REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 33



Kiara merasa senang, ia merasa terobati. Mengajar anak kecil memang selalu sukses mengembali kan mood nya yang buruk, bukan berarti mood nya tadi buruk. Ia juga senang melihat semangat belajar anak-anak kurang mampu ini. Bagi nya, di zaman modern seperti sekarang, semangat belajar anak-anak ini patut diacungi jempol.


Pandangan Kiara akhir nya teralih ke pojok kelas. Ia menatap Vano yang tengah membidik kan kamera nya ke setiap sudut di kelas itu. Diam-diam, gadis itu tersenyum. Entah apa yang kembali membuat nya tenang, antara pria itu yang tak marah ketika ia pinta untuk menunggu di pojok kelas, karena pria itu menolak mengajar atau karena pria itu yang tidak kabur saat ia tengah sibuk dengan anak-anak.


Kiara melirik jam tangan nya yang hampir menunjuk kan pukul setengah sepuluh yang arti nya waktu istirahat bagi anak-anak ini akan segera tiba. Ketika anak-anak tengah memberes kan buku-buku mereka untuk menyambut datang nya jam istirahat, Sooji tiba-tiba maju ke depan kelas.


“Perhatian sebentar, adik-adik!” seru gadis  itu, mengalihkan pandangan seisi kelas pada nya.


“Sebelum istirahat tiba, aku ingin memperkenal kan seseorang pada kalian,” tambah nya.


Ketika Kiara mengalih kan pandangan nya pada Vano, pria itu tengah balas menatap nya dengan ekspresi kaget sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, menolak untuk diperkenalkan. Tapi Kiara malah tersenyum dan berjalan mendekat. Pria itu sejak dulu tidak begitu menyukai perhatian, jika memperhati kan nya sekarang, mungkin itu satu-satunya yang tidak berubah dari pria itu selain ketidak mampuan nya di suhu yang terlalu panas dan terlalu dingin.


Tanpa meminta persetujuan dari pria itu, Kiara segera menarik sebelah tangan pria itu dan membawa nya ke depan kelas. Anak-anak memperhatikan mereka berdua dengan antusias.


“Dia adalah Vano Alexander, dia—“


“Apa dia pacarmu, kak?” tanya seorang anak laki-laki yang duduk di barisan paling depan.


Kiara tertegun sejenak, lalu kemudian tertawa sementara Vano terdiam namun diam-diam ia menelan ludah.


“Kak, dia pacarmu? Wah… Tampan sekali! Aku ingin punya pacar seperti dia!” timpal seorang anak perempuan berambut keriting.


Lagi-lagi Kiara tertawa. Tapi tawanya berhenti ketika Vano tiba-tiba menggenggam telapak tangan kirinya, lalu mengangkat nya sebatas bahu dan disanding kan dengan sebelah telapak tangan Vano.


“Dia bukan pacar ku lagi, tapi dia tunanganku,” ujar Vano yang akhirnya buka suara.


Suara kasak-kusuk anak-anak itu semakin meriah. Ucapan-ucapan seperti ‘wah’ ‘jadi kalian akan menikah?’ dan ‘semoga kalian bahagia’ mengalir deras dari mulut anak-anak itu yang menjadi lebih antusias.


Kiara menatap pria itu bingung sementara Vano menatap Kiara dengan sedikit senyum dan pandangan acuh sambil mengedikkan sebelah bahunya.


“Salam kenal, semuanya. Sekarang… Siapa yang ingin bermain di luar?” tawar Vano kelewat bersemangat, yang kembali menghasilkan kerutan samar di kening Kiara.


___


Vano tidak tahu apa ini yang disebut dengan bermain. Karena sejujur nya, berlari-lari di tengah dingin sama sekali tidak menyenang kan. Setidak nya untuk nya begitu. Tapi tetap saja ia mengikuti keinginan anak-anak yang menarik nya ke sana ke mari dan mengikuti permainan mereka. Ketika akhir nya ia memiliki waktu luang, ia berdiri di samping Kiara yang hanya berdiri diam di pinggir taman dan menyaksikan nya bermain dengan anak-anak sambil tersenyum.


“Kukira kau benci anak-anak,” ujar Kiara.


“Apakah dulu aku membenci anak-anak?” tanya Vano.


“Tidak… Kau sama sepertiku, kau menyukai mereka.”


Kiara tertawa lalu mengangguk-anggukan kepala nya. “Ya, sepertinya yang satu itu tidak berubah.”


Vano mengangkat kamera digital nya lalu memotret beberapa aktifitas anak-anak itu lalu memeriksa fotonya dan tersenyum puas.


“Kakak!!!”


Sebuah teriakan sukses mengambil alih perhatian mereka berdua. Kedua nya segera menolehkan kepala ke segala arah, mencari sumber suara dari seorang anak laki-laki yang cukup nyaring.


“Kakak!” serunya lagi.


Setelah mengetahui letak sumber suara, kedua nya bergegas mendekati anak kecil tersebut. Anak itu tengah berjongkok di tanah. Di hadapan nya ada sebuah lubang kecil yang sepertinya ia buat sendiri. Di dalam lubang tersebut, ada sesuatu.


“Doni, ada apa?” tanya Kiara lembut sambil turut berjongkok di sebelah anak itu sementara Vano berdiri di belakang keduanya.


“Aku tadi baru saja ingin mengubur mimpi-mimpiku di sini karena katanya mimpiku bisa jadi nyata kalau aku menguburnya di dalam tanah. Tapi ketika aku menggali, ada sesuatu di dalam tanah,” Tutur anak kecil itu.


Vano akhir nya ikut berjongkok di depan anak itu sambil mengintip ke dalam lubang. Ia memasuk kan tangan nya ke lubang tersebut lalu agak berjengit ketika merasakan sesuatu yang kasar namun rata berada di dalam tanah. Dengan mudah, Vano segera menarik nya ke atas, memunculkan sebuah kotak lusuh yang mungkin telah dikubur bertahun-tahun lama nya.


“Oh, apakah itu mimpi orang lain yang dikubur di sini?” tanya anak itu setengah takjub.


Vano membalik-balikkan kotak seukuran telapak tangan yang ada di genggaman nya. Kotak ini benar-benar lusuh, dan model nya pun sangat kuno—walau pun ia tak begitu bisa membeda kan bagaimana kotak model baru dan model lama—seperti sudah disimpan di sana selama beberapa tahun. Vano mengusap kan jemari nya ke permukaan kotak tersebut, mencoba membersihkan sisa-sisa tanah yang melekat di sana. Lalu jemarinya berhenti. Ia terdiam.


“Vano, ada apa?” tanya Kiara yang sadar bahwa Vano termenung sambil menatap kotak di genggamannya.


Vano mendongak menatap Kiara. “Apa aku pernah mengubur sesuatu di sini?” tanyanya.


Kiara mengerutkan kening sambil menggeleng. “Aku tidak tahu, kau tidak pernah bercerita padaku sebelumnya. Memang kenapa?”


Vano menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Entah kenapa, mengatakannya saja rasanya sulit. Aneh.


“Karena di kotak ini, terdapat namaku di atasnya.” Ujar Vano sambil menunjukkan sisi atas kotak yang sudah sedikit lebih bersih dari tanah karena dibersihkan Vano. Mungkin karena usia kotak tersebut yang sudah tua, tulisan di atasnya terlihat samar. Namun jika diperhatikan dengan seksama, tulisan tersebut jelas-jelas membentuk sebuah nama dan tanggal lahir yang ditulis dengan tulisan anak kecil.


...****************...


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜