REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 40



Fakta bahwa Vano baru saja menjerit nyaris histeris yang untungnya tidak di dengar oleh semua orang karena ramainya suasana di dalam kantor, membuat Brian yang berada di dekat pria itu harus mengelus dan mengasihani telinganya sendiri yang baru saja tersakiti oleh suara keras Vano


“Hei, hilangkan kebiasaan burukmu yang satu itu! Aish… untuk urusan kebiasaan buruk saja kau tidak lupa,” keluh Brian kesal.


“Apa kau bilang?!”tanya Vano


“Tidak-tidak, lupakan!” seru Brian


“Bukan yang itu, tapi yang itu!” seru Vano yang mulai hilang kesabaran.


“Yang itu yang mana, Vano Alexander? Bicara yang jelas!” Brian balas berseru jengkel.


“Hei, apakah aku harus mengetuk kepalamu dulu dengan sesuatu? Tentang hal itu! Kenapa kau belum mencarinya?”


“Berhenti memarahiku, aku sudah menemukan nya! Aish…,” Brian mengelus-elus telinganya yang sudah panas karena terus menerus diceramahi oleh Vano Alexander si cerewet. Persis seperti dulu. Jika terus seperti ini, Brian akan benar-benar menyangka bahwa istilah amnesia yang dipakai Vano hanyalah fiktif belaka. Brian pun mengambil sesuatu dari celananya dan menyerahkannya pada Vano.


“Ya, kenapa kau tidak bilang?” Vano memukul tangan Brian dengan senyum cerah yang tiba-tiba muncul di wajahnya setelah ia menerima sebuah kartu nama dari Briam.


Brian menatapnya dengan tatapan aneh. “Eiy… Tadi kau baru saja menatapku dengan mata berapi-api, tapi sekarang yang kulihat hanyalah bunga. Apa yang terjadi denganmu, Vano? Apa kau benar-benar ingin mengingatnya? Apa kau sudah mulai menyu—aw!” Brian menghentikan kata-katanya ketika Vano yang tiba-tiba memukul perutnya sedikit lebih keras daripada tadi.


“Sorry for that,” ujar Vano dengan senyum manisnya seolah-olah tak terjadi apa-apa.


“Omong-omong, thanks, Brian wiliam! Kau memang benar-benar sahabatku!” ujar Vano sebelum ia beranjak pergi menuju staff lainnya dan ikut berpesta bersama mereka.


Sementara di dekat pintu, Brian hanya bisa meringis. Ia mendesah keras. “Orang yang sedang jatuh cinta memang merepotkan,” gumamnya.


___


 


Vano mengira gadis itu sudah tak lagi marah padanya hanya karena gadis itu sudah ikut bergabung dengan para staff lainnya sambil memakan kue yang telah mereka siapkan dan tertawa bersama mereka. Tapi rupanya ia salah sangka. Gadis itu masih marah.


Terbukti ketika ia menghampirinya, gadis itu menghindar dan memilih berada jauh-jauh darinya. Ia tak membalas ketika Vano mengajaknya bicara, dan ketika Vano melontarkan beberapa lelucon yang membuat para staff tertawa, gadis itu malah diam mematung dan menatapnya sinis.


Oke, Vano mengerti mengapa gadis itu marah. Ia pun pasti akan marah jika mendengar seseorang berkata seperti itu padanya. Tapi ayolah, apakah kata-katanya sangat keterlaluan? Lagipula, ia tidak tahu gadis itu sangat benci dikatai lemah.


Merasa lelah karena usahanya tak ditanggapi, Vano pun memilih memisahkan diri dan menghempaskan dirinya di sofa yang berada di bagian pemotretan, tempat para artis biasa duduk untuk menunggu giliran.


“Tidak ikut bergabung?”


Sebuah suara muncul dari samping Vano yang membuat pria itu terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati manager Brian tengah berdiri di samping sofa yang ia duduki. Tanpa dipersilahkan, pria itu langsung duduk di sebelah Vano.


“Tidak,” jawab Vano singkat tanpa benar-benar ingin menjawab.


Setelah berdiam diri beberapa menit, akhirnya Manager Brian kembali berbicara.


Vano menoleh menatap pria itu yang sepertinya tengah berbicara dengannya dengan tema yang tidak ia mengerti.


“Anda bicara pada saya,?"tanya Vano


“Beberapa bulan lalu kau berkata kau tidak menyukainya,” potong Manager itu. “Tapi sekarang kau telah bertunangan dengannya. Lucu sekali. Aku seperti sedang menonton drama,” tambahnya lagi.


Vano mengerutkan keningnya dan menatap manager itu dengan ekspresi antara kaget dan bingung. “Tunggu, jangan salah sangka dulu , hubungan ini hanya sebatas hubungan antar perusahaan.”kata Vano menjelaskan


“Tapi aku merasa tidak akan hanya berlanjut seperti itu, Vano,” ujar Manager Brian dengan penekanan pada kata-katanya.


“Apa?”


Tiba-tiba manager Brian berdiri dari duduknya. Sebelum ia pergi, ia sempat berbalik menghadap Vano dan berkata, “Ah, omong-omong, bukankah kerjanya bagus? Kiara kusuma?”


Vano tidak menjawab. Ia terperangkap oleh pikirannya sendiri yang terus memutar ulang kata-kata Manager Briam sebelumnya, mencernanya, dan mengolahnya. Sepertinya manager Brian ini punya bakat sebagai seorang cenayang. Karena entah mengapa, Vano turut mengamini perkataannya—terutama yang baru saja dicernanya tadi.


“Sebenarnya aku baru saja akan mengontraknya untuk beberapa musim lagi,” lanjut Manager Brian ketika menyadari Vano tak membalas perkataannya. “Tapi sayang sekali,”


Vano menahan napasnya.


“Setelah pekerjaannya di musim ini berakhir, ia memutuskan untuk keluar dan menjalani bisnisnya sendiri,”


Oh tidak, kenapa Vano tidak senang dengan berita ini?


___


Kiara tidak pernah suka dengan sebutan ‘lemah’ atau kata lain yang semacam itu. Ia akui ia memang lemah, ia tak pernah bisa menjaga dirinya sendiri sejak kecil. Tapi ia tetap benci dan tidak mau mengakui bahwa ia lemah. Dan ketika keluar kata-kata itu dari mulut Vano, ia benar-benar marah sekaligus jengkel.


Tak peduli pria tersebut tidak tahu ia membenci kata ‘lemah’, tak peduli pria itu hanya bermaksud bercanda, pokoknya ia benci jika kata-kata ‘lemah’ keluar dari mulut seseorang yang sedang berbicara padanya.


“Kau tidak lemah, Kiara Kusuma. Kau istimewa,”gumamnya dalam hati


Kiara tidak peduli jika Vano lupa dirinyalah yang membuatnya membenci kata lemah sejak ia masih kecil dulu. Yang jelas, Kiara benar-benar kesal saat ini.


Setelah kue habis dan para staff terlihat sudah puas berpesta, manager Brian pun segera mengumumkan bahwa sekarang saatnya mereka kembali bekerja. Beberapa ada yang mendengus kesal, mendesah, bahkan menyayangkan waktu luang mereka harus kembali dipotong dengan pekerjaan. Namun, beberapa ada pula yang malah bersyukur pesta ini telah berakhir. Contohnya Kiara dan Vano.


Walaupun mereka yang seharusnya paling bahagia dengan adanya pesta kejutan ini, tapi keduanya malah terlihat sebaliknya. Mereka berdua terus berwajah murung di sepanjang pesta—oh, mungkin yang menunjukkannya hanya sang pria. Yang pria memilih duduk sendirian di atas sofa sementara yang wanita menghabiskan waktunya bersama para staff dengan senyum palsu di wajahnya. Siapapun yang peka, pasti bisa merasakan aura gelap di antara keduanya.


Ketika staff mulai membubarkan diri, Kiara lekas berjalan menuju wardrobe-nya sambil membawa buku sketsanya. Ketika ia baru saja hendak memasuki wardrobe, seorang staff perempuan menarik sebelah tangannya.


“Kiara, hari ini kita akan mengadakan rapat, kau ingat?” ujar staff itu.


Tidak, Kiara lupa.