
Ketika mereka baru berkumpul di lokasi pemotretan, Windy melihat Kiara menghampiri Vano dengan sebuah sandwich di tangannya.
Dan Vano menerimanya dengan wajah sumringah seolah sandwich itu adalah hadiah paling berharga di dunia. Kala itu, Windy hanya bisa berdecak kesal.
Barangkali ia cemburu.
Lagipula, siapa yang tidak cemburu melihatnya?
Kembali ke lokasi pemotretan, Windy nampak terdiam di dekat sebuah pohon sembari mengamati pemotretan tersebut dengan raut bosan. Sesekali, gadis itu mendesah begitu adegan pagi tadi terputar di benaknya. Membuatnya mengeluarkan uap putih dari mulutnya.
Saat sedang melamun, tiba-tiba properti yang berupa bola basket menggelinding ke arahnya lalu tanpa sempat ia tangkap, bola tersebut terus menggelinding ke jurang di belakangnya hingga akhirnya berhenti beberapa meter karena tersangkut pada sebuah batang pohon.
“Aku akan mengambilnya!” seru Windy sambil beranjak begitu ia sadar bahwa hanya dirinyalah satu-satunya orang terdekat dengan posisi bola tersebut.
“Ya! Diam di sana! Jangan bergerak!” seru Vano.
Windy mendesis lalu membalikkan kepalanya sebelum benar-benar melangkah. “Kenapa? Kau tidak suka aku membantumu? Aku bisa menjadi orang yang berguna di sini, Vano Alexander!”
“Bukan begitu, tempat itu berbahaya, lagipula kau tidak bisa menjaga keseimbangan!” seru Vano yang berusaha secepat mungkin berlari menuju ke arah Windy.
Windy memutar kedua bola matanya. Tak mendengarkan perintah Vano, gadis itu akhirnya meneruskan langkahnya. Lagipula, meskipun jurang tersebut agak curam, namun Windy yakin ia bisa mencapai bola tersebut. Bola itu hanya berjarak sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri, bukan jarak yang sulit dicapai.
Di setiap langkah yang diambil Windy demi mencapai bola tersebut, gadis itu selalu memegang batang- batang pohon terdekat dengannya. Ia akui keseimbangannya memang buruk, sehingga mau tak mau ia harus seperti itu jika tidak ingin terjatuh. Saat dirinya telah berada di depan bola, Windy tersenyum. Ia melepaskan pegangannya pada batang pohon di dekatnya lalu berjongkok dan mengambil bola tersebut.
Namun, ketika ia berbalik, keseimbangannya mendadak hilang dan hal terakhir yang ia ingat adalah ia mendarat pada sesuatu yang keras dan tubuhnya terasa sakit semua. Ia juga hanya ingat mendengar suara teriakan histeris Vano, dan merasakan seseorang menggendongnya sebelum kesadarannya hilang.
Beberapa saat kemudian, ketika kesadarannya kembali, Windy menoleh dan melihat Vano berada di samping nya sambil menatapnya khawatir. Sepertinya mereka telah berada di pos kesehatan kini mengingat Windy dapat merasakan betapa ia berbaring di tempat yang empuk namun tak seempuk tempat tidur di hotel.
“Jam berapa sekarang?” tanya Windy.
“Jam 9.” Balas Vano. “Pemotretan dihentikan karenamu. Berbangga hatilah.” Lanjutnya.
Windy terkekeh. “Begitu? Maaf…”
“Tak apa.” Vano mendesah sebelum melanjutkan,
“Lagipula kami telah mendapatkan cukup banyak gambar untuk diterbitkan. Sebenarnya cepat atau lambat pemotretan akan berhenti juga, bukan?”
Windy tak menjawab. Hal itu menyebabkan Vano untuk kembali bungkam. Membawa keheningan bersama mereka.
“Vano—“
“Aku tidak ingin kita bertemu lagi setelah ini.” Potong Vano.
Mendengar pernyataan tiba-tiba itu, Windy terdiam. Tanpa sadar, napasnya tercekat dan gadis itu menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. “Ap-apa?”
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Setidaknya tidak seperti ini. Tidak ketika kau masih memiliki perasaan itu terhadapku.”
“Tapi… kenapa?”
“Windy, aku telah bertunangan!” Vano meninggikan nada suaranya frustasi. “Dan gadis itu telah begitu baik padaku selama ini. Ia adalah bagian dari masa lalu yang kulupakan dan sekarang aku menyesal melupakannya. Dulu kau mati-matian memaksaku mengingat masa laluku, bukan? Kurasa jika aku bersamanya, aku akan ingat dengan masa laluku lebih cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?”
“Tapi kenapa? Kenapa kau ingin mempertahankan pertunanganmu? Kau bilang kau tidak mencintainya, Vano! Kau bilang kau mencintaiku!”
Vano menundukkan kepalanya. “Windy, pertunangan ini bukan hanya tentangku atau tentangnya, ini tentang keluarga kami. Dan kami tidak bisa berbuat apapun tentang hal itu. Ini untuk membantu keluarga masing-masing.”
Windy bangkit dari posisi tidurnya. “Dengar, dengar, kau yang mengatakannya sendiri! Berarti ini adalah perjodohan! Kau tidak menyukainya dan kau terpaksa melakukannya, bukan?!”
“Aku…” Vano terdiam sesaat sebelum melanjutkan, “Aku tidak pernah berkata bahwa aku tidak mencintainya.”
Gadis itu membelalakkan mata dan rasa tertohok di dadanya tak dapat dihiraukan begitu saja. Rasanya sangat sakit hingga ia hampir tak bisa bernapas, membuat seluruh air matanya bergumul di pelupuk mata, menghalau penglihatannya.
“Dan aku memang mencintaimu, Windy, sungguh! Tapi itu dulu…”
“Hentikan!”
“Kini aku sedang mencoba mencintainya. Dan gadis itu tidak sulit untuk dicintai.”
“Berhenti!!!” Windy memekik. Kini, air matanya tumpah dan mengalir bebas di kedua pipinya. Kepala gadis itu tertunduk sementara kedua tangannya mencengkeram erat seprai tempat tidur yang ditempatinya.
“Kau tahu, kau begitu egois! Kenapa? Karena kau bahkan bicara tanpa mementingkan perasaanku!” seru Windy.
“Kau berkata bahwa kau mencintaiku dua tahun lalu dan kau bersedia menunggu hingga aku siap mengatakan perasaanku! Kau berkata kau akan menunggu! Kau menunggu selama dua tahun! Tapi hanya dalam dua bulan pilihanmu berubah? Perasaanmu berubah?!”
“Windy, dua tahun adalah waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk—“
“Aku bahkan pernah membuat seseorang menunggu selama lima tahun, Vano! Dan mereka tidak goyah!”
“Windy…”
Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka dan sosok Brian muncul dari sana. Brian tak sempat melihat keadaan dan tampaknya tak menyadari bahwa Windy sedang menangis karena ia terlihat panik. Matanya langsung bertemu dengan Vano.
“Vano, Kiara kolaps. Dia ada di ruangan sebelah. Lebih baik kau ke sana. Sekarang!” ujarnya lalu dengan cepat kembali keluar dari kamar dan menutup pintu dengan terburu-buru sehingga menimbulkan suara berisik.
Vano tertegun sejenak. Lalu kemudian matanya membesar dan sontak, ia segera bangkit dari duduknya. Baru saja ia hendak pergi meninggalkan Windy untuk menuju Kiara, tangannya terlebih dulu ditahan oleh gadis itu, mencegahnya untuk pergi.
Vano berbalik dan menemukan Windy telah berdiri di belakangnya sambil memegang salah satu tangannya.
“Jika kau bisa berlaku egois, aku pun bisa melakukannya.” Ujar Windy.
Vano terdiam, namun sesaat kemudian, pria itu sadar apa yang akan terjadi. “Tunggu, jangan bicara. Jangan dilanjutkan!”
“Aku mencintaimu.” Ujar Windy lagi. “Itu adalah jawabanmu untuk dua tahun ini.”
Vano tercengang. “Windy, jang—“
Sebelum pria itu melanjutkan kata-katanya, Windy telah terlebih dulu menarik lengannya, memegang belakang lehernya, mengikis jarak di antara mereka, dan menempelkan bibirnya pada bibir Vano. Mengunci mulutnya dari apapun yang ingin pria itu katakan pada Windy.
...****************...