
Vano dan Kiara terdiam begitu mereka memasuki kamar Kiara dan melihat buku sketsa yang sedang dicari-cari gadis itu berada tepat di atas tempat tidurnya, bersama barang-barangnya yang lain.
Kiara menarik napas lega begitu melihat buku sketsanya sembari mengucapkan beberapa kata syukur. Ia kemudian menoleh pada Vano sambil tersenyum kikuk. “Terima kasih, sudah berniat membantuku mencarinya. Sepertinya ada seseorang yang sedang menjahiliku hari ini,” ujarnya sedikit jengkel dengan ulah siapa pun yang mengatakan bahwa bukunya ada pada Vano dan membuat aktifitas pria itu terganggu.
Vano mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menoleh menghadap Kiara. “Hm, sama-sama.”
“Sudah hampir malam. Sebaiknya kau juga kembali ke kamarmu. Jam 10 kita akan kembali ke Seoul, bukan?” tanya Kiara kemudian.
“Hm,” Vano hanya menggumam sebagai jawaban.
“Kalau begitu biar aku mengantarmu sampai pintu,” ujar Kiara. “Sebagai ucapan terima kasih,” tambahnya.
Mereka pun kembali berjalan menuju pintu kamar Kiara. Vano keluar dari kamar Kiara, sementara Kiara berada di ambang pintu.
“Selamat malam, kalau begitu,” ujar Kiara sambil mengangkat sebelah tangannya.
Vano hanya terdiam menanggapinya.
Kiara yang menyadari bahwa tidak akan menerima tanggapan berarti dari Vano, kemudian—dengan sedikit kecewa—beranjak menutup pintu. Namun, sebelum pintu benar-benar ditutup, lengan Vano menahannya, membuat Kiara kembali membukakan pintu kamarnya, semacam gerakan refleks akibat terkejut dengan apa yang Vano lakukan.
“Ada apa?” tanya Kiara.
“Malam inijam 7, aku akan menunggumu di depan penginapan. Kudengar pemandangan malam hari di pulau Nami sangat indah. Aku ingin melihatnya denganmu. Bolehkah?”tanya Vano sambil menatap tepat ke manik mata Kiara.
Kiara mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia hampir merasa tak percaya bahwa Vano baru saja mengajaknya berkencan. Hei, kencan?!
“O-oh, baiklah,” balas Kiara setelah beberapa saat.
___
Vano tidak tahu apa yang merasukinya sehingga ia berani mengajak Kiara untuk berkencan. Tunggu, ia bahkan tidak sadar ini adalah kencan! Yang ia pikirkan saat itu hanyalah ia harus mengajak Kiara ke suatu tempat untuk bicara malam itu. Ia hanya merasa bahwa ia perlu bicara pada Kiara malam itu, juga untuk meminta maaf karena telah merepotkan gadis itu kemarin malam. Lagipula, banyak orang bilang suasana malam di pulau Nami sangat indah. Ia juga tak mau melewatkan hal tersebut. Terlebih, ia tak mau melewatkannya seorang diri.
Malamnya, pukul 7 kurang, Vano telah berada di depan penginapan dengan setelan rapi dan tebal. Tampaknya ia benar-benar serius dengan acara kencan dadakannya ini mengingat ia yang tak terlalu menuntutketepatan waktu kini datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Vano tak suka menunggu, tapi kali ini, akan jadi pengecualiannya khusus. Karena pertama; suasana hatinya sedang bagus, dan kedua; ia sedang menunggu Kiara—meskipun entah mengapa alasan kedua tampak begitu ganjil.
Pukul 7 lebih 10 menit, dengan sedikit tergesa, Kiara berjalan cepat menghampiri Vano yang telah menunggunya di depan penginapan. Ia berdiri di samping pria itu sambil menstabilkan napasnya yang memburu karena pergi terburu-buru dan karena ia tengah menghadapi Vano, juga kencan pertamanya.
“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Kiara sebagai pemecah keheningan begitu bertemu dengan Vano.
Vano menoleh ke arah Kiara lalu melirik jam tangannya. “Kau terlambat 10 menit.” Ujarnya pendek.
“Sudahlah, tak apa,” potong Vano. Pria itu tersenyum manis sembari menatap lurus ke manik Kiara. “Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Selagi kita memiliki banyak waktu sebelum jam 10.”
“Begitu? Baiklah,” Ujar Kiara pendek.
Vano mengernyitkan kening begitu mendengar jawaban pendek Kiara. Ia kemudian berkacak pinggang sambil menatap gadis itu. “Ya, bisakah kau tak canggung begitu padaku? Tidak bisakah kau seperti dulu sebelum kita bertengkar? Setelah kita bertengkar kemarin rasanya ada yang berubah,” protesnya.
“Benarkah? Tapi kau juga begitu padaku!” Kiara balas menuduh.
Wajah Vano yang mengeras akhirnya melunak. Ia baru saja tertangkap basah dan ia tak bisa menyangkalnya bahwa ia memang berlaku canggung pada gadis itu akhir-akhir ini.Bodoh, rutuknya. Kapan sebenarnya seorang Vano bisa mengalahkan seorang Kiara dalam berdebat?
“Baiklah, aku mengaku!” ujar Vano cepat diikuti ******* keras yang menimbulkan gumpalan uap putih di depan wajahnya. “Aku hanya merasa malu karena kemarin malam aku tak berdaya dan kau membantuku mengerjakan segalanya. Itu saja. Maafkan aku karena telah merepotkanmu.”
Kiara yang melihat permohonan maaf dari Vano, terdiam sesaat lalu tiba-tiba tertawa. Membuat Vano mengernyitkan kening dan menatapnya tajam, merasa tak mengerti. Apakah apa yang barusan ia katakan mengandung unsur humor sehingga gadis itu tertawa?
“Kenapa kau tertawa?” tanya Vano sedikit tersinggung.
“Ah, maaf. Hanya saja, kau tak perlu merasa tidak enak berlebihan seperti itu,” ujar Kiara. “Aku melakukannya dengan sukarela. Suka membantu adalah nama tengahku, kau tahu? Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau tak mampu, jangan memaksakan diri. Sekali-kali menerima bantuan orang lain tidak ada salahnya, bukan?Bahkan, aku siap membantumu lagi jika kali ini kau kembali tumbang.Well, kau kan secara ‘resmi’ sudah menjadi… ehm… tunanganku.”
Vano terdiam mendengar penjelasan gadis itu. Ia kemudian tersenyum simpul ketika mendengar Kiara mengucapkan kata ‘tunanganku’ sembari mengalihkan pandangan dan berdeham. Bahkan, jika Vano tak salah lihat, pipi gadis itu sempat merona.
“Ya, kita jadi berjalan-jalan, tidak? Hari sudah semakin larut! Ayo! Tempat mana yang kau ingin kunjungi terlebih dahulu?” seru Kiara cepat, tak ingin berlarut-larut dalam suasana canggung yang kembali muncul diantara mereka.
____
Kiara hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat ketika Vano mengajaknya kencan beberapa jam yang lalu. Saat itu ia tak bisa berpikir banyak, sehingga ketika Vano menanyakan kesediaannya, gadis itu langsung mengiyakannya. Ketika pria itu pergi dan ia menutup pintu kamarnya, Kiara sempat terdiam di belakang pintu untuk sekedar menenangkan diri agar tidak berteriak saat itu juga.Karena sungguh, rasanya sangat, sangat, sangat menyenangkan menerima sebuah ajakan kencan dari orang yang telah lama kau sukai—ya, Kiara pasti berbohong jika ia berkata ia tidak menyukai Vano lagi. Apalagi, beberapa hari yang lalu, selalu dirinya yang berinisiatif dan bergerak agresif terhadap Vano sementara pria itu malah bersikap apatis.
Apakah pada akhirnya kerja keras dan pengharapannya akan benar-benar terwujud sekarang?
...****************...
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜