
Angin dingin terasa menusuk kulit Vano yang hanya dibalut oleh jas dan kemeja. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri sambil terus mengikuti gadis itu secara perlahan. Langkah gadis itu terlihat pasti terutama ketika ia telah menanggalkan heels-nya di ujung pantai. Dan ia sama sekali tidak melihat gadis itu gemetar, padahal gadis itu hanya mengenakan gaun panjang tanpa lengan!
“Waaah… sudah lama sekali!” seru Kiara kencang begitu melihat laut terhampar di sepanjang matanya.
“Kia, apa yang sebenarnya akan kau lakukan di sini? Kau tidak kedinginan? Kita kembali ke hotel saja, kajja!” ajak Vano yang berhenti di garis ujung pantai. Enggan melangkahkan kakinya lebih jauh.
Tapi gadis itu terus berjalan, tak menghiraukan seruan Vano, gadis itu terus melangkah semakin mendekati laut.
"Apa yang ia pikirkan?" Batin Vano.
Akhirnya mau tak mau, Vano melangkahkan kakinya juga mendekati Kiara. Ia tak ingin gadis itu melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Dan Vano semakin mempercepat langkahnya ketika gadis itu tiba-tiba menaiki sebuah batu karang yang condong ke laut dengan ombak-ombak ganas menghantam batu karang tersebut.
“Hei Kia itu berbahaya, cepat turun!” seru Vano yang kali ini mulai berlari mendekati Kiara ketika menyadari gadis itu sama sekali tidak mendengarnya.
Kiara berdiri tegak di atas batu karang tersebut dan merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin kencang yang menerpanya. Vano sampai di bawah batu karang tersebut dan bisa melihat Kiara tersenyum. Vano menelan ludah. Apa yang akan terjadi jika tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya?
“Ya, Kiara kusuma!”
“Vano, coba naik ke sini! Pemandangannya indah!” seru Kiara dari atas.
Vano mendesah keras. “Ya, bodoh! Jangan berdiri di ujung seperti itu! Kau bisa jatuh!” seru nya lagi sembari berusaha menaiki batu karang itu.
Semakin ia naik, semakin keras ia mendengar dentuman ombak yang menghantam batu karang tersebut, membuatnya merinding. Satu langkah, dua langkah, lalu ketika Vano menatap Kiara, tiba-tiba pandangannya berubah.
Matahari yang bersinar tepat di atas matanya, membuat Vano harus menyipitkan mata untuk menatap ke depan. Tapi ia masih bisa melihat dengan jelas. Ada seseorang di hadapannya. Seorang anak perempuan yang tengah mendaki batu karang yang cukup tinggi untuk ukuran mereka dengan bersemangat.
“Hati-hati! Nanti kau jatuh!” Vano bisa mendengar dirinya berseru.
“Tenang saja, aku tidak akan jatuh!” balas anak perempuan itu.
Vano masih berusaha menaiki batu karang tersebut, selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai di puncak batu karang tersebut.
“Kau lama sekali, Vano Alexander!” protes anak perempuan itu yang tengah berdiri di ujung batu karang tersebut, menatap ombak-ombak kecil yang menghantam batu karang yang ia pijak.
“Lihat ke sini, waaah… indah sekali! Kalau aku terjun ke bawah, bagaimana rasanya, ya?” ujar anak perempuan itu tanpa sadar.
Vano segera bergerak cepat dan memegangi anak perempuan itu. Rasa takut yang teramat sangat menghantuinya. Takut jika sewaktu-waktu anak perempuan itu benar-benar melompat.
“Kau tidak boleh melompat!” seru Vano.
Anak perempuan itu diam-diam tersenyum, “Jika aku melompat dan jatuh pun, aku tidak akan mati, kau tahu?” ujar anak perempuan itu lagi. Lalu anak perempuan itu menoleh sambil tersenyum menatap Vano.
“Karena kau akan menyelamatkanku,”
“Aku tidak akan ja—“
Ketika Vano mendongak untuk menatap Kiara, Vano melihat gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya yang mulai condong ke laut. Dan tubuh Vano bergetar, ia belum pernah merasa setakut ini. Dengan cepat, ia mendaki batu karang dan berlari menghampiri Kiar secepat yang ia bisa. Tak ia hiraukan rasa sakit batu karang yang menusuk kakinya karena kurang hati-hati hingga berdarah.
Yang ia tahu, ia harus menyelamatkan gadis itu. Tanpa ragu, ia meraih pinggang gadis itu dan memeluknya dengan kedua tangan. Badan Kiara pun kembali stabil setelah Vano memeluk tubuh Kiara dari belakang, menghapus jarak diantara mereka. Napas keduanya sama-sama memburu. Setiap detik, Vano semakin mengeratkan pelukannya seolah takut angin akan kembali menggoyahkan gadis itu.
Mereka terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya Kiara angkat bicara.
“Vano… Alexander,” ujarnya lirih.
Vano menelan ludah, ia tak pernah merasa setakut ini sepanjang hidupnya. Ia tak tahu mengapa ia begitu ketakutan ketika ia berpikir ia bisa kehilangan Kiara. Ia pun tak tahu mengapa ia merasa marah di saat yang bersamaan. Seketika, ia tahu siapa anak perempuan yang tadi muncul di kilasan masa lalunya. Anak itu adalah Kiara kusuma.
Vano membuka mulut, mengatakan hal yang seharusnya ia katakan sejak dulu—jika kilasan itu benar-benar terjadi—ketika mereka masih kecil.
“Jangan… pernah… lakukan hal… seperti ini… lagi,” ujar Vano tepat di telinga kanan Kira, di antara napasnya yang tersengal-sengal.
___
Vank kembali pada Kiara yang kini sedang duduk di pinggir pantai dengan jas hitamnya bertengger manis di bahunya. Memberi cukup kehangatan di pantai yang dingin itu. Meskipun dengan begitu, Vano harus rela hanya memakai kemeja di badannya.
“Minumlah, kau tidak kedinginan?” ujar Vano sambil memberikan segelas coklat panas pada Kiara sementara dirinya sendiri telah memegang satu gelas. Ia mengambil posisi di sebelah Kiara.
“Makasih,” ujar Kiara sambil mengambil gelas miliknya dari tangan Vano.
Keheningan kembali menyapa mereka. Kini, mereka berdua berdiam diri sembari menatap lautan luas beberapa belas meter dari tempat mereka duduk. Ditemani oleh coklat panas dan taburan bintang, seharusnya malam itu bisa berlangsung indah seperti pesta pertunangan mereka beberapa jam yang lalu. Namun, karena insiden tadi, semuanya menguap hingga hanya ada rasa khawatir yang menggantung di udara yang mereka hirup.
“Maafkan aku soal yang tadi, aku tidak mendengarkanmu,” ujar Kiara memulai pembicaraan.
“Dan terima kasih telah menyelamatkanku.”
“Apakah dulu kita pernah ke sini?” tanya Vano tiba-tiba.
Kiara menoleh menatap Vano dengan pandangan bingung, namun kemudian menjawab, “Pernah beberapa kali. Pantai ini adalah pantai tempat segala kenangan kita berlangsung. Banyak sekali kenangan kita di sini. Salah satunya batu karang itu. Terkadang, kita sering menghabiskan sore sambil duduk di sana dan menatap matahari terbenam. Meskipun kau awalnya menolak mentah-mentah untuk menghabiskan waktu di sana karena kau takut akan terjatuh ke laut, tapi akhirnya kau mau juga,” jelas Kiara.
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜