
"Oh, tadi ada yang menemukan foto masa kecilmu dengan Kiara Kusuma , desainer baru itu. Foto itu sangat lucu! Kau belepotan tepung dan telur mentah! Tapi Kiara berkata bahwa foto itu diambil setelah kau menyelamatkannya dari Bully - an teman-teman sekelasnya. Wah ... Aku terharu sekali."
" Kiara Kusuma ?"pulang Vano dengan kening berkerut,seolah-olah hanya itu yang sedari tadi didengarnya .
Haikal mengangguk polos.
Tanpa menunggu waktu lama, Vano segera beranjak dari tempatnya dan bergegas mencari Kiara Kusuma.
Tidak sulit menemukan gadis itu . Tentu saja , karena gadis itu masih dikelilingi oleh beberapa staf perempuan sambil bercerita dengan wajah berseri-seri . Di tangannya terdapat sebuah foto , mungkin foto itu yang tengah menjadi pembicaraan
Vano sudah berdiri di hadapan gadis itu, namun gadis itu masih belum menyadarinya dan malah mengobrol ria dengan staf lainnya .Ketika Vano akhirnya berdeham , barulah seluruh perhatian terarah padanya, termasuk Kiara .
Para staf yang mengerti langsung membubarkan diri meninggalkan Vano dan Kiara berdua. Setelah semua sudah pergi , Vano merebut foto yang ada di tangan Kiara .
Foto itu adalah foto dua orang anak kecil mungkin masih kelas 3 sekolah dasar . Anak perempuan yang katanya Kiara tampak lebih tinggi dari pada anak laki-laki yang katanya dirinya itu.
Tapi tunggu , itu memang dirinya , ia sering melihat fotonya saat anak-anak di rumahnya di Amerika . Dan itu memang dirinya ! Berarti anak perempuan ini adalah Kiara? Tak aneh, dengan senyum dan mata seperti itu , anak perempuan itu memang terlihat mirip Kiara. Tapi ada apa dengan pakaian dan rambutnya yang belepotan terigu dan telur mentah itu ? Dan Kenapa mata Kiara di foto itu terlihat seperti ke baru saja menangis .
" Itu foto kita dulu," jelas Kiara tanpa di minta.
"Ah, tentu saja aku pasti lupa, kau pun pasti lupa dengan cerita di baliknya, iya kan?"
" Tentang aku menyelamatkan mu atau apalah itu?" tanya Vano.
Ujung bibir Kiara membentuk seulas senyuman."Mmm... Mmm..." ujarnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
" Jadi, apakah ini semua ulahmu Kiara Kusuma?" tanya Vano lagi kali ini dengan menatap Kiara tajam.
" Apa kau masih tidak mau mengakuiku sebagai teman masa lalumu?" Kiara balik bertanya.
" Aku tidak tidak mengakuimu, dan mana sopan santunmu? Aku ini lebih tua darimu!" Kata Vano
"Tapi aku sudah terbiasa memanggilmu seperti ini sejak kecil ! Salahkan saja dirimu yang dulu mengapa kau membiarkan aku memanggil mu seperti ini ."
Vano terdiam sesaat , ia merasa kesal entah kenapa .
" Jadi , ini benar ulahmu ?" ulang Vano. mengalihkan pembicaraan .
"Kau tidak punya pilihan lain , Vano Alexander ." ujar Kiara . Ia beranjak dari duduknya .
" Orang-orang sudah tahu tentang masa lalu kita , kau tidak akan bisa terus diam bukan ? Lama-lama mereka akan memintamu menceritakan tentang masa kecilmu , dan kau tidak punya pilihan lain selain mengingatnya" kata Kiara
" Apa maksudmu Kiara Kusuma ?!" Vano ketika Kiara tiba-tiba beranjak pergi meninggalkannya.
Tapi alih-alih menjawab ,Kiara malah berbalik sambil menjulur kan lidah dan tersenyum penuh kemenangan lalu kembali berbalik pergi .
" Kiara Kusuma !!!" Vano meremas foto yang ada di tangannya . Lupakan tentang merubah sifat di nginnya pada Kiara Kusuma itu . Tarik kata-katanya tentang ia memuji Tiara Kusuma yang tidak begitu menjengkelkan seperti dugaannya . Karena ia yang memulai perang terlebih dahulu, ia akan meladeninya .
" Kau lihat saja Kiara Kusuma !"
___
Bener Apa kata Kiara , semakin hari , rekan-rekannya sesama guru kamera , sering kali menanyakan hubungannya , si fotografer handal yang di impor dari Amerika dengan Kiara kusuma desainer yang dalam waktu singkat mendapat perhatian penuh hampir seluruh pria di kantor .
Disaat makan siang bersama dengan para kru mereka pun membahas hal itu yang langsung dialihkan ke pembicaraan lain oleh Vano .
Semenjak saat itu pula , hampir setiap hari selalu ada foto lama mereka yang Kiara selipkan di tas Fano . dan Vano harus cepat-cepat memasukkan nya ke dalam tas sebelum ada yang melihat . Karena mereka pasti akan memintanya untuk menceritakan kejadian yang tidak ia ingat , lalu mereka akan berkomentar .
" Kau ini laki-laki yang buruk banget sih Vano . Bagaimana mungkin kau lupa sementara Kiara mengingat semuanya ?"
Lambat laun ,Ia pun akan lelah jika terus diperlakukan seperti ini.
"Hais... Kiara Kusuma !!!kau cari mati !" rutuk Vano
" Hei - hei... Apa yang kau katakan itu ?" tegur sebuah suara .
Kepala karena berputar cepat menuju sumber suara dan mendapati Brian Wijaya , model mereka selama musim dingin ,berdiri di sana .Ia memutar kedua bola matanya malas.
"Untuk apa kamu ke sini ? Bukankah kamu seharusnya berganti pakaian ?" tanya Vano yang kembali sibuk dengan laptopnya .
" Berhentilah bicara formal, Vano Alexander .Karena kau dan aku bukan orang asing di sini ." ujar Bryan sambil mendesak keras. Ia kemudian menjatuhkan diri di kursi kosong yang terletak di sebelah kursi Vano .
" Dan asal kau tahu, aku mendengar semua makianmu tentang Kiara tadi."
" Siapa yang memakinya? Aku tidak memakinya." Elak Vano
" Dan kau akan menyesal jika kau terus menyakitinya seperti itu,"
" Menyesal ?"
"Tidakkah kau mengenalinya? Maksudku ... Apa kau sama sekali tidak merasakan apapun saat bersamanya ?"
" Tidak . Apa yang kau bicarakan ?"
" Itu mustahil ,Aku ini temanmu selama 6 tahun lebih ! aku mengenalmu lebih daripada aku mengenal diriku sendiri ! jangan coba-coba berbohong padaku ya ."
"Tc, Apa yang sedang kamu bicarakan Brian?"
" Sudah kukatakan , berhenti bicara formal denganku !"seru Brian kesal
"Jika kau tetap memanggilku dengan sebutan formal apalagi bicara padaku dengan bahasa formal , aku akan kehilangan salah satu sahabatmu , Vano Alexander . dan kau akan sangat menyesalinya nanti "
Vano membelalakkan matanya namun keningnya kemudian berkerut tanda tak mengerti,
" Apa maksudmu ?"
" Maksudku , jika kau kehilanganku ku akan kehilangan sebuah informasi berharga . Pikirkan itu baik-baik , mungkin ada sesuatu yang membuatmu tidak ingin mengingat masa lalumu ,tapi masa lalu dan masa depan itu berhubungan . kau tidak bisa memandang masa depan tanpa melihat masa lalumu, Tidakkah kau mengerti akan itu?"
Vano hanya bisa terdiam mendengar perkataan Bryan.
" Ku beritahu satu hal , tatap matanya dan kau akan tahu bahwa semua dugaan kekanakanmu tentangnya adalah salah besar !"sambung Brian lagi sambil berlalu .
Tanpa menyebutkan nama , kamu tahu siapa yang dimaksud oleh Brian .
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜