REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 72



“Desainer Bang Himsoo?” gumam Kiara begitu menerima sebuah undangan yang di tujukan padanya siang itu. Undangan tersebut adalah sebuah undangan untuk merayakan di bukanya cabang butik karya desainer Bang Himsoo di Seoul serta sebuah acara fashion show yang merangkap pesta natal.


Asal tahu saja, Bang Himsoo adalah salah satu desainer terbaik milik Korea Selatan. Dan jika ia melewatkan kesempatan ini, entah kapan ia akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.


Apalagi kenyataan bahwa Kiara di undang ke acara private party yang akan diadakan dengan suasana yang lebih privasi. Demi menggapai mimpinya menjadi seorang desainer profesional, setidaknya ia harus memiliki kenalan seorang desainer, bukan?


“Bu,” Kiara berjalan menghampiri ibunya yang berada di meja makan, mencatat sesuatu di bukunya. Ketika beliau menoleh, gadis itu kembali berbicara,


“Aku… Sepertinya tidak akan pergi besok malam.”


Ibunya mengerutkan kening, otomatis meletakkan penanya dan menaruh perhatian pada Kiara. Kiara mengambil inisiatif untuk duduk di kursi yang terletak di sebelah ibunya. Gadis itu pun menunjukkan undangan yang baru ia dapatkan.


“Aku diundang dalam private party seorang desainer terkenal Korea,” Kiara berkata, lalu memberi jeda sejenak,


“Jadi bagaimana?”


Ibunya mengambil undangan tersebut, kemudian membacanya. “Apa kau pergi sendirian? Bagaimana dengan Vano?” beliau kemudian berkata.


Kiara terdiam. Ah ya, ia melupakan Vano. Bagaimana dengan pria itu? Apakah pria itu juga turut diundang dalam pesta itu?


“Aku tidak tahu. Akan kutanyakan padanya nanti.”


Ibunya kemudian menutup undangan tersebut, meletakkannya di atas meja, lalu beralih menatap Kiara.


“Aku sebenarnya tak ingin kau lebih memilih acara undangan seperti ini di malam natal dan meninggalkan keluargamu. Kau pun tahu bahwa ini bukan hanya liburan antar keluarga, bukan?”


Kiara mengangguk. Ia tahu dengan sangat pasti akan hal itu. Meskipun berjudul ‘liburan’, namun liburan dalam keluarganya tak pernah benar-benar berlibur. Pasti ada saja hal-hal seputar pekerjaan orangtuanya yang dilibatkan. Kali ini pun sama.


Keluarga Kusuma dan keluarga Alexander berniat berlibur bersama selain karena memang ingin melihat perkembangan antara Kiara dan Vano, mereka pun akan menandatangani kontrak bisnis di sana.


Kiara sudah cukup dewasa untuk mengerti akan hal itu. Hal tersebut—menjalin hubungan sebagai partner bisnis dengan perusahaan lain—adalah sebuah keperluan dalam pekerjaan orangtuanya. Dan ia tak keberatan.


“Tapi kau juga tak bisa melewatkan undangan ini begitu saja. Berkenalan dengan seorang desainer terkenal tentu saja dapat membantumu. Jadi menyusullah saat pesta tersebut selesai. Kita habiskan natal dan tahun baru kita bersama.”


Kiara melebarkan kedua matanya tak percaya. Ia tersenyum lebar lalu beranjak memeluk sang ibu seraya menggumamkan terima kasih. Gadis itu mengambil kembali undangannya lalu beranjak ke kamarnya dengan langkah ringan. Sesampainya di kamar, ia menyambar ponselnya lalu segera menelepon seseorang. Vano. Ia berencana menanyakan Vano tentang undangan dan kehadirannya pada pesta tersebut.


Tiga nada dering pun telah terlewat, namun teleponnya tak kunjung diangkat oleh si penerima. Padahal biasanya teleponnya selalu diangkat sebelum dering ketiga. Merasa tak ada gunanya menelepon, Kiara pun mengirimkan sebuah pesan.


Van, apa kau diundang ke pesta Bang Himsoo? Aku diizinkan untuk mengikutinya. Bagaimana denganmu?


Kiara tidak mendapat jawaban dari Vano hingga esok harinya. Ia telah menghubungi pria itu berulang kali, namun tak pernah mendapat balasan. Kiara tak tahu apa yang terjadi pada Vano, ia berpikiran positif bahwa barangkali Vano sedang sibuk—mungkin mengerjakan pekerjaannya—dan meskipun ia khawatir, namun Kiara berusaha untuk tidak mengganggu Vano. Alhasil ia pun berhenti menghubungi Vano dan berkesimpulan bahwa ia akan pergi sendiri ke pesta tersebut nanti malam. Dan entahlah, mungkin ia juga akan menyusul keluarganya seorang diri ke Incheon nanti.


Di tengah pemikiran tersebut, saat gadis itu tengah memilah-milah pakaian untuk dikenakannya dalam pesta nanti malam, ponselnya yang ia letakkan di atas tempat tidurnya berbunyi nyaring, membuatnya yang tengah tenggelam dalam wardrobe kamarnya tertarik kembali ke dunia nyata. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Kiara mencapai ponselnya dan sedikit terkejut melihat yang peneleponnya adalah Vano.


“Maaf, aku tidak memberikan kabar apapun padamu kemarin,” ujar Vano setelah mereka bertukar sapa.


“Tak apa,” balas Kiara.


Ada jeda sejenak sebelum kembali Vano bicara, “Aku akan menghadiri pesta itu. Aku akan menjemputmu pukul 9 nanti.”


Senyum kemudian tiba-tiba saja merekah di bibir Kiara tanpa gadis itu sadari. “Baiklah, sampai jumpa nanti malam kalau begitu!”


“Sampai jumpa.”


Bahkan, setelah menutup telepon dari Vano, senyum di bibir Kiara masih belum pudar. Malah gadis itu tampak lebih bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya untuk malam nanti setelah mengetahui bahwa Vano akan ikut serta bersamanya.


___


Waktu ternyata terasa sangat lambat di saat kita bersemangat menunggu waktu untuk bergulir. Itulah yang dirasakan Kiara. Gadis itu telah selesai berdandan 30 menit lalu, dan kini ia masih harus menunggu 15 menit lagi hingga Vano menjemputnya, namun ia baru merasakan 15 menit terlama dalam hidupnya.


Ditambah rumahnya yang sepi akibat keluarganya yang telah terlebih dulu pergi ke Incheon untuk bermalam natal di sana, rasa jenuhnya pun tak urung mencapai puncaknya.


Tapi baru saja ia hendak beranjak untuk kembali ke kamarnya—ia sedari tadi menunggu di ruang tamu rumahnya—bel pintu rumahnya berbunyi.


Gadis itu sedikit tersentak mendengar bunyi bel tersebut. Benaknya bertanya-tanya apakah itu Vano? Namun selama ia bertemu Vano di Seoul, apalagi semenjak pria itu kehilangan ingatannya, Vano tak pernah menghampirinya hingga ke depan rumah. Lelaki itu lebih senang menghubunginya via telepon atau pesan singkat dan menyuruhnya keluar untuk menemuinya di depan pagar rumahnya, bersandar pada mobil sport-nya.


Dan ditambah belum adanya pesan atau telepon dari Vano, membuat Kiara tidak berharap lebih terhadap seseorang yang menunggu di depan pintu rumahnya. Gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya dan beralih membukakan pintu.


Kiara tak melihat siapapun di interkom ketika ia hendak membukakan kunci pintu. Aneh, namun gadis itu masih merasa ada seseorang yang menunggu di depan pintu rumahnya. Karena itulah ia tetap membukakan pintu.


Dan ia sangat terkejut begitu mendapati Vano Alexander berdiri di sana sembari tersenyum ramah—nan manis—dan memegang sebuket bunga mawar.


“A-apa…,”


...****************...