
Vano merasakan napasnya tercekat ketika mata mereka bertemu. Matanya dan Windy. Pria itu segera mengalihkan pandangannya dan kembali pada lensa-lensa kameranya sampai Brian pergi. Namun ketika pria itu pergi, seseorang menghampirinya dan Vano tahu itu adalah seorang wanita. Dan dia bukan seorang staff mau pun Kiara.
“Vano Alexander!”
Vano menelan ludah. Ia tahu hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia hanya tak pernah mengira akan secepat ini.
Vano mengangkat wajahnya menatap Windy yang masih mengenakan kacamata hitamnya. Rambut lurus dan panjang berwarna kecoklatan milik Windy tampak kentara saat ini, di pemuka malam. “Apa?” ujar Vano malas.
Windy memajukan bibirnya kesal. “Apa maksudmu dengan apa?!” gadis itu mulai meneriakinya—seperti biasa—lalu bersidekap.
“Kau tidak mengangkat teleponku, membalas pesanku, email ku, kau mengabaikanku Vano Alexander! Apa yang terjadi padamu?”
“Apa karena itulah kau menyusulku ke sini?” Vano balas bertanya.
“Apa? Oh tentu saja tidak! Untuk apa aku ke mari karenamu? Aku ke sini karena diundang oleh seorang designer untuk menghadiri fashion show-nya dalam dua bulan lagi, dan aku pikir akan lebih baik jika aku datang lebih awal sekaligus menghabiskan liburanku di sini. Liburan musim dingin di Korea seems fun, you know? Apa kau pikir kau sangat pentingnya bagiku hingga aku ke sini menyusulmu?” tegas Windy panjang lebar.
Vano sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tertawa. Windy memiliki aura seperti ini di sekitarnya, aura yang begitu positif hingga kau tidak akan bisa marah atau bersikap sinis padanya. Karena pada akhirnya kau akan kembali meleleh oleh senyum dan tawa yang diciptakannya. Vano tak tahu dari mana gadis itu memiliki aura seperti ini, tapi ia sadar bahwa ia telah terpengaruh.
Dan pada awal terpengaruh dirinyalah ia mulai menyukai gadis itu.
Mungkin hingga kini.
Mungkin juga tidak.
“Baiklah, baiklah, jadi di mana kau akan tinggal?” Tanya Vano lagi.
“Aku memiliki seorang kakak di sini, kau tahu, !”
Vano menggeleng. Selain dunia fotografi, memang tak ada yang pria itu perhatikan. Ia juga jarang membuka internet dan menonton tv. Dan hal itu membuat Windy kembali mendesis kesal dan mengumpat dengan bahasa Inggris yang dimengerti Vano—bagaimana pun ia pernah tinggal di sana—lalu segera mengunci mulutnya begitu sadar bahwa Vano mengerti apa yang ia katakan.
Vano mengangguk-anggukan kepalanya. “Iya, aku mengerti. Nanti kita mampir dulu sebelum pulang. Aku yang akan mengantarmu ke tempat kakakmu.”
“Ok!”
____
Windy memperhatikan Vano dari pinggir lokasi, sambil duduk di bawah sebuah pohon dan dengan kopi kalengan di tangannya. Keberadaan Windy di sana setidaknya membuat suasana lebih bersemangat. Gadis itu adalah model senior yang sudah pernah difoto oleh berbagai photographer professional dan hasilnya banyak dimuat di majalah-majalah luar negeri. Kedatangan gadis itu tentu saja menjadi penyemangat tersendiri. Terutama setelah mereka tahu bahwa gadis itu tampaknya mengenal Vano dan Brian dengan baik. Sejak tadi saja, beberapa kru mau pun staff diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Semua hal tentang gadis itu terlihat sempurna—wajah kecil, rahang yang terlihat tegas namun lembut di saat yang bersamaan, dagu lancip, bibir tipis, leher jenjang, rambut lurus dan panjang yang lembut, kulit yang putih bersih dan lembut, tubuh yang ramping dan tinggi, juga kaki yang panjang—dan mau tak mau mereka mengakui karya agung Sang Maha Pencipta tersebut.
Mendapat perlakuan seperti itu, Windy tidak begitu ambil pusing—lebih tepatnya ia berusaha untuk tidak peduli. Ia memang terbiasa diperhatikan sehingga perhatian seperti itu tidaklah aneh lagi baginya. Hanya saja, jika sekumpulan orang menatapnya dalam waktu yang bersamaan, barulah ia akan merasa takut. Namun, yang sekarang sedang ia perhatikan dengan seksama adalah bagaimana Vano bekerja di tempat kerja barunya ini.
Di Amerika dulu, Windy memang sering bekerjasama dengan Vano dalam sebuah pemotretan, namun sudah lama sejak mereka tidak pernah bertemu dalam satu set lagi dan ini adalah kali pertama ia kembali melihat Vano melakukan pekerjaannya. Ia memperhatikan bagaimana pria itu bergerak untuk mengarahkan kameranya ke angle yang tepat, mengarahkan model, lalu kembali melakukan hal yang sama beberapa kali. Berjongkok, duduk, berdiri, semuanya pria itu lakukan demi mendapat gambar yang memuaskan. Dan bibir Soojung terangkat setengah melihatnya. Itu baru Vano Alexander, begitu kata batinnya.
Windy kembali meminum kopi kalengnya tanpa memutus pandangannya pada Vano. Tubuhnya bergerak gelisah begitu ia tiba-tiba memikirkan tentang hal yang sudah dinantikannya—mungkin Vano juga—yang telah ditundanya selama bertahun-tahun.
Di agensinya di Amerika sana, sudah merupakan rahasia umum bahwa Vano menyukai Windy. Pria itu selalu menuruti perkataan Windy, membelikan apa yang diinginkan gadis itu, mengantarnya ke mana pun gadis itu mau, bahkan ada di masa-masa sulit gadis itu. Hal itulah yang membuat mereka menempel seperti perangko pada kertas surat. Suatu hari, Vano benar-benar mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, namun hingga dua tahun kemudian—hari ini—Windy masih belum memberikan jawaban pasti pada pria itu.
Dan Windy berencana memberikan jawaban tersebut hari ini.
Mungkin, jika pria itu memperhatikan lebih dekat saat dirinya masih berada di Amerika sana, ia akan segera tahu apa jawaban gadis itu karena jawabannya terlihat jelas melalui tingkah lakunya. Tapi sayangnya, ia tidak tahu.
...****************...