REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 36



Vano harus berusaha sekuat tenaga melangkah dengan benar setelah menaiki wahana roller coaster yang sukses mengaduk - aduk perutnya. Ia menghampiri sebuah pohon dan menumpuhkan diri di sana sambil berusaha mengatur napas serta isi perutnya agar tidak keluar. Sungguh, ini adalah hal paling bodoh yang pernh ia lakukan.


Sebelumnya, Vano tidak pernah naik wahana - wahana yang ekstrim seperti tadi, tidak sekalipun, tidak pernah bahkan jika ia di bujuk oleh siapapun. Apakah gadis itu tidak tahu? Dan kenapa pula ia mau mengikuti gadis itu.


"Sekrang kita ke rumah hantu!"seru Kiara semangat sambil berjalan ke arahnya.


"What? Apa kau sudah tidak waras?"


Kiara menoleh menatap Vano sambil menyunggingkan senyum jahilnya. Sebenarnya, ia tahu betul Vano tidak menyukai wahana - wahana semacam ini. Sejak kecil dulu, ketika mereka berlibur ke taman hiburan, Vano hanmpir tidak pernah mau ikut bermain permainan - permainan ekstrim pun permainan yang menantang adrenalinnya seperti halnya rumah hantu . Kiara tahun itu, sekarang ia hanya ingin menjahili pria itu. Ia ingin mngetes sejauh mana Vano alexander yang sekarang berubah.


Apakah Vano Alexander ya g sekarang sudah menjadi lebih berani daripada Vano Alexander yabg dulu di balik sifat dingin dan menyebalkannya.


"Ayolah. Van... Memangnya kenapa? Apa kamu takut?" tanya Kiara dengan nada menantang.


Kiara bisa melihat Vano menelan ludah. "Ti-tidak! Siapa yang takut? Sebenarnya aku ingin bilang, ' apa kamu becanda, rumah hantu bukanlah levelku!"seru Vano balas menantang.


Kiara tersenyum, pria ini masih sama dengan seperti dulu. Namun, pria ini mulai benar - benar menjadi lebih berani sekarang.


"Kalau begitu, ayo! Apa yang kau takutkan?"


"Ayo!"


Dengan begitu, mereka pun berjalan berdampingan menuju wahana rumah hantu.


Ketika mereka sampai, Vano menarik napas berkali - kali sebelum mereka naik ke atas kereta yang akan mengabtarkam mereka mengelilingi rumah hantu. Meskipun ia terkenal sebagai orang yang dingin,keren atau hal - hal positif lainnya, ia di akui ia sebenarnya tak memiliki banyak keberanian. Ia tak tahu apakah dulu ia penakut juga seperti ini atai tidak, tapi ia rasa, sifat penakutnya ini sudah lama berada si dalam dirinya dan tak bisa hilang seolah mendarah daging.


"Naiklah, Vano, kau membuat yang lain menunggu"bisik Kiara dari belakang.


Vano debgan sedikit linglung akhirnya menurut dan naik di bagian kereta paling depan, diikuti dengan Kiara yang duduk di sebelahnya.


"Kau yakin kita duduk di depan?"tanya Vano tiba - tiba.


Kiara mengangguk pasti, dan dengn iti, Vano tak bisa lagi berkutik.


Kereta berjalan, dan semakin jauh semakin jauh, semakin gelap yang di tangkap iris hitam Vano. Semakin gelap terasa, semakin pula debar jangtungnya. Bulu kuduk nya mulai berdiri ketika suara - suara aneh mulai terdengar.


Ketika tiba-tiba suara yang suara itu mendadak berhenti dan memunculkan aura yang mencurigakan, tiba-tiba sebuah kepala muncul saat di depan mata mereka membuat keduanya terutama Panon dan juga kera yang menjerit keras.


"AAAA"


___


"Berhenti tertawa " kita Vano dengan raut wajah ditekuk , sebel setengah Mati .


Kiara susah payah menahan tawanya ."Hahaha... Maaf tapi kau harus tahu bahwa ekspresimu saat kepala itu muncul sangat.. hilarius!" seru Kiara bersemangat .


Vano mendengus kesal, setelah kemunculan kepala buatan Jalan tepat di depan mata mereka , Vano lah yang berteriak paling keras . Dan teriakannya yang melengking layaknya sarung wanita itu membuat Cara yang berada di sampingnya malah tertawa terbahak-bahak . Tawa Gadis itu Bahkan tak berhenti hingga Mereka menyelesaikan tour rumah hantu mereka . Dan itulah yang membuatnya sebal Setengah Mati , Iya benci merasa kalah .


" Aku tidak tahu kalau kau akan takut itu ." ujar Kiara lagi.


"Terserah" sahut Vano sambil berusaha acuh.


Mereka berjalan melewati beberapa stand makanan yang membuat keduanya menahan air liur mereka masing-masing . Mereka jelas-jelas lapar , namun keduanya menahan diri demi menjaga image mereka yang tengah bertengkar .


" Sekarang mau main apa lagi ?" tanya Kiara memecah keheningan yang melanda mereka berdua.


"Terserah , aku sedang tidak ingin bermain lagi " balas Vano yang kembali ke sifat dinginnya.


Kiara membujukkan bibirnya sebal. " Bagaimana kalau kita membuat taruhan?" tawar Kiara.


" Taruhan?" ulang Vano yang tampak tertarik


Kiara menganggukkan kepalanya ." Siapa yang memenangkan lebih banyak hadiah dari berbagai game , menang .Dan mereka berhak meminta apapun yang mereka inginkan ." jelasnya.


" Iya, apa saja ." ulang Kiara .


Danau tersenyum menunjukkannya smirk khasnya." Baiklah permainan mana yang akan kita mulai lebih dulu ?" tanyanya setelah kepercayaan dirinya kembali .


___


Kiara berjalan dengan sedikit melompat-lompat. Di wajahnya terpatri senyum lebar dan wajahnya tampak berseri-seri, tampak berbanding terbalik dengan wajah Vano yang terlihat lesu dan tidak bertenaga .


Kiara berbalik untuk melihat banyak kemudian tertawa ." Kenapa? Apa kau sudah menyerah ?"


Vano hanya balas mendengus mendengar cibiran Kiara . Ia menghelan nafas sambil mengikuti langkah Gadis itu dengan setengah hati dari belakang . Mungkin hari ini benar-benar hari sialnya dan mungkin Ini pertama kalinya iya percaya dengan sebutan hari sial sepanjang hidupnya .


Bagaimana tidak?


Vano biasanya sangat ahli dalam permainan seperti tembak sasaran, UFO catcher, dan berbagai permainan ringan yang mendapatkan hadiah Biasanya berupa boneka dan lain sebagainya. Tapi ketika ia berduel dengan Kiara, kenapa ya tidak pernah menang dari gadis itu?


Pandangannya beralih pada kantung yang tengah dijinjingnya. Kantung itu penuh terisi dengan boneka-boneka yang Kiara menangkan. Seakan semakin menjatuhkan harga dirinya, Gadis itu dengan santainya memintanya membawakan boneka-boneka itu untuknya.


Vano kembali menghadap ke depan dan mempercepat jalannya untuk menyusul Kiara yang sudah berada jauh di depannya.


" Kiara Kusuma! Tunggu!" Serunya namun tak kunjung digubris oleh gadis itu.


Ketika ia melangkah, dia se mpat melewati sepasang kekasih yang langsung berbisik-bisik ketika melihatnya.


" Wah manisnya pria itu memenangkan boneka sebanyak itu untuk pacarnya?" Bisik sang wanita pada kekasihnya.


" Hei, aku juga bisa menang dan mendapatkan lebih banyak malah daripada itu." Ujar sang pria yang terlihat iri.


Vano pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan menuju Kiara yang sudah tidak terlihat. Ya, untungnya Gadis itu bukan termasuk gadis yang tak tahu malu yang akan berteriak pada dunia bahwa boneka-boneka yang sedang ia bawa ini adalah boneka yang dimenangkannya sendiri. Jika ya benar-benar melakukannya, mana bisa - bisa kehilangan mukanya karena malu


" Hei Kiara tunggu!" Panggil Vano yang kali ini benar-benar kehilangan sosok Kiara . ia menoleh ke kanan dan ke kiri , takut dia benar-benar tidak bisa menemukan gadis itu .karena jujur saja ,meskipun enggak di situ pintar tapi... Arrggg! Entahlah !Vano bahkan tidak tahu apa alasannya tidak ingin kehilangan Kiara. nanti di situ bisa pulang sendiri nanti ... Oh iya, ia yang tidak akan bisa pulang karena ia tidak tahu jalan kalau tidak ada Gadis itu. Dan itulah alasan sebenarnya ia merasa takut kehilangan Kiara .


"Kiara!"panggilnya sekali lagi. Ia tetap memasang matanya ke segala arah . Berusaha tidak melewatikan pengawasannya satu inchi pun pada setiap arah yang ia lihat .


Akhirnya , ketika ia melihat ke arah jam dua dari tempatnya , dia bisa mendesah lega . Di sanalah tempat Gadis itu berada . Dari situ keluar dari toko permen, tanpa menunggu lama . Panas segera berjalan mendekati garis itu . namun langkahnya terhenti ketika ia melihat gadis itu menggandeng seorang anak kecil . Mereka terlihat akrab, dan sepertinya Kiara baru saja membelikan anak itu permen hingga membuat anak kecil itu sangat senang .


Tapi siapa Anak kecil itu? belum sempat langkah Vano sampai di tempat Kiara, Iya kembali terhenti melihat tiba-tiba anak kecil itu melepaskan diri dari Kiara dan berlari ke arah sepasang pria dan wanita yang langsung menyambutnya dengan menggendongnya dengan sukacita . Keduanya tampak membungkukkan badan pada Kiara, mungkin tanda terima kasih. Dan Kiara pun Melambaikan tangannya pada anak kecil itu.


" Lain kali, jangan tersesat lagi ya adik kecil!" serunya ceria.


Sekali lagi sepasang orang tua itu meminta maaf dan berterima kasih pada Kiara sementara gadis itu hanya membalas mereka dengan mengangkat tangan dan tersenyum sembari mengucapkan .


" Tidak apa-apa , tidak masalah "


Dan melihat adegan kecil itu , sebuah senyum muncul di bibir Vano . Dengan cepat ia mengangkat kamera digital yang ia lupakan kehadirannya dari tadi dan menyalakannya lalu membidik Kiara . Membidik senyum Kiara, membidik Tiara yang tengah tersenyum sambil menundukkan badan dengan dua cotton candy yang belum terbuka di salah satu tangannya , membidik Tiara yang tengah Melambaikan tangan pada seorang anak tadi. Dan ketika ia hendak kembali membidik Kiara, tiba-tiba dari lensa kameranya ia mendapati Kiara Tengah menoleh karena dengan mata dibulatkan dan mulut setengah terbuka dan tampak terkejut .


"Vano?"


Dengan cepat Vano mematikan dan menurunkan kamera digitalnya itu dan membiarkannya kembali tergantung manis di lehernya .


" Kamu, dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi !" terus Vano pura-pura marah padahal mati karena tertangkap basah Tengah memotret seorang Kiara Kusuma.


" Apa kau baru saja memotretku?!" tanya cara yang membuat wajah Vano memerah.


"A-apa?! untuk apa aku mau memotretmu? aku tidak memotretmu ! aku memotret toko di belakangmu !Aku baru lihat ada toko dengan tampilan unik seperti itu , jangan salah sangka dulu!"elak Vano.


Kiara mendecakkan lidah, " Ck... Pembohong!" gumamnya.


"Aku tidak bohong! Kau bisa mengecek kameraku kalau tidak percaya!' Vano menyodorkan kameranya kearah Kiara.


Kiara menatap kamera digitalyang di sodorkan padanya dan Vano bergantian. Ia lalu mendesah. " Sudahlah, lupakan saja. " ujarnya dalam hati