
Kiara segera tersenyum dan mengangguk pada staff itu dan pergi bersamanya ke ruang rapat. Di dalam, ternyata semua orang sudah ada di sana kecuali dirinya. Ketika Kiara memasuki ruangan dan duduk bersama beberapa staff perempuan bagian stylist dan design, dari sudut matanya Kiara bisa melihat Vano tengah duduk di ujung meja besar yang menjadi tempat orang-orang bertumpu. Sangat terlihat jelas bahwa fotografer sekaligus leader tim mereka itulah yang memimpin rapat kali ini.
Beberapa menit kemudian, rapat pun dimulai. Rapat itu dimulai dengan ditampilkannya grafik yang menunjuk kan penjualan majalah edisi kemarin dengan edisi yang baru terbit kemarin yang memuat project mereka untuk musim dingin.
“Seperti kalian lihat, grafik penjualan edisi sebelumnya dengan edisi baru yang memuat proyek musim dingin kita menanjak drastis hampir 50%. Kita juga menerima berbagai pujian dari beberapa designer ternama yang berkata bahwa design kita untuk baju musim dingin sangat menginspirasi. Beberapa juga memuji artis Brian Wiliam yang berpose sangat baik. Beberapa juga memuji pengambilan gambar dan editing yang baik. Oleh karena itu, saya berterima kasih pada semua tim yang telah bekerja dengan sangat baik. Saya harap kita masih bisa bekerja sebaik ini untuk dua bulan mendatang,” ujar Vano.
Semua orang bertepuk tangan singkat untuk sekedar memuji tim mereka masing-masing sekaligus menghormati Vano yang sedang berbicara.
“Oke, jadi, khusus untuk edisi natal dan tahun baru bulan depan, kalian semua sudah tahu kita akan membuat edisi khusus outdoor. Dalam rapat ini, kita akan membahas tentang pemotretan tersebut yang sudah diatur oleh tuan Damar selaku tim kreatif majalah ini,”
Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal berdiri setelah Vano memanggil namanya. Ia pun menayangkan presentasinya pada infocus.
“Di sini saya akan menjelaskan tema dan tempat pemotretan,” ujar tuan Damar. “Pertama-tama, tema yang kali ini akan kita ambil adalah percintaan/romance. Karena tahun lalu majalah sudah mengungkit tema fashionista dan fullcolor serta vintage, maka kali ini kami dari tim kreatif majalah mengajukan tema yang lebih lembut dan menyalurkan ketulusan. Yaitu tentang percintaan yang lembut.”
Slide pada infocus pun berganti dengan gambar sebuah taman penuh pohon dan sebuah nama di atas gambar tersebut.
Nami Island
“Pulau Nami?” gumam Vano. Nama yang sangat familiar ketika ia sedang mencari tempat dengan pemandangan terbaik di internet beberapa tahun yang lalu. Dulu, ia sangat ingin ke sana, tapi belum terwujud. Dengan pekerjaan ini, akhirnya ia akan segera menginjakkan kaki di pulau yang terkenal tak jauh indahnya daripada pulau Jeju itu.
“Seperti yang kita tahu, pulau Nami terkenal karena keindahan alamnya. Namun tak bisa dipungkiri juga pulau ini terkenal karena sebuah drama romantis. Dengan menggunakan tema percintaan, saya rasa akan sempurna jika kita melakukan pemotretan di sini.”
Semua peserta rapat mengangguk-angguk tanda setuju. Termasuk Vano dan Kiara yang memperhatikan dengan serius penjelasan dari Tuan Damar.
Slide pun kembali berganti pada foto sebuah menara.
N Seoul Tower/Namsan Tower
“Namsan tower terkenal karena teori gembok dan kuncinya. Kita bisa memanfaatkan teori tersebut untuk pemotretan yang natural,”
Slide kembali berganti pada foto sebuah jembatan dengan air mancur warna-warni yang keluar dari sisi jembatan.
Banpo Bridge
“Sungai Han, sebagai salah satu ikon kota Seoul dengan jembatan Banpo-nya, merupakan tempat wajib kita melakukan pemotretan. Kita akan mengambil gambar ketika air mancur keluar dari sisi jembatan. Pemandangannya bagus, pastilah gambar yang didapat tidak akan mengecewakan.”
Slide kembali berganti dengan sebuah tempat yang penuh dengan hijaunya pepohonan.
“Taman ini akan menjadi destinasi terakhir kita untuk pemotretan edisi spesial kali ini. Taman nasional ini memiliki pemandangan alami yang sangat menakjubkan dan sangat disayangkan jika kita tidak memanfaatkan pemandangan alami ini. Pemotretan di taman nasional ini akan mengakhiri sesi pemotretan kita selama satu minggu ini.”
Tiba-tiba Kiara mengangkat tangannya, hendak mengajukan pertanyaan.
“Kita akan melakukan pemotretan hanya selama satu minggu? Bagaimana dengan akomodasi yang semua staff dapatkan? Apakah semuanya sudah disiapkan dengan baik?” tanya Kiara.
“Akomodasi sudah disiapkan seperti penginapan dan sebagainya. Kita hanya tinggal berangkat ke sana."kata tuan Damar
Kiara mengangguk-anggukan kepala.
“Ah, ini jadwal kita selama melakukan pemotretan ini,” tambah Tuan Damar sembari menyebarkan sebuah selebaran pada setiap orang yang hadir dalam rapat.
Kiara juga menerima kertas tersebut. Ia membacanya dengan seksama dan membelalakkan mata setelah membaca sebuah poin. “Kita akan mulai berangkat hari ini?” tanyanya tanpa sadar.
“Benar, Kiara, tepatnya malam ini.” Jawab tuan Damar.
Vano diam-diam mendelik ke arah Kiara, kemudian memutar bola matanya seolah-olah berkata ‘Apa kubilang?’ melalui matanya.
Kiara tentu saja tidak melihat tatapan itu. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Jika memang pekerjaannya ini menuntutnya untuk pergi hari ini juga, berarti ada beberapa hal yang harus ia batalkan, meskipun itu dapat membahayakan dirinya. Bagaimana ini?
Tuan Damar akhirnya kembali duduk di kursinya, sementara Vano kembali berbicara. “Jadi saya rasa rapat ini sudah cukup sampai di sini. Ada yang ingin bertanya?” Vano mengedarkan pandangannya pada para staff yang ikut serta dalam rapat. Ketika tidak ada satu pun yang mengangkat tangannya, ia kemudian berdiri dari duduknya. “Kalau begitu kalian semua boleh meninggalkan ruangan rapat ini.”
____
Setelah aktivitas terakhir di dalam gedung perusahaan berakhir tepat pada pukul setengah 6 sore, para staff memilih langsung pulang untuk beristirahat sejanak sebelum berangkat menuju pulau Nami pukul 9 malam nanti. Vano dan Kiara pun memiliki pemikiran yang sama. Hanya saja, sang pria saat ini masih tidak berani menyapa Kiara yang masih mendiamkannya. Kiara terlihat tengah menelepon seseorang di ruang tunggu, sementara Vano berada di kantornya, memperhatikan setiap gerak-gerik Vano.
Mereka harusnya pulang bersama, Vano tahu itu. Barang-barang gadis itu pun ada padanya. Namun, ia tidak bisa pulang bersama dengan gadis itu sekarang. Ada sesuatu yang harus ia lakukan dan gadis itu tidak boleh tahu. Namun, jika ia mengatakan hal itu pada gadis itu sekarang, ia tidak tahu reaksi apa yang akan gadis itu tampilkan. Apakah gadis itu akan semakin marah padanya karena menudingnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab? Oh tidak, sudah cukup Kiara marah padanya hari ini. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.
Sudah cukup Kiara mencibirnya, menatapnya sinis dan tajam di sepanjang hari ini. Sudah cukup pula ia tidak menerima sebuah roti sandwich pengganti sarapannya yang harusnya disimpan Kiara di mejanya pagi ini atau siang ini. Sudah cukup ia menerima itu semua. Ia tidak ingin hubungannya dengan Kiara yang berangsur- angsur membaik, kini kembali hancur karena ulahnya sendiri.
Tunggu dulu, kenapa ia ingin mempertahankan hubungannya dengan Kiara seperti ini?
...****************...