
“Wah… Tampaknya kau kembali menjadi Vano yang kukenal, huh? Ada apa ini?”
Vano menghentikan tawanya. Ia lalu berdeham. “Sepertinya aku ingin berhubungan dengan masa laluku lagi.”
Perkataan Vano itu sukses membuat Brian senang bukan kepalang. Segera ia mengencangkan rangkulannya pada bahu Vano dan menjitak kepala pria itu gemas, membuat Vano hanya bisa tertawa dibuatnya.
___
Setelah selesai berdiskusi dengan semua kru termasuk artis yang ikut serta, termasuk Brian. Vano kembali ke meja kantornya. Perutnya benar - benar komplain berat padanya kali ini. Karena sedari tadi, perutnya tak berhenti mengeluarkan suara-suara aneh dan terasa sakit. Ia sedikit menyesal terlalu bergantung pada sandwich itu.
Namun, ketika ia memasuki ruangannya dan menoleh ke arah mejanya, matanya membesar. Perlahan tangannya terulur meraih sesuatu yang ternyata adalah roti sandwich yang biasanya. Sandwich itu tampak sama seperti biasanya, berisi daging asap, selada, tomat, bawang, saus sambal dan tomat dan mayonaise serta dipanggang sedikit hingga rotinya berwarna sedikit kecoklatan. Sandwich itu masih dibungkus plastik seperti biasanya. Ini jelas-jelas adalah sandwich yang sama.
Tapi kenapa tiba-tiba sandwich itu bisa ada di mejanya? Ia bersumpah, tadi saat ia mencarinya di sekitar mejanya, sandwich itu tidak ada! Apakah orang yang memberikannya terlambat datang?
Kepala Vano menoleh ke kiri dan kanan, mencari seseorang yang mencurigakan. Namun nihil, semua sedang sibuk menyiapkan pemotretan. Ia lalu kembali menatap sandwich di tangannya.
Entah kenapa pemikiran ini terbersit di benaknya, namun ia sangat - sangat ingin tahu siapa yang telah mengiriminya sandwich ini setiap hari. Ia ingin berterima kasih.
Vano pun meghela napas lalu mulai membuka bungkus sandwich itu lalu memakan sandwich tersebut sembari mencari-cari sebuah dokumen di mejanya. Setelah potongan sandwich itu jatuh ke perutnya, ia merasa benar-benar pulih. Ia harus berterima kasih pada siapa pun yang mengiriminya roti isi ini.
___
Vano menunggu dengan bersandar di samping mobilnya yang terparkir di depan rumah Kiara sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah. Berkali-kali ia melirik jam tangannya dan terlihat resah.
"Kenapa gadis itu belum keluar juga?" Batinnya.
Ini adalah hari ketiga mereka berangkat dan pulang bersama. Seharusnya gadis itu masih ingat kapan waktu mereka berangkat terutama di pagi hari yang anginnya hampir membuat Vano menggigil. Sungguh, pria itu tidak begitu menyukai musim hujan. Ia tidak menyukai ketika angin setelah hujan, angin dingin berhembus di belakang telinganya dan membuatnya merinding. Jadi, sekarang di mana gadis itu?
Vano mengeluarkan ponselnya. Dengan sebelah tangan, ia hendak menuliskan beberapa nomor. Namun, sebelum sempat menuliskan apa-apa, jemarinya berhenti. Ia berdecak pelan sambil memukulkan layar ponselnya ke keningnya. Ia lupa ia belum bertukar nomor telepon dengan gadis itu. Ia pun memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya lalu mendesah keras.
Beberapa menit kemudian, pintu pagar rumah Kiara terbuka, menampilkan sosok gadis itu dalam balutan blazer hijau pastel, kaus putih, dan celana hitam. Kali ini gadis itu mengenakan sebuah sepatu hak tinggi yang membuatnya sedikit kesulitan berlari menuju Vano.
“Maaf… Apakah kau sudah menunggu lama?” tanya Kiara dengan sedikit terengah.
Vano menggaruk hidungnya yang memerah. “Tidak juga, jika kau kira 20 menit lebih menunggu di dalam udara dingin tidak bisa disebut menunggu.”
Bibir Kiara tertarik ke bawah, matanya benar-benar menyiratkan penyesalan.
“Maafkan aku, tadi ada sesuatu yang ibu butuhkan dan aku harus membantunya. Kau kedinginan? Lagi pula kenapa kau menunggu di luar? Kau bisa menunggu di dalam dan menyalakan pemanas sambil menungguku.”
Vano tertegun. Ia menelan ludah dengan gugup. Tunggu, kenapa ia gugup?
Benar juga, mungkin ini adalah sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan di Amerika, menunggu seseorang di luar mobil. Tapi untuk saat-saat seperti ini orang pun akan maklum, bukan? Lalu kenapa ia memilih menunggu di luar sementara ia bisa mendapatkan kehangatan di dalam mobil mewahnya ini? Tapi semakin banyak ia bertanya pada dirinya sendiri, ia semakin tak bisa menjawabnya.
Tanpa mengutarakan jawaban, ia berjalan ke samping mobilnya dan membukakan pintu ke kursi penumpang di samping kursi pengemudi. Ia kemudian menatap Kiara dan berdeham.
“Tidak mau masuk?” tanyanya.
Kiara menatapnya bingung lalu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Setelah Kiara masuk dan ia menutup pintunya, Vano pun memutari mobilnya dan masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesinnya lalu menatap Kiara di sampingnya. Setelah mendesah berat, tangannya pun terulur untuk mengambil sabuk pengaman Kiara di samping gadis itu lalu memasangkannya dan membuat gadis itu sedikit kaget.
“Kau selalu lupa memakai sabuk pengaman saat di mobilku. Apa kau tidak pernah memakai sabuk pengaman?” ujar Vano dengan nada setengah mengejek. Ia pun mulai menjalankan mobilnya tanpa sempat menyadari ada rona merah di pipi Kiara kusuma.
____
Terkadang, Kiara benar-benar tidak mengerti dengan sifat Vamo alexander yang sekarang. Baru saja kemarin-kemarin pria itu baik padanya, kini pria itu sama sekali mengacuhkannya. Mungkin karena pria itu kesal karena tadi ia terlambat menghampiri pria itu di mobilnya, mungkin pria itu kesal karena ia membiarkannya kedinginan di luar, mungkin pria itu kesal karena...Tapi ayolah! Itu bukan sepenuhnya salahnya! Siapa suruh ia menunggu di luar? Siapa suruh ia menunggunya? Jika ia begitu kesal menunggunya, ia bisa saja meninggalkannya toh Kiara pun tidak akan mengadukannya pada siapapun. Ia bukan gadis yang suka mengadu. Dan Kiara sekali lagi tidak menyukai suasana canggung di antara mereka seperti tempo hari.
“Ah, ya,” ujar Vano yang sedari tadi diam secara tiba-tiba. Dengan sebelah tangan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Kiara.
“Apa?” tanya Kiara tak mengerti.
“Nomor ponselmu, tulis nomor ponselmu. Agar aku lebih mudah menghubungimu jika kau terlambat seperti tadi.”
Vano kembali menerimanya dengan sebelah tangan. Lalu dengan gesit, ia menekan sebuah tombol pada ponselnya hingga tak lama kemudian, ponsel Kiara berdering di tasnya. Ketika gadis itu hendak mengambilnya, Vano menekan sebuah tombol pada ponselnya dan suara dering ponsel itu berhenti tepat ketika Kiara telah meraihnya.
“Itu nomorku, simpan baik-baik,” ujar Vano singkat sambil kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Kiara tidak membalas. Ia malah tertegun menatap Vano di sebelahnya, membuat pria itu gerah sendiri. “Ah, dan berhenti bertingkah canggung seperti itu. Bukankah kau mengenalku? Aku sedang berusaha menjadi Vano alexander yang kau kenal, jadi jangan mempersulitku. Ini demi kita berdua.” Lanjut Vano.
Setelah beberapa saat tidak menerima balasan dari Kiara, Vano menoleh dan mendapati Kiara tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit ia artikan. Pandangan yang ia benci, yang persis sama ketika malam pertemuan keluarga mereka.
“Aish… Dan jangan menatapku seperti itu! Aku benci tatapan itu!” seru Vano.
Kiara hanya mendengus lalu mengalihkan pandangannya pada ponselnya dan buru-buru menyimpan nomor ponsel pria itu. Meskipun pria itu adalah pria aneh yang membingungkan, tapi pria itu tetaplah seorang Vano alexander, pria yang telah membawa pergi hatinya. Dan tak peduli seberapa menyebalkannya pria itu kini, jika Kiara mendapatkan nomor ponsel pria itu, ia tak akan ragu menyimpannya.
Ketika Kiara mendongak menatap jalanan, ia tersenyum simpul. “Ah, sudah sampai,” ujarnya pelan.
Mobil Vano kini telah terparkir dengan baik di basement yang masih terlihat sepi. Belum banyak mobil maupun motor yang nampak. Tentu saja, siapa orang yang bersedia bangun pagi di musim dingin seperti ini selain mereka?
“Kiara, bagaimana dengan kostum untuk pemotretan khusus natal hari ini? Apakah sudah selesai?” tanya Vano saat mereka tengah berjalan menuju lift.
“Sudah 90%. Hanya tinggal ditambah aksesoris,” jawab Kiara.
“Pastikan pula kostum untuk pemotretan tahun baru siap paling lambat minggu ini. Dua minggu lagi kita akan mengadakan syuting pemotretan di luar.”
“Di luar? Maksudmu tidak di sini?”
Vamo menoleh menatap Kiara dengan kening berkerut dan ekspresi setengah tertawa. “Tentu saja. Jika kukatakan di luar, berarti bukan di sini.”
“Ah… Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Kami masih belum menentukan di mana lokasinya, tapi persiapkan dirimu, tampaknya kau bukan sosok seseorang yang kuat bertahan di musim dingin.”
Kiara mendengus. “Seharusnya kau yang mempersiapkan diri, Vano alexander,” ujarnya.
“Sedari kecil, kau tak pernah tahan dingin dan panas.” Lanjutnya kemudian.
Vano diam-diam menelan ludahnya karena perkataan Kiara benar. “Kita lihat saja nanti.”
Ting!
Pintu lift berdenting menandakan mereka telah sampai di lantai yang dituju. Suasana di kantor masih sangat sepi, berbeda dengan hari-hari kemarin saat mereka mengadakan pemotretan, hari ini memang hanya beberapa orang saja yang diwajibkan masuk kerja. Dan suasana ini sangat tidak asing bagi mereka berdua yang telah bekerja cukup lama untuk menyesuaikan diri.
Vano segera berjalan menuju kantornya sementara Kiara berjalan menuju wardrobe.
Seorang designer sebuah majalah fashion tidak pernah benar-benar mendapatkan kantor pribadi. Terlebih Kiara hanyalah seseorang yang mengurus di bidang pemotretan, bukan pembuatan. Jadi, hampir seluruh waktunya gadis itu habiskan di dalam wardrobe. Mengutak-atik baju, menyelesaikan pekerjaannya, bahkan sekali-kali, ia pun makan dan tidur di sana jika perlu.
Ketika jarum jam menunjukkan angka 8, Kiara keluar dari wardrobe dengan tangannya menggenggam sesuatu yang disembunyikannya di balik blazer hijau pastelnya. Kepalanya sempat mengintip dari balik tirai wardrobe dan mengamati sekitar, mungkin seseorang. Setelah dirasanya aman, barulah gadis itu berjalan keluar dari wardrobe.
____
Vano baru saja kembali dari ruang gelap tempat mencetak foto ketika dari jauh, ia melihat seorang perempuan memasuki kantornya. Penasaran, Vano memilih bersembunyi di balik sebuah tembok. Perempuan itu tampaknya menyimpan sesuatu di mejanya. Mungkinkah itu sandwich yang biasa ia makan? Karena tadi, ketika ia melihat mejanya, tidak ada sandwich itu di sana. Benarkah gadis ini yang selalu memberinya sandwich?
Setelah beberapa saat di dalam kantornya, perempuan itu keluar. Dan yang keluar dari ruangannya adalah Kiara kusuma. Dengan segera, Vano menyembunyikan dirinya lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya lalu melangkah mendekati langkah Kiara, bertindak seolah-olah dirinya tak tahu apa pun dan terus berjalan menuju kantornya.
Dan benar saja, sandwich itu telah berada di sana seperti biasanya.
Vano menelan ludahnya sendiri. Berarti, selama ini orang yang mengirimkannya sarapan setiap hari dan orang yang membuatnya begitu bergantung pada sandwich ini adalah… Kiara Kusuma.
Entah apa yang Vano rasakan saat itu.
...****************...