksonya sambil memalingkan wajah . Entah kenapa , sedari awal Ia memiliki pemikiran buruk tentang pria itu . Ia masih tidak yakin pria itu akan bisa membahagiakan Kiara meskipun Tadi ia sudah bicara dengan pria itu .
___
Hari Senin
Secara musim dingin tampaknya sudah benar-benar tiba. Kendati tampak begitu terlambat mengingat sekarang sudah memasuki akhir bulan November . Ketika Vano membuka pintu rumahnya, udara dingin segera menerpanya membuatnya menggigil jika ia tidak memakai cardigan atau jaket tebal seperti sekarang ini .
Tiba-tiba Vano teringat akan gadis itu dan ia mendesah, mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya. Ia berjalan perlahan menuju tembok rendah yang membatasi rumahnya dengan rumah Kiara lalu berdiri di sana . ia menatap pintu depan rumah Kiara yang masih tertutup rapat. Rumah besar itu tampak tidak berpenghuni atau orang rumahnya terlalu sibuk sehingga hanya meninggalkan anak gadis dan anak bungsu mereka di sana seperti dirinya . Ia tahu persis tipe seorang pengusaha seperti orang tuanya .
Mereka tidak akan pulang sebelum mereka puas akan hasil kerja mereka dan sayangnya mereka tidak pernah puas .
Pintu depan rumah Kiara terbuka, menampilkan sosok gadis dengan dandanan rapi rambut panjang tergerai dengan kemeja putih dan celana jeans dan cardigan pinknya . Ia menyandang sebuah tas selempang panjang berwarna coklat di sebelah baunya . Melihat gadis itu , Vano jadi teringat tujuan utamanya .
Tadi pagi-pagi sekali , ibunya sudah menelponnya . Ketika itu Vano baru saja bangun dari tidurnya, beliau mewanti wanti untuk selalu mengantar jemput Kiara mulai sekarang karena mereka akan segera bertunangan . Wanita itu juga memintanya untuk sedikit membuka hatinya pada Kiara dan mengenalnya lebih dekat seperti dulu , secara tidak tersirat, ia juga ingin agar Vano bisa mengingat masa lalunya dengan Kiara .
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya karena gugup. Meskipun entah apa yang digugupkannya. Vano berseru . " Kiara Kusumah !" dan membuat garis itu terdiam sambil menoleh ke arahnya .
" Ia ada apa ?" tanya Kiara .
"Ayo, kita akan berangkat bersama." ujar Vano dengan nada sedikit pelan .
Kening Kiara berkerut , ia melangkah maju mendekati Vano ." apa?" ulangnya
Vano berdeham sambil mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya , tampak menghindari kontak mata dengan gadis itu . " Kita akan berangkat bersama ."
" Kenapa ?" tanya gadis Itu polos meskipun hatinya setengah berharap.
" Aku disuruh oleh Mommy, jadi jangan salah sangka dulu ."ujar Vano selanjutnya yang langsung meruntuhkan hal penting seorang Kiara .
"Oh."
" Kau tunggu di sini , aku akan keluarkan mobilnya dulu ." ujar Vano sambil berlalu ke garasi .
" Tunggu!!"
Vano berbalik , dengan kening yang berkerut. " ada apa ?" tanyanya
" Apa kau yakin ingin ke kantor dengan pakaian seperti ini ?" tanya Kiara
Vano melihat busananya , tidak ada yang salah . dia kembali menatap Kiara dengan tatapan bingung.
" Ingatlah ini di Indonesia bukan di Amerika ."ucap Kiara. akhirnya Vano pun sadar dan menepuk jidatnya .
Dengan setengah berlari walaupun kembali masuk ke dalam ,bagaimana ia bisa membayang kan suasana musim dingin yang tidak mungkin terjadi dan mungkin ada di Indonesia . Apa itu kepulauan asap , di Indonesia mana ada hal yang seperti itu yang ada hanyalah kepulan polusi.
Kiara tertawa melihat tingkatan yang sepertinya salah perkiraan . " lucu sekali."
Setelah mengganti Pakaiannya yang lebih cocok, Vano langsung maengambil mobilnya .Setelah masuk ke dalam mobil,Vano hampir saja membenturkan kepalanya ke setir berkali-kali.Ia merasa begitu bodoh, itu aneh berada di dekat Kiara. Perasaan itu mengakibatkannya bertingkah Canggung dan ia benci terlihat bodoh di depan gadis itu.
Bukan sebuah getaran manis seperti ketika ia bersama dengan Windy, bukan sebuah getaran menakutkan ketika ia sedang menerima kritik dari Chris Martin chief Manager.Tapi merupakan sebuah getaran aneh namun yang lebih anehnya, sangat menenangkan dan familiar
...****************...