
“Dulu, saat pertama kali kita ke sini, aku sedang depresi sehingga aku terkadang tak bisa berpikir jernih. Saat pertama kali menemukan batu karang itu, aku sempat berpikir untuk terjun ke laut. Tapi kau mencegahku dan memegangiku erat sekali. Saat itu, aku dengan konyolnya berkata bahwa kau pasti akan menyelamatkanku jika aku terjatuh. Saat itu aku hanya bercanda, tapi aku tak menyangka bahwa kau benar-benar akan menyelamatkanku ketika aku akan jatuh dari karang itu tadi.” Lanjut Kiara.
Vano terdiam. Matanya terus menatap Kiara.
“A-ah… Maaf aku bicara yang aneh-aneh, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu terkesan atau bagaimana, tapi karena waktu itu kau bilang kau minta bantuanku untuk membuatmu ingat kembali, jadi aku menceritakannya. Maaf jika kau menganggapnya tak terlalu penting—“
“Tidak apa, lanjutkan,” potong Vano singkat.
“Apa?”
“Tidak apa, aku ingat bagian itu. Lanjutkan lagi, apa saja yang pernah kita lakukan di sini?”
Kiara tidak mengerti, namun ia tetap melanjutkan dan menjelaskan kejadian di setiap inci pantai yang telah mereka kunjungi bersama. Saat ketika Vano menemukan sebuah kerang besar yang berakhir menjadi pajangan di rumahnya namun pecah berkeping-keping ketika ia bertengkar dengan Vano saat kecil dulu, saat ketika Vano mengajarinya diving untuk melihat keindahan bawah laut, membuat istana pasir bersama, berlari-lari bersama anak anjingnya VaKi ketika binatang mungil itu masih ada, dan saat Vano menghilangkan kalung pemberian salah seorang teman Kiara saat Sekolah Menengah—yang pindah ke Prancis yang mengatakan bahwa ketika ia bertemu dengan Kiara lagi, ia akan memperlakukan gadis itu dengan baik—dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah hingga membuat Kiara menangis.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar memanggil-manggil Kiara dari belakang mereka. Ketika mereka berbalik, terlihat Daren tengah berlari menghampiri mereka sambil membawa sebuah mantel.
“Kiara! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Daren ketika ia telah sampai di dekat mereka sambil mendelik kesal pada Vano.
“Kakak? Maaf, tadi aku merasa ingin ke sini,” jawab Kiara.
“Tak apa, tapi setidaknya jangan berpakaian seperti ini,” Daren menyampirkan mantel itu ke tubuh Kiara untuk memberinya kehangatan.
“Kau tahu, di musim dingin ke pantai dengan pakaian seperti ini, kau bisa jatuh sakit.”
“Iya aku tahu, maafkan aku,” ujar Kiara lagi.
Tatapan Daren beralih pada Vano yang diam saja di samping Kiara. “Kau juga, sebagai seorang pria sekaligus tunangannya, bagaimana bisa kau membiarkan dia ke sini dengan baju seperti itu?” tanya Daren sarkastik.
Vano tak menjawab, ia malah balas menatap Daren dingin.
“Aku yang memaksanya! Jangan marahin dia,” ujar Kiara sambil berdiri diantara mereka berdua sebelum terjadi adu mulut lagi.
“Kalau begitu masuklah ke dalam, semua orang mencarimu,ehm, kalian berdua,” ujarnya setelah sebelumnya melirik Vano selintas lalu memapah Kiara untuk mengikutinya.
Sebelum melangkah, Kiara menoleh ke belakang. Tanpa suara, ia mengisyaratkan Vano untuk mengikutinya dan Vano hanya mengangguk singkat sambil melambaikan sebelah tangannya. Sepeninggal Kiara dan Daren. Ia berdiri dan menghembuskan napas. Ia tahu bahwa Daren tidak menyukainya, itu sangat jelas jika mengingat kunjungannya tempo hari. Sepertinya Daren masih belum mempercayainya. Ia mengerti.
Vano menunduk menatap pasir pantai di kakinya yang telah berbalut sepatu sejak tadi. Ketika ia berputar, beberapa meter darinya, tergeletak sepatu high heels milik Kiara. Vano menghela napas dan menunduk mengambil heels tersebut lalu membawanya.
____
“Oh, Vano Alexander!” Brian melambaikan tangannya penuh semangat ketika melihat Vano memasuki pintu hotel. Brian kelihatannya hendak pulang, namun ia segera menundanya setelah melihat Vano dan menghampirinya. “Ke mana saja, kau? Kau tidak ikut berpesta? Kukira kau menculik Kiara ke suatu tempat,” candanya.
Vano hanya tersenyum menanggapi gurauan Brian.
“Kami ke pantai,” jawab Vano.
“Pantai? Sedingin ini? Apa kalian sudah gila? Suhu di luar saja hampir minus 5 derajat!”
“Aku tahu,”
“Lalu kenapa—“
“Karena dia menginginkannya. Aku tak bisa menolak.”
Brian terdiam dengan kening berkerut. “Dia? Maksudmu Kiara? Ya, ada apa denganmu? Kau sepertinya mulai kembali menjadi Vano yang kukenal. Seharusnya kau pulang lebih awal ke Indonesia! Tampaknya ingatanmu akan segera pulih!”
Vano lagi-lagi hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Brian.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus memenuhi jadwal untuk besok. Lain kali kita bertemu lagi. Oh, dan jaga Kiara baik-baik!” seru Brian sambil berjalan menjauh dan Vano hanya mengangguk.
“Ah, Brija!” tiba-tiba Myungsoo berseru. Pria itu segera mendekati Brian yang telah berdiri di depan mobilnya.
“Ada apa?” tanya Brian.
“Apa kau… Mau membantuku?” ujar Vano lirih.
____
Kiara baru saja berganti pakaian dan mandi di kamarnya ketika pesta telah berakhir beberapa belas menit yang lalu sebelum ia kembali ke hotel. Ia berjalan menuju meja rias dan menyisir rambutnya yang basah. Setelah membubuhkan beberapa pelembab dan krim pada wajahnya, ia terdiam. Ia menumpukan kedua sikunya ke atas meja dan kembali merentangkan tangan kirinya, dengan sebelah tangan menopang dagu, ia kembali memperhatikan cincin tunangannya tersebut. Cincin itu memang tidak terlalu mahal, tidak terlalu istimewa, tapi baginya cincin ini sudah lebih dari cukup. Cincin ini menandakan bahwa ia telah dipesan untuk menjadi milik seseorang. Dan perasaan itu tetap tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hingga kini.
Bunyi bel dari depan pintu kamarnya membuyarkan segala pemikirannya. Dengan bingung, Kiara bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Ketika pintu kamarnya terbuka, tak ada siapa pun di sana. Kiara merasa jengkel, di hotel bintang lima seperti ini, kenapa masih saja ada orang iseng yang mengganggu penghuni?
Baru saja ia akan menutup kembali pintunya, tiba-tiba ia melihat sebuah benda asing tergeletak di samping pintunya. Kiara kembali membuka lebar pintunya dan keluar dari kamarnya ke tempat benda itu tergeletak. Melihatnya, Kiara tersenyum.
Sebuah high heels berwarna putih tergeletak di sana dengan sepucuk surat. Kiara baru ingat bahwa tadi, ia masuk ke dalam hotel bertelanjang kaki yang mengakibatkan ia terpaksa meminjam salah satu sepatu milik seorang staff hotel agar tak begitu memalukan. Kiara menunduk untuk mengambil heels itu beserta suratnya.
Ia pun kembali masuk ke dalam kamar hotelnya lalu duduk di tempat tidurnya setelah meletakkan high heels itu di bawah tempat tidur. Ia membuka surat dengan kertas berwarna hijau tadi.
Kau lupa sepatumu. Maaf karena aku tidak ikut masuk bersamamu. Maaf karena aku belum mengingatmu, aku akan berusaha keras untuk bisa mengingatmu lagi.
V.A
Kiara tersenyum. “Kenapa kau minta maaf, Vano Alexander?” gumamnya sambil tersenyum.
...****************...